CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
29


__ADS_3

Suasana hening, mereka saling bertiga di ruangan itu saling diam, Fatih diam dengan gigi gemeretuk menahan amarah, Nura dengan wajah datarnya, sedangkan wanita itu dengan wajah angkuhnya.


“Tenang, Fatih.” Nura kembali buka suara, dalam hatinya ia merasa malas sekali berurusan dengan orang semacam ini, rasanya semua wanita kaya yang ditemuinya rata-rata seperti ini, gila status dan kedudukan, Nura memang miskin dan tidak berpendidikan tinggi, karena itulah ia selalu direndahkan oleh mereka, tapi itu bukan masalah besar, Nura tidak peduli, tapi menjadi masalah sekarang karena ia bersama Fatih.


Fatih adalah suaminya. Membuat Fatih marah itu juga membuat marah dirinya.


“Apa hak nenek menyuruh Fatih menceraikan saya?” Nura berkata dengan nada datar, tidak terpengaruh sama sekali dengan tekanan yang diberikan wanita tua itu, hanya Fatih yang merasakan dadanya meledak karena amarah.


“Kau sangat berani.” Wanita itu buka suara, tersenyum, entah apa maksud dari perkataannya.


“Berada di sekitar Fatih akan membuatmu terluka, banyak orang yang akan mencoba menghancurkan kalian, apa kamu sanggup?”


Fatih menatap neneknya dengan kening berkerut, perkataan wanita itu terkesan menasihati sekaligus mengancam, ia melirik Nura dengan gugup, takut gadisnya akan goyah, namun istrinya tidak terlihat gentar sedikit pun.


“Saya sanggup atau tidak itu urusan saya.” Nura menatap tajam wanita tua di hadapannya. “Kenapa nenek tidak perbanyak amal saja untuk menyiapkan bekal mati?”


Fatih hampir tersedak air liurnya sendiri karena menahan tawa, ia menutup mulutnya sambil melotot, menatap bergantian antara Nura dan neneknya, kedua wanita itu terlihat sedang terlibat perang dingin.


Wanita tua itu menghela napas panjang, bersandar pada bantal di belakangnya, ia tidak berkata apa-apa dalam beberapa waktu, seolah berpikir keras.


“Saya tidak akan menceraikan Nura apa pun yang terjadi.” Fatih berkata tegas, ia bangkit berdiri setelah merasa tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi, berada di ruangan ini lebih lama tidak baik untuk kesehatan jantung Fatih, lagi pula mereka baru menikah, apa-apaan cerai? Tidak akan pernah terjadi hal seperti itu.


“jangan berpikir bisa mengendalikan saya.” Fatih menarik tangan Nura lembut, menggenggamnya. “Kami permisi.”

__ADS_1


Nura melirik sekilas nenek yang masih diam itu, ia berbalik mengikuti langkah Fatih tanpa berkata apa-apa.


Wanita tua itu menatap kepergian cucunya dengan kening berkerut, bibirnya terkatup rapat, ia jelas tidak senang dengan pilihan cucunya, tapi ia tidak memilik daya untuk menghalangi atau mengganggunya, gadis itu benar, seharusnya ia memperbanyak amal, ia sedikit lagi menuju kematian.


Fatih dan Nura berjalan keluar menuju ruang pesta, mereka saling menautkan jari, menguatkan diri masing-masing, Fatih menyapa beberapa kolega di perusahaannya dengan ramah sambil memperkenalkan Nura sebagai istrinya, orang-orang menatap mereka penasaran, sebab pemilik Axa grup yang tidak pernah muncul ke publik kini muncul sambil menggandeng seorang istri.


“Nura adalah istri saya.” Fatih mengenalkan Nura dengan bangga, entah sudah berapa kali ia berkata hal itu, Nura hanya menunduk sebentar dan tersenyum simpul menatap pasangan pria dan wanita gemuk di depannya.


“Oh … Putri haram yang itu ya?” Wanita gemuk itu berkata dengan sinis, memandang Nura dari bawah sampai ke atas, mendesis jijik.


Sang Pria menyenggol dengan sikunya, tertawa canggung. “Maaf, istriku kadang bicaranya suka asal.”


Sang istri berdecak, memutar bola matanya dengan malas, air dalam gelas di tangannya bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya. “Semua orang juga tahu.”


Orang-orang di sekitar mereka diam dan memperhatikan, dalam sekejap mereka berempat menjadi pusat perhatian, sang suami mengusap pelipisnya, ia berkeringat dingin.


“Anda sangat lucu.” Fatih mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa. “Istri saya adalah istri saya, mau dia anak yang terlahir dari hubungan gelap itu bukan salahnya, itu hanya masa lalu. Untuk apa anda repot mengurusi rumah tangga kami?”


Orang-orang di sekitar mereka diam, dalam hati mereka kagum dengan ucapan lantang Fatih. Laki-laki itu benar, tidak ada yang salah dengan Nura, hubungan yang dilakukan ayahnyalah yang salah.


“Aku tidak ….” Wanita gemuk itu terbata, lidahnya terasa kelu, ia bingung merangkai kalimat pembelaan diri, mereka hanya pengusaha kecil, menyinggung Fatih di acara pesta jamuan keluarga Alfandinata sama saja menyinggung mereka, benar-benar masalah.


“Maafkan kelancangan istri saya.”

__ADS_1


Fatih mendengus, ia juga tidak ingin memperpanjang perdebatan, Nura di sampingnya mengelus pelan bahu Fatih, membawanya menjauh menuju meja berisi makanan, mencoba mengalihkan kemarahan Fatih.


“Aku lapar,” gumam Nura sambil mengambil piring, Fatih tersentak dan wajahnya langsung berubah, ia tersenyum dan mengikuti Nura mengambil makanan.


“Ayo kita makan dengan cepat dan pulang,” bisiknya pelan, orang-orang tidak berani berkata apa-apa, mereka hanya memperhatikan interaksi pasangan baru itu dengan pandangan penuh tanya, apa mereka banar-benar menikah karena cinta? Atau ada hal lain dibalik itu? Gadis itu walaupun dirumorkan sebagai anak haram keluarga Daniar ia tidak terlihat seperti gadis murahan, ia sangat tenang.


Ada banyak pertanyaan dan kebingungan orang-orang di sekitar mereka, namun Fatih dan Nura mengabaikannya saja, mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri.


“Cobalah ini,” ucap Fatih sambil membawa sepiring spageti, ia menggulung spageti itu dengan garpu dan menyuapkannya pada Nura, mereka saat ini berada di meja paling ujung yang tidak terlalu mencolok perhatian, Nura membuka mulutnya, mengunyahnya dengan pelan.


“Ini enak.” Nura berkomentar dengan jujur, Fatih terkekeh.


“Nanti aku akan memasaknya untukmu.” Fatih kembali menggulung garpunya dengan spageti, kembali menyuapkan ke mulut Nura, gadis itu menyambutnya tanpa ragu.


“Kau bisa memasak?” Nura memiringkan kepalanya dengan bingung, ia tidak percaya kalau Fatih bisa memasak, seingatnya hanya bibi Mira yang mengurus masalah makanan, Fatih tidak terlihat pandai di dapur.


Fatih tertawa, ia menyuap spageti ke mulutnya, mengunyahnya cepat. “Kalau hanya ini sih, gampang.”


Mereka berdua saling berbagi makanan satu sama lain, sesekali terdengar gelak tawa Fati dan senyum kecil Nura, orang-orang memilih mengabaikan pasangan baru itu, kecuali Nala.


“Sejak kapan mereka begitu mesra?”


Nala berdiri menatap mereka dari kejauhan, menggigit bibirnya, wajahnya merah padam, ia sangat murka melihat kemesraan Nura dan Fatih, seharusnya bukan Nura yang bersama Fatih, harusnya dia yang di sana, semakin ia melihat betapa lembutnya Fatih memperlakukan Nura, semakin darahnya mendidih, ia membenci Nura sampai ke ubun-ubun, seorang rendahan seperti Nura tidak pantas mendapatkan semua itu, ia harus merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya, dengan cara apa pun itu, ia harus merebut Fatih dari Nura.

__ADS_1


__ADS_2