Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 9


__ADS_3

"Gak usah Mas! kalau ketahuan Ibu, saya diomelin. Biar saya aja!" ucapku.


"Kamu lagi sakit! luka begitu juga. Udah kamu tenang aja yah!" ucap Iqbal.


"Iya Kak, Kakak istirahat aja! biar Nena sama Kak Iqbal yang beresin." Ucap Nena.


"Jangan Nena! Kakak nanti diomelin." Ucapku ketakutan.


"Kak, ini sebagai terima kasih aku ke Kak Hafisa. Karena nilai agamaku seratus. Nena baru kali ini dapat nilai Agama bagus." Ucap Nena.


"Alhamdulillah, Kakak senang Nena. Tapi, Kakak ikhlas sayang. Jadi, kakak gak mau kamu ikut bersihin beling ini bahaya!" ucapku.


Hafisa, ternyata feeling Nena dan gue gak salah. Ternyata kamu perempuan baik. Makasih banget udah bantu Adik gue Nena.


"Hafisa, sudah yah! biar saya aja, Nena juga gak usah!" ucap Iqbal langsung mengambil beling-beling kaca. Lalu Bu Fransiska datang, dan kaget melihat Iqbal membereskan beling-beling pecahan piring.


"Apa-apaan ini! Iqbal! kenapa jadi kamu yang beresin? heh, Hafisa! kenapa jadi Anak saya yang beresin?" bentak Bu Fransiska.


"Mih! biarin aja sih, tangan Hafisa kena pecahan piring. Iqbal gak tega, kasihan Mih!" ucap Iqbal.


"Gak bisa gitu Iqbal! heh! kamu jangan manja! kamu saya gaji di sini! jangan cari-cari perhatian Anak saya kamu!" bentak Bu Fransiska.


"Maaf Bu, saya sudah larang Mas Iqbal. Tapi, tetap mau bantu saya!" ucapku membela diri.


"Mih, udah yah! Iqbal ikhlas bantu Hafisa! Mamah emang gak kasihan, tangannya luka gitu? nanti disangka orang kita aniaya lagi!" ucap Iqbal.


"Mih, jangan marahin Kak Hafisa! Kak Hafisa udah bikin nilai Nena bagus seratus. Nena yang minta Kak Iqbal bantu Kak Hafisa!" ucap Nena memberi tahu nilai seratus pada Mamihnya.


"Ya udah! kamu masuk kamar kamu Hafisa! Nena juga! Iqbal hati-hati kamu bersihinnya!" ucap sinis Bu Fransiska.


"Baik Bu." Ucapku langsung nunduk sambil berjalan.


Aduh, aku jadi gak enak sama Mas Iqbal. Ternyata, Mas Iqbal baik dan peduli.


****


Di kediaman rumah Kang Baron. Hasan marah-marah pada Bapaknya. Bapaknya bukan menolak uang bayaran dua puluh juta malah menerima, seakan Hasan sulit lagi untuk mendekati Hafisa.


"Pah, gimana? Apa Pak Jajat sudah menemukan Hafisa?" tanya Hasan.


"Belum Hasan! Pak Jajat sudah membayar uang dua puluh juta, sayang kalau Papah gak ambil." Ucap Kang Baron.


"Papah gimana sih? aaaa....." teriak Hasan.


"Ada apa ini? Hasan kenapa lagi Nak?" tanya Marjanah Ibunya Hasan.


"Mah, Papah malah menerima hutang Pak Jajat. Hiks-hiks-hiks... jadi sulit buat Hasan balik dengan Hafisa Mah!" ucap Hasan.

__ADS_1


"Aduh, Papah gimana sih? gak kasihan Hasan apa? kenapa gak tekan si Jajat itu buat nemuin Hafisa sih!" ucap Marjanah.


"Mah, gak mungkin uang sebanyak itu Papah tolak. Hasan! sekarang kamu cari lah, perempuan lain! Papah aja gak srek lihatnya, kamu cari jangan yang hijab! masih banyak cewek-cewek lain yang cantik dari wanita muslimah itu!" ucap Kang Baron.


"HASAN TETAP HAFISA! PAPAH EMANG PIKIRANNYA SELALU UANG! POKOKNYA, HASAN BAKAL CARI HAFISA KE JAKARTA!" ucap Hasan dengan nada keras.


"HASAN!" bentak Kang Baron.


"Akh...." Hasan langsung masuk kamar dan menyiapkan barang-barang untuk pergi ke Jakarta.


"Papah ini! gak pernah mengerti Anak! selalu egois!" ucap Marjanah langsung ke kamar Hasan.


"Hasan! jangan pergi Nak! Mamah gak bisa apa-apa kalau gak ada kamu! hiks-hiks-hiks..." ucap Marjanah.


"Maaf Mah! Hasan bakal cari Hafisa ke Jakarta. Mamah jangan halangin keinginan Hasan!" ucap Hasan.


"Papah akan suruh beberapa Bodyguard Papah untuk jaga kamu di Jakarta. Papah akan sewakan kamu hotel termahal di Jakarta, jadi kamu tinggal datang aja, Papah akan urus!" ucap Kang Baron.


"Benaran Pah? makasih ya Pah!" ucap Hasan.


"Nah, gitu dong! jangan pelit-pelit sama Anak!" ucap Marjanah.


Anak saya dikasih apa sama perempuan itu! sampai tergila-gila dan menyusul ke Jakarta. Hasan-Hasan, padahal banyak cewek-cewek cantik di kampung ini.


****


Mau kemana Nena?


Tok-tok-tok


"Siapa?" tanya Hafisa.


"Nena Kak! tolong buka pintunya!" minta Nena.


Ngapain Nena ke kamar Hafisa?


"Nena. Kamu ngapain ke sini? kan sudah malam, kamu belum tidur sayang?" tanya Hafisa.


"Boleh Nena tidur di sini Kak? Nena gak bisa tidur, Nena mau tidur sama Kakak!" minta Nena memeluk Hafisa.


"Kenapa gak bisa tidur sayang? nanti, kalau kamu tidur di sini, Mamih kamu marah besar sama Kakak!" ucap Hafisa.


"Nena takut Kak, habis mimpi buruk. Nena gak bisa tidur! please... izinkan Nena tidur di sini sama Kakak! nanti Nena yang tanggung jawab sama Mamih." Ucap Nena merengek.


"Hmmm... ya udah. Kamu boleh tidur sama Kakak! tapi, ingat sebelum tidur kamu baca doa dulunya sayang!" mintaku sambil tersenyum dan membelai rambut Nena.


Melihat Nena, aku jadi ingat Awalilah. Ya Allah, semoga Awalilah baik-baik aja.

__ADS_1


"Kenapa Kak Fisa nangis? aku salah ya Kak?" tanya Nena.


"Enggak sayang. Kakak hanya ingat Adik Kakak aja, kalau lihat kamu!" ucapku sambil berlinang air mata.


"Maaf ya Kak!" ucap Nena.


"Gak apa-apa sayang, justru lihat kamu, rindu Kakak ke Adik Kakak terobati!" ucapku tersenyum dan menghapus air mata.


"Kakak jangan sedih lagi yah! Kakak boleh kok, anggap aku Adik Kakak aja." Ucap Nena menghapus air mataku.


Nena benar-benar dekat dengan Hafisa, Hafisa beda dengan Sheila. Hafisa sayang sama Anak kecil, keibuan, ternyata Hafisa punya Adik juga.


Pintu kamarku lupa terkunci. Pak Setiawan jalan ke arah kamar Hafisa. Untung ada Iqbal langsung menegor Pak Setiawan.


Ngapain lagi, Papih ke arah kamar Hafisa? gak bisa dibiarin.


"Papih!" sapa Iqbal.


"Iqbal!" panggil Pak Setiawan.


"Ngapain Pih?" tanya Iqbal.


"Papih mau ke kamar Nena, mau lihat Nena. Kamu belum tidur?" tanya Pak Setiawan.


"Kamar Nena sebelah kanan, bukan kiri! gak usah bohong dan macam-macam deh Pih!" ucap Iqbal.


"Kamu selalu berprasangka buruk sama Papih. Tolonglah, jangan terlalu mantau Papih!" ucap Pak Setiawan.


Kaya ada ribut-ribut di depan kamarku? siapa yah? Nena sudah tidur. Seperti suara Mas Iqbal dan Pak Setiawan. Astaghfirullah, pintu lupa aku kunci lagi.


"Buktinya ada! gak usah ngeles lagi!" ucap Iqbal.


"Maaf Pak, Mas, ada apa ya? kok ribut-ribut depan kamar saya?" tanyaku penasaran.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰


- TA'ARUF CINTA


- CINTA GADIS BISU


- CINTA COWOK DINGIN


- CINTA DAN DETIK TERAKHIR

__ADS_1


- DIARY ASMARA


__ADS_2