
~Syakira & Daffiq 2~
Setelah kejadian kemarin sore, kini Syakira dan Daffiq terlihat sedikit lebih dekat. Pagi ini mereka akan bersiap pergi menuju rumah sakit Aydr Hospital.
"Dek... Kamu sarapan yang banyak ya... Nanti sepulang sekolah kamu langsung ikut les... Bekal makan siang udah kakak siapin didalam tasmu... Doain ya... Semoga gak terjadi apa apa sama keadaan kakak..."
Tutur Syakira kala Rangga masih siap siap dengan memakai seragam sekolahnya.
"Siap kakakku yang paling cantik...."
Jawab Rangga.
"Ya udah... Kakak turun dulu... Siapa tau kakek Zakky sama kak Affiq sudah disana, kamu juga lekas turun setelah pakai baju..."
Syakira menasihati adiknya.
"Iya... Makasih..."
Rangga tersenyum dan mencium pipi kakaknya. Syakira pun segera keluar kamar dan segera berjalan menuju ruang makan. Syakira ikut membantu para maid yang menata makanan. Meskipun dilarang Syakira tetap bersikeras ikut membantu. Setelah selesai menata sarapan, kepala pelayan menyuruh satu maid untuk memberitahukan sarapan telah siap, kepada seluruh penghuni mansion.
"Loh... Aira kamu kok sudah ada disini..."
Tanya Tuan Zakky.
"Iya kek... Tadi Syakira ikut bantuin menata makanan... hehehe he"
Syakira menjawab apa adanya.
"Owh... Bagus sekali.... Kakek salut sekali dengan yang kamu lakukan... Kakek bangga..."
Puji Tuan Zakky.
"Kakek bisa saja... Itukan hal kecil, semua orang bisa melakukannya..."
Syakira menjawab dengan tersipu malu.
"Pagi kek...
Pagi Aira...
Pagi juga bochil..."
Sapa Daffiq dan duduk disebelah Syakira.
"Pagi Daf...
Pagi juga kak..."
Balas Tuan Zakky, Syakira dan Rangga secara bersamaan. Merekapun mulai melakukan sarapan pagi itu dengan hening. Sesampainya sarapan mereka mulai berpisah dengan kegiatan masing masing.
"Kak... Ira, Rangga pamit dulu... Ya..."
Pamit Rangga.
"Iya dek... Kamu ati ati ya...."
Syakira mengiyakan Rangga.
"Kek... Rangga juga ya.... Pamit...."
Rangga berpamitan dengan Tuan Zakky dengan bersaliman.
"Iya... Kamu hati hati, belajar yang rajin.... "
Tuan Zakky menasihati Rangga dengan mengusap kepala Rangga.
"Kak Daffiq... Rangga pamit ya..."
Rangga juga berpamitan dengan Daffiq.
"Iya hati hati"
Jawab Daffiq dengan singkat.
Syakirapun mengantar adiknya menuju pintu masuk mansion, dengan telaten dia mengantarnya sampai dekat mobil.
"Assalamu'alaikum kak..."
Salam Rangga yang akan memasuki mobil dengan salim ke Syakira.
"Wa'alaikumussalam... Hati hati..."
Jawab Syakira sambil melihat kepergian adiknya yang diantar oleh sopir pribadi mansion Al-Aydrus. Selanjutnya Syakira memasuki rumah kembali.
"Aira..."
Panggil Daffiq saat Syakira lewat dihadapannya.
"Iya kak... Ada apa?"
__ADS_1
Syakira yang semula berjalan pun beehenti karna dipanggil oleh Daffiq.
"Kita berangkat kerumah sakit sekarang"
Daffiq berucap to the point.
"Baiklah... Kalau begitu aku bersiap sebentar..."
Syakira meminta ijin.
"Ya cepatlah"
Daffiq hanya menjawab dengan singkat.
Segera Syakira berjalan menaiki tangga menuju kamarnya secepat mungkin, karna takut menunggunya terlalu lama.
"Daf... Apakah kamu sudah mengatakan sejujurnya tentang Aira yang sesungguhnya...?"
Tuan Zakky bertanya.
"Belum kek... Aku menunggu keadaannya lebih baik lagi... Aku ingin ingatannya kembali dahulu... Agar dia tidak terbebani saat mengetahui kebenaran yang ada..."
Jawab Daffiq dengan serius.
"Kakek hanya bisa berdoa semoga Aira segera mengingat semuanya"
Tuan Zakky berharap.
Dari arah tangga terlihat Syakira yang sudah menuruni tangga.
"Kak... Aku sudah siap"
Sapa Syakira yang sudah berhadapan dengan Daffiq.
"Mari berangkat"
Daffiq hanya menjawab dengan singkat tanpa embel embel apapun.
"Mari kek... Syakira berangkat dahulu... Assalamu'alaikum..."
Syakira berpamitan dengan Tuan Zakky.
"Wa'alaikumussalam... Hati hati..."
Jawab Tuan Zakky dengan melihat kepergian Syakira dan Daffiq.
"Maaf tuan... Tidak menyambut kedatangan anda..."
Daffiq hanya acuh ta perduli ucapan dokter Wahidah.
"Silahkan duduk tuan ...."
Dokter Wahidah mempersilahkan Daffiq dan Syakira. Tanpa menunggu Syakira dan Daffiq sudah duduk berdampingan.
"Langsung saja kau periksa keadaan Aira"
Perintah Daffiq dengan jelasnya tanpa basa basi. Dokter Wahidah yang sudah paham akan sifat Daffiq segera beranjak mengajak Syakira untuk melakukan pemeriksaan.
"Mari nona... Ikut saya..."
Ajak Dokter Wahidah dengan mengembangkan senyum, Syakira hanya patuh mengikuti dokter itu. Syakira mulai berbaring diatas brankar, Daffiq hanya melihat dengan hati yang sedikit cemas. Namun, tidak diperlihatkannya. Syakira mulai melakukan beberapa pemeriksaan, setelah hampir 2 jam lamanya akhirnya slesai juga. Segera beranjak dan berjalan menuju kerah Daffiq.
"Apakah sakit...?"
Tanya Daffiq yang kuatir akan keadaan Syakira.
"Tidak sakit kak... Semuanya aman...."
Syakira menjawab dengan senyum untuk meyakinkan Daffiq.
"Syukurlah"
Daffiq hanya menjawab singkat, dan Syakira hanya tersenyum menanggapi ucapan Daffiq. Karna Syakira mulai paham akan sifat Daffiq yang tidak menyukai banyak bicara.
"Baik tuan... Dari beberapa pemeriksaan yang saya lakukan... Keadaan nona dalam keadaan stabil, bahkan ketika saya melakukan ct scan dibagian kepalapun semuanya aman... Tidak ada yang perlu dicemaskan...."
Dokter Wahidah mulai menjelaskan keadaan Syakira.
"Lalu, tentang ingatan Aira bagaimana?!"
Daffiq bertanya.
"Untuk saat ini... Tuan hanya perlu melakukan beberapa kegiatan yang sering dilakukan nona... Atau melakukan beberapa hal yang sering dilakukan... Mulai dengan perkenalan... Tapi mohon jangan dipaksa..."
Jelas dokter Wahidah.
Daffiq dan Syakira hanya mengangguk paham. Tapi Syakira sedikit kecewa.
"Bagaimana cara aku ingat aktifitas apa yang sering aku lakukan... Aku saja tidak berkumpul bersama keluarga kandungku... Mana bisa mengingat..."
__ADS_1
Batin Syakira yang begejolak.
"Sebelumnya saya ingin menanyakan beberapa hal kepada nona"
Dokter Wahidah meminta ijin.
"Silahkan dokter..."
Syakira menjawab dengan tersenyum.
"Selama anda kehilangan ingatan anda... Apa nona sering melakukan atau merasakan atau apapun yang mengganggu fikiran juga hati anda...?"
Dokter Wahidah mulai bertanya.
"Soal itu, saya lebih sering bermimpi yang sama sekali saya tidak jelas"
Jawab Syakira yang benar adanya.
"Bolehkah anda menjelaskan mimpi itu..."
Dokter Wahidah meminta ijin.
"Terkadang saya bermimpi buruk juga terkadang bermimpi indah... Seperti ketika saya bermimpi buruk ketika saya berada didalam sebuah mobil yang keadaannya oleng... Dan hanya ada teriakan histeris dan saya jatuh melompat dengan seseorang... Bahkan saya tidak mengingat siapa orang orang yang ada didalam kejadian itu... Hanya saya ingat kata mama dan papa... Ketika akan lompat..."
Jelas Syakira, mengingat mimpi buruk itu. Sedangkan Daffiq mengingat kejadian 10 tahun lalu saat kejadian itu menimpa keluarganya dan keluarga Syakira.
"Baiklah... Bolehkah anda sedikit menceritakan mimpi indah yang anda maksudkan???"
Dokter Wahidah bertanya kembali.
"Saat mimpi indah... Yang sering saya memimpikan saya bersama sama orang orang yang saya tidak saya kenal, terkadang saya memimpikan saya berlibur bersama, terkadang makan bersama dan ada yang sangat saya ingat... Saya bermain dengan seseorang lelaki remaja, saya bermain kejar kejaran... Hingga kami lelah... Dan karna saya yang masih kecil saya tertangkap saya meneriakkan nama lelaki itu... Karna kesal saya tertangkap...."
Jawab Syakira kembali.
"Apakah anda mengingat nama lelaki itu nona...?"
Dokter Wahidah bertanya kembali untuk kesekiankalinya, Daffiq hanya berharap semoga Syakira mengingatnya.
"Namanya kala aku sebut... Bernama Kak Affiq... Seperti nama Kak Daffiq..."
Jawab Syakira yang jujur adanya. Sedangkan Daffiq tersenyum bahagia karna Syakira masih mengingat namanya, walaupun hanya dalam mimpi.
"Baiklah... Apakah nona mengalami rasa trauma setiap mengingat atau memimpikan semua itu...?"
Tanya Dokter Wahidah kembali.
"Dulu... Ketika saya masih kecil ketika saya masih kecil saya sering Mengalami seperti tiba tiba panas tinggi... Namun seiring berjalannya waktu saya mulai bisa mengontrol emosi saya... Dan saya juga bisa mengontrol keadaan saya ketika saya bermimpi buruk... Jadi sekarang saya sudah tidak mengalami demam ataupun rasa takut..."
Jelas Syakira.
"Cukup terimaksih nona atas jawabannya.... Untuk saat ini kondisi psikis nona aman... Dan Nona sangat hebat karna dapat melawan rasa takut karna mimpi tersebut... Untuk beberapa potongan mimpi itu adalah... Hal hal yang sering nona lakukan dimasa lalu... Bahkan kenangan itu membekas, sehingga nona dapat mengingatnya..."
Jelas dokter Wahidah.
"Apakah ada sesuatu yang perlu saya lakukan dokter... Agar segera pulih ingatan saya...?"
Tanya Syakira dengan antusiasnya.
"Untuk itu... Nona hanya perlu menjaga kesehatan anda... Agar tetap stabil seperti ini... Dan untuk masalah itu, nona hanya perlu melakukan beberapa hal yang indah seperti didalam mimpi anda... Untuk mimpi buruk... Mungkin anda pernah mengalami suatu hal yang sangat fatal dan mengakibatkan anda trauma... Saya mohon untuk melawan rasa trauma itu..."
Jelas dokter Wahidah.
"Terimaksih dokter atas saran anda..."
Jawab Syakira.
"Apakah ada yang perlu kamu sampaikan lagi...?!"
Tanya Daffiq tanpa basa basi.
"Sudah cukup tuan... Untuk nona saya hanya meresepkan beberapa obat saja..."
Jawab dokter Wahidah.
"Cepatlah!"
Tegas Daffiq.
"Ini tuan resepnya... Dapat anda tebus diapotek .."
Jawab Dokter Wahidah dengan sabarnya.
"Ya!"
Jawab Daffiq sambil menerima selembar kertas resep obat Syakira, dengan segera Daffiq segera beranjak dari kursi untuk segera berjalan keluar raungan. Syakira yang melihat Daffiq beranjakpun ikut beranjak dengan terburu buru.
"Dokter... Terimakasih... atas waktunya... Permisi...
Pamit Syakira dengan segera berlari mengikuti langkah Daffiq.
__ADS_1