
~Kemarahan Abah dan Umi~
Hari ini Gus Lubiz mengisi kajian kitab di mushalla, sebagai wakil Abah Sholeh. Sekarang Abah Sholeh sedang mengikuti rapat Pengasuh pondok pesantren di Departemen Agama. Jadilah Gus Lubiz saat ini menggantikan posisi Abah Sholeh.
"Jadi... Dalam hadits ini menjelaskan...
Barang siapa yang yang bershalawat satu kali, maka Allah akan shalawat 10 kali kepadanya...
Maka dari itu dapat kita tarik kesimpulan... Perbanyaklah shalawat...."
Jelas Gus Lubiz.
Para santri dan santriwatipun mendengarkan dengan seksama dan menulis point point penting dalam kajian itu.
Sedangkan didalam kediaman Abah Sholeh, Umi Fatimah sedangkan merapikan baju baju yang sudah disetrika oleh para abdi dhalem. Dengan telaten Umi memisahkan tumpukan baju itu ketempatnya masing masing.
"Sekarang gantian masukin bajunya Lubiz".
Ujar Umi Fatimah. Dengan berjalan membawa keranjang baju yang berisi baju yang sudah disetrika Umi memasuki kamar Gus Lubiz yang kebetulan tidak dikunci.
"Tumben, kamarnya gak dikunci"
Gumam Umi Fatimah.
"Malah bagus, gak perlu repot repot cari Lubiz buat suruh bukain"
Gumam Umi Fatimah kembali.
Setelah berhasil masuk kedalam kamar Umi mulai melihat keadaan kamar anak bujangnya.
"Kebiasaan deh Lubiz dari dulu... Harusnya handuk kayak gini kan digantung, bukannya ditaroh aja diatas kasur...."
Lantas Umi segera membereskan semua yang menerutnya tidak nyaman untuk dilihat.
"Lumayan capek bersihin kamarnya Lubiz.... Emang kebiasaan kalau gak Uminya yang bertindak gak bakalan bersihhl... Gimana ntar udah rumah tangga, istrinya kalau tau kelakuannya kayak gini..."
Gumam Umi Fatimah yang jengah melihat kelakuan Gus Lubiz yang masih selalu sama seperti waktu kecil. Segera Umi Fatimah meletakkan baju yang ada didalam keranjang kedalam lemari Gus Lubiz, satu persatu baju mulai ditata rapi kedalam lemari tersebut. Hingga Umi melihat sesuatu yang membuat Umi penasaran, Umipun mengambil dan melihat sebuah boks besar itu.
"Apa apaan ini Lubiz..."
Umi Fatimah seketika mendadak berwajah sulit ditebak. Dengan wajah yang sangat sulit ditebak Umi segera keluar kamar anak bujangnya, dengan membawa boks besar itu.
"Aku harus menunggu Abah untuk menindak lanjuti ini semua...."
Monolog Umi yang sudah merasa kesal.
Umipun menunggu kedatangan Abah Sholeh dengan perasaan yang campur aduk.
---------------------------
Ditempat lain, Daffiq sedang rapat dengan beberapa petinggi perusahaan tentang laporan kinerja karyawannya. Daffiq mendengarkan semua laporan yang ada. Setelah hampir 2 jam rapat pun selesai tanpa kendala. Segera Daffiq dan Asisten Hans berjalan keluar menuju ruangannya.
"Hans..."
Panggil Daffiq saat keluar dari pintu ruang rapat.
"Iya tuan..."
Jawab Asisten Hans.
"Setelah ini kamu temui aku diruanganku"
Titah Daffiq sambil berjalan.
"Baik tuan..."
Jawab Asisten Hans cepat.
Setelah berpesan kepada Asisten Hans, Daffiq langsung masuk kedalam ruangannya. Sedangkan Asisten Hans mendatangi sekretarisnya Stefany.
"Fan... Kamu tulis ulang hasil keputusan rapat tadi... Hasilnya langsung serahin ke ruanganku.."
Perintah Asisten Hans.
"Baik Pak Hans... Yang ganteng..."
Goda Stefany dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Matamu kenapa? Kelilipan... Kalau iya ambil kotak obat dipojokan situ ada obat tetes obat..."
Perintah Asisten Hans, yang tidak peduli Stefany menggodanya.
"Lo itu manusia apa robot si... Digoda kok gak respon..."
Stefany yang sudah mulai gemash dengan Asisten Hans. Sedangkan Asisten Hans pergi begitu saja meninggalkan Stefany yang menggrutu. Asisten Hans langsung berjalan menuju keruangan Bossnya Daffiq.
"Permisi tuan... Saya Asisten Hans"
Ijin Asisten Hans.
"Ya, masuk"
Perintah Daffiq. Segera Asisten Hans berjalan masuk kedalam ruangan Daffiq.
"Maaf tuan ada apa??"
Tanya Asisten Hans.
"Laporan tentang penyelidikan dalang kecelakaan keluargaku dan keluarga Aira bagaimana...?"
Tanya Daffiq.
"Soal itu... Masih dicari oleh mata mata kita, sepertinya orang orang itu masih bersembunyi belum menampakkan pergerakan..."
Jawab Asisten Hans.
__ADS_1
"Tetap cari terus dalang itu, dan perketat penjagaan Aira. Kalau perlu kamu tugaskan salah satu anak buah kita untuk menjadi santri biar bisa menjaga Aira dari dekat..."
Perintah Daffiq yang sedikit kuatir tentang keadaan Syakira.
"Baik tuan... Selama Nona Aira belum kembali disisi tuan... Nona Aira masih dalam keadaan aman..."
"Ya.. Aku ta mau tau... Ini untuk antisipasi jadi, aku mau yang terbaik...
Lalu, paket yang kupinta sudah kau kirimkan...?"
Tanya Daffiq kembali.
"Sudah tuan... Dan sudah diterima oleh Nona..."
Jawab Asisten Hans.
"Baiklah... Kamu boleh keluar"
Usir Daffiq.
"Permisi tuan..."
Jawab Asisten Hans sambil berlalu dari hadapan Daffiq.
Daffiqpun kembali melanjutkan pekerjaannya dengan semangat baru, karna pujaan hati yang selama ini dicari sudah ditemukan.
"Semoga kamu suka dengan semua yang kukirimkan... Airaku"
Gumam Daffiq disela pekerjaannya.
---------------------------
Setelah menunggu kepulangan Abah Sholeh selama hampir 2 jam lamanya. Akhirnya Abah Sholeh sampai dirumah. Dengan segera Umi Fatimah langsung menyambut kepulangan Abah Sholeh dengan buru buru.
"Assalamu'alaikum..."
Salam Abah setelah memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumussalam..."
Jawab Umi dengan mengahampiri Abah.
Umipun segera meraih tangan Abah untuk salim.
"Abah mau makan dulu apa mandi???"
Tanya Umi.
"Abah pengen mandi aja Umi... Tadi udah makan bareng semua pengasuh"
Jawab Abah dengan senyum.
"Baiklah... Kalau begitu Umi siapin dulu keperluan Abah..."
"Abah... Semua udah siap, air panasnya juga sudah..."
Dengan segera Abah berjalan kedalam kamar mandi, sebelum masuk kedalam kamar mandi Abah mengecup kening Umi, dengan berbisik.
"Terimaksih..."
Umi hanya mengangguk dan tersenyum mendapat perlakuan manis dari Abah.15 menit kemudian Abah keluar dalam keadaan yang sudah lebih segar.
"Abah... Umi ingin bicara"
Tekan Umi.
"Bicara aja Umi... Biasanya juga gak minta ijin kalau mau bicara..."
Goda abah yang yang duduk disamping Umi.
"Ini serius Abah... Ini tentang Lubiz"
Jawab Umi.
"Apakah Lubiz melakukan kesalahan?"
Tanya Abah yang keheranan.
"Iya dan sangat fatal"
Jawab Umi tegas.
"Kesalahan apa hemh...."
Abah masih bersikap santai.
"Ini Abah lihat sendiri!"
Perintah Umi.
Lalu Abah pun melihat boks besar yang dimaksud Umi. Abah pun ta kalah kagetnya seperti Umi ketika pertama kali melihatnya.
"Ini keterlaluan! Harus segera diselesaikan!"
Abah sudah tersulut emosi.
"Tenang dulu Abah... Nanti kita bicarakan dengan Lubiz bagaimana yang sebenarnya..."
Umi mencoba menenangkan Abah agar ta emosi.
"Iya kita tunggu dia sampai dia selesai mengisi kajian dimushalla"
Jawab Abah yang sudah sedikit lebih tenang.
Akhirnya Abah dan Umipun menunggu Gus Lubiz. Mereka menunggu diruang tengah. Setelah setengah jam menunggu akhirnya Gus Lubiz pun datang.
__ADS_1
"Assalamu'Alaikum Abah Umi..."
Salam Gus Lubiz yang baru memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam"
Abah dan Umi hanya menjawabnya secara singkat.
"Lubiz! Kamu duduk!"
Titah Abah dengan tegas. Gus Lubiz merasa heran dengan sifat Abah dan Uminya yang tidak seperti biasanya. Dengan santainya Gus Lubiz duduk, karna dia merasa tidak mempunyai masalah apapun.
"Ada apa Abah...?"
Tanya Gus Lubiz dengan santai.
"Jelaskan! Apa maksud ini semua!"
Abah memberikan sebuah boks besar kepada Gus Lubiz. Gus Lubiz pun kaget melihat apa yang ada dihadapannya.
"Kenapa bisa ada disini...??"
Batin Gus Lubiz.
"Lubiz!! Abah suruh kamu jelaskan! Bukan untuk kamu lihat!"
Abah mulai tersulut emosi, dan Umi yang berada disamping Abah menenangkan Abah dengan mengusap pelan pundak Abah.
"Iya itu semua hadiah kecil yang Lubiz kirimkan ke Syakira, namun Syakira selalu menolaknya dan mengembalikannya"
Jawab Gus Lubiz yang memang jujur adanya.
"Apakah kamu suka dengan Syakira!"
Tegas Abah bertanya kembali.
"Iya Abah... Lubiz sangat mencintai Syakira..."
Jawab Gus Lubiz yang juga menggebu gebu.
"Kamu tau kesalahan mu apa!"
Tanya Abah kembali.
"Lubiz tidak merasa melakukan kesalahan Abah"
Jawab Gus Lubiz yang masih dengan mode santai.
"Owh... Kamu merasa melakukan hal benar ya...
Kamu itu sudah ditolak dengan tidak hormat sama Syakira!"
Tegas Abah kembali.
"Lubiz Umi mohon sadarlah...."
Umi ikut berbicara.
"Lubiz mencintai Syakira dan Lubiz pun akan berusaha mendapatkan Syakira dengan berbagai cara apapun!"
Tegas Gus Lubiz yang sudah emosi.
"Abah tidak akan membiarkan kamu menikahi Syakira! Kamu harus sadar dengan posisi kamu!"
Jawab Abah dengan tegasnya.
"Lubiz! Kamu kalau mau nikah silahkan! Tapi lihat nasab keluarganya juga!"
Tegas Umi.
"Lubiz, tidak peduli dengan nasab!"
Jawab Gus Lubiz ta kalah sengitnya.
"Abah dan Umi tidak akan merestuimu jika kamu berani menikahinya! Syakira mempunyai nasab yang amburadul! Orang tua yang hobi mabuk mabukan, main perempuan, kamu masih mau!"
Tegas Abah.
"Lubiz tetap akan memilih Syakira!"
"Kamu sadarlah! Kamu sudah ditolak! Jadi jangan berharapan atau apalagi berusaha mendapatkannya!... Kamu secara tidak langsung sudah dipermalukan Lubiz!"
Jawab Abah ta kalah sengitnya.
"Lubiz... Umi mohon jangan mendekati atau mencintai Syakira, karna Abah dan Umi tidak ridho! Lubiz.... Tolong fikirkan kembali... Apakah kami sebagai orangtua pernah menuntutmu... Tidak pernah kan... Kami selalu menuruti semua kemauanmu... Bahkan kami rela melakukan apapun demi yang kamu inginkan....
Tapi, untuk masalah ini... Abah dan Umi tidak dapat menuruti keinginanmu itu, jadi Umi mohon... Kamu sekali saja menurut dengan perkataan Abah dan Umi..."
Pinta Umi secara halus.
Gus Lubiz membenarkan ucapannya Uminya, bahwa memang semua keinginannya selalu tercapai dan terpenuhi berkat semua usaha kedua orangtuanya.
"Tetap Lubiz tegaskan! Lubiz tetap akan mendapatkan Syakira!"
Gus Lubiz segera beranjak dari hadapan kedua orangtuanya dan meninggalkan mereka begitu saja tanpa pamit.
Sore itu berakhir dengan sebuah pertikaian dan menemukan untuk solusinya. Dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar semua ucapan mereka.
"Loh... Kamu kok gak jadi masuk si..."
Tanya teman seseorang itu.
"Gak jadi... Kelihatannya Abah sama Umi lagi ada tamu... Besok aja kalau mau ijin keluarnya"
Jawab orang itu dengan menggandeng tangan temannya untuk segera keluar dari sana.
__ADS_1