CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
17


__ADS_3

“Mengapa aku begitu bodoh!”


Ponsel mahal itu dihempas ke dinding, membuatnya hancur berkeping-keping. Nala baru saja menghubungi Angga, menanyakan alasan mengapa laki-laki itu tidak hadir di pesta pertunangan Nura. Laki-laki itu menjawab santai jika ia lupa.


Bagaimana bisa dia lupa pada acara sepenting itu?


Nala sangat ingin memperkenalkan Angga pada Ayah dan Ibunya, mereka sudah menjalin hubungan lebih dari dua tahun, tetapi laki-laki itu selalu saja memiliki banyak alasan.


Nala sebenarnya curiga, Angga memiliki wanita lain, selingkuh di belakangnya, tapi ia tidak pernah mendapat bukti perselingkuhan Angga, laki-laki itu selalu berkilah dan terlalu rapi menyembunyikan perselingkuhannya.


Masa bodoh dengan Angga, ia tidak peduli lagi, mau laki-laki itu selingkuh atau tidak. Laki-laki yang hanya modal tampang itu harus segera ia tinggalkan, ia harus mengejar laki-laki yang jelas-jelas sangat tampan dan kaya.


Di dekatnya ada beberapa majalah yang menampilkan wajah Fatih sang CEO Axa Grup, dan tak ketinggalan Nura sebagai tunangannya, bergandengan tangan dengan mesra di pantai.


“Seharusnya aku yang di sana!” Nala merobek majalah itu dan membuangnya ke bak sampah, kesal. Perasaannya benar-benar buruk, ia merasa kalah dengan Nura, menyesal telah menolak Fatih, juga merasa kesal ia tidak tahu dengan cepat identitas Fatih.


Seharusnya ia yang saat ini berada dalam puncak kemewahan!


“Nura benar-benar mengambil kesempatan emasku,” ucap Nala dengan tangan terkepal, matanya menyala oleh dendam.


“Lihat saja, tidak akan kubiarkan kau bahagia,” kata Nala lagi sambil menyeringai, tidak akan ia biarkan pesta pernikahan Nura berjalan mulus. Apa pun caranya ia akan gagalkan itu, setuju atau tidak ibunya ia tidak peduli.


Yang penting Nura tidak boleh lebih bahagia dari dirinya.


Gadis udik itu harus merasakan apa yang aku rasakan sekarang!


*


Di sisi lain rumah keluarga Daniar, Nura tengah duduk santai di balkon kamarnya, hari sudah mulai senja, sehingga pemandangan taman keluarga Daniar terlihat sangat indah dilihat, membuatnya betah berada di sini berlama-lama.


“Apa kamu sibuk?” Nura bertanya, saat ini ia tengah menghubungi Fatih lewat ponselnya, setelah belajar cukup lama dari Yiyi menggunakan benda itu, Nura menjadi bisa dan panggilan pertamanya adalah untuk Fatih.

__ADS_1


“Aku sebenarnya tidak sibuk, ini waktu istirahat,” sahut Fatih dengan perasaan senang yang meluap-luap, jarang-jarang gadis itu menghubunginya lebih dulu, biasanya dia yang menghubungi Nura.


Ia masih tidak terbiasa bekerja di kantor, memakai kemeja dan jas sekaligus membuatnya gerah, rasanya ingin kembali ke rumah memakai kaos bola dan celana pendek serta sandal kodok kesayangannya.


Kekanakan memang, tapi itulah dia.


“Ada apa?” tanya Fatih antara antusias dan tidak sabar.


“Tidak ada, hanya ingin saja,” sahut Nura pelan, dia memang tidak punya alasan khusus menelepon Fatih, hanya ingin saja.


“Katakan saja kamu rindu.”


“Tidak,” bantah Nura dengan suara datarnya, ia tidak pernah merasakan perasaan rindu itu sebelumnya, jadi ia tidak yakin apa perasaannya sekarang.


Fatih hanya tersenyum, semua informasi Nura ada di tangannya, ia tahu keadaan psikologis Nura, keadaan dimana seseorang tidak merasakan emosi apa pun, itu pasti sangat tidak menyenangkan, tidak merasa senang, bahagia, sedih atau terharu hanya datar saja.


Tenang saja, Nura cepat atau lambat akan tersenyum bersamanya, batin Fatih optimis.


“Baik. Aku rindu Fatih,” ucap Nura, ia tidak tahu harus menyangkal atau bagaimana, jadi mengalah dan mengikuti Fatih saja, kemudian ia mendengar suara tawa Fatih yang disukainya.


“Aku rindu juga,” balas Fatih setelah tawanya mereda, “Apa yang kamu makan siang tadi?”


Nura mengingat makanan yang Yiyi antar siang tadi ke ke kamarnya, dua piring nasi putih dan beberapa olahan ayam yang baunya sangat menggoda hingga Nura merasakan air liurnya menetes, “Aku makan nasi dua piring dengan ayam, tidak tahu masak apa tapi bumbunya sangat enak.”


Mendengar itu Fatih mau tidak mau tertawa lagi. Tadinya ia sedikit khawatir Nura akan di perlakukan buruk oleh Nala atau Nyonya Ajeng, tapi sepertinya semuanya baik-baik saja.


“Kamu bisa bertanya pada Yiyi.”


“Benar, aku akan bertanya pada Yiyi agar bisa memakannya lagi.”


“Aku ingin mengajakmu pergi.”

__ADS_1


“Ke mana?” Nura bertanya, membayangkan pantai yang terakhir kali mereka kunjungi, makanan laut di sana sedikit pedas namun sangat enak.


“Suatu tempat,” sahut Fatih sambil menatap foto kedua orang tuanya yang tersenyum di meja kerjanya, memutar kursinya dan menatap langit senja, warna kesukaan Nura.


"Tapi tidak sekarang.”


“Kapan?”


“Beberapa hari lagi, saat aku tidak terlalu sibuk, aku sangat sibuk beberapa hari ini, kamu tahu ini melelahkan sekali,” keluh Fatih sambil merapikan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja.


Paman Zoe yang menjadi sekretarisnya datang membawa setumpuk dokumen, Fatih mau tidak mau melengkungkan bibirnya cemberut.


“Tidak apa-apa, jangan lupa istirahat.” Kata Nura, menutup teleponnya tanpa persetujuan Fatih, ia tidak ingin mengganggu Fatih terlalu lama, setelah mendengar suaranya saja sudah cukup bagi Nura.


Yiyi datang menyuruh Nura untuk masuk ke dalam rumah, hari sudah mulai gelap.


Sementara di tempat lain Fatih tengah uring-uringan di depan Paman Zoe.


“Ini semua karena Paman! Lihat teleponnya di putus nih,” ucap Fatih dengan wajah muram, mencoba menyalahkan sang sekretaris. Paman Zoe mengabaikan rengekan Fatih membuka tumpukan dokumen itu dan menyuruh Fatih segera mempelajarinya, besok Fatih harus menjelaskannya di depan para pemegang saham.


“Kapan dokumen ini berakhir? Aku mau kencan!” protes Fatih mengambil dokumen dengan malas.


“Setelah ini selesai masih ada tumpukan lain di luar,” kata Paman Zoe santai, ia terlihat sangat menikmati penderitaan Fatih.


“Masih ada? Tidak bisakah paman saja? Apa aku harus lembur lagi?”


“Tidak bisa ini sudah jadi tanggung jawab Tuan Fatih. Dan tentu saja aku akan mengawasimu sampai selesai.”


Paman Zoe tersenyum, selama ini Fatih memang terbiasa lembur, tapi tidak di kantor, di rumahnya, jadi ia merasa nyaman, sedangkan di kantor ia masih perlu beradaptasi lagi.


Fatih tidak mengatakan apa-apa, bibirnya bertekuk kesal, namun ia tetap mengerjakan dokumen-dokumen itu dengan teliti. Dalam hati ia membenarkan ucapan Paman Zoe, ini semua adalah miliknya, tanggung jawabnya, ia harus mengelolanya dengan benar, atau ia akan menghancurkan peninggalan orang tuanya yang sudah susah payah dibangun bertahun-tahun.

__ADS_1


__ADS_2