
~Kesibukan Daffiq~
Didalam ruangan yang berdesain dengan interior modern Daffiq berkutat didepan laptopnya. Dia mulai membuka satu persatu laporan keuangan yang ada. Setelah selesai dengan laptopnya ia mulai membumbukan satu persatu tanda tangan diproposal yang mengajukan kerjasama dengan perusahaannya.
Hingga waktu menunjukkan jam 12 siang. Tiba tiba sekertaris sekaligus tangan kanannya yaitu asisten Hans datang menghampiri.
"Permisi tuan, sudah waktunya istirahat. Apakah tuan perlu saya pesankan makan?"
Tanya asisten Hans dengan hati hati, takut jika menyinggung Daffiq.
"Pesankan aku makan siang juga bawakan kopi hitam tanpa gula"
Jawab Daffiq dengan dinginnya tanpa menatap Hans sedikitpun.
"Baik tuan, saya permisi"
Pamit asisten Hans.
Daffiq hanya mengangguk saja tanpa menoleh ataupun menjawabnya. Dengan melonggarkan dasi dilehernya Daffiq berjalan menuju sofa yang berada didalam ruangan tersebut. Lalu dia mendudukkan bokongnya disofa tersebut sambil memejamkan matanya.
"Sudah sepuluh tahun aku ta dapat menemukan keberadaanmu... Sekarang kamu dimana??? Apakah kau tidak merindukanku gadis kecil...." batin Daffiq sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Dengan langkah besar Daffiq berjalan menuju kamar mandi untuk wudhu. Walaupun dia seorang pengusaha sukses dan kaya raya, tapi dia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai umat muslim. Ketika sudah selesai mengambil wudhu ia langsung berjalan kedalam kamar pribadi yang ada didalam ruangannya. Ia langsung shalat dzuhur. Setelah selesai ia langsung kembali keluar kamar, disana sudah ada asisten Hans yang menunggu.
"Tuan, makanannya sudah saya siapkan, silahkan dinikmati"
Lapor Hans.
__ADS_1
"Ya, kamu boleh keluar"
Jawab Daffiq dengan datarnya.
Dengan segera asisten Hans pamit pergi meninggalkan ruangan bossnya itu. Daffiq mulai memakan makanan yang dipesan oleh Hans dengan lahapnya.
Tanpa menunggu lama makanan diatas meja sudah habis dimakan. Daffiq mulai kembali mulai pekerjaannya yang tertunda karna jam istirahat. Dengan seksama Daffiq membaca proposal dan laporan yang ada. Sampai dia dikejutkan oleh suara dering hpnya.
"drt drt drttt...."
Tapi Daffiq tidak memperdulikannya, Daffiq dengan sengaja mematikan hpnya biar ta ada yang mengganggunya.
Sampai akhirnya ada suara pintu ruangannya diketuk sesorang.
"Permisi tuan, apakah saya boleh masuk...?"
"Ya!"
Jawab Daffiq dengan datar.
"Maaf tuan, tadi tuan besar Zakky menelpon saya disuruh memberikan panggilan telpon ini kepada anda"
Tanpa menunggu, Daffiq langsung mengambil hp asisten Hans.
"Assalamu'alaikum ada apa?!"
Tanya Daffiq to the point.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam.... Dasar bocah tengil!! Begini caramu menghormati orang yang lebih tua darimu!"
Jawab Kakek Zakky dengan ta kalah sengitnya.
Dengan menghembuskan nafas kasarnya ia meredam emosinya.
"Iya kek, maaf ada apa siang siang telpon Daffiq"
Jawab Daffiq dengan nada malasnya.
"Kau pulang kapan? Jangan terlalu lama menetap dinegara orang"
Tanya kakek Zakky.
"InsyaAllah minggu depan, kalau gak ada halangan"
Jawab Daffiq.
"Awas kau membohongiku lagi! Seperti tahun kemarin. Kucoret kau dari daftar waris aydr company"
Tegas kakek karna takut dibohongi cucu satu satunya itu seperti tahun kemarin yang nyatanya ta jadi pulang sampai tahun ini.
Dalam hati Daffiq hanya mengumpat ta jelas.
"Iya, Daffiq janji pulang"
Akhirnya telpon siang itu berhenti dengan keputusan final Daffiq pulang ke Indonesia. Rasanya dia belom siap untuk kembali ke negara tersebut, karna banyak luka masa lalu yang masih menempel diingatannya. Bahkan membuat Daffiq menjadi pribadi yang lebih arrogant dan ta tersentuh oleh siapapun. Masih teringat dengan jelas peristiwa sepuluh tahun yang lalu, setiap dia mengingatnya air matanya mengalir begitu saja. Sejak saat itu dia memutuskan memilih tinggal diluar negri tepatnya di Amsterdam Belanda. Daffiq hanya sesekali saja berkunjung ke Indonesia itupun karna didesak oleh kakeknya.
__ADS_1