Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 13


__ADS_3

Kang Baron diperintah Istrinya Marjan ah untuk menghubungi Hasan. Marjanah khawatir dengan Anak semata wayangnya.


"Pah!" panggil Marjanah.


"Iya Mah. Kenapa lagi?" tanya Kang Baron.


"Gimana Anak kita di Jakarta Pah? sudah sampai atau belum? tolong Papah hubungi Hasan!" minta Marjanah.


"Nanti juga Hasan hubungin kita Mah, tunggu aja!" minta Kang Baron.


"Mamah gak mau tahu! Papah hubungin Hasan sekarang!" minta Marjanah.


"Iya, iya Mah." Ucap Kang Baron.


"Hallo, Hasan! gimana kabar kamu Nak? apa sudah sampai Jakarta? ini Mamah kamu khawatir lho." Ucap Kang Baron di telepon.


"Hallo, Pah. Hasan sudah sampai, mana? Hasan mau bicara sama Mamah!" minta Hasan.


"Hallo, Hasan! kamu sudah sampai Nak? kamu baik-baik aja kan?" tanya Marjanah.


"Hasan baik Mah. Mamah gak usah khawatir, Hasan baik-baik aja di sini." Ucap Hasan.


"Syukur Nak, Hasan, kalau kamu tidak ketemu Hafisa, kamu pulang aja ya Nak! masih banyak cewek-cewek cantik di sini!" minta Marjanah.


"Hasan gak mau Mah! Hasan gak akan pulang, sebelum menemukan Hafisa! Hasan gak mau gadis lain, Hasan hanya ingin Hafisa!" ucap Hasan.


"Iya, iya Nak. Kalau gitu, kamu jaga diri baik-baik yah! Mamah doakan supaya Hafisa ketemu." Ucap Marjanah.


"Pasti Mah! pasti!" ucap Hasan.


****


Di kampus, Iqbal menunggu Destian. Akhirnya, Destian sampai kampus dengan wajah ceria beda dengan Iqbal yang murung dan kesal.


"Hai, Bro! sorry lama!" ucap Destian.


"Mangkanya, bangun pagi! siang mulu sih, lo!" ucap Iqbal.


"Kenapa sih? ada apa lagi? masalah Sheila?" tanya Destian.


"Bukan!" ucap Iqbal.


"Terus masalah apa? gue harus bantu apa?" tanya Destian.


"Jadi gini, gue punya pembantu, pembantu gue dipecat sama Nyokap gue. Pembantu itu udah dekat sama Adik gue Nena, jadi Nena minta gue buat cari pembantu itu!" ucap Iqbal.


"Pembantu? kok Adik lo bisa dekat banget? Adik lo apa lo nih?" tanya Destian.


"Adik gue! dia itu emang cewek idaman Des, baik dan soleha. Gue juga mulai ada rasa sama dia!" ucap Iqbal.


"Ada rasa? emang udah berapa lama lo kenal sama dia?" tanya Destian.

__ADS_1


"Empat harian. Pas gue putus sama Sheila, bantu gue buat nyari cewek itu pulang kampus yah!" minta Iqbal.


"Baru empat hari udah suka. Pasti istimewah yah? namanya siapa?" tanya Destian.


"Justru itu! dia bisa ngambil hati gue Des. Gue tertarik sama kepribadian dirinya. Namanya nanti aja, kalau ketemu baru gue kenalin!" ucap Iqbal.


"Pelit amat dah! cuma nanya doang. Kagak gue ambil!" ucap Destian.


"Kalau lo lihat atau kenal, pasti suka. Jadi nanti aja soal nama yah!" ucap Iqbal.


"Oke, Oke! gue juga udah ada cewek yang gue suka. Baru kenal sehari sih. Tapi gue udah ada rasa simpatik sama dia! kasihan, gue temuin dia malam-malam. Hampir diperkosa pemabuk." Ucap Destian.


"Terus gimana keadaannya sekarang? pahlawan Cuy. Ha-ha-ha..." ucap Iqbal.


"Alhamdulillah, baik. Dia sekarang kerja di rumah gue." Ucap Destian.


"Lah, emang gak ada keluarganya?" tanya Iqbal.


"Gak ada kata Nyokap sih. Gue juga belum tahu masalahnya apa, yang gue dengar dia dipecat dari majikan. Yang tahu jelas Nyokap gue." Ucap Destian.


Jangan-jangan yang dimaksud Destian Hafisa lagi. Pas dipecat itu sama kaya Hafisa.


"Kenapa lo bengong?" tanya Destian.


"Kalau boleh tahu, siapa namanya?" tanya Iqbal.


"Wes, kepo! lo aja pelit gak mau kasih tahu! nanti kalau lo ngasih tahu, atau gue udah jadian, baru gue kasih tahu." Ucap Destian.


"Iya dong! emang lo aja yang bisa rahasia-rahasiaan. Gue juga bisa!" ucap Destian.


"Oke fine." Ucap Iqbal.


"Woy, pada di sini? ngomongin apa sih?" tanya Wawan.


"Kemana aja lo? gue teleponin gak aktif. Sok sibuk!" ucap Iqbal.


"Sorry... hp gue chas. Gue tidur! ada apa sih?" tanya Wawan.


"Tanya sama Bos kita, ada apa." Ucap Destian.


"Kenapa Bro?" tanya Wawan.


"Pulang kampus, ikut gue! bantu gue cari pembantu gue!" minta Iqbal.


"Apa pembantu? ha-ha-ha... ngapain pembantu dicari? gue banyak yang mau kerja noh!" ucap Wawan.


"Bukan nyari pembantu dongo! tapi cari orang!" ucap Iqbal.


"Oke, oke! gue ikut." Ucap Wawan.


Gak lama datang Sheila menghampiri Iqbal. Sheila menangis dan meminta maaf pada Iqbal. Sheila ingin kembali lagi pada Iqbal.

__ADS_1


"Iqbal!" panggil Sheila.


"Ngapain lagi sih, mau apa lagi?" tanya Iqbal.


"Gue mau ngomong! tapi berdua!" minta Sheila.


"Ngomong aja di sini! gue gak ada waktu!" ucap Iqbal.


"Kalau gitu, gue sama Wawan masuk kelas duluan yah!" ucap Destian.


"Oke!" ucap Iqbal.


"Bal, aku mau minta maaf! kita balikan lagi yah! aku khilaf! kasih kesempatan aku satu kali lagi!" ucap Sheila.


"Hah, enak aja lo ngomong! lo gak tahu perasaan gue hancur! lo gak tahu siang dan malam mikirin, nangisin lo! setelah gue udah sembuh luka gue, lo enak ngomong minta balikan lagi. Hati lo di mana?" tanya Iqbal.


"Aku tahu! aku salah. Aku gak akan khianatin kamu lagi Bal, aku disakitin sama cowok itu! hiks-hiks-hiks..." ucap Sheila.


"Gak usah nangis! gue gak butuh air mata buaya lo! pantang bagi gue untuk balikan sama mantan! sekarang lo rasakan sendiri apa yang lo rasakan! ludah, yang udah lo buang gak mungkin kan, lo telan lagi? sekarang lo minggir! gue gak ada waktu!" ucap Iqbal mendorong Sheila.


"Iqbal! aku akan berubah! aku bakal jadi satu-satunya yang kamu mau! gue cinta sama kamu Iqbal!" minta Sheila menarik Iqbal.


"Cinta? ha-ha-ha... bulshit! lepas!" Iqbal langsung melepas tangannya dari tangan Sheila dengan kencang, dan meninggalkan Sheila.


Gimana ini? gue hamil Anak Yogi. Tapi Yogi gak mau tanggung jawab. Pokoknya gue harus desak Iqbal, kalau Anak di kandungan gue adalah Anak Iqbal. Gue akan bilang sama Tante Fransiska.


****


Di kediaman rumah Abah Jajat. Bu Aminah melamun memikirkan Hafisa, Bu Aminah ingin sekali mendengar kabar Hafisa di Jakarta.


"Bu, kenapa? kok melamun?" tanya Abah Jajat.


"Ibu sedang memikirkan Hafisa Bah. Gimana dia di Jakarta sekarang? Ibu ingin tahu kabar dia! apa dia lupa sama kita?" tanya Bu Aminah.


"Astaghfirullah, Ibu kok ngomong seperti itu? gak baik berprasangka buruk sama Anak kita sendiri!" ucap Abah Jajat.


"Habis, dia gak hubungin kita! sampai sekarang." Ucap Bu Aminah.


"Astaghfirullah, kan Hafisa waktu itu pernah bilang sama kita. Kalau handphonenya dijambret, Ibu ingat kan pesan dia? baru enam hari dia di Jakarta, pasti belum beli handphone baru, karena belum gajian. " Ucap Abah Jajat.


"Tapi kan, dia bisa telepon pakai handphone majikan sebentar. Masa iya gak boleh?" tanya Bu Aminah.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


DIARY ASMARA


__ADS_1


__ADS_2