Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (8)


__ADS_3

~Tragedi Sampah~


Seperti biasanya, hari libur sekolah dipergunakan Syakira dan sahabat sahabatnya untuk bersantai ria. Ya walaupun Syakira sepenuhnya tidak menganggur, tapi dia berusaha membagi waktu untuk dapat bersenang senang bersama sahabat sahabatnya. Didalam kamar tersebut semua penduduk sedang menggunakan masker wajah. Semua muka terlihat hitam kecuali area mata dan bibir.


Para muka cantik mereka tertupi lapisan masker yang mereka pakai, walaupun begitu mereka menikmati dengan nyamannya. 10 menit kemudian mereka membasuh masker secara bersamaan. Mereka berjalan beriringan masuk kedalam kamar mandi yang berada dipojok kamar mereka. Setelah selesai maskeran mereka mulai bergurau dengan berbagai candaan.


"Aku punya pertanyaan, kalian semua harus jawab yha... Putih putih yang muterin musholla apa hayo...?"


Tanya Syakira dengan bahagianya.


"Apa ya....


Ehm hantu"


"salah!"


"pocong"


"mbak kunti"


"Semuanya salah .....!! Nyerah gak ni..."


Tawar Syakira.


"Ok ok kita nyerah dech... Apa jawabnnya...."


Jawab Vera, Dinda, dan Melly secara kompak.


"Siap siap ya pasang kuping kalian....


Vera, Dinda, Dan Melly mendengarkan secara seksama


Abah Sholeh nyari sandalnya yang dicuri santri putra....."


Seketika semua tertawa dengan terbahak bahak. Sangking serunya mereka bercanda.


Tiba tiba dari arah luar terdengar suara ketukan pintu.


"Mel, kamu aja yang bukain..."


Pinta Syakira.


"Males aghhh enakan, ngemil kripik singkong, tuh Dinda aja biar ada kegiatan..."


Saran Melly.


"Kenapa harus aku...."


Heran Dinda.


"Udah agh buruan kamu Din... Bukain pintunya!"

__ADS_1


Paksa Vera dan Syakira bersamaan.


Mau tidak mau akhirnya Dinda berjalan mendekati pintu karna tubuhnya didorong oleh ketiga sahabatnya.


"Cari siapa mbak...?"


Tanya Dinda ketika sudah membuka pintu.


"Nyari Ira, tadi disuruh ke dhalem sekarang".


Jawab salah satu santri.


Dalam hati Dinda ngedumel


"Yang dicariin siapa, kenapa harus aku yang bukain pintu, huftt"


Santriwati itupun pamit permisi karna akan kembali kekamarnya. Dengan dongkolnya Dinda berjalan mendekati ketiga sahabatnya yang masih setia bercerita.


"Ra, kamu disuruh ke dhalem sekarang!"


Dinda bersuara begitu saja.


"Eh iya iya... Makasih Dinda infonya..."


Mencium pipi Dinda dengan gemashnya dan berlari keluar kamarnya. Karna pastinya Dinda sedang bad mood karna pipinya dicium. Syakira hanya tertawa cekikikan sepanjang jalan menuju dhalem, dia melihat ekspresi Dinda yang ingin murka.


Dibandara Soekarno Hatta turunlah seorang pria tampan, semua mata hanya tertuju padanya. Dengan baju santai yang hanya menggunakan celana jeans selutut warna cream dan kaos putih polos, ditambah kaca mata hitam yang bertengger dihidungnya, juga topi yang menghiasi kepalanya. Tidak membuat kadar gantengnya berkurang sedikitpun. Jangan lupa slalu ada asisten pribadinya yang selalu mengikutinya kemanapun dia berada. Ya, mereka adalah Daffiq beserta Asisten Hans yang sedang berjalan beriringan.


"Hans, dimana supir yang menjemputku"


Dalam hati Hans bergumam "menjemput anda juga menjemput aku tuan...!" Geramnya dalam hati.


"Kata tuan besar, supir yang menjemput anda menunggu diparkiran bandara tuan"


Jawab Hans, dengan hati hati karna takut menyinggung.


"Baiklah... Ayo jalan!"


Jawab Daffiq dengan sekenanya.


Benar adanya, disana sudah ada seorang supir menunggu Daffiq sambil membawa selembar kertas bertuliskan namanya. Tanpa menunggu, Daffiq dan Asisten Hans mendekat.


"Apakah bapak utusan tuan Zakky??"


Tanya Hans.


"Benar tuan...."


Jawab supir tersebut.


Dengan patuh supir itu mengambil koper yang dibawa asisten Hans, dan memasukkan kedalam bagasi. Tanpa babibu Daffiq langsung masuk kedalam mobil... Karna dia sudah merasa risih dengan tatapan para kaum hawa yang tidak dapat dikondisikan.

__ADS_1


Perjalanan bandara menuju mansion membutuhkan waktu kurang dari 20 menit. Setelah beberapa menit berkendara sampailah mereka dengan selamat di mansion tuan Zakky. Disana Daffiq sudah disambut dengan para maid yang berjejer menyambutnya, dan juga tidak lupa tuan Zakky yang berdiri menunggu kedatangan cucu tercinta.


"Akhirnya kau pulang cucuku..." kata singkat yang ta mampu diucapkan oleh tuan Zakky.


Peluk tuan Zakky dengan sangat erat ditubuh Daffiq, dan menitikan air mata.


"Ya"


Jawab singkat Daffiq.


Sebenarnya Daffiq sangat menyayangi kakeknya satu satunya itu. Tapi dia sangat gengsi, jadi dia hanya mengapreasi biasa saja. Walaupun dia berada diluar negri dia selalu memantaunya dengan beberapa orang utusannya untuk memastikan keadaan kakeknya baik baik saja.


Merekapun berjalan beriringan masuk kedalam rumah. Disana Daffiq langsung berpamitan masuk kedalam kamarnya, karna ia merasa lelah setelah melakukan perjalan jauh. Kakekpun mengizinkannya. Dengan segera Daffiq berjalan menuju lantai 2 dimana kamarnya berada. Didalam kamar dia melihat keadaan kamar yang masih sama seperti 3 tahun lalu saat dia pulang. Dia merebahkan tubuhnya dan menatap langit langit kamar dengan pandangan yang sulit diartikan. Hanya Daffiq saja yang tau arti pandangan tersebut, bersama author tentunya.


Dikediaman Abah Sholeh Syakira membersihkan halaman belakang. Ternyata dia dipanggil untuk bersih bersih. Sambil bersenandung shalawat juga bergumam sendiri.


"Kalau bersih bersih gak bersih namanya bukan bersih bersih..."


Senandungnya dengan cekikikan. Namun siapa sangka, diam diam kegiataan Syakira diperhatikan sepasang mata yang sedang mengintainya dengan senyum yang sangat sulit diartikan.


Kini saatnya Syakira membuang sampah yang sudah terkumpul saat ia menyabut rumput juga hasil menyapunya. Dengan berjalan dengan hati hati ia mulai membuang sampah ke tempat pembuangan samping rumah Abah Sholeh. Naasnya, ta sengaja ia menyandung akar pohon jambu dan akhirnya sampah itu jatuh berterbangan menyiram dia. Jadilah Syakira bermandikan sampah. Dan sepasang mata yang masih mengintainya itu tertawa cekikikan melihat itu semua. Akhirnya dengan rasa kesal yang mendera Syakira mengomel tidak jelas.


"Hey,! Akar jambu....! Kalau ada orang lewat setidaknya kamu itu minggir dulu. Gak kasian apa sama aku.... Udah capek capek malah tambah capek"


Gerutunya dengan muka masamnya.


Didalam rumah, Gus Lubiz senyum senyum gak jelas seperti orang gila. Hingga dia ta menyadari kalau dia sedang diperhatikan oleh Umi Fatimah.


"Nak..."


Panggil Umi tapi Gus Lubiz masih ta menghiraukan dan Umipun memanggilnya lagi


"Anaknya Umi yang ganteng..."


Masih lagi tidak menyahut, hingga akhirnya


"Ahmad Lubiz Sholeh!"


Panggil Umi lagi dengan sebalnya karena tidak direspon. Dengan kagetnya Lubiz menjawab


"Iya dalem Umi... Gimana?"


Dengan menahan rasa kesal Umi bertanya


"Kamu itu kenapa? Dipanggil panggil gak nyahut, terus senyum senyum sendiri gak jelas gitu...."


Rajuk Umi dengan geramnya.


"Maaf Umi, tadi Lubiz habis ngeliat pertunjukan makanya senyum senyum.... Habisnya lucu gitu..."


Jawab Gus Lubiz dengan santainya. Umi hanya nganguk ngangguk saja, ya walaupun belum puas dengan jawaban anaknya tersayang dan tercinta. Dengan segera Gus Lubiz berjalan pergi kedalam kamarnya.

__ADS_1


"Perempuan yang unik dan menggemaskan... Rasanya ingin kenal denganmu"


Gumam Gus Lubiz dengan menatap jendela kamarnya.


__ADS_2