Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (41)


__ADS_3

~Kembali Bersama dikediaman Al-Aydrus~


Setelah satu minggu yang lalu, Syakira berpamitan dengan Abah Sholeh dan keluarga. Syakira sekarang tinggal di mansion Al-Aydrus, tidak banyak yang dia lakukan disini. Hanya merenung akan bagaimana nasibnya kedepannya. Dia masih teringat akan minggu lalu, ketika dia berpamitan dikediaman Abah Sholeh dia bertemu dengan Riska.


"Mbak Riska..."


Sapa Syakira yang saat itu akan kembali menuju parkiran, karena sudah ditunggu Daffiq dan yang lainnya.


"Eh kamu Ra... Ada apa?"


Tanya Riska yang sedikit canggung.


"Ira mau pamitan aja mbak... Maafin Ira ya kalau ada salah... Dan sekali lagi maaf...."


Ujar Syakira yang belum selesai, tapi dalam hati dia melanjutkan apa yang ingin dia ucapkan.


"Maaf Ira... Telah membuat mbak Riska harus menikah dan masuk dalam rencana Gus Lubiz... Padahal itu direncanakan untukku.."


Syakira merasa sangat bersalah, dia juga sangat keluh untuk mengatakan sejujurnya dia telah mengetahui semuanya. Saat Gus Lubiz mengakui itu semuanya sebelum acara kelulusan.


"Udah Ra... Kamu tuh gak punya salah apa apa... Kalau ada mbak udah maafin kok..."


Ujar Riska dengan memeluk Syakira, dengan segenap rasa yang ada dia mencurahkan rasa sayangnya layaknya sebagai kakak. Akhirnya pun mereka berpisah secara baik baik. Tapi meski begitu Syakira masih mempunyai ada rasa tidak enak menghampiri hatinya.


"Huh.... Mengingat itu semua semakin membuatku tidak dapat berfikir baik..."


Syakira bermonolog sendiri.


"Huh... Aku harusnya minta maaf saat itu... Semoga suatu saat aku dapat bertemu kembali dan meminta maaf dengan baik ke mbak Riska..."


Tekad Syakira. Dari arah belakang Syakira tiba tiba dia dikejutkan dengan kehadiran Daffiq.


"Aira... Ngapain kamu bicara sendiri..."


Tanya Daffiq yang sudah duduk dikursi sampingnya.


"Gak ada apa apa kok kak... Cuman lagi keinget sesuatu aja..."


Jawab Syakira untuk menutupi kegelisahannya.


"Owh... Kalau ada sesuatu katakanlah... Jangan sungkan ... Ini untukmu"


Jawab Daffiq seraya tersenyum kearah Syakira.


"Apa ini kak?"


Tanya Syakira dengan menerima paper bag yang diulurkan Daffiq.


"Bukalah..."


Daffiq hanya menjawab singkat ucapan Syakira, dengan segera Syakira membuka paper bag itu, dan mengeluarkan isinya.


"Kak... Ini untuk aku...?"


Tanya Syakira heran dan kaget.


"Iya"


Daffiq masih saja menjawab dengan singkat.


"Kenapa Hand phonenya beda dari yang dulu..."


Tanya Syakira, karena dia mengingat saat dulu akan kembali kepesantren Daffiq memberikan sebuah Hand phone dan itu berbeda dengan saat ini yang diberikan Daffiq.


"Karena dulu modelnya sudah kuno"


Jawab Daffiq sepele.


"Tapi kan masih baru... Kan belum juga digunakan... Lalu hand phone yang itu ada dimana?"


Syakira mengungkapkan unek uneknya.


"Aku menyuruh Hans untuk membuang"


Daffiq masih menjawab dengan sepelenya dan sangat santai saat mengatakan itu semua.


"Hah!! Beneran dibuang..."


Tanya Syakira yang heran ta habis fikir dengan ucapan Daffiq tanpa beban itu.

__ADS_1


"Tanyalah Hans untuk pastinya... Kamu suka kan... Dengan hand phone ini?"


Daffiq bertanya apakah Syakira menyukainya.


"I.. Ya aku sangat suka.. Terimakasih kak..."


Jawab Syakira spontan, karena dia tidak ingin menjawab kata kata yang bisa merujuk Daffiq membuat tingkah yang tidak masuk akal.


"Aku sangat senang mendengarnya... Disini sudah ada beberapa nomor... Dan juga nomorku..."


Jelas Daffiq.


"O... Wh i...ya aku akan mengeceknya...."


Jawab Syakira agar Daffiq tidak kecewa.


"Apa rencanamu setelah ini Aira???"


Tanya Daffiq kembali dengan seriusnya.


"Ehm... Sebenarnya aku ingin kuliah... Tapi sepertinya tidak memungkinkan..."


Syakira menjawab dengan menundukkan kepala.


"Kata siapa tidak mungkin... Aku sudah mendaftarkanmu di Universitas swasta... Yang dikelola langsung oleh Aydr company..."


Jawab Daffiq.


"Lalu bagaimana dengan biayanya?"


Syakira memikirkan segala hal yang ada, karna kalau dia melanjutkan pendidikannya, pasti dia harus banyak mengeluarkan uang.


"Soal itu gampang.... Ada beasiswa, kamu tenang saja... Nanti semuanya akan diurus Hans... Dan kamu tinggal persiapkan dirimu saja... Dan fokus untuk kesembuhanmu..."


Jawab Daffiq dengan senyum yang mengembang.


"Terimakasih kak.... Aku sangat sangat berterimakasih... Maaf aku selalu merepotkanmu kak..."


Syakira sangat bahagia namun dia juga sedikit malu juga.


"Iya... Aku merasa tidak direpotkan... Jadi kamu tenang saja"


"Kak... Apakah aku boleh kuliah sambil bekerja?"


Tanya Syakira, karena dia selamanya tidak mungkin bergantung dengan Daffiq begitulah fikirnya.


"Tidak!!"


Daffiq langsung menjawabnya dengan jelas, karena dia tidak mau sampai terjadi apa apa dengan Syakira karena Daffiq belum menemukan semua hasil penyelidikan dalang itu.


"Tapi kak... Aku mohon boleh ya.... Aku ingin mempunyai penghasilan sendiri..."


Ujar Syakira dengan tetap merayu Daffiq, agar mau mengiyakan.


"Sekali aku bilang tidak tetap tidak!!"


Jawab Daffiq tegas.


"Kakak memamg egois!!"


Setelah mengucapkan kata egois, entah kenapa Syakira merasa sangat kecewa. Bahkan dia berlalu begitu saja meninggalkan Daffiq, dengan menumpahkan segala kesedihannya.


"Aira... Bukan seperti itu... Ra... Tunggu"


Daffiq berlari mengejar Syakira. Dan Syakirapun memasuki kamarnya, dan menumpahkan segala bebannya.


"Aira... Buka pintunya..."


Daffiq mencoba mengetuk pintu kamar Syakira yang ternyata dikunci.


"Aira... Semuanya bisa dibicarakan lagi..."


Daffiq semakin frustasi, karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Syakira. Sedangkan Syakira masih menangis tersedu sedu.


"Huhuhu... Kenapa semua yang aku lakukan tidak boleh... Aku juga ingin menikmati hidupku... Tanpa merepotkan orang lain... Aku juga tidak ingin selalu bergantung.... Aku ingin mandiri... Huhuhu... "


Syakira semakin menelungkupkan kepala diatas bantal.


"Huhuhu... Hiks... Kenapa aku jadi cengeng si... Biasanya juga gak gini... Harusnya aku gak bersikap kekanakan kayak gini..."

__ADS_1


Syakira mencoba berfikir jernih, agar bisa tenang mengambil sikap.


"Ra... Kalau kamu gak buka pintunya aku dobrak loh... "


Ancam Daffiq agar Syakira mau keluar dari kamarnya. Daffiq masih mencoba berbagai cara agar Syakira mau keluar. Sedangkan ada maid yang kebetulan melihat kejadian itu hanya bisa menundukkan kepala heran. Tapi Daffiq tidak begitu memperdulikannya.


"Dalam sejarah... Tuan membujuk seseorang... Padahal biasanya dia yang dibujuk..."


Heran maid itu, dengan membatin seperti melihat sebuah keajaiban.


"Ra!! Kalau kamu gak bukak pintunya dalam hitungan ketiga!! Siap siap pintunya aku dobrak!!"


Daffiq sudah mulai ancang ancang akan mendobrak pintu kamar Syakira.


"1"


"2"


Daffiqpun menjeda hitungannya agar Syakira mau membuka pintunya.


"Dan ti..."


Belum selesai Daffiq menghitung, tapi sudah terdengar suara pintu dibuka dari dalam.


"Huh... Akhirnya kamu buka Ra..."


Daffiq sedikit tenang melihat Syakira mau membukanya.


"Maaf"


Satu kata yang hanya terlontar dari mulut Syakira, karena sebenarnya dia juga merasa bersalah dengan sikapnya.


"No problem... Mari kita bicarakan baik baik..."


Daffiq mencoba untuk bijak.


"Baiklah... Kalau begitu ayo kak..."


Syakira menjawab dengan kepala yang masih menunduk kebawah. Syakira mempersilahkan Daffiq masuk kamarnya. Setelah masuk kamar, terjadilah keheningan beberapa saat. Sampai akhirnya.


"Aku ingin bicara"


"Aku ingin bicara"


Ujar Daffiq dan Syakira bersamaan.


"Kamu duluan saja"


Pinta Daffiq.


"Ehm... Kakak saja"


Syakira mempersilahkan Daffiq. Karna ta ingin memperkeruh suasana, akhirnya Daffiq menyetujui ucapan Syakira.


"Eh....m kakak minta maaf... Ra, bukan maksud kakak untuk melarangmu..."


Jeda Daffiq untuk menunggu respon Syakira, dan Syakirapun masih terlihat diam saja.


"Tapi ada sesuatu hal yang tidak dapat aku katakan..."


Jujur Daffiq.


"Sesuatu apa kak?? Dan setidaknya beri aku jawaban yang jelas agar aku tidak salah menilaimu..."


Syakira menjawab dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Maaf... Sebenarnya sangat sulit untuk mengatakan semuanya... Tapi yang jelas saat ini, dirimu ada dalam bahaya... Jadi aku mohon ikutilah perkataanku... Untuk alasannya aku tidak dapat berkata jujur untuk saat ini.... Ini demi keselamatanmu... Percayalah..."


Bujuk Daffiq agar Syakira mau mendengarkannya, karna dia juga tidak mungkin mengatakan sejujurnya apa yang terjadi. Dengan menimbang nimbang pemikirannya, akhirnya Syakira mengalah dan menekan egonya.


"Ehm.... Syakira akan mengikuti ucapan kak Affiq... Syakira tunggu kejujuran kak Affiq"


Syakira masih kecewa namun dia juga tidak boleh egois.


"Ya aku kecewa... Tapi aku juga tidak boleh egois... Mungkin kakak melakukan itu semua karena ada sesuatu yang kakak sembunyikan..."


Batin Syakira. Syakira dan Daffiq akhrinya berbaikan kembali, walau masih sedikit canggung.


"Kamu masih sama Aira... Ketika merajuk kamu selalu terlihat diam..."

__ADS_1


Daffiq menatap dengan senyum sekilas kearah Syakira yang masih diam setelah ungkapan persetujuannya.


__ADS_2