
"Hafisa, gak ada yang membedakan darajat manusia sama cinta. Kalau kamu cinta perjuangin! kalau emang pantas diperjuangkan. Allah menciptakan kita sama, jadi gak ada yang beda." Ucap Destian.
"Iya Mas, tapi mana mungkin orang tua Iqbal mau menerima aku? rasanya, gak mungkin." Ucapku.
"Kalau Iqbal bisa perjuangin kamu, kenapa enggak? tergantung Iqbal." Ucap Destian.
"Makasih ya Mas, sudah kasih saran sama saya. Tapi untuk balik ke rumah Mas Iqbal aku gak mungkin. Biarkan aku bekerja di sini aja Mas, agar aku bisa bantu Abah dan Ibu dikampung." Ucapku.
"Kampung kamu di mana?" tanya Destian.
"Garut Mas. Aku harus benar-benar bekerja untuk membantu mereka!" ucapku.
"Iya Hafisa. Aku juga gak mau kamu sampai diusir lagi sama Mamahnya Iqbal. Biar kamu di sini, aku gak akan larang kamu!" ucap Destian.
"Makasih ya Mas." Ucapku.
"Kamu yang sabar yah, menghadapi semua! selagi aku bisa bantu kamu, aku pasti bantu." Ucap Destian.
"Makasih ya Mas. Oh iya, aku tadi masak. Mas mau coba masakan aku gak? Yanah nyuruh aku masak." Ucapku.
"Boleh." Ucap Destian tersenyum.
Gak lama Mamahnya Destian menyusul ke taman. Mamahnya Destian tersenyum melihat Destian dan Hafisa bisa dekat.
"Hai, pada ngapain di sini?" tanya Mamahnya Destian.
"Lagi ngobrol aja Mah." Ucap Destian.
"Maaf Bu, saya jadi keasyikan ngobrol. Semua pekerjaan sudah selesai kok Bu." Ucapku.
"Oh iya? gak apa-apa Hafisa. Emang saya nyuruh kamu kerja terus. Pasti kan ada istirahatnya." Ucap Mamahnya Destian tersenyum.
"Mah, Hafisa katanya hari ini yang masak. Kita cobain masakan Hafisa Yuk!" ajak Destian tersenyum.
"Oh yah? wow, Mamah jadi penasaran nih. Ayo!" ajak Mamahnya Destian tersenyum.
"Tapi saya takut gak enak Bu." Ucapku gak percaya diri.
"Kita coba dulu yah!" minta Mamahnya Destian.
****
Destian, Mamahnya, dan Hafisa sampai di meja makan. Hafisa dan Yanah menyiapkan piring di meja makan.
"Bu, ini semua masakan Hafisa lho! pokoknya, enak banget Bu." Ucap Yanah.
"Emang kamu udah coba?" tanya Mamahnya Destian.
"Udah Bu, tadi saya udah makan duluan. Ha-ha-ha..." Ucap Yanah.
__ADS_1
"Oh gitu? Hafisa juga udah?" tanya Mamahnya Destian.
"Hafisa belum Bu." Ucap Yanah.
"Kalau gitu, Hafisa makan bareng kita! Yanah mau makan lagi gak?" ucap Mamahnya Destian.
"Yanah mah, udah kenyang Bu. Hafisa aja nih! sana kamu makan!" ucap Yanah mencolek Hafisa.
"Bu, sebaiknya saya makan di dapur aja!" ucapku.
"Kenapa harus di dapur? makan sini bareng kita yah!" minta Mamahnya Destian.
"Sini Fisa! samping aku." Ajak Destian tersenyum.
Mereka semua menikmati masakan Hafisa. Ternyata kata Bu Ratna benar-benar enak dan lezat masakan Hafisa. Destian pun sampai nambah dua kali.
"Hmmm... benar-benar pintar masak kamu yah! enak banget ini cantik." Ucap Mamahnya Destian sambil mengunyah makanan.
"Iya Mah, enak banget. Pasti aku nambah nih!" ucap Destian tersenyum.
"Masa sih Bu, Mas. Saya jadi malu." Ucapku.
Masakan Hafisa benar-benar enak. Andaikan dia mau jadi istriku nanti, aku pasti bakalan jadi orang yang sangat bahagia. Tapi, hatinya Hafisa ada Iqbal.
"Hmmm... andaikan kamu bisa jadi mantu Tante, Destian bisa-bisa gemuk." Ucap Mamahnya Destian tersenyum.
"Mamah, apaan sih." Ucap Destian.
"Iya Bu, gak apa-apa." Ucapku tersenyum.
Saya berharap, Hafisa sama Destian bisa bersatu. Karena Hafisa menantu idaman saya. Ya Allah, berikan hati mereka berdua bisa bersatu dalam pasangan suami dan istri.
****
Di kediaman rumah Iqbal. Iqbal benar-benar marah pada Mamihnya. Iqbal meminta Mamihnya agar menerima Hafisa kembali. Di rumah Iqbal ada Sheila yang sedang menunggu Iqbal.
"Iqbal, kamu udah pulang? Sheila sejak tadi menunggu kamu!" ucap Bu Fransiska.
"Mau ngapain ke sini? mau cuci otak Nyokap gue? Mih, perempuan ini yang buat Iqbal sakit hati!" ucap Iqbal.
"Aku minta maaf sama kamu sayang, kasih kesempatan aku satu kali lagi!" minta Sheila.
"Iqbal! beri kesempatan Sheila satu kali lagi dong! dia udah jauh-jauh datang ke sini lho!" ucap Bu Fransiska.
"Dalam sejarah aku, gak ada kesempatan lagi! sekarang mendingan Mamih usir dia dari rumah ini! Iqbal muak!" ucap Iqbal kesal. Iqbal langsung berjalan dan ditarik tangannya oleh Bu Fransiska.
"Iqbal! apa kamu sudah diracunin sama pembantu itu? hah? sampai kamu seperti ini!" ucap Bu Fransiska.
"Semuanya gak ada hubungan sama Hafisa Mih! emang aja aku udah jijik sama orang yang tukang selingkuh! Aku mau tanya sama Mamih, Mamih gak kasihan melihat Nena nangis? hah? Mamih gak kasihan?" tanya Iqbal.
__ADS_1
"Buat apa kasihan? biarin Nena sadar! lagian di sini sudah ada pembantu baru. Kalau mau, Nena dekatin aja pembantu baru yang Papih pilihin." Ucap Bu Fransiska.
"Apa Mih? jadi yang cari pembantu baru, Papih? Mamih sama Papih benar-benar gak peduli sama Anak sendiri! egois!" ucap Iqbal.
"Iqbal...." teriak Bu Fransiska.
"Tante, sudah Tan! Sebaiknya, Sheila pulang dulu. Nanti Sheila kembali lagi." Ucap Sheila.
"Maafin semua kondisi ini ya Shel! Iqbal emang keras kepala." Ucap Bu Fransiska.
****
Iqbal ke kamar Nena. Nena langsung bertanya pada Iqbal tentang Hafisa. Nena kembali menangis dan rindu pada Hafisa.
"Adik Kakak lagi ngapain? belajar yah?" tanya Iqbal.
"Kak Iqbal. Kak, gimana Kak Hafisa? udah ketemu?" tanya Nena.
Kalau aku jujur sudah ketemu, dan bilang kalau Hafisa gak mau kembali ke sini Nena pasti sedih dan gak mau makan lagi. Aku harus gimana?
"Kak! kok bengong ih... gimana?" tanya Nena.
"Belum ketemu sayang. Sabar yah! Jakarta luas, gak mungkin segampang itu ketemu." Ucap Iqbal berbohong.
"Yah... kenapa Kakak gak lapor polisi aja! biar cepat ketemu." Minta Nena.
"Nena, kalau Kakak lapor polisi mau Mamih masuk penjara? Mamih kan udah mengusir Kak Hafisa, nanti kalau Mamih dipenjara gimana?" tanya Iqbal membujuk dan membohongi Nena agar mengerti.
"Hiks-hiks-hiks... Nena kangen Kak! Nena kangen. Kalau ada Kak Hafisa, Nena selalu bagus nilai agama dan Kak Hafisa selalu ajarin Nena. Tapi, sekarang Kak Hafisa gak ada. Hiks-hiks-hiks... bawa Kak Hafisa ke sini Kak! bawa!" minta Nena.
"Iya sayang, iya. Nena yang sabar yah! Kakak akan berusaha nyari Kak Hafisa." Ucap Iqbal.
Hafisa, kenapa kamu gak mau balik ke rumah ini? Nena kangen sama kamu. Padahal kalau kamu balik, aku bakal bujuk Mamih. Aku merasa kehilangan kamu Hafisa. Aku gak boleh biarin, Destian dekat sama Hafisa.
****
Di kediaman rumah Destian. Aku memikirkan Nena dan Iqbal. Iqbal menyatakan cinta dan peluk aku. Aku merasa bersalah dan terbayang-bayang Iqbal terus. Aku sempat mengambil foto Iqbal waktu jatuh di lantai. Aku pandangi fotonya sambil meneteskan air mata.
Iqbal Setiawan
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
Dinginnya Cinta Bima
__ADS_1