
~Kunjungan Daffiq~
Karna tidak dapat memendung rasa rindu yang membuncah dihatinya, dan juga rasa khawatir setelah mendapat informasi kondisi Syakira, hari ini Daffiq memutuskan untuk pergi menjenguk Syakira dipesantren. Rasa rindu yang sudah tidak dapat ditahanpun akhirnya memutuskannya untuk menemui pujaan hatinya.
"Apakah penampilanku sudah sempurna?"
Tanya Daffiq kepada Asisten Hans.
"Sangat sempurna tuan..."
Jawab Asisten Hans apa adanya bahwa terlihat sempurna dari sisi manapun.
"Menurutmu... Aira akan terpukau atau tidak...?"
Daffiq penasaran apakah Syakira akan terpesona dengannya.
"Jelas nona akan terpesona...tuan"
Asisten Hans mencoba meyakinkan Daffiq.
"Baguslah... Aku tidak sabar melihat reaksi Aira saat aku datang ... Aku harap dia bahagia melihat kedatanganku..."
Ujar Daffiq yang sudah sangat antusias akan menjenguk Syakira. Setelah melakukan beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai dengan selamat di tempat tujuan. Dengan kaca mata hitam bertenggger dihidung Daffiq ditambah stelan jas yang melekat ditubuhnya menambah sisi kegagahannya, membuat semua orang yang melihat Daffiq terpukau ta terkecuali kaum adam yang iri dengan sosok Daffiq. Baru keluar dari dalam mobil sorot mata banyak yang tertuju kehadapan Daffiq, dan banyak sorot mata kagum.
"Hah... Aku benci diriku ditatap seperti itu..."
Daffiq menghela nafas sebal melihat tatapan para orang orang yang sangat memuakkan untuknya.
"Hans!! Harusnya kau bangun jalan khusus untukku... Agar tidak ada yang menatapku seperti itu..."
Gerutu Daffiq. Sedangkan Asisten Hans hanya dapat menghela nafas heran dengan kelakuan Daffiq yang gak ada habisnya.
"Maaf tuan... Saya tidak bisa karna ini bukan wilayah kekuasaan anda..."
Ujar Asisten Hans apa adanya.
"Ternyata ada juga yang ta kau bisa ya..."
Heran Daffiq mendengar jawaban Asisten Hans.
"Aku juga masih manusia tuan... Belum menjadi tuhan..."
Asisten Hans hanya dapat membatin mendengar helaan Daffiq.
"Maaf tuan..."
Asisten Hans hanya menjawab dengan permintaan maaf.
"Sudahlah... Percuma kau minta maaf... Tidak akan merubah keadaan... Apakah semua barang yang kuminta untuk kau bawakan kesini sudah ada??"
Tanya Daffiq.
"Semuanya sudah datang tuan... Dan itu mobil box yang mengangkutnya..."
Asisten Hans menunjukkan kepada Daffiq.
"Ya sudah ... Kamu suruh turunkan... Dan bagi bagikan kesemua penghuni pesantren... Dan jangan lupa kamu kasih uang untuk dana sumbanganku disini!"
Titah Daffiq dengan jelas.
"Baik tuan..."
Asisten Hanspun segera melakukan perintah Daffiq. Akhirnya mereka pun berjalan beriringan menuju tempat umum untuk menjenguk santri yang berada disamping pesantren, dengan menghadap taman yang ada, disana tersedia beberapa gazebo dan kolam ikan didepannya.
Syakira yang mendengar pengumuman dispeaker, yang mengatakan bahwa dia dijenguk pun segera berjalan menuju kekantor sekretariat pesantren untuk memastikan apakah itu benar adanya atau tidak.
"Assalamu'alaikum... Mbak..."
Syakira mengucapkan salam ketika didepan pintu masuk kantor sekretariat.
"Wa'alaikumussalam... Ada perlu apa Ra.. ?"
Tanya Sekretaris pesantren yang kebetulan ada didalam sana.
"Ira... Mau tanya apakah benar Ira dijenguk??"
Tanya Syakira to the point.
"Bener. Ra... Kamu dijenguk... Yang jenguk kakak kamu... Dia ada ditempat kunjungan wali santri... "
Jelas Sekretaris itu kembali.
"Owh iya... Makasih mbak... Atas informasinya... Kalau begitu Ira pamit ya...
Wassalamu'alaikum..."
Syakira berpamitan kepada sekretaris pesantren.
"Sama sama... Wa'alaikumussalam..."
Jawab sekretaris pesantren. Setelah mendengar ucapan salam dari sekretaris pesantren, Syakira segera pergi menuju tempat berkunjung wali santri. Dia merasa heran siapa yang menjenguknya. Sesampainya di tempat berkunjung wali santri, Syakira sedikit tidak asing dengan perawakan seseorang yang tidak jauh dari hadapannya. Meski orang itu membelakanginya.
"Seperti kak Affiq... Kenapa dia datang kesini... Dia kan sibuk mana mungkin bisa kesini..."
Gumam Syakira sambil berjalan mendekat kearah orang itu.
"Assalamu'alaikum..."
Sapa Syakir saat sudah dihadapan orang itu, dengan pandangan mata kebawah. Daffiq yang mendengarpun ta dapat menyembunyikan rasa bahagianya, karna sosok yang dirindukannya berada didepannya.
"Wa'alaikumussalam..."
Daffiq menjawab ucapan salam Syakira dengan mengubah mimik wajahnya menjadi datar. Syakira pun hanya menanggapi dengan senyuman saja. Syakira pun ikut duduk disamping Daffiq dengan sedikit berjarak. Setelah beberapa menit Syakira duduk disitu, Daffiq belum mengutarakan apa maksud kedatangannya kepesantren. Hingga suara deheman Asisten Hans mengagetkan Daffiq dan Syakira yang sama sama diam melamun dengan fikiran masing masing.
"Ehem ehem..."
Asisten Hans sengaja berdehem dengan keras untuk menyadarkan kedua manusia yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Ehm... Kak Affiq ada perlu apa ya... Kok kesini?"
Tanya Syakira apa adanya.
"Aku kesini hanya untuk memastikan saja..."
Jawab Daffiq dengan kembali ke mode datarnya.
"Apakah kau tidak melihat rasa rindu dimataku Aira..."
Batin Daffiq menjerit mendengar ucapan Syakira.
"Ehm... Kakak ingin memastikan apa??"
Tanya Syakira yang masih tidak paham dengan ucapan Daffiq.
"Memastikan bahwa kamu baik baik saja..."
Jawab Daffiq untuk membuat Syakira percaya dengan kedatangannya.
"Tapi kakak terlalu berlebihan sampai rela datang kemari..."
Syakira berkata demikian karna merasa sungkan.
"Tidak berlebihan... Karna aku ingin melihat langsung... Lagi pula kamu juga tidak ada mengabariku ataupun Hans..."
Jawnoab Daffiq sepele.
"Ehm... Maaf kak... Bukan maksud Syakira gak mau ngabarin... Tapi Syakira disini baik baik saja... Dan tidak perlu ada yang dikuatirkan..."
Jawab Syakira yang memang dia merasa baik baik saja.
"Benarkah?? Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu denganku...?"
Tanya Daffiq dengan sorot mata mengintimidasi, Syakira yang mendapat tatapan seperti itupun tambah menundukkan kepalanya.
"Beneran kak... Aku gak nyembunyiin apapun..."
Syakira berkata bohong, karna dia juga tidak mungkin mengatakan semua apa yang mengganjal hati dan pikirannya saat ini.
"Baiklah... Kalau tidak ada yang kamu sembunyikan... "
Daffiq menghela nafas sebentar, karna dia sadar dia tidak mungkin memaksa Syakira untuk berkata jujur. Meski sejujurnya dia ingin memaksa.
"Kamu sudah makan siang?"
Tanya Daffiq.
"Kebetulan belum kak..."
Jawab Syakira jujur adanya.
"Aku membawakanmu... Makanan kesukaanmu..."
Daffiq pun mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh maid dirumahnya.
Daffiq menyerahkan kotak makan yang berisi beberapa lauk itu kehadapan Syakira.
"Makanlah..."
Daffiq memerintah Syakira.
"Terimaksih kak..."
Dengan segera Syakira mengambil kotak makan itu, dan mulai memakannya. Disana dia makan bersama Daffiq dan Asisten Hans yang juga ikut makan. Daffiq tidak segera makan makanannya, dia hanya menatap Syakira yang makan dengan lahapnya.
"Kak... Apakah ada yang salah dengan cara Syakira makan..."
Tanya Syakira yang merasa sedikit risih karena dia diperhatikan oleh Daffiq terus.
"Tidak... Hanya saja sepertinya makanan dikotak makanmu sepertinya lebih menggiurkan..."
Jawab Daffiq dengan asal.
"Ehm... Tapi menu dikotak makanku juga sama dengan punyamu kak..."
Jawab. Syakira yang merasa heran dengan jawaban Daffiq.
"Sudahlah... Tidak perlu dipermasalahkan lagi... Kita lanjut makan lagi...."
Jawab Daffiq, agar Syakira tidak bertanya tanya yang tidak tidak dan membuatnya kelimpungan untuknya menjawab. Akhirnya mereka semua pun selesai makan siang bersama digazebo. Ya walaupun makan siang itu sedikit dengan rasa canggung namun berhasil membuat rasa rindu Daffiq terobati.
"Aira..."
Panggil Daffiq dikala Syakira sedang membereskan peralatan makan siang itu.
"Iya kak... Ada apa...?"
Tanya Syakira tetap dengan melanjutkan aktifitasnya.
"Ada yang ingin kutanyakan...?"
Daffiq mencoba untuk bertanya.
"Tanyakan saja kak... Kalau bisa aku jawab... Akan aku jawab "
Syakira menjawab dengan jelasnya.
"Baiklah... Aku ingin bertanya apakah kamu... Punya rasa dengan anak pengasuh pesantren ini?"
Tanya Daffiq to the point.
"Kenapa kakak bertanya soal itu..."
Syakira bertanya balik kepada Daffiq, sebenarnya dia sangat kaget mendengar pertanyaan Daffiq, namun dia memilih untuk terlihat tenang.
"Karna aku ingin memastikan... Karna aku dengar dia menjadi incaran santriwati.... Siapa tau kamu juga menginginkannya..."
__ADS_1
Kilah Daffiq agar Syakira mau menjawab pertanyaanya.
"Kalaupun aku suka... Aku harus sadar, karna aku tidak sekufu dengannya, dan aku juga tidak senasab dengannya... Bahkan aku tidak tau orangtuaku seperti apa... Jadi, walaupun aku menyukainya aku tidak akan dapat bersamanya, sebelum rasa suka ku berkembang semakin besar aku akan membuangnya terlebih dahulu... Agar tidak berlarut untuk menyukainya..."
Syakira menjawab dengan apa adanya yang dia rasakan.
"Owh seperti itu... Apakah kamu mencintai sosok orang lain selain dia...?"
Tanya Daffiq kembali.
"Mungkin... Saat ini aku bukan mencintai dia... Namun mungkin aku kagum saja... Karna dia selalu memberikanku perhatian kecil dan membuatku terbawa perasaan seakan berjalanannya waktu.... Namun, saat ini aku sudah ta mempunyai perasaan karena telah dihatui rasa kecewa akan sikapnya...
Untuk sosok orang lain... Dari dulu hatiku sudah dikunci dengan satu sosok yang ta kuketahui siapa orangnya... Bahkan aku sangat ingat betul dengan sosoknya yang selalu menghantui hatiku ini..."
Jelas Syakira. Daffiq yang mendengar jawaban Syakira dia merasa sangat yakin sosok itu adalah dirinya. Akhirnya kunjungan Daffiq menjenguk Syakira berakhir dengan beberapa pertanyaan dan beberapa cerita dari kedua insan itu.
"Aira... Kakak pamit dulu ya... Ini uang jajan kamu..."
Daffiq menyerahkan satu amplop ketangan Aira.
"Gak usah kak... Uang kemaren aja masih utuh belom Syakira gunain..."
Tutur Syakira dengan jujurnya.
"Terimalah... Setidaknya bisa kamu tabungkan..."
Daffiq sedikit memaksa agar Syakira mau menerimanya.
"Baiklah... Tapi lain kali gak usah ya kak... Syakira sungkan..."
Syakira menerima amplop itu dengan terpaksa.
"Kakak gak bisa menjanjikan..."
Daffiq hanya menjawab sepele ucapan Syakira.
"Terserah kakak lah... Kalau udah ngucap sulit buat dicegah..."
Syakira mengeluh dengan sikap Daffiq yang sedikit memaksa.
"Kalau udah tau... Makanya nurut..."
Daffiq tersenyum simpul mendengar gerutu Syakira.
"Ya tapi terpaksa nurutnya... Karna gak ikhlas tau..."
Syakira seakan gak mau kalah debat.
"Ih... Rasanya pengen nyubit pipimu kalau cberut gitu... Tapi takut dosa..."
Daffiq berkata jujur adanya.
"Bukan sekedar nyubit Ra .... Pengen nyium malah..."
Batin Daffiq berteriak.
"Idih... Ira mah ogah... Kalau gitu... Tubuh Ira cuman buat yang jadi panutan tuntunan dalam rumah tanggaku kelak..."
Jelas Syakira dengan tegas.
"Iya... Aku panutannya..."
Daffiq masih setia menggoda Syakira.
"Udah buruan kakak pulang... Katanya pamit mau pulang..."
Syakira yang mulai jengah dengan kelakuan Daffiq pun mengusir begitu saja.
"Iya iya aku pulang..."
Daffiq mencoba mengalah, agar Syakira tidak semakin kesal.
"Ya udah buruan... Jangan lupa aku titip salam buat kakek sama Rangga ya... Salamin salam kangen..."
Tutur Syakira dengan bahagia.
"Iya kalau gak lupa"
Daffiq hanya menjawab sepele.
"Ih... Harus inget!!"
Syakira mendelik kaget mendengar ucapan Daffiq.
"Iya ya.. Aku inget inget deh... Tapi harus ada imbalannya"
Ujar Daffiq.
"Terserah deh..."
Syakira sudah mulai kesal.
"Hans kamu catat ucapan Aira... Dia akan mengasih imbalan sesuai keinginanku... "
Daffiq berkata kepada Asisten Hans.
"Loh loh kok gitu.... Gak bisa gitu dong..."
Syakira semakin tambah kesal dengan kelakuan Daffiq.
"Tidak ada kata penolakan karna kamu sudah berkata terserah...
Aku pamit pulang... Kamu belajar yang rajin... Kasih nilai yang terbaik untuk hadiah kelulusanmu.... Baik baik disini jangan lupa untuk selalu mengabariku... Aku selalu merindukanmu..."
Ujar Daffiq dan seraya pergi meninggalkan Syakira yang diam ditempat.
"Hah... Kenapa aku diam saja... Agh... Kak Affiq kenapa jantungku maraton mendengar semua ucapanmu tadi... Nyaman banget..."
__ADS_1
Syakira hanya bergumam sendiri yang melihat kepergian Daffiq. Daffiq yang melihat respon Syakira dia hanya tersenyum simpul.