
~Siang yang Menjadi Kenangan 2~
*Masih seputar mimpinya Syakira ya gaes.... Sabar dulu hehehe๐๐๐ mari kita lanjut!!!
Sambil menghabiskan minum masing masing mereka kembali bersenda gurau.
"Ra... Tadi kamu ngimpi apaan si... Kok sampe senyum senyum gak jelas"
Penasaran Dinda juga diangguki Vera dan Melly.
"Owh... Aku ngimpi maen sama seseorang"
Jawab Syakira dengan ringannya. Namun dalam fikiran ke tiga sahabatnya maen dikategorikan dalam beberapa artian, yaitu maen dalam hubungan lawan jenis. Karna menurut mereka, seusia Syakira maen kalau cuma maen seperti bocah kecil itu tidak mungkin sekali. Seakan paham dengan arah pemikiran teman temannya Syakira menjelaskan.
"Maen kayak kita tadi... Maen kejar kejaran gak jelas gitu..."
Cerita Syakira.
"Kejar kejaran sama siapa Ra... Sama mamas mamas ganteng, apa ibuk ibuk senam didepan komplek, apa sama bocil yang nyuri mangganya pak somad apa gimna??"
Cecar Mellya dengan pertanyaan yang kelewatan gak masuk akal.
Dengan telaten Syakira menjawab pertanyaan Melly, yang seperti reporter kejar target itu.
"Gini ni ceritanya...
(Syakira mulai menarik nafas untuk melanjutkan ceritanya)
Disebuah bangunan yang menurut aku itu kayak sebuah vila keluarga gitu... Ada 2 keluarga sedang berkumpul kalau menurut aku gitu, dan disitu salah satunya ada anak remaja cowok dan anak kecil cewek sekitar usia 6 kalo ngak 7 tahunan gitu, sedang main kejar kejaran sampe tertawa karna tu cewe gak mau berhenti. Sampe Akhirnya tu bocil ketangkep sama tu cowok"
Syakira selesai dengan ceritanya.
"Lah... Kamu kenal sama semua orang yang ada didalam mimpimu??"
Tanya Dinda.
"Gak ada yang aku kenal... Tapi cewek bocil itu mukanya persis muka aku waktu kecil..."
Jawab Syakira dengan mengingat ingat mimpinya.
"Berarti kamu kenal Ra...."
Balas Dinda yang exited juga.
"Bener itu"
Sahut Vera ta mau ketinggalan.
"Aku juga heran, aku sering mimpi bersama orang orang itu, dari mimpi indah dan mimpi buruk juga..."
Tutur Syakira yang juga masih bingung dengan dirinya sendiri.
"Apa jangan jangan itu keluarga kamu yang jauh gitu, terus mungkin kamu kangen Ra...."
Tanya Melly.
Tiba tiba Syakira mengingat sesuatu, kala Melly mengatakan keluarga.
"Aku gak tau... Tapi aku setiap ingat semua orang yang ada didalam mimpi itu, aku selalu nyaman dan terlebih sama cowok itu... Kayak aku ngerasa dia itu pelindungku tempat bersandarku... Tapi sayangnya aku tidak mengetahui siapa dia..."
Jawab Syakira dengan mengingat ingat wajah cowok itu. Tapi dia mengingat kejadian saat kejar kejaran dia berteriak
"Kak affiq.... Lepasin"
Syakira menyimpulkan nama cowok itu adalah Affiq, pikirnya.
__ADS_1
"Siang yang penuh kenangan, aku ta tau siapa dikau.... Namun kau menempati posisi terbaik didalam bagian hatiku. Meski aku ta mengenalmu"
Monolog Syakira dikala dia melamun sehabis dia bercerita dengan sahabat sahabatnya.
~Di dalam Kamar Gus Lubiz~
Dengan kepala bersandar headbord ranjang kamarnya, Gus Lubiz mengingat wajah ayu nan manis milik Syakira. Wajah imut seperti keturunan luar negri.
"Cantik..."
Satu kata terucap dalam benaknya.
"Syakira... Rasanya aku mulai gila hanya memikirkan namamu saja..."
Gus Lubiz mulai frustasi karna wajah Syakira memenuhi otaknya. Dia merasa seperti ABG yang baru mengerti akan jatuh cinta.
"Aku harus gimana ya Allah...
Apa yang harus aku lakukan, rasanya tidak melihat wajahnya sedetik, kangennya masyaAllah...."
Gumam Gus Lubiz yang masih dilanda rasa asmara pengen ketemu. Didalam benaknya dia mulai memikirkan berbagai hal.
"Ah..... Pasti Umi tau tentang Syakira, karna diakan pernah ngebersihin halaman belakang..."
Pikir Gus Lubiz, karna gak sembarang santri bisa masuk rumah kalau gak menjadi abdi dhalem begitu pikirnya. Dengan bergegas turun dari atas kasurnya Gus Lubiz segera keluar mencari Umi Fatimah.
"Umi... Umi... Umi dimana??"
Cari Gus Lubiz sambil celingukaan.
"Iya nak... Umi disini, diruang tengah kenapa??"
Tanya Umi.
"Ada apa kok cari Umi..."
Tanya Umi Fatimah sambil mengelus pundak Gus Lubiz.
"Cuman mau nanya... Umi kenal gak sama santri yang namanya Syakira?"
Tanya Gus Lubiz.
"Owalah.... Ira to, emang kenapa sama Ira??? Apa dia bikin masalah?"
Tanya Umi yang penasaran.
"Gak bikin masalah kok Umi... Cuma Lubiz pengen nanya aja, karna dia siswi yang diajar sama Lubiz gitu..."
Tutur Gus Lubiz begitu saja.
"Dia itu salah satu santriwati yang dapat beasiswa disini, dalam program pendidikan formal. Dan kalau soal dipondok pesantren dia ikut jadi abdi dhalem buat meringankan beban orangtuanya. Dia juga mengajar anak baru dalam ilmu tajwid dan membaca Al-Qur'an"
Jawab Umi dengan singkat.
"Jadi gitu ya Umi..."
Gus Lubiz hanya mengangguk saja. Dia enggan bertanya lagi dengan Uminya, takut jika Uminya mencurigai sesuatu tentang dirinya. Dengan segera Gus Lubiz pamitan, ijin mau pergi keluar.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan Uminya dia langsung berlari menuju taman samping rumah. Disana dia berfikir, gadis yang unik dan tangguh. Rela ikut jadi abdi dhalem yang berat demi meringankan beban orangtuanya. Gadis yang tidak mau berpangku tangan itulah pikirnya. Patut diperjuangkan, membuat Gus Lubiz tambah ingin mengenal tentang Syakira.
~Kebaikan Daffiq~
Ditempat lain, setelah selesai rapat bersama kolega bisnisnya disalah satu restoran ternama dikota itu, Daffiq berjalan keluar bersama Asisten yang selalu setia bersamanya.
"Hans, apa jadwal kegiatanku setelah ini"
__ADS_1
Daffiq berjalan dengan langkah tegapnya.
"Setelah ini tuan tidak ada kegiatan diluar. Jadi sore ini tuan bisa langsung pulang"
Tutur Asisten Hans dengan jelasnya. Daffiq hanya melihat sekilas.
"Siapkan proposal pembangunan proyek ditanah hilir, aku ingin meninjau langsung dilapangan"
Tutur Daffiq singkat.
"Baik tuan, apakah tuan akan berangkat sekarang?"
Tanya Asisten Hans.
"Ya"
Jawab Daffiq dengan singkat.
Segera Asisten Hans, mengirim pesan kepada sekretarisnya untuk mengirimkan proposal yang dimaksud Daffiq ke alamat restorant. Menunggu selama 15 menit akhirnya proposal itu datang.
"tok tok...
Maaf tuan ini proposalnya"
Sekretarisnya asisten Hans mengetok kaca jendela mobil Daffiq. Dengan segera Asisten Hans keluar dan mengambil proposal tersebut.
"Trimaksih, Kau segeralah pergi dari sini"
Usir Hans dengan sadisnya.
Namun yang diusir malah balik menggoda Hans.
"Yakin ni... Ngusir, aku cantik loh....ntar kangen lohhhh"
Sambil mengibaskan rambut panjangnya didepan muka Asisten Hans. Namun Hans tidak bergeming dia langsung masuk kedalam mobil dan menyerahkan proposal tersebut kepada Daffiq. Dengan segera mobil itu berjalan meninggalkan sekretaris itu dari sana.
"Hans... Apakah kau digoda lagi dengan dia?!"
Tanya Daffiq yang melihat Asisten Hans yang melamun.
"Ehm iya tuan"
Jawabnya dengan cepat.
"Sepertinya dia menyukaimu"
Jawab Daffiq singkat. Asisten Hans masih mlongo mendengar penuturan Tuannya Daffiq. Seperti tidak mungkin jika Stefany menyukainya. Asisten Hans tambah bingung memikirkan itu semua. Lebih baik fokus bekerja saja, itulah fikirannya.
Ta terasa kurang dari 20 menit mereka telah sampai di proyek pembangunan yang berada dihilir. Daffiq mulai meninjau bangunan tersebut yang baru berjalan 30 persen.
"Maaf tuan.... Saya tidak menyambut kedatangan anda"
Seorang mandor itu mendekat kepada Daffiq.
"Ya, berikan aku helmnya"
Jawab Daffiq begitu singkatnya.
"Ini tuan"
Jawab mandor itu dengan rasa takutnya.
Daffiq mulai berjalan menyusuri satu persatu bangunan tersebut, dan mandor itu pun mulai menjelaskan semuanya. Daffiq hanya menanggapi dengan anggukan. Kurang lebih dia berkeliling 30 menit, ia memutuskan untuk segera pulang.
Dalam perjalanan pulang Daffiq meminta Hans untuk berhenti disalah satu masjid terdekat di area sekitar proyek. Karna Daffiq belum menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Sesampainya di masjid Daffiq dan Hans langsung berjalan menuju tempat wudhu pria untuk berwudhu. Dengan segera langsung menunaikan shalat 'asyar dengan dia yang menjadi imamnya bersama Hans yang menjadi makmumnya. Setelah selesai menunaikan shalat 'asyar mereka segera masuk mobil untuk segera pulang. Namun ketika ditengah perjalanan pulang ada seorang anak laki laki yang berdiri dipinggir jalan dengan berurai air mata dia menyetop dan meminta tolong kepada setiap pengguna jalan. Tapi, tidak ada yang memperdulikannya. Hingga akhirnya Daffiq turun dari dalam mobilnya dan bertanya pada bocah laki laki tersebut.
__ADS_1