Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (33)


__ADS_3

~Drama Sakit~


Setelah kemarin Daffiq mendapatkan hasil yang kurang memuaskan baginya saat pemeriksaan dengan dokter Alan, hari ini dia memutuskan untuk memeriksa kondisinya dengan dokter spesialis jantung, saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Aydr Hospital.


"Hans... Kenapa aku sangat gugup ya...."


Tanya Daffiq, karna dia takut terjadi sesuatu hal yang fatal dalam tubuhnya.


"Tuan tenang saja.... Semoga nanti saat diperiksa kondisi tuan sehat..."


Asisten Hans mencoba menyikapi keadaan bosnya itu.


"Hah! Bagaimana aku bisa tenang.... Kalau aku sakit parah bagaimana...."


Daffiq masih berfikir tidak rasional, banyak berbagai fikiran fikiran negatif melayang.


"Tuan tidak perlu cemas... Nanti saya carikan dokter terbaik kalau perlu pengobatan terbaik yang ada..."


Asisten Hans masih mencoba menenangkan kondisi bosnya.


"Aku tidak akan tenang... setidak aku mati semua dalang yang kucari sudah ketemu... Dan Aira sudah dalam kondisi aman... Mana mungkin aku bisa tenang memikirkan semua itu..."


Daffiq mulai merasa was was akan semua pemikirannya.


"Tenanglah tuan... Semua akan baik baik saja... Anda harus berfikir positif..."


Asisten Hans menasihati Daffiq.


Ta terasa perjalanan yang mereka tempuh pun sudah sampai. Masih diparkiran rumah sakit Daffiq seakan belum sanggup melangkahkan kakinya menuju kedalam. Bayang bayang sakit yang parah mulai menerpa pemikirannya. Sosok Daffiq yang selalu berfikir rasional pun hilang begitu saja, sosok yang selalu percaya diri itu juga tiba tiba menghilang begitu saja. Bayang bayang ketakutan menerpa, dia masih menjadi sosok hamba yang lemah dan takut akan kematian, meski dia sadar semua makhluk hidup pasti akan merasakan pahitnya kematian. Dalam fikirannya setidaknya dia meninggal dalam keadaan semua tanggung jawab dan juga masalah yang saat ini dihadapi sudah terselesaikan. Apalagi tentang kasus kecelakaan 10 tahun lalu.


"Tuan... Mari kita masuk..."


Ajak Asisten Hans yang melihat Daffiq masih terpaku diparkiran.


"Ya"


Daffiq hanya menjawab sekilas dan segera melangkahkan kakinya dengan berat.


Setelah berjalan beberapa menita mereka sampai didalam ruangan dokter Dirga.


"Selamat pagi dokter Dirga...."


Sapa Asisten Hans.


"Pagi tuan Daffiq dan Asisten Hans..."


Sapa kembali dokter Dirga. Daffiq hanya melirik sekilas sapaan dokter Dirga.


"Baiklah kalau begitu langsung saja kita melakukan beberapa pemeriksaan.... Tuan"


Dokter Dirga menjelaskan.


"Ayo cepatlah!"


Daffiq segera beranjak, dan mengikuti arah langkah kaki dokter Dirga. Dengan langkah besar dia mencoba menenangkan hati dan fikirannya.


"Kamu harus berpikir positif... Kamu sehat...."


Batin Daffiq menyemangati dirinya sendiri.


Akhirnya Daffiq melakukan serangkaian tes, Daffiq hanya patuh mengikuti semua arahan dokter Dirga. Meski jauh didalam hatinya sangatlah cemas Daffiq tetap mencoba untuk tenang. Hingga ta terasa dia telah selesai melakukan semua tes kesehatan yang dianjurkan dokter. Daffiq segera beranjak dari brankar menuju kursi sofa yang ada didalam ruangan dokter Dirga.

__ADS_1


"Ini tuan silahkan diminum dulu..."


Asisten Hans mengahampiri Daffiq dengan membawakan sebotol air mineral. Daffiq segera meraihnya dan meminumnya dengan tandas.


"Hans... Kau tidak memberi tahu siapapun tentang kedatanganku kesini kan...? Khususnya kakek..."


Tanya Daffiq yang tiba tiba teringat akan kakeknya.


"Tidak tuan... Saya sangat merahasiakan kedatangan anda disini..."


Jawab Asisten Hans.


"Baguslah kalau begitu... Aku tidak ingin menyebabkan kakek cemas..."


Tutur Daffiq karna dia tidak ingin melihat orang yang telah merawatnya dengan sepenuh jiwa itu mencemaskan keadaannya. Dokter Dirga pun datang dengan membawa hasil pemeriksaan Daffiq dari beberapa tes yang dilakukannya.


"Maaf tuan... Jika membuat anda menunggu..."


Ujar dokter Dirga.


"Cepat katakan apa hasilnya!"


Daffiq sudah tidak sabar untuk mendengar hasil yang sebenarnya, meski rasa kuatir menghantui dia tetap mencoba tenang walau dia mencemaskan dirinya sendiri.


"Jadi...


(Dokter Dirga menjeda ucapannya untuk mengatakan yang sejujurnya)


Kondisi tuan saat ini... Setelah melakukan beberapa tes pemeriksaan semua hasilnya baik dan tidak ada yang perlu dikuatirkan, semuanya aman... Bahkan kondisi tubuh tuan juga sangat baik..."


Jelas dokter Dirga.


"Alhamdulillah.... Apa semua itu benar..."


"Benar tuan... Bahkan kami sudah memastikan hasilnya beberapa kali dengan mengeceknya hasil lab ataupun hasil tes .... Tuan bisa membaca hasil tesnya..."


Jelas dokter Dirga dengan memberikan semua hasil tes kesehatan Daffiq. Tanpa aba aba Daffiq segera mengambil hasil itu dan membacanya dengan seksama. Dia juga menanyakan beberapa hal yang ada didalam lembaran kertas itu, untuk menanyakan hal yang jelas adanya tentang hasil tes itu. Dokter Dirga dengan detail menjelaskannya satu persatu.


"Baiklah dokter Dirga saya mengucapkan terimakasih..."


Ujar Daffiq.


"Sama sama tuan... Itu sudah hal yang wajar... Karna itu tugas saya...."


Jawab dokter Dirga dengan seulas senyum.


"Untuk hasil yang memuaskan atas kinerjamu... Aku memberikanmu hadiah kecil ...."


Ujar Daffiq.


"Tidak perlu tuan... Itu memang sudah tugas saya..."


Ujar dokter Dirga kembali.


"Aku tidak menerima penolakan...! Hans... Kirimkan minicooper kerumahnya!! Secepatnya!"


Titah Daffiq.


"Baik tuan..."


Jawab Asisten Hans, dokter Dirga yang mendengar ucapan Daffiq tercengang karna akan mendapat minicooper, mobil yang diimpikannya namun belum dapat membelinya.

__ADS_1


"Tuan... Saya mengucapkan terimakasih.... Itu hadiah yang sangat indah..."


Jelas dokter Dirga.


"Ya..."


Daffiq segera beranjak dari duduknya dan segera keluar dari ruangan dokter Dirga. Sedangkan Asisten Hans ikut berjalan dibelakang tubuh Daffiq. Dia juga sudah mengirim pesan kepada pihak deler untuk mengirim satu jenis minicooper kealamat rumah dokter Dirga.


Berbeda posisi dengan Daffiq yang bersyukur karna hasil tesnya memberikan kabar baik, berbeda dengan Riska yang masih mengorek berbagai informasi. Setelah kejadian kemarin dia melihat Syakira menangis, dia sangat yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Syakira. Dengan penuh kehati hatian dia mulai mengusut satu persatu benang kusut itu.


"Eh... Itukan nona... Kok sendirian... Terlihat gugup juga... Gue harus ngikutin... Mau kemana dia..."


Batin Riska. Dengan cepat dia mengikuti langkah kaki Syakira dari kejahuan. Terlihat Syakira menemui seorang laki laki. Dan Riska juga melihat sosok yang juga melihat Syakira.


"Lah... Ngapain tu bocah ngikut ngintilin nona... Wah... Sepertinya memang ada yang gak beres!!"


Heran Riska, dengan jiwa keponya meronta ronta.


"Ada apa anda menyuruhku datang kesini!"


Syakira bertanya dengan to the point.


"Tenang dulu dong Syakira... Aku cuman ingin menyapa calon istriku... Aku ingin melihatmu... Setelah sekian purnama tidak menatapmu sama sekali... Membuatku jadi kangen...."


Jawab seseorang yang ditemui Syakira yaitu Gus Lubiz.


"Simpan saja ucapanmu itu! Katakan apa mau! Aku tidak mau membuang waktu hanya untuk hal yang unfaedah!"


Jelas Syakira yang masih mencoba untuk tenang.


"Tenang dong Syakira.... Santai... Aku cuman ingin mengatakan... Siap siap sebentar lagi kamu akan jadi milikku..."


Gus Lubiz dengan bangganya mengatakannya.


"Itu hanya mimpi! Aku tidak akan pernah mau! Camkan itu!"


Syakira segera berlalu dari hadapan Gus Lubiz dengan perasaan kecewa.


"Tunggu saja! Syakira! Akan kupastikan kamu jadi milikku!!"


Teriak Gus Lubiz.


2 orang yang sama sama mendengar percakapan Syakira dan Gus Lubiz pun menyimpulkan spekulasi tersendiri.


"Hah... Berarti kemungkinan besar nona menangis kemaren ada hubungannya sama tuh orang... Kayaknya itu orang yang kemaren gue tabrak.... Wah gawat!! Gue harus segera usut... Dan kasih tau si bos ni..."


Riska mulai berfikir.


"Wah... Gue juga harus mengintai pergerakan tu orok laki laki... Sepertinya dia punya niat terselubung...!"


Gumam Riska kembali.


"Eh... Tapi sepertinya gue juga harus ngorek informasi dari tu bocah... Yang sama sama nguping kayak gue... Atau tu bocah ada niat tetsendiri ya...."


Riska masih berperang melawan beberapa pemikirannya. Akhirnya dia memilih pergi dari situ segera mungkin agar tidak ketahuan habis mengintai.


"Gak habis pikir aku sama Gus Lubiz... Dia ternyata terobsesi sama Ira sampai segitunya...! Aku harus cari cara agar Ira aman..."


Gumam seorang santriwati itu. Dia sedikit tidak tenang setelah mendengar ucapan Gus Lubiz yang berisi sebuah kalimat ancaman. Dia pun segera pergi dengan pikiran yang berkecamuk tentang apa yang dia lihat tadi. Sepanjang perjalanan dia hanya melamun memikirkan hal apa yang akan dilakukan oleh Gusnya itu.


"Semoga saja Gus Lubiz tidak melakukan sesuatu hal yang diluar nalar ya Allah... Kasian Ira... Hidupnya sudah banyak menanggung derita... Jangan sampai dia merasakan derita lagi..."

__ADS_1


Ujar santriwati itu dengan perasaan was was.


__ADS_2