
~Usaha Daffiq~
Didalam ruangan yang berdindingkan kaca, diatas kursi duduklah dengan tenang seorang pemuda dengan baju resminya. Meski lengan tangan sudah tergulung keatas, dan 2 kancing baju atas yang terbuka, namun tidak mengurangi kadar ketampanannya yang standar diatas rata rata.
"Hallo, Hans!! kamu masuk keruanganku sekarang"
Tanpa menunggu jawaban dari Asisten Hans, Daffiq memutuskan panggilan secara sepihak. Dalam kurun waktu kurang dari 1 menit Asisten Hans sudah didalam ruangan Daffiq. Ya memang karna ruangannya yang bersebelahan dengan Daffiq. Dengan mengetuk pintu secara perlahan Asisten Hans minta izin masuk.
"tok tok tok...."
Suara pintu yang diketuk.
"Permisi Tuan... Saya Hans apakah boleh masuk?"
Asisten Hans meminta persetujuan Daffiq.
"Ya, kamu masuk sekarang"
Daffiq hanya menjawab sekedarnya.
Asisten Hans mendorong pintu berbahan kaca tersebut dengan hati hati.
"Maaf tuan... Ada perlu apa kalau boleh tau?"
Asisten Hans bertanya dengan hati hati.
"Apakah tugas yang kukirimkan tadi malam sudah kamu kerjakan!"
Daffiq menatap tajam Asisten Hans.
"Sudah saya kerjakan tuan, dan team yang saya kerahkan sudah menuju ke kota x"
Asisten Hans menjawab dengan jelasnya. Daffiq mangguk mangguk mendengar jawaban Asisten Hans.
"Hans, kalau perlu kamu kerahkan semua intelejen dan pengawas andalan kita. Suruh semua pengawal kita berjalan, aku tunggu jawabannya besok, jangan sampai ada jawaban tidak memuaskan yang kuterima. Aku tidak mau kejadian 10 tahun yang lalu terulang kembali"
Titah Daffiq dengan tegas dan tak mau terbantahkan.
"Baik tuan... Saya usahakan yang terbaik untuk anda"
Jawab Asisten Hans dengan keyakinannya.
"Ya, kamu boleh keluar dari ruanganku.!"
Usir Daffiq begitu saja.
"Permisi tuan.... Saya kembali keruangan saya dahulu"
Pamit Asisten Hans kepada Daffiq.
__ADS_1
Setelah kepergian Asisten Hans dari ruangannya, Daffiq berjalan menuju sofa untuk meluruskan kakinya yang lelah duduk. Dia teringat kejadian semalam bersama Tuan Zakky, dia seakan masih ta percaya.
-----Flashback On-----
Didalam ruang kerja keluarga Al-Aydrus, Daffiq membuka perlahan amplop putih yang sedikit berdebu dan usang itu, setelah bersitegang haru bersama kakeknya. Dengan seksama Daffiq membaca satu persatu kalimat yang tertulis disitu.
"Kakek... Apakah ini semua nyata???"
Tanya Daffiq yang masih antara percaya dan tidak percaya. Dia memastikan lagi untuk membacanya, dia berfikir mungkin itu mimpi. Namun kala melihat kakeknya tersenyum dan menganggukkan kepalanya dia menangis.
"Yang kamu lihat dan yang kamu baca semuanya nyata"
Jawab kakek, seakan dia tau kalau cucunya itu memerlukan kepastian.
"Kenapa kakek tidak bercerita dari dahulu... Dia pasti hidup tidak bahagia, dia pasti makan tidak enak...aghhh"
Frustasi Daffiq yang merasa bersalah karna tidak segera menemukan gadis kecilnya.
"Maafkan kakek... Tapi kakek melakukan itu semua demi melindunginya"
Jawab kakek yang juga ikut bersalah.
"Maksud kakek apa??"
Tanya Daffiq yang seakan bingung dengan jawaban kakeknya.
"Tapi sekali lagi, kakek minta maaf.
Dulu... Waktu kamu kecelakaan kamu koma 3 hari, dan disaat kamu sadar kamu berteriak histeris mengatakan bahwa Aira masih hidup. Didalam fikiran kakek mungkin kamu masih shock. Sampai akhirnya kakek memanggilkan psikolog, dan kamu melakukan beberapa tahap terapi dan hasilnya kamu baik baik saja.
(Kakek menjeda ucapannya karna air mata dipelupuk matanya sudah mulai menganak sungai)
Karna saat itu kamu masih bersikeras mengatakan Aira masih hidup, kakek mengutus semua pengawal kakek untuk mencarinya. Setelah beberapa hari mencari Aira, kakek menemukan keberadaannya. Tapi kondisinya saat itu masih dalam keadaan koma. Dengan mengutus beberapa orang kakek untuk memantau keadaan Aira.
(Kakek kembali menyeka air matanya yang sudah membanjiri pelupuk matanya)
Saat itu, kakek selalu mendapat teror dari seseorang. Tapi kakek tidak dapat menemukan siapa pelakunya. Dan... Yang paling fatal adalah teror akan membunuh Aira detik itu juga, jika kakek masih ikut campur tentang Aira. Kakek masih ingat dengan jelas video orang itu masuk kedalam ruang inap Aira dan dia mengatakan akan membunuh Aira begitu saja kalau kakek masih ikut campur, dan dia juga mengancam akan membunuhmu juga akan menghancurkan perusahaan kakek"
Kakek berhenti mengungkap fakta yang selama ini ia pendam.
"Lalu, maksud panti asuhan ini apa kek...."
Tanya Daffiq yang masih berlinangan air mata.
"Ya setelah Aira sadar, kakek kehilangan keberadaan Aira. Karna kakek tidak dapat menemukannya, sampai pada titik menyerah tiba tiba utusan kakek datang membawa kabar gembira bahwa Aira sudah ditemukan dia berada di panti asuhan kota x,
(Kakek menjeda ucapannya)
Saat kakek ingin menjemputnya, dijalan kakek mendapat serangan dari beberapa orang yang tidak dikenal, dan semua pengawal yang kakek bawa jatuh tidak ada yang mampu melawannya. Dan salah satu orang yang melawan kakek mengatakan jika kakek masih iku campur, maka dia tidak segan segan membunuh Aira detik itu juga dan menghancurkan semua yang kakek punya termasuk mebunuhmu"
__ADS_1
Pungkas kakek yang sudah menangis haru.
"Kakek mohon Daffiq, temukan Aira segera. Lakukan dengan semua kemampuanmu, dan lakukan berbagai cara temukan pembunuh itu... Kakek yakin dia pasti masih mengintai keadaan kita..... "
Pinta kakek dengan sungguh sungguh.
"Aku akan berjanji akan segera menemukan Aira kek... Dan aku akan menemukan pembunuh itu"
Tekad Daffiq begitu yakinnya.
-----Flashback Off-----
Dengan mengusap wajanya kasar, Daffiq berjalan mengambil air putih diatas mejanya, dan segera meminumnya. Karna dia merasa kesal dan amarah yang masih diatas ubun ubun, Daffiq berjalan kekamar mandi untuk berwudhu. Karna baginya, wudhu adalah obat paling mujarab untuk meredakan amarahnya.
~Siang yang Menjadi Kenangan~
Didalam sebuah ruangan kecil itu, tertidurlah seorang perempuan dengan nyenyaknya. Walaupun tidur dia tetap tersenyum cerah dengan raut wajah yang sumringah. Namun sayangnya perempuan itu harus mendapat suudzon karna beberapa fikiran negatif teman temannya.
"Kenapa tu bocah... Tidur senyum senyum gak jelas..."
Tanya salah satu teman perempuan itu dengan bergidik ngeriiiii.
"Kayaknya tuh anak... Ngimpi yang e.....na... Enak gitu... Makanya tanek tuh tidurnya"
Jawabnya sepele namun dapat toyoran dari teman temannya.
"Pikiranmu mah mesum mulu...emang gesrek tu otak..."
Sambil menunjuk otak temannya itu.
"Kalau menurutku tuh bocah ngimpi ketibanan uang satu truck makanya senyum senyum gak jelas...."
Jawabanya sambil cekikikan. Akhirnya daripada memutuskan jawaban tanpa tau yang benar mereka membangunkan perempuan tersebut. Dengan langkah seribu ke tiga orang itu menghampiri perempuan itu.
"RA!!......... BANGUN COYYYYY!!!!"
Teriak ke tiga sahabat Syakira dengan lantangnya. Seketika Syakira terlonjak kaget dan kelimpungan karna kaget.
"Hah ada apa??? Apa ada gempa..."
Tanyanya karna masih sangat kaget.
"Gak ada gempa cuman adanya banjir bandang..."
Jawab Vera asal.
"Ya udah ayok cepetan selametin semua barang barang yang penting"
Jawab Syakira yang gugup sambil mengajak teman temannya. Dengan tergesa gesa Syakira berjalan menuju lemari baju untuk mengambil kopernya untuk memasukkan beberapa baju bajunya dan barang barang yang penting. Ke tiga sahabatnya menahan tawa melihat kelakuan Syakira. Tapi, tiba tiba Syakira menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Kalian semua ngerjain aku kan...!!!!"
Sungut Syakira sambil berlari mengejar ke tiga sahabatnya. Dengan langkah sigap mereka berlarian didalam kamar tersebut. Hingga akhirnya mereka lelah berlari dan duduk bersama dan tertawa bersama.