Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (22)


__ADS_3

~Pergi Tidak Untuk Kembali~


Daffiq masih di rumah sakit menunggu Syakira sadar dari pingsannya. Dengan setia duduk menunggu, sesekali mengusap pelan punggung tangan Syakira. Untuk masalah jenazah Daffiq meminta Asisten Hans yang mengurusi.


"Aku dimana...?


Aku harus menemui ibu..."


Tangis Syakira yang baru sadar dari pingsannya.


"Kamu tenang dulu Aira... "


Daffiq mencoba menenangkan Syakira.


"Aku harus bertemu ibu....!"


Syakira tidak memperdulikan ucapan Daffiq, dengan segera Syakira meraih selang infus yang menempel ditangannya dan menariknya dengan paksa. Darahpun semakin mengucur deras dari bekas infus.


"Syakira aku mohon... Tenanglah..."


Syakira tidak menggubris ucapan Daffiq... Dia memaksa berjalan walau dengan sempoyongan. Tidak sampai lima langkah Syakira ambruk tidak mampu menahan tubuhnya sendiri, Daffiq langsung berlari dan memeluk Syakira.


"Aku mohon tenanglah... Kalau kamu seperti ini... Kamu akan melukai dirimu sendiri..."


Daffiq memeluk Syakira untuk memberi kekuatan.


"Ibu...hiks...ibu..."


Syakira hanya mampu mengucapkan kata itu, bahkan dia tidak menghiraukan kehadiran Daffiq. Lantas Daffiq segera memanggil dokter untuk memeriksa Syakira.


"Bagaimana keadaan Aira dok...?"


Tanya Daffiq yang sudah kuatir.


"Nona Syakira hanya perlu istirahat, dan dia hanya masih shock karna belum bisa mengontrol emosinya..."


Jelas dokter yang memeriksa Syakira.


"Apakah boleh langsung pulang dok...?"

__ADS_1


Tanya Daffiq .


"Nona boleh langsung pulang... Tapi mohon untuk meminum beberapa vitamin yang saya resepkan..."


Jawab dokter itu kembali.


"Baik dokter terimaksih atas bantuannya..."


Daffiq mengucapkan banyak terimakasih.


"Iya sama sama tuan... Karna itu sudah tugas saya,... Kalau begitu saya pamit dulu..."


Dokter itu pamit dan pergi meninggalkan Daffiq.


Daffiq melangkah berjalan mendekat menuju ranjang Syakira. Dengan berlinangan air mata, dan tatapan mata kosong Syakira menangis dalam diam.


"Aira... Kamu sudah boleh pulang... Ayo aku bantu kamu siap siap"


Pinta Daffiq.


Syakira hanya melihat sekilas tanpa mengucapkan apapun. Setelah berkemas Daffiq langsung mengemudikan mobilnya menuju kediaman Ibu Endah, didalam perjalanan hanya ada suara hening dan tatapan kosong dari Syakira, setelah perjalanan hampir 20 menit mereka berdua sampai di kontrakan Ibu Endah. Disana sudah ramai para pelayat yang berdatangan.


Setelah dimandikan dan dikafani kini Jenazah Ibu Endah dishalatkan dimasjid terdekat. Syakira hanya menangis dan memeluk erat adiknya itu. Setelah dishalatkan semua pelayat ikut menuju kepemakaman, Ibu Endah disemayamkan disamping makam suaminya Pak Bayu. Proses pemakamam pun berlangsung sangat hidmat tidak ada yang bersuara apapun. Hanya suara isakan saja yang terdengar dari beberapa orang. Setelah pemakamam semua orang pergi satu persatu, disitu hanya tinggal Daffiq yang mendampingi Syakira dan Rangga.


"Dek... Kamu pulang dulu... Ya... Kakak masih mau disini..."


Pinta Syakira pada Rangga.


"Gak mau... Rangga masih mau disini sama kakak..."


Jawab Rangga yang masih menangis.


"Kamu pulanglah dulu... Kakak nanti menyusul..."


Dengan berat hati Rangga meninggalkan Syakira dipemakaman itu. Rangga yang sudah ditunggu Asisten Hans bersama Stefany didepan pintu pemakaman pun menghampiri.


"Hy boys... Jangan nangis dong... Tuh gantengnya ilang..."


Hibur Stefany yang mendekati Rangga. Rangga hanya diam dan berjalan mendekat.

__ADS_1


"Ayo kita pulang Rangga..."


Ajak Asisten Hans, Rangga masih diam ta berkutik hanya mengikuti langkah Asisten Hans dan Stefany yang ada disampingnya. Mereka bertigapun pulang. Dipemakaman tinggallah Daffiq dan Syakira.


Daffiq membiarkan Syakira menangis didepan pusara tempat peristirahatan terakhir ibunya. Daffiq hanya berdiri dan diam memandangi Syakira yang berada didepannya.


"Ibu... Maafkan Ira, maafkan Ira... Disaat terakhir Ibu... Ira tidak dapat berbakti kepada ibu... Maafkan Ira bu... Ira belum menjadi anak yang baik... Kenapa ibu tidak pernah berkata jujur, dan memendam penyakit ibu sendirian... Syakira anak yang tidak bergunakan ibu... Sampai diakhir hayat ibu... Syakira tidak ada disamping ibu..."


Syakira meluapkan semua unek uneknya.


"Ibu... Hiks... Kalau ibu ninggalin Syakira, siapa yang nguatin Syakira... Siapa yang bisa jaga Syakira... Siapa yang menjadi tempat Syakira berasandar... Syakira masih butuh ibu... Syakira belum bisa hidup tanpa ibu... Kasian Rangga ibu... Dia masih kecil..."


Ratap Syakira yang masih sesenggukan menangis. Daffiq yang melihat itu semua ikut teriris hatinya melihat kejadian itu. Hingga awan hitampun berkumpul, rintik kecil pun mulai turun membasahi bumi. Sampai pada akhirnya hujan deraspun mengguyur pemakamam itu, seakan alam sadar bahwa saat ini ada seorang hamba juga tengah bersedih. Anehnya Syakira, saat hujan dengan derasnya dia tidak kehujanan. Syakira melihat keatas.


"Ayo kita pulang... Sudah cukup kamu menangisnya. Ingat! Masih ada Rangga yang membutuhkanmu dan banyak orang orang disekitarmu yang menyayangimu..."


Daffiq mencoba menyemangati Syakira.


Syakirapun hanya diam dan berdiri dari posisinya. Merekapun berjalan beriringan menuju mobil Daffiq yang terparkir.


Sore itu menjadi sebuah pelajaran untuk Syakira menjadi pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan tabah untuk semua cobaan. Semua pasti sudah jalannya. Selama perjalanan menuju rumahnya Syakira hanya diam. Terkadang hanya bunyi isakan kecil yang terdengar. Malam ini adalah malam pertama tahlil dirumah Syakira. Syakira tidak mempersiapkan apapun, karna semua sudah disiapkan oleh Daffiq dan Asisten Hans. Dia hanya menenangkan hatinya untuk berdamai dan ikhlas dengan keadaan ini. Malampun beranjak, kini rumah Syakira sudah dipadati oleh para tetangga yang ikut mengaji membacakan tahlil dan surah yasin. Setelah satu jam setengah acarpun selesai, satu tetangga Syakira pamit pulang. Disana tinggallah Daffiq, Asisten Hans dan Stefany.


"Hans... Kamu pulanglah dulu bersama Stefany, kasian dia seharian ikut bekerja keras, antarkan dia sampai rumahnya"


Titah Daffiq dengan jelas.


"Baik tuan... Kalau tuan membutuhkan sesuatu, tuan tinggal hubungi saya saja"


Jawab Asisten Hans.


"Baik tuan... Terimakasih atas perhatiannya permisi..."


Ucap Stefany seraya berpamitan dengan Daffiq. Daffiq hanya menanggapi dengan melirik sekilas dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Malam itu menjadi malam yang penuh dengan luka untuk Syakira, meski yang terpukul adalah Syakira tapi Daffiq ikut merasakan sakit kala melihat orang yang disayang terluka bahkan tangisannya membuat Daffiq sakit melihatnya. Namun Daffiq berusaha untuk tetap senyum untuk memberikan kekuatan kepada Rangga dan Syakira.


Untuk semua yang masih setia menunggu update Cinta Diujung Sujud aku banyak ngucapin terimakasih🙏🥰 terus pantengi karyaku yha...


HAPPY READING YA GAES...🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2