Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (34)


__ADS_3

~Hasil Penyelidikan Riska~


Setelah berkutat didepan laptop yang dia bawa secara sembunyi sembunyi, Riska mendapatkan hasil yang sangat menecengkam.


"Owh ..... Ternyata sadis juga tu orangtua ..."


Geram Riska melihat hasil dia meretas cctv rumah Abah Sholeh.


"Gak bisa dibiarkan... Gue harus cari cara ni.... Ternyata ni bocah tau kelakuan Umi Fatimah... Bagus juga jiwa pertemanannya... Mau bantu temennya ...."


Riska kembali bergumam kembali.


"Gue harus segera nyalin semua.... Sebelum keburu ada orang...."


Dengan segera Riska menyalin semua cctv yang ada, dia juga memberikan email kepada Asisten Hans tentang keadaan Syakira saat ini.


"Loh mbak Riska... Kok gak ikut ngaji dimushalla..."


Tanya Dinda yang kebetulan masuk kamar untuk mengambil bukunya yang tertinggal.


"Hehehe iya... Perutku mules banget tau..."


Bohong Riska agar Dinda percaya ucapannya.


"Ya Allah... Kasian banget sih kamu mbak.... Mending mbak istirahat aja... Ntar aku izinin ke seksi pendidikan biar mbak gak ditakzir..."


Dinda mencoba menyarankan Riska untuk istirahat.


"Iya... Aku istirahat aja... Makasih ya... Mau ngijinin..."


Jawab Riska.


"Iya mbak... Sama sama kalau gitu aku pamit dulu ya... Aku mau balik lagi ke mushalla"


Dinda lantas pergi meninggalkan Riska didalam kamar.


"Huh... Aman... Untung laptop sama hp udah masuk lemari lagi.... Hampir aja gue ketahuan...."


Riska menarik nafas karna merasa dirinya aman.


"Gue harus keluar dari sini ni... Gue harus cari tau niat bulus si Lubiz..."


Riska keluar kamarnya dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Berbeda dengan Riska yang sedang berburu informasi dan menjaga nonanya, didalam ruangan Asisten Hans, dia sedang dihadapkan kelakuan Stefany yang tidak ada habisnya.


"Ayang Hans.... Ayang ku paling ganteng gak ada duanya... Cuma satu satunya..."


Stefany menggoda dengan berbagai panggilan yang menurut Asisten Hans sangat menjijikan.


"Kamu bisa diam apa tidak!"


Bentak Asisten Hans yang geram dengan kelakuan Stefany yang gak ada habisnya menggoda dia.


"Ih... Gitu aja marah... Harusnya kamu itu bangga seorang Stefany yang famous akan kecantikan juga kemolekan tubuhnya... Suka sama kamu..."


Stefany berkata dengan santainya.


"Kamu pikir aku sudi begitu denganmu!"


Heran Assiten Hans dengan Stefany yang selalu dengan terang terangan mengatakan suka dengannya.


"Sekarang kamu emang bilang gak sudi... Aku yakin kamu akan mau denganku..."


Jawab Stefany dengan penuh keyakinan dan penekanan.


"Mari kita lihat!"


Tantang Asisten Hans, karna dia yakin tidak akan menyukai Stefany.


"Ok!! Aku akan berusaha membuat kamu bertekuk lutut bucin sebucinnya sama aku....!"


Jawab Stefany yang sudah menggebu gebu gelora berjuang.


"Kenapa kamu kesini ...!"


Tanya Asisten Hans yang sudah lelah dengan basa basi Stefany yang gak ada habisnya.


"Mau nganterin ini..."


Jawab Stefany dengan menyerahkan proposal yang ada ditangannya, keatas meja Asisten Hans. Dengan segera Asisten Hans mengambil dan mulai membaca proposal itu. Tanpa Asisten Hans sadari Stefany berjalan kearah kursinya. Sebuah kecupan singkat mendarat ke pipi Asisten Hans.

__ADS_1


"Stefany!!"


Teriak Asisten Hans yang melihat Stefany. Stefany segera berlari keluar dari ruangan Asisten Hans dengan cekikikan. Asisten Hans tidak habis fikir dengan kelakuan Stefany yang gak ada habisnya.


"Hahahahha.... Akhirnya bisa bikin si cuek darting...."


Gumam Stefany yang sudah ada diruangannya.


"Huh... Rasanya hatiku dag dig dug..."


Stefany senyum senyum tidak jelas mengingat kejadian tadi.


Sedangkan Asisten Hans yang terlihat kesal memilih untuk memasuki ruangan Daffiq.


"Tok tok tok.....


Permisi tuan... Saya Asisten Hans apakah saya boleh masuk??"


Asisten Hans permisi akan memasuki ruangan Daffiq.


"Ya masuklah..."


Asisten Hans pun segera masuk setelah mendapatkan ijin dari Daffiq.


"Tuan... Ada yang ingin saya sampaikan..."


Asisten Hans mengutarakan niatnya.


"Ya katakanlah..."


Jawab Daffiq singkat.


"Saya mendapat laporan dari Riska, bahwa keadaan nona sepertinya tidak sedang baik baik saja"


Jawab Asisten Hans apa adanya.


"Maksudmu bagaimana... Kalau memberi laporan yang jelas!!"


Daffiq tidak suka mendengar ucapan Asisten Hans yang bertele tele.


"Begini tuan... Dari penyelidikan Riska nona mengalami penghinaan dan dalam masalah akan mendapat ancaman...."


"Siapa yang berani menghina dan mengancam Aira!!"


Daffiq tersulut emosi mendengar ucapan Asisten Hans.


"Dari informasi Riska nona dapat sedikit hinaan dari Ibu Nyai Fatimah... Dan soal ancaman dari Lubiz putra Ibu Fatimah... Soal ancaman belum diketahui karena masih diselifldiki oleh Riska..."


Asisten Hans selesai dengan laporannya.


"Baiklah... Kalau begitu kau tambah keamanan Aira... Aku tidak ingin Aira celaka sedikitpun... Dan selidiki lagi secara jelas apa motif dari si Lubiz itu..."


Titah Daffiq dengan begitu jelasnya.


"Baik tuan... Saya akan menjalankannya..."


Jawab Asisten Hans.


"Baiklah... Kau boleh keluar!"


Daffiq mengusir Asisten Hans begitu saja.


"Permisi tuan..."


Asisten Hans segera pergi meninggalkan Daffiq.


"Ta akan kubiarkan siapapun berani menyakitimu Aira... Kau sudah menjadi bagian separuh hidupku... Lukamu maupun dukamu juga kurasakan..."


Gumam Daffiq.


Berbeda dengan Daffiq yang sedang kepikiran dengan nasib Syakira dipesantren, maka Riska sedang berjalan melakukan penyelidikannya.


"Gue harus cari si Lubiz ni... Gue harus cari tau apa rencana terselubungnya...."


Gumam Riska dengan menelusuri area pesantren.


"Rejeki anak sholehah ni..."


Riska melihat orang yang dicarinya berada didepannya, berjarak sekitar 10 meter.


"Gue pura pura gak sengaja nabrak dia agh... Kalau perlu yang keras biar kerasa nabraknya..."

__ADS_1


Riska tersenyum misterius. Dengan langkah terburu buru dia berlari dan menabrakkan tubuhnya secara keras ketubuh Gus Lubiz.


"Aw...."


Rintih Gus Lubiz yang tertabrak tubuh Riska dan juga ditindih dengan tubuh Riska.


"Agh... Sakitnya...


Aduh sorry sorry gue gak sengaja..."


Ujar Riska dengan nada yang dibuat buat lemah. Dalam hati dia berkata "Sorry emang gue sengaja... Wkwkwkwk"


Tanpa perasaan Gus Lubiz menyingkirkan tubuh Riska dengan kerasnya.


"Kalau ini mah gak pakek perasaan amat tuh orang... Maen dorong aja..."


Gumam Riska didalam hati.


"Kamu pikir gak sakit hah!! Udah 2 kali kamu nabrak saya dan kamu cuma bilang maaf!"


Gus Lubiz emosi melihat pelakunya yang sama.


"Lah terus gue harus bilang Apa?? Iya deh gue tanggung jawab... Apa elo mau gue bawa ke rumah sakit atau tukang pijet profesional gitu...?"


Tawar Riska.


"Gak perlu... Setiap aku ketemu kamu aku sial aja...!"


Jawab Gus Lubiz dengan tegasnya.


"Baru juga 2 kali gak lebih..."


Jawab Riska dengan entengnya.


"2 kali tapi membawa musibah!"


Jawab Gus Lubiz yang masih emosi.


"Eh itu fotonya Syakira kan..."


Tanya Riska yang melihat selembar foto yang jatuh dibawah kaki Gus Lubiz. Gus Lubizpun segera mengambilnya dan memasukkan kedalam kantong bajunya.


"Kamu kenal dia..."


Tanya Gus Lubiz.


"Emang kenapa kalau gue kenal..."


Tanya Riska balik.


"Gue mau nawarin ke kamu kerjasama"


Jawab Gus Lubiz to the point. Riska yang mendengar penuturan Gus Lubiz seperti mendaapat jackpot.


"Kerjasama apa terus keuntungan apa yang gue dapet...?"


Tanya Riska kembali.


"Kamu bantuin aku dekat dengan Syakira imbalan baliknya aku kasih kamu uang 10 juta gimana...?"


Gus Lubiz memberikan penawaran.


"Cuman 10 juta... Dikit banget..."


Jawab Riska apa adanya, karna baginya uang 10 juta dapat dia cari hanya hitungan jam saja, dan tanpa tenaga yang melelahkan.


"10 juta itu banyak.... Kamu bilang dikit...!"


Heran Gus Lubiz mendengar ucapan Riska.


"Elo tau baju yang gue pake...? Ini harganya lebih dari 10 juta... Jadi gue gak suka sama penawaran elo yang gak bikin gue kaya!"


Dengan nada mengece Riska mengatakan didepan Gus Lubiz. Tanpa menunggu jawaban Gus Lubiz yang ingin memakinya dia pergi meninggalkan Gus Lubiz tanpa perasaan.


"Owh... Jadi tu orang suka sama nona... Jadi itu alasan dia ngancem nona... Karna nona nolak dia... Berarti dia kemungkinan besar akan melakukan hal fatal ni... Gue harus lebih sering mantau kegiatan si kutu kupret biar dia gak berhasil ngelakuin rencananya...!"


Riska memulai ekspedisinya dengan senyum yang misterius.


"Gak akan kubiarkan siapapun menyakiti nona... Karna dia itu sudah menjadi bagian didalam hidupku.... Tanpa keluarganya aku ta akan menjadi apa apa sampai saat ini..."


Ujar Riska mengingat kisah dimasa lalu.

__ADS_1


__ADS_2