
~Sepenggal Kisah~
Daffiq dan Syakirapun melakukan perjalanan kembali setelah keluar dari rumah sakit.
"Hans... Kau pergilah kekantor sendiri... Aku akan pergi bersama Aira kesuatu tempat...."
Daffiq memerintah Asisten Hans.
"Baik tuan... Ini kunci mobilnya, hati hati tuan...."
Asisten Hans memberikan kunci mobil itu dan mengiring kepergian bosnya.
Daffiqpun melajukan mobilnya kesuatu tempat yang jauh dari pemukimam penduduk. Sebelumnya Daffiq mampir kesebuah minimarket untuk membeli camilan dan minuman. Setelah berkendara hampir setengah jam mereka berdua sampai ditempat yang dituju.
"Aira... kita sudah sampai..."
Ujar Daffiq, namun yang dia lihat adalah Syakira tertidur dengan nikmatnya dijok mobil itu. Daffiq dengan berat hati membiarkannya. Didalam mobil tinggallah kesunyian, yang ada hanya Daffiq memandangi wajah ayu Syakira yang tertidur begitu damai dan tidak terusik sama sekali.
"Kamu selalu saja tertidur ketika melakukan perjalanan.... Masih sama seperti dulu...."
Gumam Daffiq dengan menyentuh pipi Syakira, jika Syakira sadar pasti Syakira akan menolaknya dan mungkin memarahinya karna menyentuhnya. Setelah menunggu hampir 20 menit Syakira terlihat menggerakkan tubuhnya, segera Daffiq merubah duduknya menghadap kedepan.
"Astaghfirullah... Aku ketiduran..."
Gumam Syakira masih dengan mengucek matanya. Seketika Syakira melihat kearah samping.
"Maaf kak... Aku ketiduran....
Apakah kita sudah sampai??"
Tanya Syakira.
"Ya kita sudah sampai, ayo turun"
Jawab Daffiq to the point.
Daffiq segera turun dan berjalan menuju pinggir danau. Daffiq duduk diatas rumput sambil menghadap arah danau. Syakira yang baru keluar dari dalam mobil pun segera menghampiri Daffiq yang sudah duduk itu.
"Ehm... indah banget pemandangannya..."
Gumam Syakira yang sudah ikut duduk disamping Daffiq. Daffiq masih diam menikmati keindahan alam itu tanpa sepatah katapun.
"Ehm... Kak, apakah aku boleh bertanya...?"
Syakira mulai memecah keheningan yang ada.
"Boleh"
Jawab Daffiq dengan singkatnya.
"Owh ya... Kenapa kakak suka manggil aku dengan Aira begitu juga kakek...?"
Syakira bertanya sambil menghadap kearah Daffiq.
"Karna namamu sama dengan seseorang yang slalu kami rindukan"
Jawab Daffiq dengan jelasnya.
"Maksudnya?"
Syakira yang masih ta paham pun menanyakan kembali.
"Ya namamu sama dengan nama lengkap Aira, yaitu Syakira Falicha Bachtir. Bachtir itu nama marga keluarganya. Jadi, ketika aku mengingat namamu aku mengingat Aira..."
Jawab Daffiq yang memang benar adanya.
"Wow... Berarti dia orang yang sangat spesial ya... Lalu saat ini Aira berada dimana...?"
Syakira masih bertanya kembali.
"Saat ini dia ada dihadapanku..."
Jawab Daffiq begitu saja.
"Hah... maksudnya aku... "
Syakira menunjuk dirinya sendiri.
"Hah... Kamu lucu sekali... Aku hanya bercanda..."
Daffiq yang keceplosanpun, mengalihkan dengan dalih bercanda.
"Kakak... Bisa saja kalau bercanda... Tapi candaan kakak seperti orang serius... Jadi garing... hehehehehe maaf"
Syakira tertawa.
"Kau ta perlu meminta maaf... Memang aku ta pandai bercanda..."
Jawab Daffiq agar Syakira tidak merasa bersalah.
"Terus Aira sekarang berada dimana...?"
Tanya Syakira kembali, karna dia penasaran dengan sosok Aira yang begitu sangat dirindukan Daffiq.
"Aku tidak tau dia dimana..."
Bohong Daffiq.
"Kok bisa kakak tidak tau... Emang Aira pergi atau gimana...?"
Tanya Syakira yang mulai penasaran dengan sosok Syakira.
Daffiq mulai menceritakan kisah dia bisa terpisah dengan Syakira.
__ADS_1
-----Flashback On-----
Setiap hari libur keluarga Daffiq dan keluarga Syakira selalu menghabiskan waktu libur bersama. Untuk saat ini mereka berencana mengunjungi villa yang ada dipuncak, dengan persiapan yang sudah matang mereka berangkat bersama dalam satu mobil. Dengan iringan canda tawa dalam setiap pembicaraan apalagi Daffiq yang suka menggoda ataupun menjahili Syakira kecil.
"Ampun kak Affiq... Aira nyerah.."
Syakira kecil meminta ampun karna diklitiki Daffiq ta ada habisnya.
"Gak akan aku kasih ampun..."
Jawab Daffiq yang masih menggelitiki perut Syakira.
"Mama... Papa om tante... Bantuin Aira... Kak Affiq gak mau berhenti ..."
Teriak Syakira yang masih dalam mobil.
"Daffiq!! Udah dong nak... Kasian Aira... Dia sampai nangis tu..."
Mama Daffiq mama Tasya memperingatkan anak semata wayangnya itu.
"Iya iya Daffiq berhenti..."
Tapi dengan tatapan akan melakukan rencana balas dendam.
"Makasih tante... Udah nolongin Aira..."
"Iya sayang... Sama sama... Lain kali kamu jangan usil sama kak Daffiq biar gak diusilin balik ya...."
Nasihat Mama Tasya.
"Siap tante..."
Akhirnya perjalanan mereka sampai pada villa yang dituju. Mereka semua berkumpul dan melakukan kegiatan bersama sama dari barbaquean bersama malam hari, berkeliling bersepeda bersama diarea villa, Sampai akhirnya Liburan di wekendpun selesai. Mereka hanya menginap di Villa satu malam karna pagi hari mereka harus sudah kembali ke kota kembali.
Pagi hari sekitar jam 7 pagi pun mereka sudah bersiap melakukan perjalanan pulang. Dengan Syakira yang masih ngantuk pun digendong Daffiq karna Syakira meminta untuk menggendongnya. Dengan senang hati Daffiq remaja menggendong sampai kedalam mobil.
"Ya Allah... Perhatiannya Daffiq sama Aira..."
Ujar mama Raina mama Syakira.
"Malah bagus dong Raina... Jadi kita gak perlu repot repot untuk mendekatkan mereka berdua... Tanpa kita melakukan pendekatan mereka sudah dekat sekali..."
Imbuh mama Tasya melihat kedekatan putranya dengan Aira putri sahabat suaminya.
"Rasanya aku sudah ta sabar untuk menikahkan mereka berdua..."
Imbuh papa Syakira papa Malik.
"Hus... Jangan nikah dulu... Putrimu masih terlalu kecil..."
Jawab Papa Ibra papa Daffiq.
"Iya kamu benar juga, rasanya aku sudah ta mempunyai waktu lama lagi untuk melihat putriku bahagia..."
Ujar papa Malik.
Jawab mama Tasya.
"Iya papa tu... Kalau bicara jangan asal..."
Imbuh Mama Raina.
"Sudah sudah... Daripada kita berbicara nglantur mending kita membicarakan hubungan putra putri kita... Karna aku ta ingin persahabatan kita putus begitu saja..."
Papa Ibra menengahi persilisihan mereka.
"Seperti rencana kita sewaktu kita muda... Perjodohan anak kita, kita akan besanan..."
Jawab Papa Malik.
"Iya aku setuju sekali dengan jawaban mas Malik..."
Jawab mama Raina.
"Aku mempunyai ide... Bagaimana kalau kita tunangkan Syakira dan Daffiq nanti ketika ulang tahun Syakira yang ketujuh tahun..."
Mama Tasya mengemukakan pendapat.
"Apa gak terlalu cepat... Kasian sama Aira yang masih kecil..."
Imbuh Papa Ibra.
"Ih... Papa pikirannya cetek si... Maksud mama itu kita tunangkan secara keluarga kita aja... Soal tunangan resminy Ntar kalau Aira udah gede gitu ..."
Ungkap mama Tasya.
"Owalah... Kalau kayak gitu aku setuju aja mbak Tasya... Aku seneng dengernya"
Imbuh mama Raina.
"Eh tapi... Apakah Daffiq akan setuju... Diakan sudah remaja"
Tanya Papa Malik.
"Daffiq setuju, bahkan mengiyakan kala kami mengatakan soal perjodohan ini..."
Papa Ibra berkata benar adanya.
"Wah... Suatu kabar yang sangat membahagiakan... Aku sudah ta sabar menunggu... Untuk soal Aira kalian tenang saja... Semua nanti aku yang akan mengatakan... "
Jawab Mama Raina.
"Baiklah... Sebaiknya kita lanjut pembicaraan ini kalau sudah sampai rumah..."
__ADS_1
Imbuh papa Malik. Merekapun bersama sama pergi menuju mobil karna akan melanjutkan perjalanan pulang.
Selama perjalanan mereka semua asik bersenda gurau. Namun, ketika dijalanan yang menurun dan menikung tajam, laju mobil tidak dapat dikendalikan.
"Ibra!! Remnya blong..."
Teriak Papa Malik.
"Bagaimana ini...."
Mama Raina yang mendengarpun panik.
"Semuanya tenang... Anak anak kalian cepat pindah kedepan..."
Perintah Papa Ibra.
Dengan segera Syakira dan Daffiq pindah duduk didepan bersama mama mereka.
"Lik... Bagaimana... Apa kamu bisa mengendalikan..."
Tanya Papa Ibra.
"Gak bisa Bra..."
Jawab Papa Malik yang masih berusaha mengendalikan laju mobil.
Suara tangisan semakin terdengar.
"Mama... Aira takut... Hiks..."
Syakira menangis dipelukan mamanya.
"Kamu tenang ya nak... "
Mama Raina membelai rambut anaknya.
"Semuanya dengarkan aku!! Daffiq cepat kamu peluk Syakira bawa Syakira dalam pelukanmu... Tidak ada waktu... "
Titah papa Malik. Dengan segera Syakira berada didalam pelukan Daffiq, kondisi didalam mobil semakin mencekam.
"Nanti ketika mobil ini terjun melewati pembatas jalan Daffiq dan Aira segera loncat...!"
Ujar Papa Ibra.
"Mama... Daffiq gak mau... Ma... "
Daffiq tidak mau meninggalkan orangtuanya begitu saja.
"Daffiq... Kamu percaya mama sama papa kan... Kamu harus mengikuti ucapan kami.. Ingat mama dan papa sangat bangga menpunyai putra sepertimu... Ingat!! Ini semua demi kebaikanmu... Ingat semua yang pernah mama papa katakan...."
Ujar mama Tasya dengan berlinangan air mata... Dan memeluk Daffiq beegitu erat.
"Mama... Aira gak mau lompat ...!!"
Syakira berteriak.
"Sayang... Kamu harus mau ya... Ingat kamu harus jadi anak yang baik, selalu ceria..."
Mama Raina masih mendekap putrinya itu dengan sesenggukan.
"Daffiq... Segera kamu bawa Syakira!"
Pinta Mama Raina, tanpa menunggu Daffiq segera memeluk Syakira, Syakira hanya menangis dan memberontak tidak mau. Dengan sekuat tenaga Daffiq, Daffiq mencekram tubuh Syakira dengan kuat.
"Daffiq lompat!"
Titah papa Ibra.
Dengan segera Daffiq melompat dari dalam mobil yang sudah terjun kejurang.
"Ma ma.... "
Teriak Syakira kala lompat dari dalam mobil.
-----Flashback Off-----
"Pasti sangat menyakitkan untuk kakak mengingat peristiwa itu..."
Ujar Syakira.
"Iya.. Sangat menyakitkan saat itu aku kehilangan semua orang yang aku sayangi"
Ujar Daffiq yang sudah mengusap air matanya berungkali.
"Tapi kejadian yang menimpa kakak dan keluarga seperti aku pernah memimpikan ya...."
Ujar Syakira yang memang selalu bermimpi potongan yang tidak jelas seperti itu.
"Owh ya... Benarkah..."
Tanya Daffiq.
"Iya... Mungkinkah aku sama dengan Airamu...
Tapi kurasa tidak mungkin... Agh Kepalaku terasa pusing memikirkan mimpiku..."
Jawab Syakira.
"Apa! Kepalamu pusing... Ayo kita pulang! Kamu perlu istirahat!"
Ajak Daffiq.
"Tidak kak... Hanya pusing saja, aku masih ingin menghabiskan waktu disini...
__ADS_1
Cukup dengan minum saja aku akan tenang kok..."
Syakira meyakinkan Daffiq agar Daffiq tetap tenang. Syakira menatap Daffiq agar tetap disana dengan pandangan memohon.