Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (32)


__ADS_3

~Aktifitas yang Sesungguhnya~


Hari hari normal Syakira telah berjalan kembali, dia juga melakukan aktifitasnya sebagai abdi dhalem. Daffiq juga seperti itu, meskipun sedikit hampa karna tidak ada keberadaan Syakira.


"Hans... Semua yang aku minta sudah kau selesaikan...?"


Daffiq bertanya pada Asisten Hans yang kebetulan berada didalam ruangannya memberikan laporannya.


"Sudah tuan..."


Asisten Hans menjawab dengan benar adanya.


"Apa ada perkembangan tentang penyelidikan kecelakaan itu...?"


Tanya Daffiq kembali.


"Sudah ada tuan... Dari beberapa agen rahasia kita sudah menemukan sedikit jalan... Namun anda harus melakukan beberapa hal untuk memancing orang itu segera muncul dihadapan anda..."


Asisten Hans mengungkapkan sejujurnya.


"Maksudmu aku harus melakukan umpan agar dia mau memakannya begitu?"


Daffiq mencoba mencerna ucapan Asisten Hans.


"Iya tuan..."


Jawab Asisten Hans.


"Lalu aku harus memakai apa agar orang itu keluar... Hah!"


Daffiq sedikit frustasi karena memikirkan dalang yang ta kunjung ditemukannya.


"Bagaimana jika anda mengumpankan nona agar orang itu segera keluar..."


Asisten Hans memberikan usulan.


"Kau pikir aku mau! 10 tahun lamanya Aku mencarinya kamu dengan mudahnya mengatakan seperti itu!!"


Daffiq berteriak kepada Asisten Hans yang mengatakan idenya.


"Maksud saya bukan seperti itu tuan..."


Asisten Hans mencoba menjelaskan.


"Lalu bagaimana..."


Tanya Daffiq kembali.


"Jadi begini... Kita mencari seseorang yang rupanya sedikit mirip dengan nona dan juga perawakan tubuhnya.... Lalu kita membuat sedikit drama mengatakan bahwa anda sudah menemukan nona begitu...."


Jelas Asisten Hans.


"Ok... Kalau seperti itu aku setuju... Tapi apakah semua akses data Aira semuanya sudah kamu tutup dengan rapat... Bahkan tentang datanya dipanti juga...?"


Daffiq mencoba bertanya kembali.


"Semuanya sudah saya bereskan... Anda tidak perlu kuatir..."


Asisten Hans mengatakannya kembali.


"Lalu tentang mata mata yang kuminta disamping Aira bagaimana?"


Tanya Daffiq kembali.


"Sudah saya urus... Dan semua sudah berjalan dengan baik... "


Asisten Hans menjelaskan.


"Ok... Katakan pada mata matamu... Bahwa dia harus memberikan informasi apapun tentang Aira... Aku tidak mau ketinggalan apapun tentang Aira!"


Titah Daffiq.


"Baik tuan..."


Asisten Hans patuh.


"Baiklah... Kamu boleh keluar sekarang..."


Daffiq mengusir Asisten Hans. Dengan patuh Asisten Hans segera keluar dari ruangan Daffiq. Daffiq mulai mencari cara untuk mengungkap kasus kecelakaan 10 tahun lalu itu.


Sedangkan Syakira sibuk dengan rutinitasnya seperti biasanya. Hari ini dia dipanggil Umi Fatimah, katanya Umi ingin menemui Syakira, dan meminta Syakira untuk menemui Umi Fatimah dihalaman belakang rumah beliau. Dengan segera Syakira berjalan menuju tempat yang dimaksud, karna dia tidak ingin Umi Fatimah sampai menunggunya.


"Huh.... Akhirnya sampai juga, semoga Umi belom dateng..."


Gumam Syakira sambil berjalan menuju gazebo yang berada dihalaman belakang itu.


"Alhamdulillah ternyata Umi belom ada disini...."


Syakira mengucapkan syukur karna setidaknya dia tidak akan merasa bersalah. Setelah menunggu hampir 10 menit akhirnya Umi Fatimah datang. Dengan cepat Syakira berdiri.


"Assalamu'alaikum Umi...."


Syakira mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam... Duduklah Ra..."


Ajak Umi Fatimah, dengan cepat Syakira duduk disamping Umi.


"Ra... Sebelumnya Umi dan keluarga mengaturkan ucapan bela sungkawa atas meninggalnya ibumu... Dan maaf Umi tidak dapat datang untuk sekedar takziah..."

__ADS_1


Umi mengawali pembicaraannya.


"Iya Umi.... Ira mengucapkan terimakasih atas kepedulian Umi... Dan Ira juga memaklumi atas itu semua... Karna Umi pasti sibuk..."


Syakira menjawab dengan sopan.


"Ira... Sebenarnya ada yang ingin Umi sampaikan dan tanyakan... Tapi sebelumnya maaf jika Umi akan menyinggung perasaanmu...."


Umi Fatimah berkata dengan hati hati.


"Iya Umi silahkan.... Ira akan dengarkan...."


Jawab Syakira dengan sopan.


"Begini... Apakah kamu mempunyai rasa suka atau lebih tepatnya cinta dengan putra Umi...?"


Tanya Umi Fatimah.


"Maaf Umi.... Jika Ira lancang... Tapi apa maksud Umi...."


Syakira mencoba tetap tenang meski sekarang dia sudah sedikit kalut akan apa yang terjadi.


"Maksud Umi apakah kamu cinta dengan Lubiz?"


Jelas Umi.


"Maaf Umi... Dulu Ira memang sedikit menaruh rasa... Namun untuk saat ini Ira mencoba untuk menghilangkannya...."


Syakira menjawab jujur adanya.


"Baiklah... Umi mohon untukmu jangan sampai menaruh rasa dengan Lubiz ... Umi tau bahwa Lubiz sangat mencintaimu... Tapi Umi mohon kamu jangan membalas perasaan Umi..."


Umi Fatimah mengatakan maksud tujuan bertemu dengan Syakira.


"Baik Umi... Ira akan membuang semua rasa Ira pada Gus Lubiz..."


Jawab Syakira yang menahan pertahan air matanya agar tidak menetes.


"Terimaksih Ira... Kamu mau nurut ucapan Umi... Kamu tau kan.... Bahwa Lubiz harus mendapat perempuan yang bagaimana... Bukan maksud Umi untuk menyinggungmu... Tapi kamu setidaknya harus mengertikan..."


Umi kembali menegaskan.


"Iya Umi... Ira sangat sadar dan mengerti maksud Umi"


Jawab Syakira dengan sedikit bergetar suaranya.


"Terimakasih atas kesadaranmu... Untuk soal setelah kelulusan sekolah... Kamu tenang saja... Umi akan memberikan beberapa pilihan tempat kuliah agar kamu bisa melanjutkan pendidikanmu... Dan soal biaya kamu tenang... Semua akan Ditanggung Umi dan Abah..."


Umi memberikan sedikit tawaran.


"Maaf Umi... Bukan maksud Ira menolak... Tapi Umi tidak perlu repot repot untuk soal itu ..."


"Kamu jangan menolaknya... Anggap saja itu hadiah karna kamu mau menuruti ucapan Umi..."


Jawab Umi dengan nada sedikit memaksa.


"Tidak perlu Umi... Tanpa Umi memberikan hadiah seperti itu... Ira sudah sangat sadar dengan posisi Ira... Bahwa Ira tidak pantas bersanding dengan Gus Lubiz..."


Jelas Syakira.


"Baiklah... Kalau kamu menolaknya... Tapi kalau kamu berubah pikiran kamu bisa menemui Umi kembali..."


Umi masih dengan santainya mengatakannya, padahal Umi sudah sangat menyinggung hati Syakira.


"Inggih Umi..."


Jawab Syakira yang mencoba menguatkan hatinya.


"Ya sudah... Kalau begitu Umi mau pergi dulu..."


Umi berpamitan dan segera beranjak pergi, dengan sigap Syakira berdiri dan mengambil punggung tangan Umi untuk salim. Setelah kepergian Umi Fatimah, Syakira lantas pergi juga. Dia memilih pergi ke taman belakang pesantren.


"Untuk ke dua kalinya aku mendengarkan penolakan keluarga Umi... Dan sekarang aku mendengarnya secara langsung... Ta akan aku biarkan kamu menderita Ra..."


Jelas seorang santriwati yang ta sengaja mendengar pembicaraan Umi Fatimah dan Syakira. Santriwati itupun bergegas bersembunyi dari tempat itu kala Syakira lewat disampingnya. Sedangkan Syakira sekarang sudah berada ditaman belakang pesantren, dengan sesenggukan dia menangis tiada henti dibawah pohon.


"Ya Allah... Sebegitu hinakah hidupku... Sampai sampai orang yang begitu aku segani saja menolak diriku begitu tegasnya...."


Rintih Syakira dengan berlinangan air mata.


"Ya Allah... Apakah hidupku sebegitu menjijikkan sampai aku harus merasakan penghinaan... Ya Allah... Aku begitu sadar... Bahkan tanpa diminta pun aku akan pergi.. Aku menyadarinya Ya Allah..."


Syakira semakin menangis dengan tergugu.


"Ha ha... Sakit ya Allah... Sakit...."


Syakira meremas baju nya begitu saja untuk melepas semua rasa sesak didadanya.


"Astaghfirullah astaghfirullah..."


Syakira mencoba menenangkan hatinya dengan istighfar. Disisi lain ada hati yang juga ikut merasakan sesak didadanya. Namun, dia tidak tau mengapa dia merasakan itu semua.


"Hah... Kenapa dadaku begitu sakit bahkan rasanya seperti tertusuk sesuatu.... Ada apa ini..."


Gumam Daffiq.


"Hans.... Masuk ruanganku"


Daffiq menelpon Asisten Hans untuk segera masuk ruangannya. Asisten Hans pun segera memasuki ruangan bossnya.

__ADS_1


"Permisi tuan saya Hans..."


Asisten Hans mengetuk pintu ruangan Daffiq.


"Masuk"


Daffiq hanya menjawabnya singkat.


"Ada apa tuan memanggil saya..."


Tanya Asisten Hans.


"Dadaku dari tadi merasakan sesak dan nyeri yang hebat... Bahkan sangat sakit..."


Jelas Daffiq.


"Apakah tuan sakit... Saya akan memanggil dokter pribadi anda.... Agar segera diperiksa..."


Asisten Hans pun segera menelpon dokter pribadi Daffiq.


Sedangkan Syakira masih menangis sesenggukan dibawah pohon, dia disana sudah hampir setengah jam untuk menenangkan hati juga pikirannya.


"Ra... Kamu disini..."


Tanya Riska, yang memang sedang mencari keberadaan Syakira. Dengan segera Syakira berusaha menghapus jejak air matanya.


"Iya mbak... Ada apa?"


Tanya Syakira.


"Dari tadi aku nyariin kamu tau... Eh malahan kamu disini..."


Jelas Riska apa adanya.


"Iya mbak... Dari tadi aku emang disini... Cari suasana biar gak bosen gitu..."


Syakira mencoba menjelaskan dengan sedikit seulas senyuman.


"Ehm... Begitukah... Tapi kenapa kamu habis terlihat menangis..."


Tanya Riska kembali.


"Owh... Ini tadi aku tiba tiba kangen ibu... Jadinya nangis keinget gitu..."


Bohong Syakira agar Riska percaya.


"Owalah... Kamu yang sabar ya... Semangat jangan bersedih... Kalau ada apa apa kamu tinggal cerita aja ke aku..."


Riska mencoba menenangkan Syakira, meski dalam hati dia tidak percaya dengan ucapan Syakira, karna dia yakin Syakira sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Iya mbak... Makasih supportnya..."


Riska hanya menyambut ucapan Syakira dengan senyuman saja.


Dokter yang dipanggil Asisten Hans sudah datang, dengan segera dokter itu segera masuk kedalam ruangan Daffiq bersama Asisten Hans. Dengan segera Asisten Hans menuntun dokter itu kedalam kamar pribadi Daffiq didalam ruangan kerjanya. Disana Daffiq sudah berbaring diatas kasur.


"Permisi tuan... Saya akan segera memeriksa..."


Ijin Dokter Alan.


"Ya"


Daffiq hanya menjawab singkat seperti biasanya. Dokter Alan segera memeriksa kondisi Daffiq dengan seksama. Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan dokter Alan mulai menjelaskan kondisi Daffiq.


"Begini tuan... Kondisi anda baik baik saja... Tidak perlu dicemaskan... Semuanya aman..."


Jelas dokter Alan.


"Kamu jangan bercanda...! Dadaku begitu nyeri dan sesak kamu bilang baik baik saja!"


Daffiq tersulut emosi mendengar penjelasan dokter Alan yang ta masuk akal.


"Begini tuan... Memang saya periksa kondisi tuan baik baik saja... Bahkan tidak ada masalah apapun... Jika anda tidak percaya anda bisa cek ke dokter spesialis saja..."


Jelas dokter Alan.


"Dasar dokter tidak berguna... Awas saja diagnosa kamu salah siap siap kamu masuk dalam daftar hitam!"


Ancam Daffiq. Dokter Alan hanya menanggapi dengan senyuman saja, karna dia sudah paham akan sifat Daffiq.


"Hans! Usir dia!! Aku muak melihat muka tanpa dosanya!"


Daffiq mengatakan dengan jelas perintahnya. Asisten Hans pun segera menyeret keluar dokter Alan tanpa aba aba.


"Hey... Harusnya kamu mengatakan pada bosmu untuk sedikit ramah..."


Jelas dokter Alan yang sudah keluar dari ruangan Daffiq.


"Katakanlah sendiri... Kalau kau berani!"


Jelas Asisten Hans.


"Hah... Kau sama saja seperti bosmu ta mempunyai perasaan..."


Dokter Alan kembali mengatakan perasaan yang mengganjal selama ini.


"Jika kau tetap ingin bekerja... Maka diamlah... Sebelum daftar hitam memasukkan namamu..."


Jelas Asisten Hans, dengan cepat dokter Alan diam ta berkutik. Dia hanya menghela nafas kasar mendengar kata daftar hitam, menurutnya semua itu sangat menakutkan. Drama sakit yang dirasa Daffiq pun berakhir dengan ketidak jelasan karna hasil yang kurang memuaskan.

__ADS_1


__ADS_2