CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
4


__ADS_3

Nura melangkah pergi keluar setelah dirasa pembicaraan selesai, ketika menutup pintu ruang kerja, Nyonya Ajeng telah berdiri menunggunya dengan pandangan sinis


“Ikuti aku” Ujarnya tanpa menatap Nura sama sekali, Nura mengikuti tanpa suara


Gadis itu membandingkan Nyonya Ajeng dengan ibunya, sambil menatap punggung wanita itu, Nura memperhatikan, rambut yang ditata rapi, kuku tangannya di beri cat ungu cantik, wajah yang tidak terlihat kerutan sedikit pun, awet muda, di tambah gaun sutra yang membungkus tubuhnya, tidak ada yang menyangka wanita ini sudah berumur empat puluh tahun


Berbeda sekali dengan penampilan ibunya, wajahnya keriput karena lelah dan stres, memakai pakaian seadanya, tidak pernah memakai gaun indah serta perhiasan yang berkilauan


Ibunya menderita sampai akhir hayat


Nyonya Ajeng membawanya ke halaman belakang, ke tempat yang paling jauh dari rumah, terlihat sebuah bangunan tua yang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai dan kayu bakar


Mereka berdiri di depan pintu gudang


“Buat dirimu berguna, bersihkan gudang ini” Ujarnya sambil melemparkan kunci, Nura menangkapnya sebelum jatuh ke tanah


“Ya” Sahut Nura lirih


Nyonya Ajeng tersenyum puas, lalu meninggalkan Nura masuk ke dalam rumah, pelayan membukakan pintu teras belakang untuknya


“Awasi anak itu, jangan beri dia makan jika pekerjaannya belum selesai!” Titah Nyonya Ajeng dengan senyum menyeringai, pelayan membungkukkan badannya


“Baik Nyonya”


Nura susah payah membuka pintu gudang, kuncinya sudah berkarat, matanya menatap datar isi gudang tersebut, ia tidak terkejut sama sekali, ada banyak barang tidak terpakai dan kayu bakar yang diletakan sembarangan, penuh debu dan sarang laba-laba, lantainya dipenuhi kotoran tikus, tempat ini sudah lama tidak digunakan


Nura tidak merasa jijik sama sekali, bekerja sebagai buruh dan hidup di tempat pengasingan membuatnya terbiasa dengan hal-hal seperti ini


Pelayan yang selalu datang kepadanya itu membawakan sapu, pel, sikat dan seember bahan pembersih, dengan wajah kasihan menyerahkan peralatannya


“ Nona kedua..”


“Pergilah”


Nura tidak ingin berurusan dengan pelayan itu, jadi dia mengusirnya, sang pelayan terkejut, namun sedetik kemudian ia paham bahwa Nura tidak ingin di ganggu jadi ia buru-buru menjauh


Nura menggulung lengan bajunya, mengikat rambutnya yang pendek, lalu memulai bersih-bersih


*


Ternyata bersih-bersih ini berlangsung sangat lama, saat petang menjelang, Nura baru membersihkan setengah dari isi gudang tersebut, barang-barang yang tidak terpakai dan rusak telah ia kumpulkan untuk dibuang, tetapi tumpukan kayu belum dibereskan sama sekali


Apa aku harus melakukan ini sampai malam?

__ADS_1


Nura menggeleng, ia bukan orang yang sebodoh itu, meletakan sapunya dan menutup pintu gudang, beranjak masuk ke dalam rumah, berniat membersihkan dirinya yang kotor, ia melintasi ruang keluarga, matanya menangkap sosok Nyonya Ajeng dan Nala, tengah duduk di sofa sambil makan kue


“Mau ke mana?”


Nyonya Ajeng bertanya tidak ramah, Nura menghentikan langkahnya, menatap datar kedua wanita itu


“Kamar” Ujarnya singkat


“Mulai sekarang tempat yang kamu bersihkan adalah kamarmu!”


Dengan dingin Nyonya Ajeng menunjuknya, pandangan jijik selalu diarahkan kepadanya, Nala tertawa pelan, benar-benar puas


Apa aku menjadi cinderella sekarang?


Nura sudah menduga perlakuan keluarga ini, hanya saja perlakuan keluarga ini berubah begitu cepat, mungkin mereka menilai Nura yang tidak banyak bicara akan tunduk dan patuh begitu saja, statusnya yang rendah, serendah sampah


“Ya”


Nala selalu merasa kesal berhadapan dengan Nura


Mengapa gadis ini terlalu tenang? Dia benar-benar mayat hidup!


Nura melangkah kembali menuju gudang, menyalakan satu-satunya penerangan disana, sebuah lampu kecil berwarna kuning di tengah gudang, mengambil sapu dan merapikan tumpukan kayu, meletakan di pinggir ruangan


Ketika tengah malam, Nura telah menyelesaikan tumpukan kayu dengan rapi, gudang menjadi jauh lebih bersih dan luas karena barang-barang rusak telah Nura keluarkan


Menyeka peluh di dahinya, Nura tak sengaja menatap pantulan dirinya di cermin besar yang telah dibersihkannya, ada beberapa retakan di beberapa sisi, tetapi ia dapat melihat seluruh tubuhnya dengan jelas


Memang benar itik tidak akan menjadi angsa


Di cermin Nura melihat dirinya, rambutnya yang basah oleh keringat, dress yang penuh debu, wajah kusam serta tangan penuh luka, perubahan yang terjadi semalam hanyalah pemanis yang dilakukan keluarga ini


Kalau begitu untuk apa aku dibelikan pakaian dan pergi ke salon?


Tidak habis pikir, Nur tidak ingin peduli, ia lelah dan butuh istirahat


“Nona kedua” suara lirih pelayan terdengar dari luar, Nura membuka pintu, pelayan yang tadi datang kepadanya itu masuk dan menutup pintu dengan cepat


“Saya membawakan selimut” menyerahkan tumpukan selimut kepada Nura


"Dan makanan” matanya menyiratkan rasa kasihan, mengeluarkan dua buah roti lapis dari balik bajunya


Nura menerimanya dengan ragu, menatap pelayan itu lekat-lekat, pelayan ini masih sangat muda, mungkin baru berusia delapan belas tahun, gadis itu memiliki pipi yang bulat dan tubuh yang kurus, tinggi tubuhnya hampir sama dengan Nura, dan dia masih mengenakan seragam pelayan di tengah malam seperti ini

__ADS_1


“Kau tidak seharusnya melakukan ini untukku, kalau ketahuan bisa dipecat”


Untuk pertama kalinya Nura berbicara banyak, pelayan mengikuti Nura duduk di atas kayu


“Saya tahu. Karena itu saya menunggu semua orang tidur”


“Terima kasih”


Nura memang sangat lapar, tanpa ragu memakannya perlahan


“Nama saya Yiyi, Nona kedua” ujarnya riang


Nura mengangguk sambil menghabiskan roti lapis


“Panggil Nura saja, Yiyi”


“Tapi...”


“Statusku lebih rendah dari kalian, aku adalah anak haram Tuanmu” Nura berkata tanpa beban, membuat Yiyi merasa bersalah


“Saya tahu. Semua pelayan membicarakannya sepanjang hari” Yiyi merendahkan suaranya, terlihat sedih


“Bagaimana kalau kau ceritakan padaku tentang apa yang terjadi di pesta pertunangan Nala dan Tuan Fatih?”


Nura tidak suka dikasihani oleh sebab itu ia mengalihkan pembicaraan ke topik lain, ia juga penasaran akan hal ini


Yiyi terlihat berpikir sebentar, kemudian menangguk


“Nona muda tidak benar-benar ingin bertunangan dengan Tuan Fatih, ia setuju karena mendengar orang itu sangat kaya, tetapi ketika hari pertunangan tiba-tiba saja Nona mengamuk dan menghancurkan pestanya sendiri”


“Mengamuk?”


“Ya. Sebagian pelayan mengatakan Nona muda telah memiliki kekasih, tetapi ada juga yang mengatakan mungkin karena Tuan Fatih yang terlihat tua dan kuno”


“Jadi seperti itu” Nura bergumam mengambil kesimpulan bahwa ia benar-benar ditumbalkan keluarga Daniar untuk menutupi kesalahan yang diperbuat Nala


“Sebaiknya kau kembali, aku akan tidur”


“Ya” Yiyi menyahut singkat dengan cepat ia meninggalkan gudang


Nura menidurkan tubuhnya di atas kayu, meski tubuhnya dibalut selimut, ia masih kedinginan


Apa yang akan terjadi padanya besok?

__ADS_1


*


__ADS_2