Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 34


__ADS_3

Destian mondar-mandir menanyakan satu-satu dengan orang lain dengan membawa foto Awalilah. Destian tidak pernah berhenti mencari Awalilah sampai ketemu.


"Permisi Pak! Bapak pernah lihat Anak ini?" tanya Destian.


"Tidak pernah Pak!" ucap si Bapak-bapak.


"Kalau ketemu, Bapak bisa hubungin nomor saya yah! ini kartu nama saya!" ucap Destian.


"Siap-siap Pak!" ucap si Bapak-bapak.


"Makasih Pak!" ucap Destian.


Beri saya petunjuk ya Allah.


****


Di kediaman rumah tukang bubur Ayam. Susi dimarahin oleh Bapak dan Ibunya. Susi baru mengaku kalau dirinya menyiksanya.


"JADI SELAMA INI LELAH KAMU SIKSA? YA AMPUN, SUSI. BAPAK BENAR-BENAR GAK MENYANGKA PUNYA ANAK YANG KEJAM!" ucap si Bapak tukang Bubur.


"Maafin Susi Pak, maafin! Susi gak mau, sayang Bapak dan Ibu terbagi buat orang lain!" ucap Susi.


"Rasa sayang Bapak dan Ibu gak akan pernah berubah ke kamu Susi, Ibu gak pernah didik kamu buat jahat sama orang! Ibu benar-benar kecewa banget sama kamu!" ucap Ibu si tukang bubur.


"Maafin Susi Pak, Bu!" ucap Susi.


"Bapak bingung harus cari kemana Anak itu! Anak itu kesasar Susi! sedangkan Bapak sudah janji bakal antar dia!" ucap Bapak si tukang bubur.


"Hiks-hiks-hiks... maafin Susi Pak!" ucap Susi menangis.


****


Awalilah berjalan tertatih-tatih. Awalilah hanya punya punya uang tiga puluh ribu dari Bapak si tukang bubur. Karena Awalilah rajin, Awalilah diberi uang.


Aku gak boleh nangis! aku harus kuat. Aku masih punya alamat rumahku, hah? ada mobil bak, aku minta tolong aja deh! siapa tahu bantu dan mau antar.


"Permisi Pak!" sapa Awalilah.


"Iya dek! ada apa?" tanya si Bapak pemilik mobil bak.


"Bapak tahu alamat ini?" tanya Awalilah.


"Wah, ini mah jauh! di Garut. Kenapa emang?" tanya si Bapak.


"Pak, saya boleh minta tolong gak! saya hanyut terbawa arus sungai. Sampai kebawa ke sini, Bapak bisa antar saya pulang gak Pak!" minta Awalilah.


"Kamu mau bayar berapa?" tanya si Bapak.


"Saya hanya punya uang tiga puluh ribu Pak! Kira-kira mau gak?" tanya Lilah.


"Waduh, tiga puluh ribu? buat apa Neng? gak bisa! kalau mau sewa itu, dua ratus ribu! belum bensin." Ucap si Bapak.


"Tolong saya Pak! saya ingin pulang. Tolong!" minta dan Awalilah memohon.

__ADS_1


"Gak bisa! kalau bayar dua ratus ribu saya mau!" ucap si Bapak.


"Hiks-hiks-hiks.... tolong Pak! tolong saya!" Awalilah menangis.


"Sana pergi! saya gak bisa!" ucap si Bapak.


"Aya naon ieu?" tanya teman Bapak yang punya mobil bak.


"Ieu budak, kasasar Tina Garut aslina. Hanyut kabawa cai sungai cuenah! rek anterkeun ka Garut mayar tilu rebu." Ucap si Bapak satunya.


"Kamu teh nyasar Neng?" tanya Bapak satunya yang baik hati.


"Hiks-hiks-hiks... iya Pak, saya kebawa arus. Saya ingin pulang ke Garut." Ucap Awalilah.


"Tong ceurik-tong ceurik! alamatna mana tingali Bapak!" minta Bapak satunya meminta alamat Awalilah.


"Ini Pak!" ucap Awalilah.


"Oh, ieu mah tahu Bapak mah. Rek nganter sayur kadieu. Bareng nya Sami Bapak!" ajak Bapak satunya.


"Benaran Pak?" tanya Awalilah senang.


"Nya bener!" ucap Bapak satunya.


"Alhamdulillah, nuhun Pak! nuhun! Lilah ada uang tiga puluh ribu. Bisa bayar segini?" tanya Awalilah.


"Ulah atuh! jieun jajan kamu wae! Bapak ikhlas nganter!" ucap Bapak yang baik hati.


"Serius Pak hoyong nganter?" tanya Bapak satunya.


"Serius atuh! kasihan. Maneh teu hoyong bantu. Berkah atuh ti tulung budak ieu mah!" ucap si Bapak yang baik hati.


Alhamdulillah, aku dipertemukan sama orang baik seperti Bapak ini. Semoga, Bapak ini diberi kelancaran rezeki.


****


Di kediaman rumah Kang Baron. Polisi datang dan menangkap Kang Baron, karena Kang Baron terlibat dalam kebakaran rumah Abah Jajat. Polisi berhasil menangkap salah-satu Anak buah dari Kang Baron. Anak buah tersebut buka mulut dan membongkar semuanya. Istrinya Kang Baron histeris suaminya dibawa oleh polisi.


"Selamat sore! benar ini rumah Pak Baron?" tanya Pak Polisi.


"Benar Pak, ada apa yah?" tanya istri Kang Baron.


"Kami harus menangkap suami Ibu! karena suami Ibu dalang dari semua kebakaran rumah Pak Jajat!" ucap Pak polisi.


"Ada apa Bu?" tanya Kang Baron.


"Tangkap dia!" ucap Pak Polisi.


"Ada apa ini Pak? kenapa saya ditangkap?" tanya Kang Baron.


"Nanti, anda jelaskan di kantor polisi!" ucap Pak polisi.


"Jangan bawa suami saya Pak! jangan! Papah! hiks-hiks-hiks..... Papah!" teriak istrinya Kang Baron.

__ADS_1


Istrinya Kang Baron langsung menghubungi Anaknya di Jakarta. Hasan kaget menangis dan dendam pada Hafisa.


"Assalamu'alaikum, Hasan! hiks-hiks-hiks....." ucap Marjanah menangis.


"Mamah! Mamah kenapa menangis? ada apa Mah? ada apa?" tanya Hasan.


"Hasan! sekarang kamu pulang Nak! hiks-hiks-hiks... Papah kamu dipenjara sayang! semua gara-gara Jajat dan Hafisa! cewek yang kamu idamkan itu!" ucap Marjanah.


"APA? oke Mah, nanti Hasan segera pulang! Mamah yang tenang yah!" ucap Hasan.


Aaaaaaa...... kenapa Bokap gue dipenjara? Hafisa! gue dendam sama lo Hafisa! hidup lo gak akan tenang. Pokoknya, kalau gue gak bisa milikin lo, orang lain pun gak bisa.


****


Di kediaman Vila Destian. Bu Aminah dan Abah Jajat masih khawatir dengan Awalilah. Abah Jajat meminta pembantu di Vila menghubungi Hafisa.


"Ibu, belum tenang Bah. Sebelum Awalilah ketemu. Kita enak di sini semua dilayanin! Anak kita gak tahu, makan apa enggaknya." Ucap Bu Aminah.


"Sama Bu, Bapak juga. Semua ini, gara-gara Kang Baron, apa mungkin dia yang bakar rumah kita?" tanya Abah Jajat.


"Bapak dan Ibu, makanan sudah siap! silakan ke meja makan dulu!" minta pelayan Vila.


"Makasih Neng, nanti saya sama istri saya makan. Saya boleh minta tolong?" tanya dan minta Abah Jajat.


"Minta apa Pak? biar saya bantu!" ucap pelayan Vila.


"Saya bisa pinjam telepon? saya mau menghubungi Anak saya Hafisa!" minta Abah Jajat.


"Bisa. Tunggu sebentar ya Pak!" ucap Pelayan Vila.


"Iya, baik. Nuhun Neng!" ucap Abah Jajat dan Bu Aminah.


Setelah beberapa lama, Pelayan Vila mengajak Bu Aminah dan Abah Jajat untuk ke ruangan tv. Karena telepon rumah ada di ruang tv.


"Silakan, Bapak dan Ibu! kalau butuh apa-apa, bisa panggil saya!" ucap Pelayan Vila.


"Nuhun Neng!" ucap Abah Jajat.


"Sore, ada yang bisa dibantu? ini dengan siapa?" tanya Yanah mengangkat telepon rumah.


"Soren, Bu! saya Abah Jajat, Bapaknya Hafisa. Bisa ngomong sama Anak saya Hafisa?" tanya dan minta Abah Jajat.


"Oh, Abah Jajat. Bapaknya Hafisa? sebentar ya Pak, saya panggil dulu!" ucap Yanah memanggil Hafisa.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰


TA'ARUF CINTA


__ADS_1


__ADS_2