Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 38


__ADS_3

"Pah! kenapa jadi seperti ini?" tanya Hasan.


"Semua gara-gara kamu Hasan. Kalau saja kamu gak terobsesi dengan Anak si Jahat itu, Papah gak akan dipenjara gini!" ucap Kang Baron.


"Hiks-hiks-hiks.... maafin Hasan Pah! maafin! semua salah Hasan. Hasan sangat mencintai Hafisa Pah. Tapi, Hasan akan berusaha untuk membebaskan Papah dari sini!" ucap Hasan.


"Semua sudah terjadi. Sekarang, yang harus kamu lakukan adalah gimana caranya agar Papah bisa keluar dari sini!" minta Kang Baron.


"Iya Pah, Hasan akan cari pengacara terkenal buat bebasin Papah." Ucap Hasan.


"Siap Pah! Papah yang sabar yah!" minta Hasan.


Semua gara-gara kamu Hafisa, kalau saja kamu gak nolak aku, kita udah hidup bersama. Kenapa kamu malah menghindar dari saya kenapa? saya akan balas semua rasa sakit saya dan keluarga ke kamu. Lihat aja.


"Mamah kamu gimana? dia baik-baik aja kan?" tanya Kang Baron.


"Mamah baik-baik aja Pah, tapi agak stres mikirin Papah di penjara. Tapi, Papah gak usah khawatir! Hasan akan balas dendam Hasan ke Hafisa dan keluarganya." Ucap Hasan.


"Kamu hati-hati yah! jangan sampai ceroboh!" minta Kang Baron.


****


Di perjalanan Hafisa sangat senang karena Awalilah kembali. Destian melihat ada kebahagiaan di wajah Hafisa. Dan Destian harus berterus terang ke Hafisa agar tidak ada yang ditutup-tutupi lagi masalah Iqbal hari ini prewedding dengan Sheila.


"Hafisa!" panggil Destian sambil menyetir mobil.


"Iya, kenapa?" tanya Hafisa.


"Kayanya kamu lagi senang yah?" tanya Destian.


"Iya Mas, karena Awalilah sudah kembali. Kangen saya tuh rasanya." Ucap Hafisa.


"Oh iya, yang pertama aku mau ngasih tahu. Kalau yang bakar rumah kamu itu, seorang rentenir yang Bapak kamu punya hutang." Ucap Destian.


"Apa? jadi Kang Baron?" tanya Hafisa.


"Iya. Sekarang dia sudah di penjara." Ucap Destian.


"Alhamdulillah, saya gak menyangka dia tega. Padahal hutang Abah sudah lunas. Karena satu, keinginan Anaknya belum terpenuhi." Ucap Hafisa.


"Emang keinginan Anaknya apa?" tanya Destian.


"Anaknya terobsesi sama aku. Sampai nyusul ke Jakarta. Mangkanya saya takut banget kalau sampai ketemu Hasan." Ucap Hafisa.


"Kamu tenang aja sekarang yah! kan ada aku sekarang. Aku akan terus menjaga kamu Hafisa." Ucap Destian.


"Makasih ya Mas." Ucap Hafisa.

__ADS_1


"Oh, iya. Ada satu lagi yang harus aku sampaikan ke kamu. Tapi, kamu janji dulu sama aku!" minta Destian.


"Apa Mas? ngomong aja! kenapa harus janji?" ucap dan tanya Hafisa.


"Sebenarnya, hari ini Iqbal dan Sheila melakukan prewedding Fisa." Ucap Destian.


"Terus ngapain Mas Destian bilang ke saya? saya udah gak mau dengar lagi Mas tentang Mas Iqbal." Ucap Hafisa.


"Maafin aku Hafisa, aku jujur ini Karena aku gak mau tutup-tutupin dari kamu! karena aku mau melamar kamu, jadi aku gak mau ada kebohongan. Jujur, Iqbal kirim foto praweding ke hp aku." Ucap Destian.


"Apa maksudnya coba, ngirim ke kamu. Sengaja biar saya cemburu. Kemarin mohon-mohon gak cinta sama Sheila. Tapi, sekarang malah bangga sama foto preweddingnya." Ucap Hafisa.


"Iya. Aku juga sama berpikir seperti kamu. Buat apa dia kirim-kirim foto dia ke aku. Kemarin nangis-nangis ingin banget dapetin kamu." Ucap Destian.


"Biarin aja lah Mas. Mungkin, dia sudah mau mulai menerima dan bertanggung jawab atas perbuatan dia. Saya ikhlas kok." Ucap Hafisa.


"Kamu masih cinta sama dia yah?" tanya Destian.


"Mas! udah yah, jangan bahas Mas Iqbal lagi!" ucap Hafisa.


"Oke-oke! maaf ya Hafisa." Ucap Destian.


Setelah dua jam perjalanan, akhirnya Hafisa dan Destian sampai di Garut. Hafisa dan Destian mengucapkan salam di rumah Euis.


"Assalamu'alaikum." Salam Destian dan Hafisa.


"Sama Awalilah, Teteh juga kangen sama kamu! kamu baik-baik aja kan? kenapa bisa sampai nyasar dan hilang sayang?" tanya Hafisa.


"Ceritanya panjang Teh, nanti Awalilah ceritain." Ucap Awalilah.


"Hafisa! ya Allah, aku kangen banget sama kamu! kamu baik-baik aja kan?" tanya Euis.


"Alhamdulillah, aku baik Euis. Kamu sendiri gimana?" tanya Hafisa.


Saat itu Ibunya Euis muncul dan menyindir Hafisa dan Awalilah.


"Aku juga baik. Eh, sama si Aa-nya lagi. He-he-he.... duduk dulu, aku siapin minum!" ucap Euis.


"Mau ngapain Euis? gula gak ada! lagi mahal, kalian cepat pulang deh!" ucap Bu Enok.


"Bu, ulah kitu atuh! mereka teh Tamu." Ucap Euis.


"Tamu kalau buat nyusahkeun maneh buat naon? hah?" tanya Bu Enok.


"Euis-Euis! udah, gak usah repot-repot segala! saya pamit pulang aja yah!" ucap Hafisa.


"Bagus atuh lamun nyadar mah!" ucap Bu Enok.

__ADS_1


"Ibu, saya peringatin sama Ibu yah! Hafisa calon istri saya! Kalau Ibu hina dia, berarti Ibu hina saya juga! gula berapa biar saya bayar! oh, ini! ini uang selama Awalilah di sini! gak sampai besok kan. Ayo Hafisa, Awalilah!" ajak Destian kesal.


"Ikh... Ibu mah kitu! jahat pisan ih.... Hafisa minum dulu atuh nya!" minta Euis.


"Euis, sebaiknya aku pulang saja. Ibu dan Abah sudah menunggu lama. Mereka juga ingin bertemu Awalilah." Ucap Hafisa.


"Hafisa, Kak Destian, Awalilah, maafin Ibu yah! Ibu emang gitu sifatnya, jangan diambil hati!" minta Euis.


"Iya Euis gak apa-apa. Kita pamit ya Euis!" ucap Hafisa.


"Ya udah, kamu hati-hati! jangan marah sama aku yah, kamu juga ulah lupa sama aku!" minta Euis.


"Euis, kamu itu sahabat saya yang paling baik. Saya yang makasih banyak, kamu udah banyak tolongin saya. Saya gak akan lupain kamu dan kebaikan kamu!" ucap Hafisa.


"Alhamdulillah, kalau gitu! kalian hati-hati." Ucap Euis.


"Awalilah, kamu pamit dulu sama Teh Euis!" minta Hafisa.


"Teh Euis, makasih udah tolongin Awalilah yah. Lelah pamit!" ucap Awalilah.


"Sama-sama Lilah, jaga diri baik-baik! jangan sampai kamu hilang lagi yah!" minta Euis.


****


Hafisa, Awalilah, dan Destian masuk mobil. Dari kejauhan ada suruhan Hasan yang melihat Hafisa, Adiknya dan Destian. Hasan menyuruh preman suruhan dia untuk memukuli Hafisa, Adiknya dan Destian. Hasan menyuruh untuk menyeret Hafisa.


"Kalian bunuh orang yang bersama Hafisa! satu pesan saya, jangan sampai kalian salah target! jangan sampai kalian bunuh Hafisa! tugas kalian bawa Hafisa ke hadapan saya! mengerti kalian?" tanya Hasan di telepon.


"Mengerti Bos!" ucap preman.


"Bagus lakukan!" minta Hasan.


"Awalilah, Teteh belum kenalin kamu yah! ini Om Destian, majikan teteh di Jakarta. Om ini banyak bantu Teteh." Ucap Hafisa tersenyum.


"Oh, makasih ya Om! Om udah bantu Teh Hafisa." Ucap Awalilah.


"Sama-sama sayang. Kita temuin Abah sama Ibu kamu yah! karena mereka tinggal di rumah Om!" ucap Destian.


"Mas! sepertinya ada yang mengikuti kita!" ucap Hafisa dan Awalilah panik.


Bersambung.....


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰


DIARY ASMARA

__ADS_1



__ADS_2