
Seorang wanita bertubuh molek turun dari mobil mewah berwarna putih, rambutnya yang berwarna merah terurai indah berkilauan tertimpa sinar matahari di minggu pagi, menenteng koper dan tas kecil, ia berjalan berlenggak-lenggok masuk ke dalam kediaman Alfandinata, rumah mewah Fatih.
Wanita itu melepas kacamata hitamnya, memperhatikan sekeliling, rumah ini tidak berbeda jauh dari yang ia ingat ketika pergi ke luar negeri.
Wanita ini adalah Paula, adik dari mendiang ibu Fatih, selama ini ia tinggal di luar negeri untuk mengurus cabang bisnis Alfandinata, pagi ini dia sangat terkejut ketika menerima kabar bahwa sang keponakan akan segera menikah.
Paula tidak mempermasalahkan hal itu sebenarnya, menikah atau tidak itu urusan pribadi Fatih, namun ketika mendengar anak haram keluarga Daniar itu jelas menjadi masalah.
Ia melangkah masuk ke dalam ruang keluarga, ternyata di sana tidak hanya dia yang datang, ada Tuan Rangga dan Nyonya Lasmi, adik dari ayah Fatih, entah kenapa ia sudah menduga kehadiran dua orang ini.
“Siapa yang memutuskan pernikahan konyol seperti ini!?” Kata Nyonya Lasmi dengan suara melengking, mereka saat ini tengah duduk di sofa ruang tengah, Fatih duduk di sofa tunggal, dengan kaos bola dan celana pendek, tampak bosan.
Anak ini tidak berubah.
Di hadapan Fatih ada Tuan Rangga dan Nyonya Lasmi, mereka berdua terlihat tidak senang, alis mereka saling bertaut dan bibir yang melengkung.
“Kau masih terlalu muda untuk memimpin perusahaan dan sekarang kau mau menikah? Pff... kau bahkan masih berusia dua puluh enam tahun!” kata Tuan Rangga dengan nada merendahkan, ia benar-benar merasa di permalukan di rapat yang lalu.
Bocah seperti ini mau memimpin perusahaan? Yang ada perusahaan bangkrut dan punya hutang di mana-mana.
“Dan anak itu adalah anak haram? Kau benar-benar mempermalukan keluarga Alfandinata!” Nyonya Lasmi terus meraung, marah.
Ia tidak setuju, baik dengan pernikahan atau Fatih yang mengambil alih perusahaan. Menurutnya lebih baik Fatih belajar lebih banyak dan mencari pengalaman bekerja, untuk masalah perusahaan biar mereka yang mengurus.
Tuan Rangga sejak awal memang tidak pernah menunjukkan rasa sukanya terhadap Fatih, namun ketika rapat berakhir ia merasakan kebencian mendalam pada anak kakaknya ini.
“Kau bahkan tidak pernah mendiskusikan masalah ini dengan keluarga besar Alfandinata, apa yang terjadi jika nenek mendengar? Dia bisa kena serangan jantung.”
__ADS_1
Alfandinata mempunyai keluarga besar, mereka tinggal terpisah di kompleks perumahan elit, Fatih tidak menyukai mereka, pada saat ayahnya meninggal mereka bukannya membantu merawat dirinya justru berlomba-lomba merebut harta dan bisnis ayahnya.
Fatih tidak pernah mempercayai siapa pun dari keluarga Alfandinata. Ia sudah lama putus kontak dengan keluarga besar. Mereka juga tidak pernah menghubungi Fatih, kedatangan Paman dan Bibinya ke rumah ini merupakan sesuatu yang langka, terakhir kali mereka kemari saat ayah dan ibunya meninggal.
Dan itu pun bukan untuk dirinya, tetapi untuk perusahaan, sama seperti hari ini.
“Aku tidak peduli dengan keluarga besar,” ucap Fatih tenang, “Di mana kalian dua belas tahun yang lalu? Oh iya, kalian ramai-ramai ingin membuangku ke panti asuhan.”
Mendengar itu Tuan Rangga dan Nyonya Lasmi terdiam, memang benar mereka dulu berupaya menyingkirkan Fatih, tapi rencana itu digagalkan oleh sekretaris Zoe.
Paula yang sedari tadi diam menyaksikan hanya bertepuk tangan pelan lalu duduk di sofa sebelah Fatih.
“Wah.. wah.. aku kaget sekali mendengar berita pernikahan Fatih, jadi aku buru-buru memesan penerbangan paling awal pagi ini, dan aku lebih kaget lagi melihat dua orang ini ada disini, uh.. halo Lasmi, Rangga, lama tidak bertemu.”
Paula sejak dulu tidak pernah menyukai keluarga Alfandinata, menurutnya keluarga ini terlalu terikat aturan, sedangkan ia adalah orang yang bebas.
“Ya, aku memang orang luar, tapi Fatih masihlah keponakanku," sahut Paula santai sambil menyeringai, memandang Tuan Rangga dengan tajam.
“Bagaimana pun pernikahan kalian tidak disetujui keluarga Alfandinata!” Nyonya Lasmi melotot, Fatih hanya terkekeh.
“Aku tidak peduli, ini hidupku jangan ikut campur.”
“Fatih kamu itu masih bagian keluarga Alfandinata, jangan lancang.”
“Aku tidak lancang, aku hanya melakukan apa yang aku mau. Aku menikahi siapa pun bukan urusanmu, kalau kau ingin mengaturku itu terlambat dua belas tahun!” sahut Fatih dengan sinis, Paula berdehem, ia tahu semua yang terjadi di masa lalu Fatih.
"Dua belas tahun bukan waktu yang singkat." Paula menimpali.
__ADS_1
“Kalau mendengar ini nenek akan sedih. Kamu cucu kesayangannya bahkan tidak pernah berkunjung tiba-tiba menikahi anak keluarga rendahan.”
“Serendah apa dia? Apa kalian yang memutuskan dia terlahir di keluarga mana? Aku yang akan menikah jadi itu semua tanggung jawabku.” Fatih berkata dengan tegas, Paula awalnya khawatir jika pernikahan ini hanyalah salah satu dari kejahilan Fatih, tapi melihat Fatih tidak goyah sedikit pun berdebat dengan paman dan bibinya sendiri, membuat Paula menetapkan hatinya mendukung Fatih.
“Dan masalah perusahaan, kau tidak peduli padaku, kau hanya ingin posisiku.” Kata Fatih dingin, mengingat segala sesuatu yang dilakukan pamannya di belakang membuatnya marah. Orang ini bukanlah keluarganya, dialah orang asing sesungguhnya.
Tuan Rangga merapatkan mulutnya, merasa perdebatan ini tidak akan dimenangkan olehnya, belum lagi kedatangan Paula yang semakin merendahkannya.
“Mengapa kamu berpikiran sangat buruk kepada keluargamu sendiri? Kami selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu.” Nyonya Lasmi buka suara dengan suara melembut, Paula memutar bola matanya, bosan.
“Keluargaku adalah Paman Zoe dan Paula,” balas Fatih sambil melirik cangkir teh yang tidak tersentuh.
“Kamu anak tidak tahu diuntung!” Fatih menatap pamanya dan tertawa pelan, cangkir teh di letakannya di atas meja.
“Benarkah? Tapi itu tidak mempengaruhiku sama sekali.”
Fatih melirik Paula sekilas, “Bibi Paula, aku rasa kamu lelah, apa ingin beristirahat dulu?”
“Tentu saja, aku ingin istirahat sebentar.” Paula bangkit dan menggeret koper ke lantai atas meninggalkan Fatih yang minum teh dengan santai serta Tuan Rangga dan Nyonya Lasmi.
“Ada lagi?” Fatih menaikkan alisnya, memandang kedua orang tua itu, matanya mengisyaratkan agar kedua orang itu pergi dari rumahnya.
“Kamu lihat saja, pernikahan kalian tidak berlangsung lama! Aku jamin itu!” Nyonya Lasmi berkata dengan garang, lalu pergi dengan kaki mengentak, ia sangat marah.
Tuan Rangga tidak berkata apa-apa tetapi matanya menyala penuh kebencian. Mereka berdua keluar rumah dengan wajah suram.
Fatih masih di sofa, menatap layar ponselnya, melihat foto Nura dan dirinya, ia tersenyum simpul.
__ADS_1
“Aku harap kita bisa bersama mengalahkan orang-orang yang meremehkan kita."