Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (42)


__ADS_3

~Rencana~


Setelah satu bulan lamanya menikah dengan Gus Lubiz, Riska sama sekali belum menjalankan kewajiban apapun sebagai seorang istri, karna memang tujuannya bukan untuk menikah. Dia selama dipesantren hanya bertujuan untuk menjaga nona tercinta.


"Apakah kamu sudah melakukan apa yang kupinta?!"


Tanya Riska dengan seseorang lewat sambungan telpon.


"Semua sudah siap seperti yang kau minta"


Jawab seseorang itu dengan tegas.


"Baiklah... Jemput aku nanti malam... Seperti rencanaku sebelumnya...."


Jawab Riska dengan tegasnya.


"Ok..."


Seseorang itu juga kembali menjawab dengan tegasnya.


"Aku tutup telponnya"


Riska segera mematikan sambungan telpon itu.


Riska sebenarnya tidak memungkiri selama menikah dengan Gus Lubiz dia sangat diperlakukan dengan baik, dan layaknya seorang suami dengan seorang istri, semua perhatian dia curahkan kepada Riska. Riska juga tidak menampik jika dia mempunyai sedikit menaruh rasa. Namun, dia mengabikan itu semua, karna baginya hidupnya bukan untuk memikirkan tentang perasaan saat ini, begitulah pikirnya.


"Aku akan menjalankan semua misiku... Setelah ini semua selesai aku akan hidup dengan tenang..."


Begitulah pola pikirnya saat ini.


---------------------------


Berbeda posisi dengan Riska yang masih mengatur strategi rencananya. Daffiq sedang mendapat informasi yang sangat mengejutkan.


"Tuan... Ada sedikit titik terang untuk kasus kecelakaan itu..."


Ujar Asisten Hans yang sudah masuk dalam ruangan Daffiq.


"Dari semua itu ada sebuah kejanggalan adalah... Mengapa remnya bisa blong..."


Asisten Hans mulai menemukan sedikit jawaban.


"Benar apa katamu... Bahkan mobil papaku selalu dirawat, dan ketika kami berangkat masih aman... "


Daffiq mulai berfikir kembali.


"Tapi... Anehnya CCTV divilla tidak ada kejanggalan... Jika itu memang disengaja... Apakah semua sudah diatur?"


Daffiq mulai mencari jawaban yang selama ini dia inginkan.


"Ehm... Apakah CCTV itu benar tidak ada yang mencurigakan tuan?"


Asisten Hans mencoba memastikan kembali.


"Ehm... Sepertinya tidak... Tapi cobalah kamu lihat sendiri... Itu CCTV divilla 10 tahun lalu... Yang kakek dapatkan kala itu..."


Jawab Daffiq dengan seriusnya. Segera Asisten Hans pun melihat rekaman CCTV itu, dan mulai melihat satu persatu adegan yang ada, dan mencermati secara detail tanpa mau ada yang kelewatan.


"Tuan... Sepertinya memang benar ada yang tidak beres"


Ujar Asisten Hans yang masih serius memperhatikan rekaman CCTV, sambil menunjuk rekaman itu.


"Jelaskan!!"


Daffiq langsung meminta Asisten Hans untuk menjelaskan apa maksudnya.


"Perhatikan kembali... Lihatlah... Bagaimana ini hanya rekaman disekitar rumah saja... Harusnya kan didalam garasi..."


Asisten Hans menemukan sebuah fakta baru.


"Benar katamu Hans... Berarti ada orang yang sudah menghapus CCTV bagian garasi... Dan berarti ini semua sudah direncana..."


Daffiq mulai memikirkan solusi.


"Hans... Coba kau besok datang ke Villa keluargaku yang dipuncak... Dan tanyakan kepada pak Wira, penjaga villa keluargaku yang disana... Karna dia pasti dapat memberikan sedikit jawaban..."


Daffiq mencoba menguak misteri kecelakaan keluarganya.

__ADS_1


"Dan... Jangan sampai ada orang yang tau... Kau harus menjalankan secara diam... Termasuk kakek... Aku merasa orang itu ada didekat kita... Jadi kita harus waspada...."


Daffiq menegaskan.


"Baik tuan... Saya akan menjalankan semaksimal mungkin..."


Jawab Asisten Hans dengan tegasnya.


"Jangan lupa kirimkan anggotamu untuk mengawasi kondisi sekitar villa..."


Ujar Daffiq kembali.


"Baik tuan... Maaf tuan ada yang ingin sampaikan... pengawal yang anda minta untuk mendampingi nona dipesantren mengundurkan diri..."


Asisten Hans berkata.


"Kenapa?! Apakah gajinya kurang?!"


Heran Daffiq.


"Alasannya karena, dia akan menikah... Dan keluarganya memintanya untuk berhenti bekerja dan fokus ke rumah tangga... "


Jelas Asisten Hans.


"Baiklah... Kalau begitu kamu carikan Aira pengawal pribadi baru... Harus perempuan dan kemampuannya... Harus memenuhi standar!! Kau pahamkan!!"


Daffiq menegaskan dan memerintah Asisten.


"Baik tuan..."


Asisten Hans pun menyanggupinya.


"Kalau sudah tidak ada yang ingin kau sampaikan lagi... Kau boleh keluar!!"


Usir Daffiq.


"Baik tuan... Saya ijin permisi"


Asisten Hans pamit undur diri dari ruangan Daffiq. Daffiqpun hanya menganggukkan kepalanya saja.


---------------------------


Tanya seseorang dengan raut wajah seriusnya.


"Nyonya... Putri Malik sudah kembali..."


Jawab pengawal orang itu.


"Sialan!! Kenapa bisa!!"


Orang itu murka dan marah sebesarnya.


"Dia menemukan keberadaan putri Malik... Dan dia juga membawa kedalam kediaman Al-Aydrus..."


Ujar pengawal itu kembali.


"Harusnya aku bunuh dia dulu!! Bagaimana dengan Adi yang kutugaskan disana...."


Tanya wanita misterius itu kembali.


"Dia kemarin memberikan informasi... Bahwa putri Malik masih mengalami hilang ingatan... Dan sepertinya Tuan muda Al-Aydrus juga mulai menguak kembali kecelakaan itu..."


Ujar pengawal itu kembali.


"Owh... Dia ingin bertemu denganku... Sebelum dia menemukanku... Akan aku perlihatkan dewa kematiannya... Hahahahahha"


Wanita itu tertawa dengan kerasnya.


"Joy!! Beri dia salam pembuka...!! Dan biar dia tau kalau aku ta segan segan melakukan apapun itu... Untuk melenyapkan mereka tanpa ampun... Kalau dia masih ikut campur!!"


Wanita itu memberikan titah.


"Baik nyonya"


Jawab Joy pengawal sekaligus tangan kanan setianya.


"Bocah bau kencur ta akan pernah bisa dia melawanku... Hahahhaaha"

__ADS_1


Wanita misterius itu semakin keras tertawanya.


Dan, wanita misterius itupun mulai memikirkan semua rencana kedepannya.


"Kau boleh pergi Joy"


Usir wanita itu.


"Permisi Nyonya"


Pamit Joy.


Selepas kepergian Joy wanita itu mulai berfikir.


"Hahahhaa... Kau Malik Bachtir dan Raina Stef... Kalian telah membuatku kehilangan semua kebahagianku... Dan juga putri sialanmu itu...!! Kalian layak untuk aku bunuh...!! Dendamku akan terus masih berkobar jika kau dan keterunanmu masih hidup!!"


Ucap wanita misterius itu dengan berapi api, dengan menatap selembar potret foto bahagia keluarga Malik Bachtir.


---------------------------


Malam pun telah tiba, Pancaran sinar rembulan telah memancar begitu terangnya. Suara merdu dari para penghuni malam pun telah bersahutan.


"Riska... Aku ingin bertanya, apakah kau bahagia dengan pernikahan ini?"


Tanya Gus Lubiz pada Riska istrinya.


"Kenapa kamu tanya seperti itu"


Jawab Riska dengan wajah datarnya.


"Karna aku ingin kau tau.... Bahwa aku ikhlas menerima pernikahan ini... Dan aku berharap kamu juga seperti itu adanya... Aku bahagia... Akan aku usahakan semuanya yang terbaik.... Agar aku bisa mencintaimu... Dan izinkan aku menjadi sosok imam yang dapat menuntunmu..."


Ujar Gus Lubiz dengan menggenggam tangan Riska dengan eratnya.


"Tapi maaf... Kamu seharusnya ta perlu melakukan itu semua... Karna kita sama sama tidak ada rasa..."


Jawab Riska dengan tegasnya.


"Shut.... Jangan bilang seperti itu... meski kamu mengatakan tidak ada rasa, ataupun apalah.... Aku akan berusaha untuk menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang kepadamu.. Tolong izinkan aku... Aku yakin Allah melakukan takdir ini dengan jalan yang begitu indah... Karna aku yakin semua ini pasti ada kebaikan yang tersimpan... Dan aku yakin... Bahwa cinta akan datang seiring berjalannya waktu... Jadi aku mohon izinkan aku untuk membuktikannya..."


Pinta Gus Lubiz dengan sungguh sungguh.


"Terserah... Kamu!! Tapi aku haral kamu jangan kecewa dengan keputusanmu itu!!"


Jawab Riska dan berlalu begitu saja meninggalkan Gus Lubiz, yang masih berada disofa didalam kamarnya, Riska pun menuju keatas kasur untuk tidur. Tidak membutuhkan waktu lama, Riska sudah terlelap kealam mimpi. Gus Lubiz pun ikut menyusul dan berbaring disisi Riska.


"Riska... Aku tau... Kamu sebenarnya gadis yang baik, meski kamu terlalu dingin... Dan tertutup untuk semuanya... Aku yakin kamu akan mau menerima ku dan pernikahan ini..."


Ujar Gus Lubiz dengan memandang wajah ayu Riska yang tertutupi oleh hijabnya, selama menikah dengan Riska Gus Lubiz belum pernah melihat wajah Riska tanpa menggunakan hijab, karena Riska yang selalu tertutup bahkan enggan mau disentuh oleh Gus Lubiz.


"Selamat malam ... Mimpi indah istriku...


CUP"


Kecupan singkat didahi Riska pun selesai, Gus Lubiz segera ikut memejamkan matanya. Ta berselang lama, Gus Lubiz sudah ikut terbawa kealam mimpi. Dan disaat itulah Riska terbangun.


"Tapi... Maaf... Aku tidak dapat menjadi istri yang baik untukmu... Dan terimakasih karna sudah hadir dihidupku yang ta berwarna ini... Tapi maaf... Aku tidak dapat menemani hari hari mu... Selanjutnya...


CUP"


Ujar Riska dengan mengecup singkat dahi Gus Lubiz, dan segera turun dari kasurnya dan menjalankan misinya, dia ketika Gus Lubiz mengucapkan semua perasaan juga semua keinginannya dia sebenarnya masih terjaga belum tidur.


*"Kamu ada dimana... Aku akan berjalan keluar pesantren*"


Riska mengirim pesan kepada seseorang.


*"Aku sudah stay didepan gerbang pesantren bagian kanan....*"


Jawab Orang itu setelah mengetahui isi pesan Riska. Dengan segera Riska berjalan secara diam, menuju keluar, agar tidak ketahuan, akhirnya setelah beberapa menit berjalan Riska sudah keluar dari dalam pesantren. Ta jauh dari tempat Riska berdiri Riska melihat seseorang melambaikan tangan kepadanya, dengan segera dia menyusul dan masuk kedalam mobil itu.


"Akhirnya aku bertemu kembali denganmu Ris..."


Ujar orang itu.


"Sudahlah... Ayo jalan!! Dan jangan lupa!! rubah panggilanmu itu yang ta ada sopan santunnya itu!!"


Geram Riska.

__ADS_1


"Oke oke... Kak Riska... Padahal kita lahir cuman beda 5 menit saja..."


Ujar orang itu, ya dia adalah kembaran Riska namanya Rikki. Akhirnya malam itu mereka pun pergi meninggalkan pesantren.


__ADS_2