
Setelah acara pertunangan selesai, perlakuan keluarga Daniar berubah drastis pada Nura, mereka memperlakukan Nura dengan baik, terlalu baik malah, Nura di belikan banyak pakaian dan sepatu, ia tidak lagi tidur di gudang, Yiyi ditugaskan selalu di samping Nura melayaninya.
Nura tahu kalau mereka melakukan itu semua hanya untuk Tuan Fatih, hanya di depannya saja. Tapi ia tidak peduli, terlalu merepotkan meladeni ibu dan anak itu.
Seperti saat ini, mereka sengaja mengajak Nura ke butik yang pernah Nura datangi untuk pertama kalinya bersama Tuan Prabu, bertingkah seolah mereka adalah ibu dan kakak yang baik, memilihkan Nura gaun dan pakaian.
Tapi pakaian yang mereka pilihkan adalah pakaian terburuk yang sama sekali tidak cocok untuk Nura, warnanya terlalu mencolok, penuh renda, dan ada yang terlalu panjang dan pendek.
“Nura lihatlah, cantik bukan?” Nala memamerkan sebuah gaun pendek dengan kain yang tipis, Nura khawatir memakainya, mungkin akan membuatnya memperlihatkan sesuatu yang tidak ingin dia perlihatkan.
“Itu cantik, tapi aku tidak ingin memakainya,” sahut Nura sambil memilih kemeja bergaris-garis.
“Hei, ini adalah gaun edisi terbatas, paling mahal dan langka. Apa kau tidak mau membelinya?”
“Tidak.” Nura menyahut singkat, sibuk sendiri. Nala semakin geram, ia meninggikan suaranya, “Aku tidak tahu ternyata kau sesombong itu sekarang, jangan hanya karena kau calon istri Fatih Alfandinata!”
Orang-orang yang ada di butik mulai kasak-kusuk, siapa yang tidak kenal dengan keluarga Alfandinata, pembisnis paling sukses di kota ini. Mereka menatap Nura dengan pandangan menghakimi, gadis yang kurus seperti tulang dan wajah yang pucat ini adalah calon istri Alfandinata? Apa mereka buta? Di mana standar kecantikan para keluarga elit?
“Nala, ada apa?” Nyonya Ajeng baru kembali setelah memilih sepatu hak tinggi di ruangan lain di butik ini.
“Gadis ini memilihkan pakaian terburuk untukku, lihat pakaian ini terlalu pendek, hanya wanita murahan yang memakainya!”
Nala mengangkat tinggi-tinggi gaun tipis yang sedari tadi ada di tangannya, orang-orang di butik semakin mendekat penasaran. Nura mengerutkan keningnya, ia bahkan tidak menyentuh pakaian itu sedikit pun bagaimana mungkin ia memilihkan itu untuk Nala?
Nura menghela napas panjang, ia mengerti, mereka saat ini sedang bermain cantik.
“Nura bagaimana mungkin kamu memilihkan pakaian seperti ini untuk saudaramu?” ucap Nyonya Ajeng menambah panas suasana.
“Itu terlihat cocok untuknya,” sahut Nura singkat, ia akan ladeni drama ini, jangan salah, selama bekerja di pabrik ia sudah menghadapi trik-trik semacam ini.
“Jadi kau mau membuatku seperti gadis murahan!”
“Kamu benar-benar sombong Nura, jangan karena Tuan Fatih kau perlakukan saudaramu seenaknya! Memilihkan gaun tipis ini? Kau benar-benar keterlaluan!”
Kasak-kusuk pengunjung butik benar-benar tak terhindarkan. Nura tetap pada wajah datarnya, tidak terpengaruh sedikit pun dengan drama ibu dan anak ini.
__ADS_1
“Wah benar-benar keterlaluan."
“Ternyata calon istri keluarga Alfandinata berkepribbadian buruk."
“Apa jangan-jangan dia sendiri yang merangkak ke ranjang Tuan Fatih.”
“Hei kudengar Tuan Fatih itu masih muda, pantaslah.”
“Pernikahan mereka tidak akan berlangsung lama, mereka sama-sama berusia muda.”
“Benar, gairah muda.”
Nura mendengarkan semua itu dan tak bereaksi apa-apa, Nyonya Ajeng dan Nala bertingkah seolah mereka korban yang tersakiti.
“Aku tidak tahu, aku tinggal di pengasingan sebelumnya, aku hanyalah anak haram keluarga Daniar, “ ucap Nura lancar tanpa beban, Nyonya Ajeng memucat tidak menyangka gadis itu akan membongkar aib dirinya sendiri di depan umum.
“Apa yang kau katakan?” Nyonya Ajeng menyalak dengan mata melotot, marah karena nama Daniar di bawa-bawa.
“Ya. Kau itu hanya anak haram tahu apa!?” Nala tidak tahu kekhawatiran Nyonya Ajeng malah semakin memanasi.
“Karena aku tidak tahu apa-apa, bukankah kalian yang keterlaluan?”
“Ku dengar dia anak haram keluarga Daniar.”
“Benar, Tuan Fatih sendiri yang mengumumkannya.”
“Sepertinya dia tidak di perlakukan dengan baik, lihat tubuhnya terlalu kurus.”
“Jangan-jangan keluarga Daniar sengaja memanfaatkan dia.”
“Wajarlah dia tidak tahu apa-apa soal pakaian, dia tinggal di pengasingan, keluarga Daniar sangat buruk.”
“Benar-benar keluarga tidak tahu malu."
Opini membela Nura terbentuk dan berbalik menyalahkan Nyonya Ajeng dan Nala, mereka memandang simpati Nura, dan memandang sinis Nala.
__ADS_1
“Kau beraninya! Masih untung ayah menjemputmu kembali, kalau tidak kau akan mati membusuk di sana!” Nala kembali berkata dengan marah, wajahnya merah padam, mencoba memperbaiki citra dirinya, namun yang ia dapatkan malah semakin buruk.
“Jadi dia membiarkan anak haram itu tinggal di pengasingan bertahun-tahun.”
“Betapa malangnya."
“Jangan bilang di luar sana masih ada anak lainnya."
Nyonya Ajeng benar-benar marah, ia menjerit kesal, “Tidak benar! Kami memperlakukan Nura dengan sangat baik, kami mendahulukan dia menikahi Tuan Fatih daripada putriku sendiri, apa yang kurang bagiku sebagai seorang ibu?”
“Nura aku perlakukan seperti adikku sendiri, di mana terima kasihmu?”
Pengunjung butik mulai terbelah dengan berbagai pro kontra, sebagian membela Nura, sebagian lagi membela Nala.
Nura berdiri dengan pandangan lurus ke arah Nala, “Terima kasih sudah membiarkan aku tidur di kamar akhir-akhir ini, sebelumnya kayu di gudang membuat punggungku sakit," katanya tenang.
Nyonya Ajeng hampir pingsan karena marah, dia merasa sangat di permalukan.
“Bagaimana kau bisa mengatakan itu pada kami? Setelah kami memberikan semuanya!” Nala menunjuk tumpukan kantung belanjaan yang memang sebagian untuk Nura yang dibeli atas nama Tuan Prabu.
Nura tak berkata apa-apa, dia bosan dan letih, meladeni dua orang ini tak ada habisnya, dia hanya akan menjadi badut tontonan pengunjung butik, matanya melihat Erya yang baru saja datang sambil menenteng beberapa pakaian kasual untuknya, wanita pemilik butik itu sudah mendengar sebagian perdebatan ibu dan anak itu.
“Saya pikir anda harus memperlakukannya dengan baik lagi.” Erya buka suara, sebagai pemilik butik tidak ada siapa pun yang tidak mengenali dirinya.
“Sebulan yang lalu, Nura membeli pakaian yang dia pakai di sini, bukankah itu artinya dia tidak pernah berbelanja? Atau tidak bisa belanja sama sekali?” Erya tersenyum pada Nura, menyerahkan pakaian itu kepadanya, Nura mengambilnya sambil mengangguk, ia menyukai pakaian ini.
“Apa maksudmu?”
“Dia datang dengan pakaian lusuh pertama kali ke tempat ini, sangat jelas bahwa keluarga Daniar baru saja bertemu dengannya. Itu sangat buruk, bahkan setelah sebulan aku berharap dia datang dengan penampilan yang lebih baik, tetapi ternyata..” Erya sengaja menggantungkan kalimatnya sambil menyeringai, Nala dan Nyonya Ajeng terdiam menahan marah, benar-benar penghinaan luar biasa.
“Terima kasih, Erya.” Nura berkata dengan tulus.
Nyonya Ajeng merasa situasi semakin tidak menguntungkannya, dengan segera ia membayar belanjaan Nura, dan menyeret mereka pergi dengan wajah malu dan marah.
“Kau pikir kau siapa? Hanya anak haram berani-beraninya mempermalukanku!”
__ADS_1
Nyonya Ajeng tak bisa menahan amarahnya ketika mereka sudah masuk di dalam mobil.
“Aku adalah Nura, calon istri Fatih Alfandinata," sahut Nura, dia duduk di samping Nyonya Ajeng dengan tenang, wajahnya tetap seperti biasa, tak ada ekspresi.