Cinta Diujung Sujud

Cinta Diujung Sujud
BAB (36)


__ADS_3

~Rencana Gus Lubiz~


Gus Lubiz dengan perasaan bahagia dia akan menjalankan misinya yang sudah dia siapkan dengan sempurna. Dia telah merencanakan secara matang agar tidak akan gagal.


"Hah... Aku tidak sabar untuk segera memilikimu Syakira..."


Gumam Gus Lubiz dengan menatap foto Syakira di ponsel hand phonenya.


"Maafkan aku... Jika caraku salah... Tapi aku tidak bisa dengan cara yang baik... Karna kau sudah menolakku dengan mentah mentah... Jadi biarkan aku bergerak dengan caraku ini..."


Gumam Gus Lubiz dengan tatapan sendu mengingat penolakan Syakira kala itu, yang mengatakan dengan tegas tidak mempunyai perasaan untuknya.


"Assalamu'alaikum ustadz..."


Sapa seorang santriwati yang diapnggil Gus Lubiz.


"Wa'alaikumussalam..."


Jawab Gus Lubiz.


"Ada keperluan apa ustadz memanggil saya..."


Tanya santriwati itu.


"Seperti yang aku katakan kemarin... Apakah kamu sudah paham apa yang kumaksud?"


Tanya Gus Lubiz.


"Sudah ustdaz..."


Jawab santriwati itu.


"Kalau kamu sudah paham, jalankan sekarang... Seperti yang kukatakan kemarin...."


Perintah Gus Lubiz.


"Baik ustadz..."


Santriwati itu menjawab dengan tegas.


"Ya sudah kamu boleh pergi dan jalankan rencanaku... Aku tunggu digudang belakang... seperti rencana kemarin..."


Tutur Gus Lubiz.


Dengan segera santriwati itupun segera pergi dan menjalankan tugasnya. Gus Lubiz pun juga pergi dan berjalan menuju gudang belakang.


"Wah... Ini gak bisa dibiarkan... Gue harus cari cara biar nona gak kesana..."


Riska yang mendengar rencana Gus Lubizpun mencari cara untuk menggagalkannya.


Sedangakan santriwati itu sudah berjalan melakukan tugasnya.


"Gue harus cari dia..."


Dia adalah orang yang juga sama sepertinya mengerti niat tidak baik Gus Lubiz. Dengan secepat kilat Riska mencari orang itu, setelah muter muter akhirnya Riska menemukan orang itu dikantin pesantren, dengan tanpa perasaan Riska menarik tangan orang itu menjauh dari kantin.


"Eh sakit mbak... Jangan tarik tarik dong..."


Tapi Riska tidak memperdulikannya, dan sampai pada tempat yang sepi dia langsung berkata tujuannya.


"Ada yang harus gue omongin... Ini tentang Syakira... Dan elo udah tau soal itu... Jadi, ayo kita sama sama bantu dia..."


Riska berkata to the point.


"Maksudnya..."


Orang itu bingung maksud Riska, dan ini soal yang mana begitulah pemikirannya.


"Panjang soal ngejelasinnya... Intinya gue tau elo nguping pembicaraan abah sama umi di rumahnya elo juga tau saat Syakira dihina, dan elo tau juga saat Syakira diancam.. Dan intinya hari ini si Lubiz... Ngejalanin rencanannya..... Makanya elo harus bantuin gue biar gagal tu rencananya..."


Jawab Riska, dan orang itu kaget saat mendengar ucapan Riska yang semuanya benar adanya.


"Gue mohon... Mari kita bantu Syakira Vera..."


Riska memohon kepada Vera, ya santriwati yang mendengar semua itu adalah Vera.


"Tanpa mbak memohon Vera pasti bantuin..."


Ujar Vera.


"Kalau gitu kita langsung jalanin rencana nya..."


Dengan segera Riska membisikkan semua rencananya.


"Ok... Elo udah pahamkan..."


Tanya Riska.

__ADS_1


"Udah mbak..."


Jawab Vera jujur adanya.


"Ok sekarang kita jalankan misinya..."


Dengan berjalan berlawanan arah mereka berpisah menjalankan tugas masing masing.


Berbeda posisi dengan Syakira, saat ini Syakira sedang bertemu dengan seorang santriwati.


"Eh mbak Ira... Udah dateng ya..."


Jawab santriwati itu dengan wajah yang penuh dengan misteri.


"Iya... Emang ada apa kok ngajak aku ketemu disini..."


Tanya Syakira balik.


"Gini mbak... Aku mau minta tolong.... "


Pinta santriwati itu dengan wajah memelasnya.


"Emang kamu mau minta tolong apa... Kalau boleh tau... Kalau aku bisa akan aku bantu...."


Jawab Syakira dengan tulus.


"Jadi gini mbak... Maaf ya mbak kalau aku ngerepotin sebelumnya..."


Ujar santriwati itu dengan menjeda sedikit ucapannya, Syakira hanya diam dan fokus untuk mendengarkan.


"Aku itu ditembak sama santriwan sini... Terus aku tolak..."


Santriwati itu memperlihatkan muka sendunya.


"Lalu... Kenapa... Ada masalahkah..."


Tanya Syakira kembali.


"Iya mbak... Dia maksa aku buat nerimanya... Bahkan saat ini dia menunggu aku di gudang belakang... Kalau aku gak datang kesana nanti dia akan bersikap yang enggak enggak dan akan membuat aku dikeluarkan dari pesantren... Aku bingung mbak..."


Jawab santriwati itu dengan memanipulasi keadaan.


"Owh begitu ya..."


Syakira mulai memahami keluh kesah santriwati itu.


"Aku harus gimana mbak ... Aku takut... Dia punya kekuasaan pasti dia bisa ngelakuin semua ancamannya... Aku kalau datang kesana sendiri aku gak berani... Takut diapa apain..."


"Udah kamu tenang aja... Aku temenin kamu kesana... Jadi kamu tenang aja ya..."


Syakira masih menenangkannya.


"Beneran mbak... Tapi apa gak sibuk..."


Tanya santriwati itu seolah olah memastikan.


"Gak kok... Udah tenang aja... Sekarang kita kesana aja... Biar cepet selesai masalahmu..."


Ujar Syakira, yang memang dasarannya Syakira orangnya tidak tegaan jadi dia langsung menawarkan bantuan tanpa melihat konsekuensinya. Dengan masih berurai air mata buaya santriwati itu dengan Syakira berjalan kearah gudang belakang.


Sedangkan Vera sudah menghadang Syakira dijalan menuju gudang, dengan perasaan gelisah dia mencoba untuk tetap tenang agar rencananya berhasil. Sedangkan Riska sudah berada disamping gudang, dia sedang melihat situasi yang ada, agar rencana Gus Lubiz gagal.


"Mbak Ira... Aku kok kebelet pipis ya..."


Ujar santriwati itu dengan menahan rasa kebeletnya.


"Ya udah kamu pipis aja dulu... Aku tungguin kamu disini..."


Jawab Syakira.


"Ehm... Tapi gimana nanti sama dia mbak... Kalau aku telat..."


Ujar santriwati itu dengan gaya sok polosnya.


"Gini aja kalau gitu... Kamu pergi ke kamar mandi... Terus aku kesana... Buat ngehalau dia agar kamu tetap aman... Gimana?"


Saran Syakira agar santriwati itu tenang.


"Tapi mbak... Nanti mbaknya gimna..."


Santriwati itu mencoba sok kuatir keadaan Syakira.


"Udah... Kamu tenang aja... Itu masalah gampang... Buruan kamu pipis... Ntar kamu malah ngompol disini..."


Syakira sedikit bergurau.


"Iya mbak... Kalau gitu aku pergi ke kamar mandi dulu ya... Aku usahain cepet biar bisa nyusul mbak Ira..."

__ADS_1


Jawab santriwati itu. Dengan langkah cepat santriwati itu berjalan pergi meninggalkan Syakira. Dan Syakira pun melanjutkan perjalanannya menuju gudang.


"Uh.... Untuk mbak Ira percaya aja sama ucapanku.... Tinggal satu misi aku harus segera selesein ni..."


Dengan bergegas cepat dia berjalan pergi untuk melanjutkan rencananya. Sedangkan Syakira tiba tiba ditarik tangannya oleh Vera ketika gudang yang sudah kelihatan didepannya.


"Ya ampun Vera... Kamu kok ngagetin aku si..."


Tanya Syakira yang kaget melihat Vera.


"Eh maaf ya Ra..."


Vera mencoba untuk tetap tenang .


"Kamu kok ada disini si... Ngapain?"


Tanya Syakira yang sedikit penasaran.


"Eh... Aku tadi nyari nyari kamu... Terus ada yang bilang kamu jalan kearah gudang... Jadi deh aku lari kesini..."


Vera mencoba membuat alasan.


"Owalah... Emang ada apa kamu cari aku..."


Tanya Syakira kembali.


"Ada yang pengen aku omongin bentar aja... boleh ya..."


Pinta Vera agar Syakira mau pergi bersamanya.


"Owh ngomong aja..."


Syakira menjawabnya.


"Tapi gak disini dong... Tempatnya kurang nyaman..."


Ajak Vera.


"Ehm... Tapi Ver... Aku disini ada urusan..."


Syakira menjawab jujur adanya.


"Bentar aja...."


Tanpa menunggu persetujuan Syakira, Vera menyeret Syakira begitu saja, tanpa menghiraukan Syakira yang memintanya untuk berhenti karna lelah mengikuti langkah kaki Vera.


Riska yang melihat Vera sudah pergi menjauh dengan Syakira pun segera menjalankan rencananya.


"Gue gak tau elo mau ngerancanain apa... Yang jelas semoga gak terjadi hal buruk... Amin ..."


Gumam Riska dengan menyiapkan mentalnya, meskipun dia bisa beladiri, tapi dia juga seorang perempuan yang masih menpunyai rasa takut pada umumnya.


"Bismillah..."


Ujar Riska dengan mendorong pintu masuk gudang. Sedang Gus Lubiz yang menunggu didalam pun sangat bahagia kala mendengar suara pintu dibuka. Dalam suasana gelap Riska mencoba berjalan dalam tenang tanpa bersuara agar Gus Lubiz tidak tau bahwa yang datang bukanlah Syakira. Dengan perlahan Gus Lubiz mengunci pintu gudang itu. Riska yang mendengar mencoba untuk tenang dan waspada akan apa yang terjadi kedepannya.


"Syakira Falicha... Akhirnya kamu akan menjadi milikku.."


Tegur Gus Lubiz dengan berjalan mendekati Riska, yang diduga Syakira, Riska yang mendengar hanya diam tidak berkata apapun.


"Dimana suaramu Syakira,.... Dimana keberanianmu yang menolak akan adanya diriku... Kenapa kamu diam.... Apa kamu pasrah... Hah..."


Gus Lubiz masih dengan mode mengejek Riska.


"Owh... Mungkin kamu mau segera menjadi milikku ya.... Kamu tenang saja... Sebentar lagi kamu akan selamanya jadi milikku... Dan ta akan kubiarkan kamu lepas dari genggamanku... Hahahhaha"


Tawa Gus Lubiz memecah keheningan. Riska hanya diam mendengar ocehan Gus Lubiz gak ada habis mengitari tubuhnya, dia cukup diam dan menunduk agar tidak menaruh curiga oleh Gus Lubiz, menurut Riska kalau keadaan sudah tidak aman maka dia akan melakukan pembelaan dengan ilmu beladirinya. Dari luar pintu terdengar suara gedoran pintu.


"Hey...!! Apakah didalam ada orang... Buka pintunya!!"


Teriak beberapa orang yang sudah ada didepan pintu gudang.


"Alhamdulillah... Ada orang mau bantuin gue... Gak perlu keluar tenaga buat ngehajar ni orang"


Batin Riska. Namun siapa sangka Gus Lubiz mendorongnya hingga jatuh kebawah dengan posisi dia berada dibawah Gus Lubiz. Dan teriakan dan gedoran bersahutan, hingga akhirnya terdengar suara pintu didobrak, dalam keadaan lampu yang sengaja dimatikan itu, segera dihidupkan oleh beberapa orang yang memdobrak pintu itu. Dan betapa kagetnya saat melihat posisi intim Gus Lubiz dan Riska yang berada dibawahnya. Riska yang belum sempat berdiri kala Gus Lubiz mendorongnya pun juga ikut kaget. Begitu juga Gus Lubiz karna dia tidak menyangka bahwa dia salah orang.


"Kalian harus kami bawa ke rumah abah!! Untuk mendapatkan hukuman!! Karna telah melakukan zina!!"


Seorang ustadz yang ada diruangan itu pun menyuarakan apa yang dilihatnya.


"Eh tunggu... Ini salah paham...!!"


Teriak Riska untuk mencegah itu semua.


"Bener ini salah paham..."


Gus Lubiz juga ikut memberikan suaranya.

__ADS_1


"Kami tidak perlu suaramu...!! Mari kita bawa mereka!!"


Dengan terpaksa mau tidak mau mereka berdua digiring kerumah abah dengan perasaan malu.


__ADS_2