Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (30)


__ADS_3

~Berpisah Untuk Kembali~


Hari ini perpisahan antara Syakira dan beberapa orang terdekatnya. Karena, hari ini dia akan kembali ke pesantren untuk melanjutkan pendidikannya yang tertunda beberapa waktu. Banyak kenangan ta terlupakan dibenaknya.


"Kakak... Rangga gak mau ditinggal kakak lagi...."


Rangga merengek dalam pelukan Syakira.


"Kakak gak ninggalin Rangga... Kakak cuman kembali ke pesantren aja kok..."


Jawab Syakira yang masih setia memeluk adiknya.


"Kakak... Jangan balik lagi.... Rangga nanti sama siapa... Hiks hiks..."


Rangga semakin terisak dalam pelukan Syakira.


"Udah dong... Jangan nagis... Kan masih ada kakek, ada kak Affiq, ada om Hans, ada juga bibi wati, dan masih banyak lagi.... Loh..."


Syakira mencoba menenangkan adiknya satu satunya itu.


"Semuanya beda kak... Yang Rangga butuhin kakak... Cuman kakak...!"


Rangga masih menjawab dengan nada penuh penekan tidak mau ditinggal oleh Syakira.


"Rangga... Kakak mohon jangan gitu ya dek... Kakak cuman kembali kepesantren sampai sekolah kakak lulus kok..."


Syakira masih mencoba memberi pengertian adiknya agar mau melepaskannya.


"Gak mau..."


Rangga semakin terisak, karna dia takut ditinggal seperti ibunya yang meninggal.


"Dek... Kakak janji! Kakak akan kembali lagi... Tapi tolong ijinin kakak kembali kepesantren ya...."


Syakira masih mencoba memberi pengertian adiknya.


"Gak mau... Rangga takut kakak gak akan kembali lagi kayak ibu..."


Rangga masih saja kekeh meminta Syakira untuk tetap tinggal bersamanya.


"Dek... Kakak cuman pergi sementara... Kakak pergi untuk kembali... Tenanglah kakak janji pasti akan kembali..."


Syakira masih setia memberi pengertian adiknya.


"Kakak gak bohongkan...?"


Selidik Rangga dengan menatap mata kakaknya.


"Kakak janji... Kakak akan kembali dan berkumpul bersama Adek..."


Syakira tersenyum kepada adiknya.


"Janji"


Rangga melepas pelukannya dan mengacungkan jari kelingkingnya dihadapan kakaknya.


"Janji... Kakak akan kembali lagi..."


Syakira pun membalas jari kelingking adiknya dan dia juga tersenyum.


"Ya udah... Yuk kita turun... Pasti udah ditungguin kakek sama kak Affiq..."


Syakira pun mengajak adiknya untuk segera turun kebawah. Dengan segera Rangga berjalan beriringan bersama kakaknya menuju lantai bawah.


"Bagaimana Aira... Apakah kamu sudah siap?"


Kakek bertanya kepada Syakira.


"Alhamdulillah sudah kek..."


Syakira menjawab benar adanya.


"Hari ini kamu akan diantar langsung oleh Daffiq..."


Kakek memberitahu Syakira.


"Benarkah...Apakah itu tidak merepotkan kek... Syakira bisa kok kembali kepesantren naik angkutan umum..."


Tolak Syakira yang merasa keberatan.


"Kakek semakin tidak setuju jika kamu naik angkutan umum....


Lagi pula Daffiq setuju setuju saja..."


Kakek menjawab dengan penolakan saran Syakira.


"Tapi kek... Kasian kak Affiq... Dia perlu bekerja kok..."


Syakira merasa tidak enak karna mengganggu aktifitas Daffiq.


"Kamu tidak perlu merasa tidak enak atau apalah... Dia sendiri yang menawarkan akan mengantarmu... Kamu tenanglah... Sebentar lagi dia akan turun... "


Jawab Kakek dengan tegas tidak menerima penolakan. Akhirnya Daffiq turun dengan pakaian yang santai namun terlihat formal. Dengan celana bahan panjang membalut kaki panjangnya berwarna hitam, dan kemeja lengan panjang berwarna maroon membalut tubuh tegapnya siap mengantarkan Syakira kepesantren.


"SubhanaAllah... Kak Affiq kok ganteng banget ya... Bikin hatiku senam aja..."


Dalam hati Syakira berkata.


Lalu Daffiq segera menghampiri Syakira yang ada disana.


"Bagaimana... Apakah semuanya sudah siap??"

__ADS_1


Tanya Daffiq yang sudah dihadapan Syakira.


"Tentu saja sudah dong Daf... Ini saja Aira nungguin kamu... Benarkan.. Aira..."


Kakek menjawab pertanyaan Daffiq.


"I... Ya kak... Aku udah nungguin kakak..."


Syakira menjawab dengan terbata karena gagal fokus sama keadaan.


"Ya udah kalau gitu kita berangkat sekarang aja... Lagi pula Hans sudah menunggu di depan..."


Daffiq segera mengajak Syakira untuk segera berangkat. Lantas Syakira pun berpamitan dengan orang orang yang ada disana.


"Kek... Syakira pamit ya... "


Syakira berpamitan kepada kakek.


"Iya... Kamu hati hati... Kalau ada apa apa jangan lupa kabarin... Ya... Kejar mimpimu... "


Kakek memberi sedikit wejangan.


"Baik kek... Terimaksih atas semua kebaikan kakek..."


Syakira membalas ucapan kakek.


"Dek... Kakek pamit dulu ya..."


Syakira mendekat dan memeluk adiknya Rangga.


"Iya... Kakak hati hati... Kakak janji ya... Kakak akan kembali lagi..."


Rangga masih takut akan ditinggal Syakira.


"Iya... Kakak kan udah janji... Jadi harus segera ditepati..."


Jawab Syakira dengan seuntas senyuman. Meskipun didalam hati dia juga berat meninggalkan adiknya, namun dia harus bisa karena dia juga harus perlu melanjutkan pendidikannya yang tertunda karna beberapa hari adanya musibah. Semua orang yang ada disana pun mengantar Syakira sampai kedepan mobil.


"Assalamu'alaikum... Semuanya Syakira pamit ya..."


Syakira mengucapkan salam perpisahan.


"Wa'alaikumussalam... Hati hati..."


Jawab semua orang yang ada disana melihat kepergian Syakira.


Lantas mobil yang ditumpangi Daffiq, Syakira dan Hans pun keluar dari mansion Al-Aydrus mereka diantar oleh supir pribadi mansion. Dengan perjalanan yang santai mereka menikmati pagi itu.


"Hans..! Apakah yang aku minta tadi pagi sudah kau dapatkan?"


Tanya Daffiq yang berada disamping Syakira.


"Sudah tuan..."


"Aira..."


Panggil Daffiq dengan menatap Syakira yang fokus pada pemandangan jalanan.


"Iya kak... Ada apa?"


Tanya Syakira yang merasa dirinya dipanggil.


"Ini untukmu"


Daffiq memberikan paper bag itu kepadanya. Syakira pun menerimanya.


"Bukalah... Semoga kamu suka..."


Daffiq berkata seraya tersenyum kepada Syakira.


"Iya..."


Syakira lantas membuka paper bag itu, dengan hati hati Syakira mengambil isi didalamnya.


"Apa ini untuk Syakira kak..."


Tanya Syakira untuk memastikan.


"Iya... Itu untukmu"


Daffiq hanya menjawab singkat ucapan Syakira.


"Ini terlalu berlebihan kak... Maaf Syakira tidak dapat menerimanya..."


Jawab Syakira yang merasa terlalu banyak merepotkan Daffiq dan keluarga.


"Aira... Ini tidak berlebihan... Ini hanya sebuah handphone... Itu hanya hal wajar..."


Daffiq mencoba memahami apa yang dirasakan Syakira.


"Tapi Syakira gak bisa menerimanya... Lagian Syakira juga gak akan bisa gunain juga kok kak... "


Jawab Syakira yang memang benar adanya. Asisten Hans pun yang mendengar ingin ketawa mengingat perintah dadakan Daffiq tadi pagi.


"Udah aku tebak... Pasti nona menolaknya... "


Hans hanya tertawa dalam hati.


"Soal menggunakan kamu bisa belajar... Tenang saja..."


Daffiq hanya menjawab enteng pertanyaan Syakira.

__ADS_1


"Bukan seperti itu kak... Maksudku..."


Syakira bingung mau menjelaskannya kepada Daffiq.


"Lalu bagaimana... Atau kamu ingin model terbaru atau kamu mau yang bagaimana... Katakanlah..."


Daffiq yang masih tidak paham keinginan Syakira pun mencoba bertanya. Sedangkan Asisten Hans yang mendengarpun semakin ingin tertawa melihat bosnya seperti itu.


"Tuan... Itu hand phone udah keluaran terbaru... Baru rilis bulan ini...."


Asisten Hans hanya tertawa dalam hati mendengar penuturan Daffiq.


"Bukan soal model, atau apalah kak... Maksudku aku gak bisa gunain bukan karena aku tidak paham cara menggunakan hand phone... Tapi karena aku dipesantren aturannya gak boleh memakai hand phone... Seperti itu..."


Jelas Syakira yang sedikit merasa kesal dengan Daffiq.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi... Kenapa tidak boleh!! Biar nanti Hans yang mengurus.... Tenanglah, kamu pasti bisa megang hand phone dipesantren..."


Daffiq masih mencoba mengatasi masalah Syakira. Asisten Hans yang mendengar pun rasanya ingin meneriaki tuannya itu agar paham keinginan Nonanya.


"Gini ya kak... Tolong pahami keinginan Syakira ya....


(Daffiq pun dengan seksama mendengarkan penuturan Syakira)


Jadi...


(Syakira menjeda ucapannya agar Daffiq memahami ucapannya)


Semua santriwati itu memang gak boleh megang handphone... Karna memang sudah aturannya, walaupun dia anak president bahkan raja pun gak boleh... Karna sudah aturannya dan harus ditaati... Kalaupun ingin menghubungi pihak keluarga... sudah ada fasilitasnya... Dari telepon umum penitipan surat pos, dan bahkan juga dilayani jaringan video call juga... Jadi aku mohon kakak paham posisiku..."


Syakira memohon kepada Daffiq.


"Baiklah... Aku mengerti, lalu handphonemu ini bagaimana..."


Daffiq bertanya kembali.


Sedangkan Asisten Hans masih tidak percaya dengan ucapan tuannya yang kelewat konyolnya.


"Kenapa anda jadi tolol tuan..... Itukan masalah mudah... IQ 150mu tidak berfungsi sekali kalau soal cinta... Hah"


Batin Hans semakin menjerit mendengar penuturan Daffiq.


"Kakak bisa menjualnya kembali... Lagi pula itu kan belum terpakai sama sekali..."


Jawab Syakira dengan entengnya.


"Hah!! Jual... Kau fikir aku semiskin itu... Sampai menjual barang... Untuk membeli pabriknya saja aku mampu...."


Daffiq menjawab Syakira dengan songongnya. Asisten Hans berasa ingin tepuk jidat mendengar ucapan Daffiq.


"Huh... Emang susah ngomong sama orang terlanjur kaya gak akan ada habisnya songongnya..."


Asisten Hans rasanya ingin menyumpal mulut Daffiq agar paham maksud Syakira.


"Ehm... Bukan seperti itu maksudku kak... Syakira tidak berniat menyinggung niat baik kakak... Maksudku adalah... Kan Hand Phonenya masih baru... Terus belum kepakai juga... Pasti nanti saat Syakira pulang udah ada model baru lagi... Daripada Hand Phonenya nganggur terus masih baru belom kepakek sama sekali kan mendingan dijual aja... Itung itung hasil penjualannya buat nanti Syakira beli Hand Phone baru keluaran terbaru... Hehehee gitu..."


Syakira mencoba memberikan pengertian selogis mungkin.


"Ok kalau gitu tidak aku jual... Dan nanti saat kamu pulang aku belikan keluaran terbaru...! Dan aku tidak menerima penolakan!!"


Daffiq menjawab dengan tegas, karna dia tidak mau Syakira merasa kalau Daffiq tidak mampu membelikannya. Padahal Syakira tidak berniat seperti itu.


"Baiklah... Tapi kalau begitu kakak jangan membelikan Hand phone baru kalau gak minta ya... Meski ada keluaran terbaru..."


Syakira mencoba menawar sedikit permintaan Daffiq.


"Ok! Ini terimalah..."


Daffiq menyerahkan kembali paper bag itu kepangkuan Syakira.


"Terimakasih... Tapi lebih baik kakak simpan dulu... Nanti saat aku pulang kakak baru ngasihin Hand Phone itu ke aku..."


Syakira mengatakan apa adanya.


"Baiklah..."


Daffiq mengambil lalu menyerahkan paperbag itu ke Hans. Akhirnya perjalanan ke pesantren diwarnai dengan drama Hand Phone. Perjalanan hampir 40 menitpun sampai dipesantren. Dengan hati hati supir menurunkan semua barang barang Syakira. Tentu semua itu ulah Daffiq, Daffiq yang menyiapkan semua keperluan Syakira untuk kembali kepesantren, dari satu koper besar berisi baju dan 2 kardus besar berisi snack. Bahkan sebelum Syakira kembali kepesantren Daffiq sudah memaketkan beberapa barang yang akan dipakai oleh Syakira, dari keperluan bangun tidur sampai tidur kembali sudah ada.


"Orang kaya mah bebas..."


Begitulah pikir Syakira. Namun Syakira juga tidak menampik akan kebaikan Daffiq. Selama Daffiq menolongnya juga tidak pernah meminta suatu apapun darinya, bahkan dia yang sama sekali belum bisa membalas kebaikan Daffiq, walaupun kadang ada sifat konyol Daffiq yang menyebalkan, namun tidak membuatnya kehilangan rasa nyaman saat didekat Daffiq.


"Kak... Makasih atas bantuan kakak... Maaf Syakira belum bisa bales kebaikan kakak... Dan makasih udah mau nganter Syakira sampai kepesantren..."


Syakira mengatakan sejujurnya apa yang dia rasakan.


"Sama sama... Kamu jangan pernah sungkan ataupun kepadaku... Karna aku melakukan itu semua karna aku suka...."


Daffiq mengatakan yang sebenarnya.


"Iya kak... Sekali lagi terimaksih..."


Ujar Syakira.


"Iya... Ini ada kartu namaku dan kartu nama Hans... Kalau ada apa apa jangan lupa hubungi aku... Dan ini uang jajanmu..."


Daffiq menyodorkan 2 kartu nama dan satu amplop besar dan tebal kepada Syakira.


"Kak... Apa ini gak berlebihan... Sepertinya uang ini terlalu banyak..."


Syakira bertanya kembali... Karna dia mengira ngira uang didalam amplop itu pasti sangat banyak.

__ADS_1


"Tidak... Itu terlalu sedikit untukmu... Kalau aku kasih kamu kredit crad pastinya kamu gak akan mau menggunakannya..."


Jawab Daffiq yang memang benar adanya. Syakira hanya cengengesan mendengar ucapan Daffiq, karna memang benar kartu ATM yang diberikan Daffiq saja sama sekali belum digunakannya. Akhirnya Syakira berpamitan masuk dan Daffiq hanya dapat mengantar Syakira sampai didalam kantor sekretariat pesantren saja. Perpisahan pun kembali terulang kembali lagi.


__ADS_2