CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
36


__ADS_3

Jika Nala berniat mengusik rumah tangga Nura dengan mantannya, maka lain lagi dengan wanita cantik yang satu ini.


Wanita cantik itu bertubuh langsing memesona, rambutnya panjang bergelombang, mengenakan gaun pendek dan sebuah blazer hitam, memakai sepatu hak tinggi, wajahnya yang kecil itu memancarkan aura yang menyenangkan,


bibirnya yang semerah ceri itu tipis dan kecil, tersenyum ramah kepada setiap orang yang berpapasan dengannya.


Wanita itu adalah Hana, seorang model ternama dan juga mantan pacar Fatih.


Ia baru saja pulang dari liburan panjangnya di luar negeri, betapa terkejutnya dia ketika tahu mantan yang sangat ingin ia ajak balikan telah menikah dengan seorang wanita rendahan dari keluarga Daniar, anak haram pula.


Hana menduga jika pernikahan Fatih itu hanyalah politik keluarga semata, buktinya Fatih yang awalnya tidak ada niat menjalankan perusahaan tiba-tiba turun tangan mengurus perusahaan,Hana yakin, walau bagaimana pun ia dan Fatih telah menjalin hubungan yang lama, ia bahkan berani menjamin jika Fatih tidak akan bisa berpaling darinya.


Maka dengan penuh percaya diri dan langkah yang anggun ia memasuki perusahaan Axa, melepas kacamatanya, menerobos masuk ke ruang rapat dengan ganas.


“Sayang, kenapa tidak mengundangku ke pernikahanmu?” Hana bersuara dengan suara manja mendayu-dayu, memilin ujung rambutnya, menggigit bibirnya dengan pandangan menggoda.


Seluruh orang diruangan rapat tiba-tiba hening.


Fatih yang saat ini sedang mendengarkan presentasi dari divisi pemasaran mengerutkan keningnya bingung, ia menatap satu persatu karyawannya yang melongo memandang pintu. Ia bebrbalik dan menemukan seorang wanita duduk dengan santainya di kursi paling ujung.


“Hana?” Fatih meletakkan berkas dihadapannya, alisnya saling bertaut, memandang wanita itu dengan pandangan tidak suka.


“Lama tidak jumpa, sayang.” Hana menyahut sambil menopang dagu, suasana ruang rapat yang tadinya serius tiba-tiba menjadi canggung.


“Rapat ditunda sampai jam makan siang, kalian kembali dulu.” Fatih melonggarkan dasinya sambil menghela napas panjang, satu persatu karyawannya keluar dari ruangan dengan kikuk, menyisakan Fatih dan Hana di ruangan


itu.


“Aku tidak menduga setelah aku pergi kau bahkan jadi CEO dan suami orang, huh?” Hana mencibir, membuat wajah sedih dibuat-buat, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, bertingkah seolah ia telah menjadi

__ADS_1


korban. “Kamu jahat.”


Fatih memijit kepalanya, tiba-tiba merasa pusing mendadak karena kehadiran Hana yang sama sekali tidak ia harapkan.


“Kita sudah berakhir, apa kamu lupa?” Fatih mengatakannya sambil melotot, ia bersedekap.


Hana tertawa, ia menepuk meja pelan. Tawanya adalah tawa yang paling disukai Fatih, tapi itu dulu. Sebelum wanita itu selingkuh di depan matanya sendiri.


Fatih mungkin orang yang ramah, selalu tertawa di depan semua orang tapi ia bukan orang yang pemaaf, ia pendendam. Sekali ia merasa disakiti maka Fatih akan mengingatnya baik-baik di kepalanya.


“Ayolah, baby. Aku tahu kamu menikah hanya untuk formalitas kan?” Hana menyeka air mata di pelupuk matanya akibat ia tertawa tadi, matanya memandang Fatih dengan lekat, laki-laki yang ada di hadapannya ini adalah miliknya, wanita mana yang bisa membuat Fatih berpaling ketika ia pergi? Itu tidak mungkin, cinta Fatih hanya untuknya seorang.


Fatih terkekeh, ia bangkit berdiri dan merapikan jasnya, mencoba mengabaikan Hana, ia sekarang mengerti bagaimana perasaan Nura ketika berhadapan dengan Nala, rasanya kesal dan malas untuk berkata panjang lebar,


tidak ingin melakukan perdebatan merepotkan dengan wanita di depannya ini.


“Kata siapa? Aku mencintainya,” sahut Fatih sambil memegang ponselnya, disana ada foto ia dan Nura ketika pertama kali membeli ponsel, laki-laki itu tersenyum kecil.


“Tidak mungkin,” kata Hana sambil tertawa, ia bangkit dari kursinya dan mendekat kearah Fatih, memeluk laki-laki itu dari belakang. “Katakan saja Fatih, kamu masih mencintaiku ‘kan? Ayo kita mulai lagi dari awal, aku tidak keberatan jadi yang kedua.”


Fatih mendengus, ia melepas tangan Hana yang bersarang di pinggangnya dengan kasar, wanita itu memekik dan menatap Fatih tidak percaya.


“Apa aku salah? Kau … tidak … mencintainya ‘kan?”


Fatih menatap dengan dingin, ia menekan nomor telepon Nura di ponselnya.


“Sayang … apa yang kamu mau makan siang ini? Aku akan belikan.” Fatih berseru dengan suara keras, ia melirik Hana dengan pandangan mengejek.


“Tidak usah Fatih, aku dan Bibi sudah memasak makanan kesukaanmu,” sahut Nura di seberang telepon tanpa curiga, suaranya sengaja dispeaker oleh Fatih.

__ADS_1


Hana mematung, menatap mantan terindahnya itu dengan nanar.


“Oh … kau sudah memasak? Oke, aku akan pulang sebentar lagi.” Usai mengatakan itu, Fatih menutup teleponnya, melirik Hana yang masih tidak beranjak dari tempatnya.


“Apa kau tidak waras? Pintu keluarnya disana!”


Hana tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini, wajahnya memerah malu, dengan kaki menghentak ia keluar dari ruangan Fatih, air matanya berjatuhan ke lantai, mengabaikan tatapan-tatapan penasaran karyawan yang


berpapasan dengannya, baru kali ini ia merasakan malu yang teramat sangat, hatinya terasa panas dan terbakar.


Hana masuk ke mobilnya dengan kacau, ia menangis sejadi-jadinya, kepercayaan dirinya seketika runtuh dan hancur berkeping-keping, ia tahu jika ia salah karena dulu ia menduakan Fatih, tapi bukan berarti ia mendapatkan balasan sekejam ini dari Fatih, ia tidak bisa menerimanya, rasanya terlalu menyakitkan.


Setelah lama menangis, ia berhenti karena lelah. Hana tiba-tiba menjadi penasaran seperti apa sosok istri Fatih, secantik apa dia sampai wanita itu bisa mengalihkan dunia Fatih darinya?


Jari-jemarinya mengusap pipinya, dengan semangat ia mengambil peralatan make-up yang selalu dibawanya, ia berias, memoles wajahnya dengan sebaik mungkin, ia berniat mengunjungi rumah Fatih untuk melihat seperti


apa wanita itu, apakah ia pantas bersama Fatih, Hana harus mengujinya, jika wanita itu biasa saja maka kesempatan ia masih berpeluang mendapatkan Fatih ke pelukannya.


Sementara itu di ruang rapat, Fatih tengah memarahi Malik dengan semangat berapi-api.


“Kenapa kamu membiarkannya masuk? Bagaimana kalau Nura tahu? Ia pasti menuduhku berselingkuh dengan wanita gila itu!”


Malik menatap datar Fatih yang masih menggerutu di kursinya, ia memutar bola matanya bosan. “Bos, wanita gila itu mantanmu.”


“Ah, jangan sebut-sebut mantan, aku masih dendam dengannya!”


“Oke, bos.”


“Jangan bilang Nura, aku takut kena talak kalau dia tahu!” Fatih berkata lagi sambil bergidik ngeri, pernikahannya baru seumur jagung, ia tidak bisa membayangkan seperti apa Nura marah padanya, bisa-bisa ia tidur di luar seperti kebanyakan sinetron yang ditonton Paula, bahaya kalau itu sampai terjadi.

__ADS_1


Malik hanya mengiyakan saja, terlalu merepotkan menghadapi tingkah kekanakan bosnya ini, ia hanya berharap semoga bosnya akan dewasa sedikit saja di masa depan, tidak mau ambil pusing ia undur diri diam-diam.


__ADS_2