Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (13)


__ADS_3

*Terimakasih untuk kalian semua yang masih setia membaca novelku Cinta diujung Sujud🙏 Dan Terimaksih untuk semua yang mau berkenan mampir di novelku ini...😁🙏Happy Reading ya gaes...🥰🥰*


~Firasat Syakira~


Terasa berat hari hari Syakira menjalani kisah hidupnya. Meski berat dia mencoba selalu tersenyum meski harus menahan segala derita yang selama ini ia tutupi dari hadapan orang orang.


*Umbarlah bahagiamu jangan umbar dukamu*


Itulah semboyan yang selalu dia pakai untuk menyemangati dirinya sendiri. Beberapa hari ini dia selalu merasa dihantui dengan firasat tidak nyaman, dia selalu teringat dengan ibunya. Setiap kali mencoba menghubungi lewat layanan telpon umum dipesantren selalu saja nomor telpon ibunya tidak dapat dihubungi. Dan itu semua membuat dia semakin kuatir. Sehingga menyebabkan Syakira banyak melamun karna mengingat ibunya.


Syakira dan teman temannya sedang menikmati jam istirahat dikantin sekolah. Dengan suka cita mereka mengahambur bercerita bersama. Namun tidak dengan Syakira yang banyak diamnya.


"Eh... Kamu tau gak...


Tadi aku ngeliat ustadz Joko hampir jatuh ditangga depan kelas 10 loh...."


Ujar Vera dengan exitednya.


"Beneran... Terus tuh ustadz bujang lapuk nasib ke apa???"


Jawab Melly yang ikut ngakak mendengar cerita Vera.


"Wih... Tuh ustadz bisa bisanya gak jaga diri... Kalau jatuh mati kasian tu gak ada yang nangisin...."


Tambah Dinda dengan semakin ramai tertawa.


Namun mereka bertiga menyadari ada aneh diantara mereka. Ya mereka menyadari bahwa Syakira tidak ikut merespon seperti biasanya, seperti ada yang dipikirkan.


"Percuma punya muka cantik tapi muka ditekuk kayak rempahan peyek...."


Sindir Melly dengan menyenggol tangan Syakira. Syakira yang disindirpun hanya nyengir saja.


"Eh Markonah... Kamu kenapa??? Kalau punya masalah jangan lupa bagi bagi... Tapi aku lebih suka kalau kamu bagi bagi duit si..."


Tutur Dinda dengan lawakan gak jelasnya itu.


"Gak ada masalah kok..."


Jawab Syakira untuk menutupi kegelisahannya. Syakirapun menyakinkan dengan tetap tersenyum. Jam istirahatpun selesai. Kini saatnya memulai pelajaran kembali.


Hari ini pelajaran hadits sampai jam pelajaran terakhir. Sekarang yang mengajar adalah Gus Lubiz, Gus Lubiz mulai menerangkan satu persatu hadits tersebut dan mulai menerjemahkan satu persatu kalimat bertuliskan huruf arab itu. Dan hari ini pun Gus Lubiz memberikan ulangan harian dadakan. Lalu Gus Lubiz membagikan satu persatu lembar soal kepada semua siswa siswi dikelas itu. Namun ada yang berbeda dengan lembar soal salah satu murid dikelas itu.


"Loh... Soalku kok udah ada jawabannya ya...?"


Batin murid itu. Dia pun bergegas kedepan untuk menanyakan apa maksud soal itu.


"Ehm... Maaf ustadz, sepertinya anda salah memberikan saya soal"


Tutur murid itu.


"Coba saya lihat..."


Dengan mengambil lembar soal dari tangan murid itu, Gus Lubiz itupun tersenyum .


"Memang ini soalnya, lalu yang salah maksud kamu dimananya???"


Tanya Gus Lubiz dengan menggodanya.


"Maksud saya... Soalnya sudah ada jawabannya, apakah anda tidak salah mengambilkan soal???"


Tanya balik murid itu.

__ADS_1


"Saya tidak salah mengambilkan soal... Memang soal itu buat kamu, anggap saja itu bonus untuk kamu..."


Jawab Gus Lubiz dengan santainya.


"Tapi ustadz..."


Belum selesai murid itu berbicara sudah disela oleh Gus Lubiz.


"Tidak ada tapi tapian...kamu silahkan kembali ketempat dudukmu"


Dengan hati dongkol murid itu kembali kebangkunya.


Murid yang sedang bersitegang dengan Gus Lubiz adalah Syakira. Memang dengan sengaja Gus Lubiz memberikan lembar soal beserta jawabannya, karna dia ingin melihat wajah menggemaskan dari Syakira. Dia semakin tersenyum bahagia ketika melihat ekspresi Syakira yang kaget melihat soalnya sudah ada jawabannya. Apalagi ketika dia maju kedepan untuk mempertanyakannya. Gus Lubiz semakin tambah bahagia karna dia bisa lama lama memandang wajah Syakira, dan sungguh merdu suara Syakira yang mengatakan ketidak setujuannya mendapat soal itu.


"Astaghfirullah... Maafkan aku ya Allah memandang ciptaanmu begitu lama..."


Ucap Gus Lubiz dalam hati.


Berbeda dengan Syakira karna jengkel dengan sikap Gus Lubiz yang menurutnya tidak masuk akal. Dia hanya diam saja, menunggu teman temannya selesai mengerjakan soal. Dia hanya membolak balikkan lembar soal. Dan membaca soal soal itu saja.Bahkan Melly yang berada disampingnya tidak menyadari jika Syakira tidak mengerjakan soal. Alhamdulillah satu persatu murid maju kedepan mengumpulkan hasil jawabannya. Syakira pun ikut mengumpulkan, dengan asal Syakira menaruh didepan meja Gus Lubiz. Jam pelajaran terakhirpun berakhir dengan mengumpulkan hasil ulangan. Dan akhirnya bel jam pulang pun berbunyi.


Selangkah demi selangkah akhirnya Syakira bersama teman temannya sampai di didalam kamarnya. Mereka lantas berganti baju dan segera menunaikan shalat dzuhur berjama'ah. Selesai shalat Dzuhur mereka makan bersama, mereka beriringan menuju dapur pesantren. Merekapun makan bersama secara lahapnya. Setelah mereka selesai makan mereka kembali kedalam pesantren. Namun tidak dengan Syakira, dia beres beres membersihkan dapur pesantren yang kotor karna habis digunakan untuk makan siang para santriwati. Hingga ta terasa hampir satu jam Syakira bersih bersih. Bersih bersih dapur telah selesai, Syakira lantas bergegas ingin meninggalkan dapur. Namun dia kaget melihat seseorang.


"Vera... Ngapain kamu masih disini?"


Tanya Syakira karna kaget.


"Sengaja nungguin kamu"


Jawab Vera yang memang benar adanya.


"Emang ada apa kamu nungguin aku?? Kamu gak ngantu hemh...?"


Tanya Syakira.


Jawab Vera dengan entengnya.


"Ya udah ayo ngomong... Emang masalah penting ya..."


Tanya Syakira dengan tersenyum.


"Penting... Banget tapi kita ngomongnya ditaman belakang aja biar nyaman..."


Tawar Vera. Dengan langkah pasti mereka berdua berjalan menuju taman belakang pesantren. Sesampainya disana mereka mencari tempat duduk yang nyaman.


"Ra, aku mau nanya... Kamu jawab jujur ya...."


Pinta Vera.


"Apaan si Ver... Kok nakutin gitu... Emang kamu mau nanya apa?"


Tanya Syakira yang penasaran.


"Kamu jawab dulu... Pertanyaanku"


Rajuk Vera.


"Iya ya... Aku jawab jujur pertanyaanmu"


Jawab Syakira.


"Kamu sebenarnya ada masalah apa??? Kamu beberapa hari ini terlihat murung banyak fikiran..."

__ADS_1


Tanya Vera dengan intens menatap wajah Syakira.


"Maaf Ver..."


Jawab Syakira yang memang benar adanya dia menyembunyikan sesuatu.


"Ya udah kamu jawab jujur... Aku tau kamu ada masalah, jangan pernah sungkan buat cerita sama aku... Kalau aku bisa bantu aku akan bantu kamu... Aku tau... Diantara aku Melly dan Dinda kamu paling care sama aku... Jadi, aku mohon jujurlah kalau kamu ada masalah... Jangan pernah kamu pendam sendiri"


Nasihat Vera sambil merangkul pundak Syakira.


"Sebenarnya aku kefikiran ibu Ver... Beberapa hari ini perasaanku gak tenang, selalu kefikiran keadaan ibu... Setiap aku nelpon nomernya gak pernah aktif..."


Keluh Syakira yang memang dia rasakan.


"Ya udah kamu yang sabar... Mungkin, gak ada jaringan. Kalau gak mungkin ibu kamu lagi gak punya pulsa... Jadi kamu tenang aja... Berfikir poistif aja... Masih ada aku Melly, dan Dinda yang selalu siap ngehibur kamu..."


Hibur Vera kepada Syakira.


Syakira pun menghambur memeluk Vera, rasanya sedikit plong menceritakan keluh kesahnya.


---------------------------


Dengan terburu buru Asisten Hans berjalan menuju ruangan bossnya. Ya siapa lagi kalau bukan Daffiq. Asisten berjalan dengan seseorang dengan berpakain hitam hitam. Orang yang melihat orang itupun pasti bergidik ngeri karna penampilannya yang seperti para pengawal dengan tatapan wajah yang sangat menyeramkan.


"tok tok tok...."


Suara ketukan pintu dari luar ruangan kerja Daffiq.


"Maaf tuan, mengganggu waktu anda. Saya ingin memberi tau bahwa utusan yang saya kirim ke kota x sudah datang"


Tutur Asisten Hans dengan jelas.


"Suruh dia masuk sekarang"


Titah Daffiq dengan jelasnya.


Masuklah Asisten Hans bersama Endrik kedalam ruangan Daffiq.


"Selamat siang tuan"


Sapa Endrik.


"Ya, langsung saja informasi apa yang kau bawa"


Titah Daffiq dengan tegasnya.


"Baik tuan, selama kemarin saya mencari informasi ke kota x. Saya telah mendatangi panti asuhan yang anda maksud. Namun, dari hasil pencarian data Nona Aira ditemukan, Nona Aira telah diadopsi"


Jawab Endrik.


"Lalu kamu berhenti mencari Aira hah!"


Daffiq seketika berdiri, dan berteriak karna tidak puas dengan hasil pencarian anak buahnya.


"Maaf tuan, saya akan lanjut lagi mencari Nona Aira, setelah itu kami mencari keberadaan Nona Aira dengan alamat rumah orangtua yang mengadopsi Nona, setelah kami mendatangi rumah itu, rumah itu sudah dijual dan sudah berubah kepemilikan, setelah kami mencari tau lewat tetangga lama orangtua Nona tidak ada yang tau alamat rumah yang barunya"


Pungkas Endrik.


"Aku ta mau tau, kalian harus bisa menemukan keberadaan Aira! Jangan kembali kalau kau belum mendapatkan hasil yang kumau! Akan ku patahkan tangan dan kaki kalian yang tidak berguna itu"


Emosi Daffiq karna tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Dengan segera Asisten Hans menyeret Endrik keluar dari ruangan Daffiq. Karna disaat seperti ini Daffiq butuh sendirian untuk melampiaskan amarahnya. Dengan berteriak frustasi Daffiq mengacak rambutnya kasar.

__ADS_1


Untungnya ruangan Daffiq sudah diberi alat peredam suara, jadi walaupun Daffiq berteriak seperti orang utanpun tidak terdengar hehehhee othornya jahat banget ya....😁😁😁🙏


__ADS_2