
~Pernikahan Dadakan 2~
Setelah melewati siang yang begitu melelah kan Riska harus menghadapi hari esok dengan mental yang kuat. Besok dia akan resmi menjadi seorang istri, padahal dalam benaknya dia belum memikirkan sebuah hubungan apalagi tentang pernikahan.
"Mbak Riska... Dapet panggilan dari Umi..."
Seorang santriwati menghampiri Riska yang sedang duduk melamun dibawah teras kamarnya.
"Ngapain?"
Jawab Riska singkat.
"Gak tau mbak... Cuman nyuruh kamu buat nemuin Umi dirumah... Gitu aja..."
Jawab santriwati.
"Ya ntar aku temuin... Makasih infonya"
Jawab Riska sekilas, dalam hati dia sangat malas untuk menemuinya, dari pada memperpanjang masalah dia berjalan gontai menemui Umi Fatimah. Tidak kurang dari 5 menit dia sudah sampai dirumah Umi Fatimah. Ternyata dia sudah disambut Umi Fatimah yang ada diteras rumah.
"Assalamu'alaikum Umi..."
Salam Riska dengan malasnya.
"Wa'alaikumussalam... Ayo masuk dulu... Ada yang ingin Umi bicarakan"
Jawab Umi, sambil mengajak Riska masuk rumah. Sesampainya didalam rumah Umi mengajak Riska kedalam kamar tamu.
"Riska... Umi ingin bertanya apakah boleh?"
Tanya Umi secara hati hati karna takut menyinggung.
"Ya tanya saja Umi"
Jawab Riska dengan mode sepelenya.
"Apakah kamu mencintai putra Umi?"
Tanya Umi kembali.
"Tidak"
Jawab Riska yang memang benar adanya.
"Tapi besok kamu menikah, bagaimana perasaanmu?"
Tanya Umi kembali dengan menatap wajah Riska.
"Biasa saja"
Riska hanya menjawab dengan jawaban yang sepele.
"Apakah kamu sudah menghubungi orang tuamu untuk hari esok?"
Tanya Umi kembali.
"Saya tidak mempunyai orang tua"
Jawab Riska dengan jelas.
"Maksud kamu..."
__ADS_1
Umi sedikit tidak memahami ucapan Riska.
"Saya yatim piatu, untuk masalah besok aku didampingi oleh wali hakim saja, karna adikku sedang diluar negri jadi, tidak dapat mewakilkan ..."
Riska menjawab dengan tegas.
"Maaf kan Umi... Jika telah menyinggungmu..."
Riska hanya melihat sekilas tanpa mau menatap.
"Umi tau... Jika kamu dan putra Umi tidak menginginkan pernikahan besok... Tapi Umi mohon kamu yang ikhlas ya... Menerima pernikahan ini... Sebenarnya Umi dan Abah begitu kaget saat mendengar berita tadi siang antara kalian berdua, namun.... Apalah daya kami sebagai orangtua... Kami akan tetap memilih mengikuti peraturan yang ada... Dan mengikhlaskan semua ini... Meski sebenarnya berat.... Umi mohon... Meski kamu tidak menginginkan pernikahan ini... Tolong hormati putra Umi selayaknya sebagai suami... Ini permintaan Umi sebagai seorang ibu kepadamu..."
Tutur Umi Fatimah dengan menggenggam tangan Riska, dan berlinangan air mata.
"Ya akan kuusahakan..."
Riska hanya menjawab singkat.
"Terimakasih..."
Lalu Umi memeluk Riska erat.
"Umi ada sesuatu untukmu... Tunggu sebentar..."
Umi lalu berjalan kearah lemari yang berada disudut ruangan kamar itu. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
"Ini untukmu nak... Tolong kenakan gamis ini saat akadmu ya..."
Pinta Umi kepada Riska.
"Ya"
Riska hanya menjawab sekilas.
Umi membelai kepala Riska.
"Ya akan kuusahakan..."
Riska masih saja menjawab dengan singkat.
"Kamu malam ini tidurlah dikamar sini..."
Pinta Umi.
"Tidak perlu... Aku akan kembali ke kamarku..."
Riska segera keluar dan meninggalkan Umi begitu saja tanpa pamitan. Umi tidak mempermasalahkannya karena Umi paham Riska memerlukan waktu untuk adaptasi. Umi dan Abah juga sudah ikhlas dan ridho jika mereka harus menikah. Percuma saja ditentang, toh pernikahan itu akan tetap berlangsung. Dengan legowo Abah dan Umi mengikhlaskan dan berdamai oleh keadaan, begitu juga Gus Lubiz meski dia tidak tau akan dibawa kemana pernikahan ini. Untuk saat ini dalam pikirannya hanya cukup menerima saja dahulu.
Riska akhirnya memutuskan untuk tidur, semua lampu kamar sudah padam termasuk kamarnya juga. Hanya ada lampu tidur saja yang terlihat masih setia dengan cahaya temaramnya saja. Dengan posisi yang tidak bisa tidur dia hanya membuka matanya saja, tanpa melakukan apapun. Sampai pada akhirnya sayup sayup didalam kamarnya dia mendengar ada orang yang bangun. Riska hanya memperhatikan orang itu melakukan aktifitasnya. Setelah selesai Riska menghampiri orang itu.
"Kamu ngelakuin apa Ra?"
Tanya Riska yang sudah disamping Syakira.
"Ya Allah... Mbak Riska ngagetin aja..."
Syakira kaget karna kedatangan Riska. Riska hanya diam saja mendengar ucapan Syakira.
"Aku habis shalat tahajud mbak... Ini mau lanjut dzikir..."
Jawab Syakira benar adanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu ngelakuin shalat tahajud"
Tanya Riska yang ingin tau.
"Karna ketika aku shalat tahajud, aku merasa sangat dekat dengan penciptaku... Aku merasa tenang... Semua keluh kesahku dapat aku ceritakan... Menurutku... Shalat tahajud adalah obat yang mujarab ketika ada masalah.... Ditambah ngelakuin dzikir hati rasanya tambah tenang dan ikhlas ngejalanin semua masalah yang ada..."
Jelas Syakira.
"Kamu mau ngajarin aku Ra..."
Tanya Riska.
"Dengan senang hati mbak... Ayo..."
Syakira lantas menyuruh Riska untuk mengambil air wudhu, dan mengajari niat dan bacaan apa saja yang dibaca Riska nanti saat shalat. Selesai shalat Riska merasa hatinya lebih tenang dan bisa berfikir secara rasional. Riska sudah memutuskan akan seperti apa pernikahan yang dijalaninya. Tapi ada satu hal saat ini yang masih dia sembunyikan secara rapat dari seseorang, seseorang itu adalah Syakira.
Ta terasa waktu sudah pagi, Riska telah dipanggil oleh mbak Nana untuk kedhalem, pagi ini Riska dirias layaknya seperti penganten pada umumnya. Dengan riasan make sederhana sudah menempel diwajah ayu Riska, dia hari ini akad menggunakan gamis putih polos pemberian Umi Fatimah tadi malam. Hari ini hanya ada akad saja, karena acara pernikahan yang begitu mendadak. Saat ini Riska berada didalam kamar tamu, dia ditemani oleh Vera dan Syakira. Riska sama sekali tidak terlihat gugup ataupun takut. Dia terlihat begitu santai tanpa beban. Terdengar suara gemuruh akad akan dimulai, Riska bersama Vera dan Syakira hanya melihat suasana akad nikah Riska dan Gus Lubiz dari video call yang dilakukan oleh Ustadz Mahmud. Terdengar dalam video call itu.
"SAH SAH SAH...."
Iringan do'a pun terdengar dilantunkan. Ini saatnya Pertemuan antara Riska dan Gus Lubiz, Syakira dan Vera pun segera keluar dari kamar untuk memberikan sepasang kekasih halal itu untuk bertemu. Terdengar suara pintu dibuka. Riska yang sudah tau siapa pelakunya hanya diam tanpa menengok kearah sumber suara. Gus Lubiz mendekat bersama Abah Sholeh dan juga Umi Fatimah. Gus Lubiz segera mendekat kearah Riska, Riska pun menyambut Gus Lubiz dengan saliman tangan. Gus Lubiz juga merapalkan beberapa do'a diubun ubun kepala Riska. Riska hanya menundukkan kepalanya saja. Setelah itu Gus Lubiz mencium kening Riska.
"Ya Allah... Ini pertama kali aku mencium seorang perempuan mahramku selain ibu... Aku tidak tau akan kemana arah pernikahan ini... Aku telah menyerah akan cintaku dengan Syakira, aku sadar saat ini aku telah berstatus atas suami dengan perempuan yang ada dihadapanku ini..."
Batin Gus Lubiz kala selesai mencium kening Riska, dan menatap wajah Riska.
"Maaf kan aku ya Allah... Jika kedepannya aku akan mempermainkan ikatan suci ini... Maafkan aku..."
Batin Riska menjerit, melihat wajah Gus Lubiz.
"Untuk kalian... Abah mohon kalian yang ikhlas menjalani pernikahan ini... Walaupun pernikahan ini karna sebuah keterpaksaan, dan Abah harap kalian jangan sampe ada kata perceraian untuk menyekesaikan masalah rumah tangga kalian kelak... Khususnya kamu Lubiz hati hati lah dalam berbicara, terlebih saat kamu lagi emosi... Dan kamu Riska, Abah harap kamu bisa menjadi istri sholehah dan patuh terhadap suamimu jika perintahnya itu dalam hal kebaikan... Dan kamu Lubiz abah harap kamu dapat membimbing Riska dengan baik..."
Nasihat Abah Sholeh.
"Riska... Kamu jangan pernah sungkan dengan kami ya nak... Sekarang kami adalah orangtuamu..."
Umi Fatimah kembali mengingatkan status Riska, bahwa sekarang dia adalah anaknya bukan seorang santri. Akhirnya pagi menjelang siang itu diisi beberapa wejangan untuk Gus Lubiz dan Riska. Mereka berdua hanya menanggapi dengan patuh semua wejangan itu, dan berkata seperlunya saja. Sepasang kekasih halal itupun setelah mendapat wejangan dari abah dan umi tetap berdiam diri didalam kamar, tanpa ada niatan untuk menemui beberapa orang diluar, mereka sama sama melamun memikirkan semua yang akan terjadi untuk kedepannya.
"Apakah kamu tidak ingin keluar...?"
Tanya Gus Lubiz untuk memecahkan keheningan.
"Tidak"
Riska hanya menjawab singkat.
"Baiklah... Kalau begitu aku keluar dulu... Karna ada yang masih perlu aku selesaikan dahulu..."
Gus Lubiz berpamitan pada Riska.
"Pergilah..."
Riska hanya menjawab dengan singkat.
Dengan langkah besar Gus Lubiz meninggalkan Riska. Karena sebenarnya kepergian Gus Lubiz hanya untuk menenangkan hatinya agar dapat ikhlas dan melepaskan Syakira yang sudah terukir dilubuk hatinya. Walau bagaimanapun dia masih belum bisa menghilangkan perasaannya begitu saja.
"Syakira... Rasanya aku masih ta percaya, aku menikah bukan denganmu... Bahkan rencana yang kusiapkan pun hancur... Aku tau... Ini semua karena Allah telah menegurku untuk agar aku sadar dan mengakui bahwa cara yang aku lakukan salah... Dan sekarang aku terjebak sendiri dengan permainanku..."
Gumam Gus Lubiz dengan berlinangan air mata, mengingat betapa bodohnya Gus Lubiz yang sudah dipenuhi oleh obsesi sehingga membuatnya lupa akan kuasa sang penciptanya. Hanya rasa sesal dan perasaan bersalah itu saja yang saat ini dia rasakan.
Terimakasih๐ untuk semuanya yang sampai saat ini masih stay setia dan selalu update karya perdanaku... Thanks for reading ya... ๐Jangan lupa like dan comentnya ya...๐
__ADS_1
Salam ter lope lope buat kalian semuanya...๐๐๐