Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (15)


__ADS_3

~Rumah Sakit~


Setelah satu bulan lebih dirawat dirumah sakit. Kondisi Ibu Endah masih belum stabil. Masih belum menunjukkan kemajuan. Ibu Endah hanya dapat berbaring saja.


"Ibu... Rangga pulang..."


Sapa Rangga yang baru saja pulang sekolah dengan dijemput oleh supir yang ditugaskan Daffiq.


"Eh... Jangan sentuh ibumu dulu... Kamu ganti baju lalu cuci tangan baru bisa pegang ibumu. Rangga ingat! Kamu habis dari luar membawa kuman"


Rangga pun patuh dengan peringatan maid yang berjaga disitu. Rangga pun segera berjalan kekamar mandi untuk berganti pakaian dan mambasuh muka dan mencuci tangannya.


"Ibu... Tadi disekolah Rangga dapet nilai ulangan bagus loh..."


Ujar Rangga menceritakan kisahnya disekolah sambil memperlihatkan hasil ulangannya.


"Benarkah... Hebat dong anak ibu... Sini ibu peluk"


Puji Ibu Endah dan membentangkan tangannya untuk memeluk anaknya itu.


"Ibu, Kak Daffiq kok belom ada kesini ya... Dari kemarin, padahal Rangga kangen..."


Ujar Rangga.


"Mungkin Kak Daffiqnya lagi sibuk... Kan kak Daffiq kerja.."


Nasihat Ibu Endah kepada putranya.


"Ehm... Seperti itu ya... Ibu, Rangga mau makan tapi Ibu yang suapin ya..."


Pinta Rangga.


"Iya Ibu suapin"


Dengan mengusap rambut Rangga pelan.


Rangga pun mengambil makan siang yang sudah disiapkan Maid. Dengan membawa satu piring penuh berisi berbagai macam lauk, Rangga mendekat kepada Ibunya. Dengan telaten Ibu Endah menyuapi putranya itu. Akhirnya Ranggapun menghabiskan satu piring nasi beserta lauknya tanpa sisa. Siang itu di salah satu ruang inap VVIP rumah sakit Aydr Hospital berakhir dengan kebahagiaan sederhana dari seorang anak dan ibunya.


---------------------------


"Ini, keterlaluan. Maksud Gus Lubiz apaan si,,, udah aku tolak masih aja ngasih barang barang gak jelas"


Syakira mendengus kesal, karena sudah satu bulan lebih dia mendapatkan teror dari Gus Lubiz yaitu mendapat kiriman coklat dan setangkai bunga mawar putih dan kertas memo yang berisi semangat atau pujian atau perhatian kecil.


"Bukan maksud nolak...tapi aku gak mau terjadi urusan yang berkepanjangan.... Dan aku sadar diri sebelum semakin jauh... hufttt ada ya... Manusia kayak gitu"


Syakira masih mendengus kesal karena mengingat semua perlakuan Gus Lubiz.


Setiap pagi Syakira selalu mengembalikan semua pemberian Gus Lubiz. Tapi setiap hari juga dia mendapatkannya. Gus Lubiz menaruh itu semua didalam laci meja bangku yang ditempati Syakira. Dan paling menyebalkan juga adalah ketika ulangan ataupun kegiatan belajar mengajar selalu saja Gus Lubiz memberikan alasan yang membuat Syakira harus bersamanya.


*Aku tidak menampik bahwa aku juga mulai sedikit menaruh rasa untukmu Gus Lubiz... Namun aku sadar aku tidak pantas bersanding denganmu...*


Sedangkan Gus Lubiz tetap bahagai menjalani semua itu. Meski semua pemberiannya dikembalikan Syakira tapi dia tetap selalu memberi kembali.


"Syakira... Meski kamu tolak seribu kali maka aku akan berjuang juga seribu kali... "


Gumam Gus Lubiz karna, merasa sangat bahagia. Setiap pagi ketika masuk kantor, sebelum mengajar Gus Lubiz menerima kembali hadiah hadiah yang dikirimkan ke Syakira.

__ADS_1


"Ketika semua orang berlomba ingin mendapatkan aku kenapa kamu menolakku Syakira..."


Batin Gus Lubiz dengan menatap nanar semua hadiah hadiah yang dikembalikan Syakira. Semua hadiah itu dikumpulkan jadi satu Gus Lubiz dalam sebuah kotak besar. Gus Lubiz mengingat pertama kali Syakira mengembalikan paperbag yang berisi coklat, bunga mawar dan boneka beruang Syakira memberikan balasan.


"Maaf Gus Lubiz, maaf saya tidak dapat menerima pemberian anda, dan soal perasaan maaf saya tidak mempunyai perasaan apapun dengan anda, mohon pengertiannya"


Itulah balasan surat Syakira dahulu. Dalam fikiran Gus Lubiz tidak mempunyai berarti masih bisa ditumbuhkan.


---------------------------


"Hans... Apa jadwalku hari ini?"


Tanya Daffiq dengan tetap menatap layar laptopnya.


"Tuan sehabis jam makan siang ada pertemuan diluar dengan perusahaan Wijaya"


Jawab Asisten Hans.


"Dimana?!"


Tanya Daffiq.


"Diclub 99 "


Jawab Asisten Hans.


"Aku tidak mau menemuinya kalau ada ditempat itu, suruh ganti tempat! Kalau dia tetap memaksa batalkan kontrak kerjasamanya!"


Titah Daffiq ta mau terbantahkan.


Asisten Hans pun segera menghubungi pihak perusahaan Wijaya. Setelah menghubungi Asisten Hans kembali melaporkan.


Ujar Asisten Hans yang memang benar seperti itu adanya.


"Segera hubungi dan batalkan semua kontrak kerjasamanya dalam semua bidang, kamu tarik semua sahamku diperusahaannya!"


Titah Daffiq ta terbantahkan.


"Baik tuan"


Jawab Asisten Hans.


"Dan untuk meetingnya kamu ajukan, setelah meeting kamu temani aku ke rumah sakit"


Daffiq memerintah Asisten Hans.


Asisten Hanspun berlalu pamit meninggalkan Daffiq. Sedangkan Daffiq heran dengan dunia bisnis, yang bisa bisanya bersenang senang dengan perempuan adalah hal yang indah, tidak semua kebahagiaan itu harus dengan lubang perempuan. Urat berfikirnya sepertinya terputus begitulah pemikiran Daffiq.


Walaupun Daffiq seorang pengusaha muda dan terkenal, namun dia tidak pernah memasuki club. Karna menurutnya pertemuan bisnis bisa dilakukan tanpa harus masuk dalam tempat penuh kemaksiatan. Meski dia pernah menetap diluar negri lama, dia bisa mengontrol dirinya juga pergaulannya. Hingga akhirnya banyak orang mengeklaim bahwa Daffiq seorang gay dan sejenisnya karna sangat anti dengan perempuan, dan ada juga yang mengatakan dia impoten. Asisten Hanspun kembali mengabarkan bahwa meeting sudah dapat dilakukan. Dengan segera Daffiq berjalan keluar ruangan bersama Asisten Hans. Sepanjang perjalanan menuju ruang meeting semua karyawan dan karyawati tunduk tidak ada yang berani mengangkat kepalanya. Suara bisik bisik pun terdengar khususnya dari para karyawati ketika Daffiq sudah memasuki ruang rapat.


"Oh my god..... Bos gue gantengnya sampe ke ubun ubun..."


Puji Atsna.


"Iya... Udah punya pacar kaga ya...."


Tambah Megan.

__ADS_1


"Kalau menurut gue si gak punya... Habisnya gak pernah denger berita sama cewek manapun..."


Imbuh Ima.


"Jangan jangan bos kita suka sesama terong..."


Ana ikut menambahi.


"Ngawur banget lu..."


Megan tidak menerimakan.


"Kan setiap hari sama si Asisten Hans yang nakutin itu, mana kalau diajak pertemuan bisnis diclub apa tempat yang sejenisnya gak mau... Setiap pertemuan kalau ada perempuan yang plus plus aja langsung dibasmi sama si Hans. Mestinya kan ada yang gak beres dong..."


Ana mengatakan berita yang pernah didengarnya dari teman yang beda kantor dengannya.


"Udah udah dari pada kita gosip gini mending kembali kerja aja... Ntar ke tauan ama pengawas"


Nasihat Atsna.


---------------------------


Setelah selesai dengan meetingnya dikantor. Daffiq berjalan keluar menuju parkiran husus untuk para pejabat kantor yang mempunyai jabatan tinggi. Disana dia sudah ditunggu Asisten Hans.


"Mari tuan..."


Asisten Hans mempersilahkan Daffiq masuk kedalam mobil.


Diperjalanan menuju ke rumah sakit, Daffiq meminta Asisten Hans untuk mampir ke toko buah. Asisten Hans mengangguk patuh. Sesampainya ditoko buah Asisten Hans turun membeli beberapa buah. Setelah selesai Asisten Hans kembali melajukan mobilnya ke jalan arah rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit Daffiq berjalan menuju ruang dokter yang bertugas memeriksa keadaan Ibu Endah.


Sesampainya di ruangan dokter Mahfudz. Asisten Hans berjalan membukakan pintu untuk Daffiq. Daffiq sudah disambut oleh dokter Mahfudz.


"Selamat datang Tuan Daffiq... Maaf tidak menyambut kedatangan anda, silahkan duduk"


Dokter Mahfudz mempersilahkan Daffiq untuk duduk.


"Ya kau ta perlu menyambutku, langsung saja, bagaimana keadaan Ibu Endah"


Tanya Daffiq to the point.


"Baik saya akan menjelaskan kondisi Ibu Endah, saat ini Ibu Endah tidak dapat disembuhkan karna belum adanya penemuan obat kanker. Sedangkan pihak rumah sakit hanya mampu meredakan rasa sakit kanker itu sendiri dengan kemoterapi untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker keseluruh bagian tubuhnya."


Jelas dokter Mahfudz.


"Apakah tidak dapat dilakukan dengan jalan oprasi?"


Tanya Daffiq.


"Maaf tuan, saat ini tidak dapat karna kondisi Ibu Endah yang selalu tiba tiba ngedrop, apalagi kanker beliau sudah stadium akhir jadi sangat sulit untuk menyembuhkannya, kami hanya mampu meredakan rasa sakitnya saja, dan memperlambat pertumbuhan sel kanker saja..."


Jelas dokter Mahfudz.


"Baiklah berikan harapan Ibu Endah untuk sembuh, kasian Rangga masih kecil,kalau begitu aku pamit menemui Ibu Endah"


Daffiq pun beranjak berdiri meninggalkan dokter Mahfudz.


"Mari saya antar tuan sampai depan"

__ADS_1


Dokter Mahfudz mengantar Daffiq sampai depan pintu ruangannya.


__ADS_2