CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
24


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang telah ditunggu-tunggu, hari pernikahan Fatih dan Nura, sejak kemarin suasana rumah Daniar sangat sibuk, pihak penyelenggara pernikahan yang dipesan Fatih terlihat sibuk mondar-mandir.


Nyonya Ajeng tidak mengetahui pergantian paket pernikahan itu, hanya Nala yang mengetahuinya, wanita itu awalnya sangat bersemangat kini hanya duduk di depan meja rias dengan wajah muram.


Nala ingin mengganggu dan merusak riasan Nura, tetapi wanita bernama Paula memelototinya dengan garang.


Nala mendengus, kepalanya masih memikirkan berbagai cara menghancurkan hari ini. Moodnya sangat buruk, belum lagi Angga tidak dapat ia hubungi sama sekali, kekasih tercintanya benar-benar menghilang ditelan bumi.


Ia merias wajahnya dengan cepat, memakai gaun biru yang baru saja dibelinya beberapa waktu lalu. Gaun itu memiliki tali yang saling terhubung ke belakang, ketika Nala memakainya, ia berdecak, salah satu talinya putus, itu berarti tali yang lain juga terputus, Nala menggeram, gaunnya tidak bisa ia pakai.


Moodnya semakin buruk, apalagi ketika ibunya datang menyuruhnya bergegas turun.


“Apa yang membuatmu begitu lama? Keluarga Alfandinata sudah datang!” Nyonya Ajeng memelototi Nala di depan pintu, wanita itu hanya mendesah pelan, melambaikan tangannya.


“Sebentar, sebentar lagi aku akan turun,” sahut Nala malas, entah kenapa ia merasa tubuhnya gatal.


*


Nura tengah memejamkan matanya, saat ini ia sedang duduk manis didepan meja rias, membiarkan wajahnya dipoles sedemikian rupa oleh Paula, ia baru tahu jika wanita ini sangat lihai merias wajah.


Paula bersenandung, Nura memiliki kulit yang bagus, ia cocok memakai warna apa saja, tetapi mengingat Nura masih muda ia memoles gadis itu dengan warna-warna natural, dan hasilnya luar biasa, Nura terlihat cantik secara alami, ditambah gaun yang mereka pilih, Nura benar-benar menjelma bak seorang dewi.


“Baby ... sudah aku duga kau sangat cantik,” ucap Paula yang saat ini tengah menata rambut pendek Nura, mereka saling tatap di cermin, walau Nura hanya menunjukkan wajah datarnya, tetapi ia tetap memukau.


“Apa Fatih akan menyukai penampilanku?”


“Tentu saja, aku yakin dia akan tersenyum lebar seperti ini,” Paula mencontohkan seperti apa senyum Fatih, Nura mulai membayangkan wajah Fatih.


“Jangan gugup, ini adalah hari besarmu.” Paula menyelesaikan rambut Nura dan memasangkan tudung pengantin.


“Apa pun yang orang katakan di luar sana, jangan pedulikan.”

__ADS_1


“Ya, aku mengerti.”


Nura berdiri, ia telah siap, dia berjalan dituntun Yiyi dan Paula di belakangnya, suasana di bawah telah ramai, Fatih mungkin mengundang semua orang, Nura melihat Nyonya Ajeng dan Tuan Prabu yang sibuk melayani tamu, tetapi ia tidak menemukan Nala di mana-mana.


Nura tidak pernah membayangkan kalau hari ini adalah hari pernikahannya, seperti bermimpi, segala sesuatu yang ia lihat hari ini berkilauan, orang-orang yang datang, mereka memakai pakaian mahal, dekorasi pestanya sangat mewah dan berkelas, hampir di semua meja terisi makanan, Nura merasakan dadanya berdebar, ini harinya, hari pernikahannya.


Tapi yang paling tidak bisa ia percaya, ia menikahi Fatih, laki-laki yang baru dikenalnya beberapa bulan ke belakang, laki-laki jahil dan juga kaya.


Seperti dugaan Paula, Fatih berdiri di sana, menunggunya dengan senyum lebar di wajahnya, laki-laki itu terlihat beberapa ratus kali lebih tampan dari biasanya, memakai setelah setelan jas hitam dan rambutnya yang ditata ke atas, memperlihatkan dahinya, Nura merasa Fatih sangat menawan.


Fatih mengambil tangan Nura, membawanya duduk, mereka berhadapan dengan penghulu, saling mengikat janji suci.


Nura tidak dapat mendengar kata-kata orang lain, kepalanya sepenuhnya diisi oleh Fatih, samar-samar ia masih mendengar Fatih berucap ‘Saya terima’ lalu orang-orang bersorak bahagia.


Fatih memandangnya, senyuman lebar itu seolah tidak pernah luntur dari wajahnya.


“Kamu sangat cantik,” bisik Fatih, menggenggam tangannya, Nura merasakan dadanya kembali berdebar.


Ia benar-benar menikah dengan Fatih!


Fatih tidak bisa melepaskan tangannya dari Nura, kalau tidak menggenggam tangan gadis itu, ia akan memeluk pinggangnya atau merangkul bahunya, apa pun itu ia tidak ingin Nura jauh darinya.


“Fatih,” ucap Nura pelan untuk pertama kalinya, Fatih menoleh.


“Bisakah aku ... setelah ini selesai, ikut tinggal denganmu?” Nura bertanya, ia benar-benar tidak ingin tinggal terlalu lama di rumah Daniar, kalau bisa hari ini juga ia ingin pindah dari tempat ini.


Fatih langsung tertawa, mereka sudah menikah tentu saja Nura harus ikut dengannya, “Tentu.”


“Terima kasih,” lanjut Nura, Fatih mengangguk pelan, “Apa pun untukmu.”


“Tidak Fatih, aku benar-benar berterima kasih,” ucap Nura membawa tangan Fatih ke wajahnya, Nura melengkungkan bibirnya, ia tersenyum.

__ADS_1


“Terima kasih sudah membawaku keluar dari keluarga Daniar.”


Fatih merasakan jantungnya berdegup kencang, wajahnya memerah, Nura tersenyum, akhirnya setelah sekian lama ia melihat gadisnya tersenyum, senyum tipis yang mampu membuat dunia Fatih berguncang karena rasa bahagia yang meluap-luap.


Fatih tidak bisa menahan rasa bahagia yang membuncah memeluk Nura di hadapan banyak orang, dunia benar-benar terasa miliki mereka berdua.


“Ya ampun pengantin baru.”


Tak jauh dari mereka, Paula duduk bersama Paman Zoe, tangan wanita itu menggoyang-goyangkan gelas berisi soda.


“Itulah yang terjadi kalau kau menikahkan anak-anak,” balas Paman Zoe sambil terkekeh. Malik juga ada disana, dia berbincang bersama Yiyi, pelayan muda keluarga Daniar ini sangat menggemaskan.


Nyonya Ajeng dan Tuan Prabu juga duduk disana, mereka bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, tetap melayani tamu yang datang sambil memasang wajah bahagia.


“Pelayan, di mana Nala? Apa dia masih di kamarnya?” Nyonya Ajeng memanggil pelayan, merasa gelisah karena putrinya tidak terlihat di mana pun padahal pesta sudah berjalan setengah jalan.


“Saya akan mencarinya, Nyonya.” Pelayan itu masuk ke dalam rumah dengan cepat, menuju kamar Nala, diketuknya pintu tiga kali, tidak ada jawaban.


“Nona Muda? Apa nona di dalam?”


Hening tidak ada jawaban, pelayan itu dengan sabar kembali mengetuk pintu.


“Pergilah!” Nala berteriak dari dalam kamar, ia saat ini sedang meringkuk di kamar mandi, wajahnya terasa panas dan terbakar, begitu juga tubuhnya terasa sangat gatal dan di tambah ruam merah.


"Tapi Nyonya besar mencari anda."


"Aku bilang pergi!"


Nala kembali mengguyur tubuhnya dengan air dingin, rasa gatal itu mulai menghilang tetapi ruamnya masih ada, merah-merah, menghiasi wajahnya, ia tidak berani menunjukkan mukanya di pesta, terlalu malu dengan keadaannya.


Ia tahu ini pasti perbuatan Nura, kebencian Nala semakin menjadi-jadi, matanya menatap nyalang pantulan dirinya di cermin.

__ADS_1


“Akan aku balas kau gadis udik! Tunggu saja.”


__ADS_2