Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (16)


__ADS_3

TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR DI NOVELKU YANG BERJUDUL "CINTA DIUJUNG SUJUD " DAN TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN DAN SUPPORT KALIAN SEMUA🙏🙏😁


~Rumah Sakit 2~


Setelah keluar dari ruangan dokter Mahfudz, Daffiq berjalan menuju ruang inap Ibu Endah.


"Assalamu'alaikum...."


Ketika Daffiq memasuki ruang inap Ibu Endah.


"Wa'alaikumussalam nak Daffiq..."


Jawab Ibu Endah juga Rangga dan maid serentak. Maid yang asalnya duduk pun berdiri karnavada tuannya.


"Kak Daffiq... Rangga kangen"


Rangga berhambur memeluk Daffiq. Dengan sigap Daffiq menerima pelukan Rangga. Daffiq pun mendekat kearah ranjang tempat tidur Ibu Endah.


"Bagaimana keadaan ibu...?"


Tanya Daffiq.


"Ya seperti yang nak Daffiq lihat"


Ibu Endah mencoba tersenyum dengan menahan rasa sakit disekujur tubuhnya hususnya bagian kepala.


"Semoga lekas sembuh ya bu...masih ada Rangga yang menunggu ibu"


Daffiq mencoba memberi semangat.


"Nak Daffiq... Ada yang ingin ibu bicarakan, apakah boleh meminta waktumu sebentar???"


Pinta Ibu Endah.


"Ya tentu saja boleh..."


Jawab Daffiq .


"Tapi Ibu hanya ingin bicara 4 mata dengan nak Daffiq saja"


Seakan paham dengan permintaan Ibu Endah, Daffiq segera memerintah mengosongkan ruang inap Ibu Endah kepada Asistennya Hans.


"Nak Daffiq... Sebelumnya ibu mengucapkan banyak terimakasih karna sudah membantu pengobatan ibu dan juga ikut membantu menyekolahkan Rangga... Maaf ibu tidak dapat membalas kebaikan nak Daffiq"


Ibu Endah mengucapkan terimaksih dengan berlinangan air mata.


"Ibu tidak perlu mengatakan terimakasih... Karna itu sudah kewajiban saya sebagai sesama manusia..."


Jawab Daffiq.


"Sekali lagi terimakasih nak...


Tapi Ibu ingin meminta pertolonganmu nak... Bolehkah ibu meminta??"


Tanya Ibu Endah.


"Silahkan ...."


Daffiq tersenyum dengan tulus.


"Maaf... Jika Ibu lancang dan tidak tau malu...


( Ibu Endah menyeka air matanya yang sedari tadi menetes ta ada hentinya).

__ADS_1


Ibu merasa usia Ibu sudah tidak lama lagi, Ibu minta tolong... Ibu titip Rangga, dan Ibu minta tolong kepada nak Daffiq untuk mencari tau keberadaan ke dua orangtua kandung anak ibu yang pertama....


(Lalu Ibu Endah mencoba bangkit dengan dibantu Daffiq, Ibu meraih tas kecil dibawah bantalnya)


Mungkin dengan ini kamu bisa tau tentang orang tua anak ibu..."


Dengan berlinangan air mata Ibu Endah masih menangis dengan sesenggukan.


"Ibu tenang saja... Daffiq akan menjaga Rangga dengan sebaik mungkin... Karna Daffiq sudah menganggap Rangga seperti adik sendiri, dan Daffiq akan berusaha menemukan orang tua kandung anak ibu... Ibu lebih baik fokus kepengobatan ibu... Dan Daffiq mohon jangan memikirkan sesuatu..."


Pinta Daffiq.


Akhirnya Daffiqpun pamit karna dia akan pulang. Diperjalanan pulang Daffiq menanyakan kabar tentang pencarian Aira.


"Hans, apakah sudah ada kabar terbaru tentang keberadaan Aira??"


Tanya Daffiq.


"Maaf tuan, utusan saya belum masih mencari tau..."


Jawab Asisten Hans.


"Kau memper kerjakan orang tidak becus! Sudah satu bulan lebih aku di Indonesia kalian belum mendapatkan kabar...!"


Frustasi Daffiq, karna belum menemukan titik terang keberadaan Aira.


"Maaf tuan... Saya akan berusaha lagi"


Jawab Asisten Hans.


"Aku tidak mau tau nanti malam aku harus sudah mendapat kabar bagus!"


Titah Daffiq dengan tegasnya. Akhirnya perjalanan itupun sunyi dengan kekecewaan Daffiq karna tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.


~Terungkap~


Malam yang indah dengan purnama yang bersinar terang diperaduannya.


"Kenapa aku tiba tiba keinget sama Kak Affiq yang ada dimimpi... Ya..."


Gumam Syakira, dengan tetap melihat langit.


"Teringat dia membuat hatiku berdebar... Siapa sebenarnya kamu?? Apakah aku sangat mengenalmu...?"


Monolog Syakira dengan memegang dadanya yang bedetak kencang kala mengingat nama Affiq.


"Memikirkannya bisa membuatku terkena serangan jantung mendadak,... Aku kok kangen ibu ya... Gimana kabar ibu ya... Setiap nelpon gak ada jawaban, sekalinya ada jawaban nomor yang anda hubungi tidak aktif... Nyebelin banget si...."


Gumam Syakira yang merasa kesal karna kangen dengan ibunya tapi dia tidak dapat mendapatkan kabar ibunya.


"Andaikan aku setiap tahun bisa pulang mesti aku bahagia banget... Gak kayak gini sudah hampir 3 tahun tapi belum pernah pulang karna tuntutan keadaan...."


Batin Syakira mengingat keadaannya yang menyedihkan.


"Setelah kelulusan 2 bulan lagi aku harus pulang... Walaupun ibu tidak memperbolehkan aku akan tetap pulang..."


Tekad Syakira, karna merindukan ibu dan adiknya.


"Hemh... Pasti sibontot udah gede... Dulu waktu pamit berangakat kepesantren dia masih kecil terus nangis nangis dikakiku....hihihi"


Syakira mengingat adiknya yang menangisinya kala akan kepesantren.


Malam itu Syakira isi dengan meratapi kerinduan yang ta dapat tersampaikan.

__ADS_1


Berbeda tempat dengan Syakira, sekarang sangat tegang. Disana sudah ada Tuan Zakky , Daffiq, Asisten Hans, dan Endrik orang yang diperintah untuk mencari keberadaan Aira.


"Tuan... Endrik akan melaporkan hasil pencarian nona Aira"


Asisten mulai membuka pembicaraan.


"Ya cepat katakan!"


Perintah Daffiq, yang sudah emosi.


"Baik tuan..."


Endrik menarik nafas sejenak, lalu memperbaiki posisi duduknya.


"Saya sudah mencari keseluruh penjuru negri, dan satu persatu mulai terlihat. Dengan saya mencoba menghubungi teman teman terdekat orangtua angkat nona Aira,


(Endrik menjeda sedikit laporannya, Daffiq , tuan Zakky dan Hanspun mendengarkan dengan seksama).


Lalu terakhir saya mendatangi teman dekat orangtua angkat nona Aira yang berada di Kota S disana saya mendapat kabar bahwa orangtua angkat nona Aira pindah ke kota ini"


Endrik berhenti sebentar.


"Lalu sekarang Aira berada dimana...?"


Tanya Daffiq yang sudah tidak sabar.


"Setelah saya datangi rumah yang berada di kota ini, rumah sudah disita karna orangtua angkat nona Aira terlibat hutang kepada rentenir"


Pungkas Endrik.


"Lalu kamu berhenti mencarinya hemh... "


Daffiq yang sudah tersulut emosi berdiri akan menghampiri Endrik untuk dihajarnya. Tapi langsung dicegah Tuan Zakky.


"Daffiq, kamu tenang dulu... Kita dengarkan laporan Endrik dahulu..."


Nasihat Tuan Zakky dengan menyuruh Daffiq duduk.


Lalu Tuan Zakky memberi kode Endrik untuk melanjutkan kembali laporannya.


"Saya melanjutkan pencarian lagi sampai akhirnya menemukan rumah yang saat ini ditempati orangtua nona Aira, yang berada di jalan xx no.x mereka mengontrak dipinggiran kota"


Jelas Endrik.


"Kamu sudah mencari tau latar belakang orangtua angkat Aira???"


Tanya Daffiq yang sudah mereda amarahnya, tapi Daffiq merasa tidak asing dengan alamat rumah itu.


"Sudah tuan...


Nama orangtua angkat nona Aira adalah Bayu Pratama dan Istrinya Endah Sari, mereka juga mempunyai seorang putra bernama Rangga Ramdan Saputra. Suami Ibu Endah setelah pemecatan di kantor x menjadi supir truck dan selalu mabuk mabukan dan bermain judi. Hingga menyebabkan rumahnya diambil rentenir dan pindah dikontrakan. Dan peringai suami Ibu Endah yang kasar dan main tangan, menyebabkan nona Aira selalu menjadi pelampiasan kemarahan suami Ibu Endah."


Belum selesai Endrik bercerita Daffiq sudah menyetop laporannya.


"Stop jangan kamu teruskan aku sudah ta tahan mendengar penderitaan Aira, Hans ambilkan tas kecil yang berada dilaci itu"


Segera Asisten Hans berjalan mengambil apa yang dimaksud oleh Daffiq. Setelah mendapatkan apa yang dimaksud Daffiq Asisten Hans segera memberikan kepada Daffiq. Dengan segera Daffiq mengambil isi tas itu, dan betapa kagetnya Daffiq melihat isi tas kecil itu. Lalu dia menangis haru dipelukan Tuan Zakky.


"Kakek... Aira masih hidup..."


Ucap Daffiq dengan sesenggukan.


"Iya fiq.... Aira kita akan kembali bersama kita..."

__ADS_1


Jawab kakek dengan mengeratkan pelukannya dan berlinangan air mata.


__ADS_2