Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 10


__ADS_3

"Gak apa-apa Hafisa, Iqbal salah paham sama saya. Niat saya mau ke kamar Nena, eh malah nyasar ke kamar kamu!" ucap Pak Setiawan.


"Nena sedang di kamar saya Pak." Ucapku.


"Hafisa! sebaiknya kamu cepat tidur, kunci kamar kamu yah! ada buaya jahat mau nerkam kamu!" ucap Iqbal menyindir Pak Setiawan.


"Maksud Mas Iqbal?" tanyaku penasaran.


"Ada apa ini ramai-ramai?" tanya Bu Fransiska datang.


"Gak ada apa-apa kok Mih, ini tadi Papih mau ke kamar Nena, eh Nena gak ada di kamarnya. Tahunya tidur sama Hafisa!" ucap Pak Setiawan gugup.


Aneh, tadi bilang sama saya mau ke kamar Nena tapi nyasar. Sekarang bilang ke Bu Fransiska sudah ke kamar Nena gak ada. Pak Setiawan ternyata banyak bohong.


"Iqbal kamu juga ngapain di sini?" tanya Bu Fransiska.


"Iqbal lagi lihat buaya malam yang kesasar Mih!" ucap Iqbal.


"Maksud kamu apa sih, Mamih gak ngerti! ngaco kalau ngomong!" ucap Bu Fransiska.


"Iqbal sepertinya sedang ngigau Mih, kita tidur aja yuk!" ajak Pak Setiawan.


"Tunggu! tadi saya dengar, Nena gak ada di kamar? dia tidur di mana?" tanya Bu Fransiska.


"Maaf Bu, tidur di kamar saya. Tadi saya sudah larang, tapi Nena tetap mau tidur sama saya!" ucapku gerogi takut Bu Fransiska marah.


"Kenapa Anak saya jadi mau tidur sama pembantu kaya kamu! harusnya, kamu konci gak usah bukain Nena! gimana sih! Nena! bangun!" Bu Fransiska masuk kamarku dan membangunkan Nena yang tidur lelap.


"Mih, biarin ajalah Nena tidur sama Hafisa! Mamih gak kasihan dia lelap gitu!" ucap Iqbal.


"Nena gak pantas tidur sama pembantu! Nena! bangun!" tarik Bu Fransiska.


"Hmmm.... Mamih! sakit tahu. Ada apa sih Mih?" Nena kaget saat ditarik Bu Fransiska dan Nena kesal.


"Bangun! ngapain kamu di sini? ini kamar pembantu. Gak pantas kamu tidur sama pembantu sayang, gak level!" ucap Bu Fransiska.


"Mih, tolong! Nena mau di sini sama Kak Hafisa. Mamih jangan hina Kak Hafisa gitu dong! emang salah, majikan sama pembantu dekat?" ucap Nena.


"Mamih gak mau tahu! sekarang pindah kamar!" perintah Bu Fransiska.


"Gak mau! hiks-hiks-hiks... aku mau sama Kak Hafisa!" minta Nena.


"Kamu sudah berani melawan Mamih yah! heh! kamu apakan Anak saya? jangan-jangan kamu racunin Anak saya yah? kamu cuma pembantu! jadi jangan pernah dekat-dekat dengan Anak-anak saya! ngerti!" bentak Bu Fransiska.


"Mamih! cukup! jangan hina Hafisa seperti ini! Mamih sudah keterlaluan menghina orang lain, Hafisa sama seperti kita Mih! sama-sama makan nasi gak ada yang membedakan drajat atau level!" ucap Iqbal membelaku.

__ADS_1


"Sudah Mas, gak usah bertengkar! saya emang gak pantas bergaul dengan Nena atau pun Mas Iqbal. Nena cantik, sekarang Nena ikutin kata Mamih Nena yah! gak baik, kalau Nena melawan orang tua, itu dosa sayang. Sekarang, Nena kembali ke kamar Nena yah, kita kan besok masih bisa main lagi!" ucapku dengan lembut.


"Aku kan kembali ke kamar Kak, tapi janji! jangan jauhin Nena yah, jangan sedih juga!" ucap Nena menghapus air mataku yang berlinang.


"Iya sayang, Kak Hafisa gak akan jauhin Nena kok! kan Kak Hafisa masih di sini." Ucap Hafisa.


"Besok kamu berhenti bekerja di rumah saya Hafisa! besok saya kasih uang gaji kamu selama beberapa hari!" ucap Bu Fransiska.


"Apa Bu? saya dipecat?" tanya Hafisa.


"Iya!" ucap Bu Fransiska.


"Mamih jahat! Mamih jahat! hiks-hiks-hiks...." Nena berlari ke kamarnya.


"Mamih! Mamih benar-benar tega yah! Iqbal kecewa sama Mamih!" ucap Iqbal menyusul ke kamar Nena.


Hiks-hiks-hiks.... ya Allah, aku dipecat. Padahal hanya masalah sepele aja. Aku harus cari kerja di mana lagi ya Allah.


"Kamu siap-siapin aja barang kamu! besok kamu harus sudah out dari sini!" ucap Bu Fransiska.


"Mamih, kenapa seperti ini sih? kasihan kan Hafisa!" ucap Pak Setiawan.


"Biarin aja Pih! pembantu itu sudah melunjak! Nena habis diracunin gara-gara dia!" ucap Bu Fransiska.


"Gampang Pih, nanti Mamih cari aja." Ucap Bu Fransiska.


****


Iqbal masuk ke kamar Nena. Iqbal berusaha mendekati Nena dan menghibur Nena. Iqbal juga merasa berat kalau Hafisa harus berhenti bekerja.


"Nena, Kakak masuk yah!" ucap Iqbal.


"Hiks-hiks-hiks...." Nena menangis.


"Nena, Adik Kakak tersayang, jangan nangis dong! Kakak jadi sedih." Ucap Iqbal.


"Kakak keluar aja! Nena gak akan mau sekolah, makan dan minum kalau Kak Hafisa dipecat!" bentak Nena.


"Kakak gak akan keluar, kalau kamu seperti ini! Kakak akan berusaha agar Kak Hafisa gak jadi dipecat." Ucap Iqbal.


"Benar Kak? tolong ya Kak! jangan biarkan Kak Hafisa pergi dari rumah ini, Nena udah nyaman sama Kak Hafisa!" ucap Nena.


"Iya sayang." Ucap Iqbal.


Kamu emang benar-benar keibuan Hafisa. Sampai-sampai Adikku gak rela kamu pergi. Hafisa kamu gak boleh pergi, kamu harus tetap di sini bersama aku dan Nena. Jujur, aku sudah mulai menyukai kamu.

__ADS_1


****


Bu Fransiska kembali ke kamarku, dia memberi uang dua juta untukku. Bu Fransiska berpesan Hafisa malam ini harus pergi dari rumahnya. Kalau besok Hafisa akan susah untuk pergi, karena Nena akan menangis dan menahannya.


Tok-tok-tok


"Siapa?" tanyaku.


"Saya! cepat buka pintunya!" minta Bu Fransiska.


"Ibu, ada apa lagi?" tanyaku.


"Sudah dibereskan baju kamu?" tanya Bu Fransiska.


"Sudah Bu!" ucapku.


"Ini uang dari saya! saya minta sama kamu, malam ini kamu pergi! saya gak mau Anak-anak saya menahan kamu besok!" minta Bu Fransiska.


"Tapi Bu, ini sudah malam! saya harus kemana malam-malam seperti ini?" tanyaku ketakutan.


"Terserah kamu! bukan urusan saya! pokoknya, saya mau, kamu angkat kaki dari rumah saya! ngerti kamu!" minta Bu Fransiska.


"Ngerti Bu!" ucapku sambil berlinang air mata.


Ya Allah, Bu Fransiska tega sekali sama saya. Saya harus kemana malam-malam begini? Hiks-hiks-hiks... Ibu, Abah, maafin Hafisa, belum bisa bahagiakan Ibu dan Abah. Hafisa sekarang bingung harus kemana, Hafisa takut.


Akhirnya, aku pergi meninggalkan rumah ini. Aku menulis sepucuk surat untuk Nena dan Mas Iqbal yang sudah baik padaku, selama aku bekerja di rumah ini. Langkah kakiku terasa berat meninggalkan Nena. Dia penyemangatku saat aku bekerja dan pengobat rindu pada Awalilah.


Aku berjalan tertatih-tatih, dan hujan deras. Badan menggigil kedinginan. Air hujan ini bersatu dengan air mata kesedihanku. Saat aku berjalan, ada tiga orang pemabuk mau merampas tas dan ingin memperkosaku. Aku berlari dengan kencangnya sampai kakiku tersandung batu.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰


- TA'ARUF CINTA


- CINTA GADIS BISU


- CINTA COWOK DINGIN


- CINTA DAN DETIK TERAKHIR


- DIARY ASMARA

__ADS_1


__ADS_2