
Nura melalui malam dengan tidur nyenyak di rumah keluarga Daniar, mungkin karena ia terlalu lelah bekerja lembur di pabrik kemarin, merentangkan tangannya sebentar lalu melangkah menuju kamar mandi, tidak butuh waktu yang lama Nura selesai dan membuka lemari pakaian yang besar disisi ranjang, lalu terpaku, bingung, pakaian dalam lemari ini terlalu banyak, dan rata-rata gaun tanpa lengan yang panjangnya di atas lutut
Ini terlalu terbuka
setelah memilih lama, akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah dress bermotif bunga kecil berwarna abu-abu, dress itu berlengan panjang, dan panjangnya di bawah lutut
Nura duduk di meja rias sambil menyisir rambutnya, di depannya peralatan make up tertata dengan rapi
ia menggeleng pelan
Ia tidak perlu memakai hal seperti itu, lagi pula ia tidak tahu harus di pakai dimana dan seperti apa, terlebih lagi semua ini bukan miliknya
“Nona kedua”
Seorang pelayan mengetuk pintu, Nura membukanya dan menemukan pelayan itu tengah memegang sebuah nampan berisi pancake buah dan madu ditambah dengan segelas teh
“Sarapan anda”
“Terima kasih” Ujarnya seadanya, bagaimana pun Nura tidak terbiasa dilayani oleh orang lain seperti keluarga Daniar yang segala sesuatunya harus dilakukan oleh pelayan
“Tuan meminta anda datang ke ruang kerja jam sepuluh”
Setelah mengatakan itu, pelayan pamit undur diri, Nura diam saja, melirik jam dinding di kamarnya, jarum pendek masih menunjukkan angka delapan
Masih lama, pikirnya
Ia menghabiskan sarapan dengan cepat, lalu memutuskan untuk pergi jalan-jalan di sekitar rumah keluarga Daniar
Rumah keluarga Daniar amatlah luas, sebagai salah satu keluarga terpandang di kota Barat Daya, rumah yang berada di kawasan elit kompleks Latusa itu lebih pantas di sebut sebagai istana. Ada banyak ruangan, perabotan mahal dan para pelayanan yang tidak terhitung jumlahnya.
Langkah kaki Nura membawanya ke taman di samping rumah, taman itu sangat luas, ditumbuhi berbagai macam bunga, di tengah-tengah terdapat air mancur dan kolam ikan di bawahnya, tak jauh darinya beberapa pelayan terlihat tengah sibuk merawat bunga dan memotong rumput-rumput yang mulai meninggi
Pemandangan ini tidak pernah ia lihat sebelumnya di tempat pengasingan, tidak ada pabrik-pabrik yang mengeluarkan asap hitam dari cerobongnya, mobil truk pengangkut barang, serta rumah-rumah kumuh para buruh
Nura menatap dirinya di pantulan air kolam, tak ada yang menyangka ia berubah dalam semalam
“Sedang mengasihani dirimu sendiri huh, gadis udik?!”
Suara Nala melengking, Nura berbalik dan menemukan Nala berdiri tak jauh dengan berkacak pinggang, pakaian olahraga melekat di tubuhnya, dan sebuah handuk kecil tergantung di lehernya
__ADS_1
“Oh! Aku lupa! Kamu akan menjadi istri seorang pria tua kaya!”
Nala memberi senyum mengejek, lalu tertawa meremehkan
Semakin sering bertemu dengan Nala, Nura menjadi terbiasa untuk tidak merespons apa pun, tidak tahu juga harus menyahut seperti apa
“Pernikahan kalian tidak akan lama! Orang tua itu pasti bosan dengan mayat hidup sepertimu!”
Seolah menemukan hal baru untuk merendahkan Nura, ia sangat bersemangat dan cukup puas dengan hinaan yang terlontar dari mulutnya
Nura yang tanpa ekspresi lebih mirip mayat
hidup, raga tanpa jiwa
“Sejak awal itik buruk rupa tidak akan pernah menjadi angsa!” Wanita itu menyombongkan diri dengan bangga
Nala berwajah cantik, kulit putih merona, bibirnya merah dengan olesan lipstik mahal, bentuk tubuhnya sangat indah dan cocok memakai pakaian apa pun
Berbeda jauh dengan Nura, wajah pucat tanpa riasan dan tubuh kurus dan tangan penuh luka
Nala mendekat, menyentuh dress bunga yang di pakai Nura “Seleramu rendahan sekali”
Dengan pandangan jijik, Nala menyapu tangannya dengan handuk dari lehernya
Entah sudah yang ke berapa kalinya, Nura mendengar kata-kata seperti itu, sebegitu rendahkah statusnya di mata keluarga ini?
Nala menyeringai ketika tak mendapati jawaban dari Nura, wanita cantik itu berjalan menabrak bahu Nura dengan angkuh, merasa di atas angin.
Orang-orang ini sangat seenaknya
“Nona kedua, anda di tunggu Tuan di ruang kerja”
Entah dari mana datangnya pelayan itu tiba-tiba saja sudah di hadapan Nura, gadis itu mengangguk kaku tanpa berkata-kata dan mengikuti langkah kaki pelayan itu, menuju ruang kerja
Ruang kerja terletak di lantai dua, setelah melewati beberapa ruangan, mereka tiba di sebuah pintu besar yang dipenuhi banyak ukiran, pelayan mengetuk pintu tiga kali, membukanya dan mempersilahkan Nura masuk
Tepat saat Nura hendak masuk Nyonya Ajeng keluar, wanita itu tidak meliriknya sedikit pun
Tuan Prabu duduk di sofa menunggunya, di sekitarnya terdapat beberapa lemari berisi buku dan berbagai macam dokumen penting berjejer dengan rapi, sebuah meja dan kursi dan beberapa perlengkapan elektronik lainnya
__ADS_1
Nura duduk di hadapan Tuan Prabu tanpa diminta, di atas meja terdapat dua cangkir teh beserta tekonya, asapnya masih mengepul, pertanda baru saja dibuat
“Aku tidak akan berbasa-basi lagi”
Tuan Prabu buka suara, sorot mata dan nada suaranya berubah dari yang semalam ia lihat, menjadi lebih dingin dan sinis
Akhirnya wajah aslinya terlihat
Nura duduk diam di sofa, tak menyentuh teh sama sekali
“Aku membawamu kemari untuk menggantikan putriku sebagai istri Tuan Fatih!”
Berkata dengan tegas, Tuan Prabu tidak berniat menjelaskan lebih jauh mengenai siapa Tuan Fatih dan mengapa Nura menggantikan Nala, yang terpenting bagi Tuan Prabu, Nura tidak menolak dan memberontak maka bisnisnya akan aman
Masalahnya, Tuan Prabu belum bisa menghubungi Tuan Fatih sejak pesta pertunangan yang kacau itu. Pria itu pasti marah, ia harus melakukan sesuatu untuk mengatasi hal tersebut
“Buat dirimu berguna, lakukan apa yang aku katakan, jangan membantah!”
“Ya” Nura merespons singkat, setuju
Nura berpikir setidaknya setelah menikah ia tidak harus berurusan dengan orang-orang serakah ini, tidak berlama-lama tinggal satu atap dengan mereka yang telah menyakiti ibunya
Dan mungkin saja, ia bisa melakukan sesuatu untuk membalas dendam
*Tapi, orang seperti apa Tuan Fatih itu?
Setua itukah?*
“Bagus, besok aku akan menemui Tuan Fatih, selama itu jangan banyak bertingkah!”
“Baik”
Nura menjawab dengan tenang, hatinya tidak gentar sedikit pun, walaupun sekarang statusnya sangat rendahan, seorang anak haram yang dilahirkan pembantu, tapi suatu saat nanti
Orang ini yang akan bersujud kepadanya!
Tuan Prabu meminum tehnya dengan tangan bergetar, ekspresi Nura yang datar itu membuat hatinya gelisah, ia tidak bisa menebak apa yang dipikirkan gadis ini
Sama sekali tidak tahu
__ADS_1
Tapi ia tidak akan diam saja, secepatnya gadis ini harus ada dalam kendalinya, untuk keluarga Daniar
*