Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (46)


__ADS_3

~MABA 3~


Kevin pun berlari menuju UKS dikampus, selama Kevin menggendong Dinda banyak tatapan mata heran juga iri.


"Gila!! Siapa tu bocah yang dapat digendong ama kating dambaan hawa..."


Ujar mahasiswa yang kebetulan melihat kejadian itu.


"Wih... Bakalan jadi berita trending nomor satu ni..."


Jawab lagi mahasiswi yang ada disitu.


"Rasanya gue gak ridho... Liat si Kevin ama maba barusan!! Kita yang coba deketin aja gak pernah dilirik..."


Ujar mahasiswi itu kembali, dengan perasaan dongkolnya.


Ta membutuhkan waktu lama Kevin sudah sampai didalam UKS dengan segera Kevin meminta dokter yang berjaga untuk memeriksa kondisi Dinda. Setelah menunggu beberapa saat Dinda diperiksa akhirnya dokter keluar dari dalam ruangan.


"Gimana dok keadaannya??"


Tanya Kevin yang kuatir, walau bagaimanapun dia penyebab pingsannya Dinda.


"Dia baik baik saja, sepertinya dia mempunyai alergi, karena dari yang saya lihat itu gejala ketika orang mengalami alergi..."


Jelas Dokter itu.


"Lalu dia kapan akan sadarnya?"


Tanya kevin yang masih kuatir.


"Sebentar lagi dia pasti sadar... Dan setelah sadar tolong kamu minumkan obat pereda gatal dan salap yang ada diatas nakas ya..."


Ujar Dokter itu kembali.


"Baik dok... Terimaksih atas bantuannya"


Jawab Kevin.


"Kalau begitu saya permisi..."


Balas Dokter itu dan berlalu dari hadapan Kevin, sedangkan Kevin hanya mengangguk saja. Kevin segera menelpon Bagas.


"Halo Gas... "


Sapa Kevin dengan Bagas disambungan telepon.


"Gimana Vin...?"


Tanya Bagas.


"Elo... Urus aja acara ospek selanjutnya... Gue masih ngurusin maba yang pingsan... Salamin ke anak anak juga... Sorry gue gak bisa ikut bantuin dulu..."


Pinta Kevin.


"Iya... Gak apa apa... Tapi elo amanin ya... Jangan elo apa apain tuh anak orang"


Gurau Bagas.


"Emang mau gue apain... Udah gue tutup dulu telponnya..."


Dengan cepat Kevin menutup sambungan telpon itu, sebelum Bagas bertanya semakin dalam. Kevin masih stay setia menunggu Dinda siuman, dengan duduk dikursi samping brankar Dinda.

__ADS_1


"Ni bocah... Kalau dilihat manis banget... Bulu mata lentik, alisnya tebel... Beh idaman deh... Shalihah lagi keliatannya... "


Batin Kevin kala menatap wajah Dinda yang masih tertidur.


"Hey... Kevin.... Elo mikir apaan si... Sadar woy... Jangan mikir cewek!! Elo fokus aja ama kuliah..."


Tegur Kevin untuk dirinya sendiri. Sebenarnya Kevin sudah lulus S2 namun, dia kembali mengambil lagi S1 jurusan seni, karena dia ingin mengembangkan bakatnya, dia juga sudah punya usaha dibidang otomotif, diusia 24 tahun dia sudah mandiri tanpa bantuan orang tuanya, dia juga sudah memiliki aparteman mewah hasil dari jerih payahnya sendiri, dan beberapa aset yang dia kumpulkan. Namun tidak membuatnya sombong, sebenarnya dia dikampus saat ini hanya permintaan temannya Bagas untuk mengikuti kegiatan ospek. Namun siapa sangka dia membuat salah satu maba pingsan karena ulahnya, padahal niat hati biar simaba gak buang makanan biar gak mubazir. setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Dinda pun sadar.


"Huh... Gatel banget..."


Gerutu Dinda, dengan masih menyesuaikan dimana dia saat ini.


"Agh.. Sial banget aku ya Allah... Kenapa juga menu kampus harus ada kacangnya..."


Monolog Dinda dengan mencoba bangkit dari tiduran.


"Kamu sudah bangun..."


Tanya Kevin. Dinda pun kaget melihat Kevin yang sudah ada disampingnya, fikiran overthiknking pun mulai merambah dalam otak Dinda.


"Wah... Jangan jangan ni orang mau bikin aku mati gara gara alergi..."


Batin Dinda, dengan perasaan was was.


"Hey..."


Kevin melambaikan tangan didepan muka Dinda, karena Dinda nelamun. Dinda pun juga ikut kaget.


"Ehm gimnana??"


Tanya Dinda yang sedikit panik dan gugup.


"Gak gimana gimana... Ini ada makanan... Kamu makan terus buruan habis itu kamu minum obat ini, dan... Jangan lupa pakein ni salep ke bagian yang gatel..."


"Udah... Kamu tenang aja... Ini semua makanan aman... Yang beli pihak UKS kok..."


Tebak Kevin, dengan berat hati Dinda menerima makanan itu dan mulai makan secara perlahan, setelah menghabiskan satu box kota makan, Dinda segera meminum obat itu, dan mulai mengoleskan salep itu kepermukaan kulitnya.


"Dinda... Aku minta maaf ya... Karena telah membuatmu seperti ini..."


Ujar Kevin, untuk menghilangkan rasa canggung dan rasa bersalahnya.


"Iya... Dinda maaf kan.. Ini semua juga bukan kesalahan kakak juga... harusnya tadi Dinda bicara biar gak kayak gini.."


Jawab Dinda yang tidak tega melihat permintaan maaf Kevin secara tulus.


Akhirnya siang itupun berlalu, hingga sore Dinda masih setya diUKS ditemani Kevin.


"Buruan cepetan napa dehhhh maemunah kalau jalan!!"


Syakira menyeret teman temannya yang menurutnya jalannya lambat.


"Ra!! Kalau nyeret kira kira dong... Kamu kira kita kebo apa!!"


Gerutu Melly.


"Gak ada waktu buat denger kamu ngomellll.... Mending cepetan ayo!!! Gimana nasib siDinda yang astaghfirullah..."


Ucap Syakira dengan sedikit berlari. Tidak sampai 10 menit Syakira dan teman teman sudah sampai di dalam ruangan yang berdomasi warna putih itu.


"Brak.....!!"

__ADS_1


Bunyi pintu didorong dengan keras oleh Vera.


"Din... Kamu dimana!!"


Teriak Vera dengan ta tau malunya. Dinda yang merasa dipanggil dan kagetpun terbengong melihat keabsurdan teman temannya.


"Astaghfirullah... Dinda... Mukamu kembali jadi monster setelah sekian lama purnama..."


Cerocos Melly ta tau malunya.


"Iya... Matanya tuh tambah jadi semakin gak keliatan...!!"


Syakira ikut menimpali.


"Muka chinesmu semakin menjadi jadi Din..."


Vera ikut menimpali. Syakira dan teman teman masih stay dengan ucapan absurdnya. Sampai Dinda akan berucap pun tidak ada kesempatan, karena teman temannya selalu saja ada jawaban.


"Ehem ehem..."


Suara deheman dari Kevin yang tidak dianggap oleh Syakira dan teman temannya.


"Aku kayak denger suara cowok ya..."


Syakira memecah keheningan yang tiba tiba menyeruak.


"Iya..."


Jawab Melly yang ikut bergidik ngeri.


"Aku takut... Ra!!! Jangan jangan tuhan tu...."


Vera merapatkan diri kesamping tubuh Syakira.


"Kalian kan udah dateng... Aku permisi pamit pulang... Buat kamu Dinda maaf ya... Dan ini makanan jangan lupa dimakan"


Kevin segera pergi meninggalkan Dinda dan teman temannya, Kevin tadi sempat keluar sebentar niatnya untuk membelikan makanan dan camilan untuk Dinda agar tidak bosan menunggu teman temannya, tapi ketika dia masuk kaget dengan sudah hadirnya teman teman Dinda.


"Iya kak... Makasih"


Jawab Dinda singkat, karena sudah mendapatkan tatapanemghunus dari teman temannya, Kevinpun segera pergi dan tinggalah Dinda dan teman temannya. Setelah kepergian Kevin Dinda mulai lah menjelaskan.


"Kalian jangan berburuk sangka dulu..."


Dinda mencoba membujuk teman temannya.


"Jadi... Kak Kevin tadi yang bantuin Dinda jagain Dinda selama kalian tadi masih ospek..."


Jelas Dinda.


"Katanya jagain... Lah kok kita kesini orangnya gak ada..."


Selak Melly.


"Jadi tuh... Ceritanya tadi... Kak Kevin belum shalat 'asyar... Jadi dia pamit mau shalat dulu sekalian mau keluar bentar... Gitu... Tau tau baliknya bawa ni makanan..."


Jawab Dinda apa adanya. Seketika Vera, Melly dan Syakira pun menganggukkan paham.


"Tapi kamu gak diapa apain kan..."


Selidik Syakira, karena masih sedikit was was.

__ADS_1


"Aku aman kok... Kak Kevin baik... Beneran!! "


Dinda mencoba mejawab kegelisahan teman temannya. Akhirnya sore itu Dinda pulang bersama teman teman dengan diiringi suka cita. Mereka pun terpisah dihalaman parkir, karena mereka sudah dijemput oleh keluarga masing masing. Sebelum pulang pun mereka berpamitan dan saling berpelukan, mungkin orang orang yang ada disana mengira seperti ada pertunjukkan teletubis baru.


__ADS_2