Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (21)


__ADS_3

~Kondisi Ibu Endah~


"Prang...."


Suara nyaring dari piring yang terjatuh begitu saja.


"Astaghfirullah..."


Syakirapun shock karna ta sengaja menjatuhkan piring dalam genggamannya.


"Syakira... Kamu kenapa??"


Tanya mbak Nana yang melihat Syakira jongkok mengambil serpihan piring yang pecah.


"Tadi, Ira gak sengaja ngejatuhin piring mbak..."


Syakira menjawab dengan benar adanya.


"Ya udah kamu buruan beresin... Keburu anak anak pada datang ntar..."


Jawab Mbak Nana.


"Iya mbak..."


Jawab Syakira, namun sebelum Nana beranjak Syakira meringis kesakitan.


"Ya Allah... Ira... Kamu hati hati dong... Mana darahnya ngucur deres banget...."


Nana terlihat gugup melihat jari tangan Syakira yang banyak mengeluarkan darah.


"Hehehe maaf... Mbak, mbak Nana gak usah gugup,,,, tolong ambilin minyak kayu putih aja..."


Pinta Syakira, dengan segera Nana mengambil minyak kayu putih dikotak P3K didalam etalase kantin.


"Ini... Mending kamu bersihin lukamu, ini biar mbak aja yang lanjut bersihin..."


Titah Nana yang ta mau terbantahkan.


"Iya mbak... Maaf Ira ngrepotin mbak nana... Makasih untuk bantuannya"


Nana hanya tersenyum sambil mengibaskan tangannya agar Syakira pergi dari sana.


"Huft... Perih juga ya..."


Syakira mulai membersihkan lukanya dengan air kran. Setelah itu dia duduk di kursi kantin dan mulai mengoleskan minyak kayu putih kejari yang terluka.


"Ternyata perih banget... Lebih perih daripada patah hati, tapi sakitnya lebih menyayat kalau patah hati..."


Gumam Syakira yang masih dengan mengolesi jarinya.


"Tapi perasaanku kok gak tenang ya.... Tiba tiba keinget ibu ya... Jadi, kangen deh..."


Syakira mulai terlihat sendu mengingat seorang yang telah merawatnya selama ini, yang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya walaupun dia tidak pernah melahirkan Syakira.


"Apa nanti sepulang sekolah aku coba telpon ibu aja ya... Biar gak suudzon gini... Agh yang namanya rindu itu emang berat..."


Gumam Syakira sambil tersenyum.


---------------------------


Berbeda posisi dengan Syakira, Daffiq sedang berjalan terburu buru bersama Asisten terpatuhnya, Asisten Hans. Setelah tadi pagi buta mendapat kabar Ibu Endah yang kritis dan sudah ta sadarkan diri dari dokter Mahfudz.


"Hans! Kamu sudah menghubungi orang untuk menjemput Aira?!!?"


Tanya Daffiq yang masih berjalan dengan terburu buru.


"Sudah tuan..."


Jawab Asisten Hans. Daffiq hanya melirik dan segera mempercepat langkah kakinya.


"Kak Daffiq...."


Panggil Rangga dengan menghambur kedalam pelukan Daffiq.


"Shut.... Jangan nangis...


Ada kakak disini, kamu yang tenang..."


Daffiq memeluk Rangga yang terisak dalam pelukannya.


"Kak... Ibu..."


Rangga masih menangis dengan sesenggukan.


"Rangga... Lebih baik doakan Ibu ya... Jangan nangis... Ntar gantengnya hilang..."


Hibur Daffiq.

__ADS_1


"Bi... Apa dokter sudah keluar?"


Tanya Daffiq pada maid yang memang ditugaskan untuk menjaga Ibu Endah dan Rangga saat Daffiq tidak ada.


"Maaf tuan, sedari tadi dokter masih belum keluar dari ruangan Ibu Endah"


Jawab maid itu dengan jelasnya.


Daffiq hanya mengangguk saja.


"Hans... Apakah supir yang kau suruh menjemput Aira sudah sampai??"


Tanya Daffiq.


"Sudah tuan... Saat ini nona sedang dalam perjalanan kesini..."


Jawab Asisten Hans dengan detailnya.


Tiba tiba keluarlah dokter Mahfudz yang menangani kondisi Ibu Endah.


"Maaf tuan Daffiq... Pasien ingin bertemu dengan anda"


Ucap dokter itu.


"ya"


Dengan segera Daffiq berjalan menuju kedalam ruangan Ibu Endah.


"Assalamu'alaikum ibu..."


Sapa Daffiq ketika sudah ada disamping ranjang Ibu Endah.


Dengan kondisi yang sudah ta berdaya dan banyak alat yang terpasang ditubuh Ibu Endah, Ibu Endah tetap tersenyum menatap Daffiq yang datang dihadapannya.


"Wa...'alaikumus,...salam... "


Jawab Ibu Endah dengan nafas terengah engah dan dibantu dengan alat peenafasan.


"Ibu ada apa... Memanggil Daffiq?"


Tanya Daffiq yang sudah duduk dikursi samping ranjang.


"Nak...


(Ibu Endah mengatur nafasnya)


Nafas Ibu Endah mulai terengah engah dengan memburu. Daffiq tetap setia mendengarkan ucapan Ibu Endah dengan seksama.


"Na...k Daff-iq... Sebe-narnya... Sya--kira... Hilang ingatan...


(Ibu Endah mengatur nafasnya yang sudah melemah, Daffiq yang mendengar perkataan Ibu Endah kaget sekali, namun dia mencoba untuk tetap tenang)


Syakira... Ti dak mengi-ngat apa pun... Ke-tika ibu a-dopsi... Ja-di, to-long kamu ya-ng sabar.... Dan... Nyawa Syakira ada yang mengan-cam-nya... Ibu pernah menda-pat teror i-tu sebe-lum ibu pin-dah ke kota ini...


Ibu, ju-ga ti tip Rangga... To long... Ka mu... Sa yangi dia...ya..."


Pinta Ibu Endah yang sudah menagis dengan air mata yang mengalir derasnya.


"Daffiq berjanji akan melindungi Aira dengan semua kemampuan Daffiq, dan Daffiq berjanji akan menjaga Rangga sebaik mungkin..."


Daffiq menggenggam tangan Ibu Endah untuk meyakinkan ucapannya. Ibu Endah hanya tersenyum dan mengangguk saja.


Lalu tiba tiba alat bantu denyut jantung Ibu Endah semakin lemah, segera Daffiq berteriak memanggil Dokter.


"Dokter!!"


Panggil Daffiq. Dokter Mahfudz segera masuk dan meminta Daffiq untuk keluar.


Sedangakan Syakira yang tiba tiba dapat panggilan ada orang yang mencarinya segera menghampiri orang itu di kantor sekretariat pesantren.


"Assalamu'alaikum... Maaf, apa anda yang ingin bertemu dengan saya..."


Tanya Syakira.


"Wa'alaikumussalam iya nona, saya Stefany saya diutus oleh Tuan Daffiq untuk menjemput anda"


Jawab Stefany dengan sopan.


"Tapi, maaf saya tidak mengenal tuanmu... Dan ada perlu apa??"


Tanya Syakira kembali karna tidak yakin dengan ucapan Stefany.


"Soal keperluan apa, anda bisa bertanya langsung dengan Tuan nanti..."


Jawab Stefany.


"Maaf nona... Anda harus segera berangkat bersama saya karna sudah ditunggu tuan... Dan soal ijin sudah saya ijinkan, nona tinggal pergi bersama saya..."

__ADS_1


Paksa Stefany, karna dia mendapat pesan dari Asisten Hans untuk segera datang kerumah sakit.


"Tapi aku tidak mengenal tuanmu"


Jawab Syakira yang masih belum percaya ucapan Stefany.


"Maaf nona jika saya berlaku kasar..."


Dengan tanpa berkata lagi Stefany memanggil pengawal wanita yang ada disampingnya. Dengan segera pengawal itu menggendong Syakira.


"Heh... kamu!!! Turunkan aku!'


Perintah Syakira, namun tidak mendapat respon apapun dari pengawal itu, Syakirapun mendapat tatapan heran dari orang orang yang kebetulan lewat dikantor Sekretariat pesantren. Syakira yang malupun hanya diam ta berkutik. Sesampainya didekat mobil Syakira langsung dimasukkan begitu saja. Diikuti oleh Stefany.


"Ayo pak jalan!"


Perintah Stefany.


"Sebenarnya kalian membawaku kemana hah!"


Tanya Syakira yang menahan emosi.


"Maaf nona... Anda tenang saja, kami tidak akan menyakiti anda . .... Dan saya mohon anda untuk tetap tenang"


Jawab Stefany yang masih dengan sopan.


"Kamu pikir aku bisa tenang... Kamu bawa aku seenak jidat tanpa ijinku... Dan jangan panggil aku NoNa! Karna aku bukan NoNamu!"


Jawab Syakira yang sudah emosi diubun ubun. Sedangkan Stefany hanya menanggapi dengan senyum sekilas. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 20 menit akhirnya Syakira sampai.


"Mari Nona..."


Stefany mengajak Syakira untuk keluar dari dalam mobil yang sudah dibukakan oleh supir. Syakira hanya mengangguk mengikuti saja, karna dalam fikirannya percuma dia berontak pada akhirnya dia yang lelah.


"Kenapa ke rumah sakit ya.... Siapa yang sakit..."


Syakira membatin dan mengikuti langkah kaki Stefany. Dan akhirnya mereka sampai pada lantai teratas gedung itu. Syakira tambah kaget ketika melihat ada Rangga yang menangis dalam pelukan laki laki yang tidak dia kenal.


"Rangga..."


Sapa Syakira.


"Kakak..."


Rangga berlari dan memeluk Syakira yang ada dihadapannya.


"Maaf tuan... Jika saya terlambat..."


Stefany menghampiri Bossnya Daffiq.


"Ya"


Daffiq hanya menjawabnya singkat. Daffiq pun tanpa berkedip memandang orang yang selama ini dicarinya, dan sekarang berada dihadapannya.


"Kak... Ibu..."


Rangga yang masih terisak dipelukan Syakira.


"Ibu kenapa... Coba kamu jelaskan..."


Tanya Syakira yang bingung dengan keadaan ini. Karna dia tidak tau apapun.


"Ibu sakit...."


Jawab Rangga. Bak disambar petir disiang bolong, Syakira terduduk dilantai dan menangis mendengar ucapan Rangga.


"Dimana Ibu... Kakak harus menemui Ibu..."


Tanya Syakira yang sudah berdiri dan berjalan mendekati pintu ruang inap itu.


Daffiq ingin mendekat namun, keburu dokter keluar dari dalam ruangan Ibu Endah.


"Maaf untuk keluarga pasien..."


Dokter Mahfudz yang belum selesai bicara langsung disela Syakira.


"Bagaimana keadaan Ibu saya dokter..."


Tanya Syakira yang sudah sangat kuatir.


"Maaf Nona... Jika saya memberikan kabar yang kurang berkena, saya sudah berusaha semaksimal mungkin bersama tim medis... Nonya Endah dinyatakan meninggal pukul 9 pagi...."


Kabar dari dokter Mahfudz. Seketika lutut Syakira langsung bergetar hebat dan ta mampu berdiri. Dia menangis dengan menyayat hati.


"Ini tidak mungkin... Dokter pasti salah..."


Jawab Syakira disela tangisnya, dan pandangan matanya yang sudah burampun akhirnya dia pingsan. Dan beruntungnya Daffiq yang berada disamping Syakira langsung membawa Syakira untuk mendapat perawatan. Sedangkan Rangga yang mendengar kabar ibunya meninggal, dia menangis tersedu sedu dengan di dampingi Stefany dan Asisten Hans.

__ADS_1


Pagi itupun menjadi pagi yang sangat menyakitkan bagi Syakira.


__ADS_2