Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (43)


__ADS_3

~Terkejut~


Pagi pagi sekali kediaman Abah Sholeh terjadi keramaian.


"Sabar nak..."


Umi Fatimah mengelus pundak putra semata wayangnya.


"Dia pergi Mi..."


Gus Lubiz terlihat sangat frustasi.


"Kamu tenang dulu Biz.... "


Abah Sholeh mencoba menenangkan putranya.


"Bagaimana aku bisa tenang... Bah... Dia bahkan meninggalkan semua barang barangnya... Dia pergi!! Dia tidak membawa apapun..."


Gus Lubiz semakin frustasi.


Gus Lubiz sangat terkejut, karena bangun tidur dia tidak menemukan Riska. Dia mengira Riska mungkin sedang dibawah atau dipesantren awalnya. Namun, setelah menunggu dari sehabis shalat subuh dia belum menampakkan muka, bahkan Gus Lubiz bertanya tanya dengan para santriwati yang ada juga menjawab tidak melihat. Gus Lubiz semakin frustasi karna tidak menemukan keberadaan Riska. Dia merasa dunianya runtuh, apakah mungkin dia sudah mulai mencintai Riska sehingga dia terlihat sefrustasi itu.


*"Kalau kamu memang benar benar berusaha untuk pernikahan ini... Dan memang mengiginkanku dan menjadikanku istrimu... Tunggulah kepulanganku... Dan jangan berusaha mencariku...*"


Pesan singkat diselembar kertas yang berada diatas meja rias Riska. Gus Lubiz begitu syok kala menemukan surat itu.


"Aku akan menunggumu Riska... Akan aku tunggu sampai kau benar benar membuktikan pesanmu itu..."


Ujar Gus Lubiz dengan tekadnya.


---------------------------


"Bagaimana Riska... Rencanamu setelah ini..?"


Tanya Rikki sambil meletakkan segelas kopi dihadapan Riska.


"Seperti kemarin... Kita intai kegiatan nona dari jarak jauh... Dan kita awasi semua gerak gerik orang orang disekitar nona... Karena aku merasa ada yang mencurigakan..."


Jawab Riska dengan mengambil kopinya.


"Owh ya... Aku kemarin melihat ada seseorang mencurigakan disekitar kediaman Al-Aydrus..."


Rikki memberi informasi.


"Bagaimana kau tau?"


Tanya Riska kembali.


"Kau tau kan... Aku sudah meretas semua CCTV kediaman Al-Aydrus dan sekitarnya... Aku melihat seseorang selalu memantau dan mengawasinya terus... Tapi aku belum menemukan siapa orang itu..."


Jelas Rikki kembali.


"Owh... Kalau begitu mari kita awasi gerak gerik orang itu..."


Jawab Riska, dan Rikki pun menganggukkan tanda setuju.


"Bagaimana kabar kakak iparku..."


Seloroh Rikki.


"Mana aku tau"


Jawab Riska sepele.


"Haishhh kau benar benar ya Ris... Bisa bisanya sok jual mahal padahal... Kau suka"


Rikki kembali, menggodanya.


"Hah... Itu urusanku jangan ikut campur!!"


Jawab Riska dengan tegasnya.


"Ok ok... Aku akan diam dan tidak mengikuti urusanmu... Tapi jangan lupa meminta batuanku saudara.... Ingat itu..."

__ADS_1


Ujar Rikki dengan mengacak kerudung Riska.


"Rikki sialan!! Kerudungku berantakan!!"


Teriak Riska yang melihat Rikii sudah berlari menjauh. Saat ini Riska sudah memutuskan untuk berhijab, setelah hidup beberapa saat dipesantren. Meski awalnya berat dan gerah, tapi sekarang dia sangat menikmatinya.


---------------------------


Berbeda dengan Rikki dan Riska, sekarang Syakira disibukkan dengan persiapan kegiatan proses menjadi maba di universitas swasta terbesar dikota ini.


"Hah... Akhirnya aku mendapatkan semua barang yang akan aku bawa besok..."


Ujar Syakira yang menurunkan beberapa barang belanjaan dari mobil.


"Nona... Biar saya saja..."


Ujar sopir yang mengantarkan Syakira tadi.


"Sudah lah... Bapak pasti lelah... Aku bisa kok... Ini hal yang mudah..."


Jawab Syakira dengan tetap menurunkan barang barangnya.


"Tapi nona..."


Sopir itu seakan bingung akan melakukan apa. Terlebih dia melihat tuan mudanya berjalan kearahnya. Sopir itu semakin dilanda kecemasan yang ta berarah.


"Aira..."


Panggil Daffiq, dengan mengisaratkan sopir itu untuk pergi darisana. Sopir itupun hanya mengangguk dan pergi.


"Sudahlah pak.... Anda tidak perlu kuatir, karena aku bisa sendiri... Dan ehm... Bapak tenang saja, karena aku tidak akan berkata apapun... Kepada kak Affiq ataupun kakek... Jadi tenanglah..."


Jawab Syakira yang masih santai, dengan mengecek barang barangnya.


"Owh... Kamu pikir aku pak somad ya..."


Jawab Daffiq sepele.


"Hah... Kenapa ada kak Affiq"


"Gawat... Gimana nasib pak somad... Syakira... Kenapa kamu teledor sekali... Kenapa dia sudah pulang..."


Syakira heran dan berperang dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa?? Memangnya aku tidak boleh berada disini... Inikan rumahku!!"


Jawab Daffiq dengan songongnya.


"Bukan begitu... Aku cuman kaget saja... Begitu"


Jawab Syakira dengan harap harap cemas.


"Kenapa kamu menurunkan barang barang itu sendiri...?!"


Tanya Daffiq dengan tatapan tajamnya.


"Ehm..."


Sambil berfikir untuk memberikan alasan yang tepat agar Daffiq tidak berburuk sangka.


"Itu... Karena aku ingin saja...


Ya aku ingin saja"


Jawab Syakira yang masih memikirkan jawabannya yang jelas jelas tidak masuk akal.


"Aira!! Kamu pikir disini aku memperkejakan mereka untuk apa... Kenapa kamu melakukan pekerjaan ini..."


Jawab Daffiq dengan sedikit mengintrogasi.


"Memang untuk apa?"


Jawab Syakira dengan polosnya karena sudah ngeblank.

__ADS_1


"Hah... Sekarang tinggalkan barang barang itu... Dan ayo ikut aku!!"


Jawab Daffiq, dengan menyeret tangan Syakira, Syakira yang mendapat perlakuan itu hanya diam dan mencerna perlakuan Daffiq.


"Kak..."


Rengek Syakira.


"Diamlah!!"


Daffiq hanya menjawab singkat. Akhirnya Daffiq dan Syakira sampai pada sebuah kamar.


"Kak... Bisa tolong... Lepaaskan"


Ujar Syakira yang masih sebel. Reflek Daffiq yang melihat arah mata Syakira pun melepaskan genggaman tangannya.


"Maaaf"


Jawab Daffiq singkat, untuk menormalkan keadaan Daffiq mencoba untuk mengatakan tujuannya.


"Ehm... Aira... Aku ingin menunjukkanmu sesuatu"


Panggil Daffiq dengan sedikit gugup.


"Apa kak?"


Jawab Syakira yang ikut penasaran.


"Lihatlah"


Jawab Daffiq dengan menyerahkan sebuah album foto. Syakira pun mengambil dan mulai membuka album itu.


"Ini siapa kak?"


Tanya Syakira yang melihat sepasang suami istri dengan menggandenga anak laki laki.


"Itu aku dan kedua orang tuaku..."


Jawab Daffiq, selanjutnya Syakira membuka halaman album selanjutnya, sampai dia menemukan sebuah foto yang menurutnya asing.


"Ehm... Kak... Ini siapa??"


Tanya Syakira yang melihat foto bayi perempuan dalam gendongan ibu Daffiq.


"Itu Aira..."


Jawab Daffiq kembali. Syakira yang mendengarpun mengangguk tanda paham. Dia pun melanjutkan melihat album itu kembali.


"Cukup Aira... Ayo kita keluar saja.."


Ajak Daffiq, karena dia tidak ingin memperlihat kan semua album kenangan itu, karena dia ingin mencoba mengingatkan satu persatu memori Syakira sedikit demi sedikit agar Syakira tidak terbebani.


"Tapi kak.... Aku belom selesai..."


Jawab Syakira yang kesal.


"Huh... Yang ngajak siapa kesini... Lagi seru serunya malah diberhentiin... Nyebelin banget si kakak..."


Gerutu Syakira dengan kelakuan Daffiq.


"Sudahlah... Besok besok kamu bisa lihat lagi... Sekarang kamu istrirahat aja... Dan jangan lupa mandi nanti jama'ah shalat Maghrib jama'ah dibawah..."


Jawab Daffiq dengan menguyel kerudung Syakira. Syakira yang tiba tiba mendapat perlakuan seperti itu kaget dibuatnya. Syakira hanya mengangguk patuh. Daffiq yang melihat hanya tersenyum simpul dan pergi berlalu meninggalkan Syakira.


"Huh... Kenapa aku diam aja diperlakukan seperti itu..."


Ujar Syakira yang masih diam ditempat.


"Dan kenapa ini... Dengan jantungku... Tiba tiba senam gak karuan..."


Syakira memegangi dadanya yang dag dig dug gak jelas.


"Hah... Aku bisa gila!!"

__ADS_1


Ujar Syakira dan berlari menuju kamarnya.


__ADS_2