Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 8


__ADS_3

"Yakin lo?" tanya Wawan.


"Yakin lah!" ucap Iqbal.


Gak lama Sheila lewat dan memperhatikan Iqbal. Iqbal langsung pergi dan mengabaikan Sheila.


"Kamu!" sapa Sheila.


"Bal, tunggu gue!" ucap Wawan dan Destian.


"Destian, Wawan! kenapa Iqbal? dia berubah banget, biasanya dia ngejar-ngejar gue. Mohon-mohon gitu!" ucap Sheila.


"Sheila, Sheila, gak tahu malu lo yah! emang lo siapa mau di kejar-kejar? Ratu? Iqbal udah muak sama lo! ngerti lo!" ucap Wawan.


"Udah, udah, tinggalin aja! gak penting ngurusin cewek murahan kaya gini!" ucap Destian.


"Jangan kurang ajar yah!" ucap Sheila.


Kenapa sih, Iqbal gak ngejar-ngejar gue lagi. Bukan dia cinta banget sama gue.


****


Di kediaman rumah Abah Jajat. Abah Jajat, Bu Aminah dan Awalilah di usir dari rumahnya oleh Kang Baron. Abah Jajat sampai mohon-mohon tapi tetap Kang Baron tidak memperdulikan. Barang-barang Pak Jajat semua dibuang-buangin oleh Kang Baron.


"JAJAT! BUKA! JAJAT!" teriak Kang Baron.


"Kang Baron, ada apa Kang? kok marah-marah?" tanya Abah Jajat.


"Banyak tanya lagi, mana Hafisa? mana?" tanya Kang Baron.


"Belum pulang Kang!" ucap Abah Jajat.


"Keparat!" Kang Baron menendang semua barang-barang dan menarik baju Abah Jajat.


"Hentikan Kang, lepasin suami saya! hiks-hiks-hiks..." ucap Bu Aminah.


"Abah...." Awalilah lari untuk meminta bantuan ke Euis.


"Saya sudah peringatkan berapa kali sama kamu! cari Hafisa! tapi, kalian abaikan saya! saya minta kalian pergi dari rumah ini!" minta Kang Baron sambil tolak pinggang.


"Kang, jangan Kang! ini rumah warisan orang tua saya! saya mohon jangan!" ucap Abah Jajat.


"Saya gak mau tahu! kalian ayo buangin barang-barang mereka!" ucap Kang Baron.


"CUKUP! BERAPA HUTANG ABAH JAJAT?" tanya Euis tiba-tiba datang dan melihat barang-barang sudah dilempar oleh Bodyguard Kang Baron.


"Hah, kenapa? kamu mau jadi pahlawan?" tanya Kang Baron.


"Saya bukan pahlawan, tapi saya punya hati nurani pada manusia! gak seperti anda menindas orang susah dan kalian kejam melempar semua barang-barang orang yang sudah tak berdaya." Ucap Euis.


"Saya suka gaya kamu!" ucap Kang Baron.


"Ini uang dua puluh juta! sekarang anda pergi! jangan ganggu-ganggu lagi keluarga ini!" ucap Euis.


"Oke!" ucap Kang Baron.


****

__ADS_1


Kang Baron langsung pergi bersama Bodyguardnya. Euis, Abah Jajat, Bu Aminah dan Awalilah langsung membereskan barang-barang.


"Euis, kenapa kamu bayarin ke Kang Baron? nanti kalau Ibu kamu marah gimana?" tanya Bu Aminah.


"Euis ada uang simpanan Bu, Euis gak tega lihat Ibu dan keluarga diusir Kang Baron. Saya kan sudah megang amanah dari Hafisa Bu." Ucap Euis.


"Neng, Abah gak tahu harus bilang apa, Abah sangat berterima kasih sama kamu! kalau Abah ada rezeki, nanti Abah ganti ya Neng. Hiks-hiks-hiks..." ucap Abah sambil nangis.


"Abah, Ibu, sudah yah! jangan dipikirin lagi. Yang penting Abah sama Ibu gak apa-apa." Ucap Euis.


"Makasih ya Neng." Ucap Abah Jajat.


"Makasih ya Neng, Ibu janji, bakal bayar hutang Ibu ke kamu!" ucap Bu Aminah.


"Iya Bu, sekarang kita beresin yah! Lilah! bantu Teteh beresin yuk!" ajak Euis.


"Iya Teh, makasih yah, udah mau bantu kita." Ucap Awalilah.


"Sama-sama." Ucap Euis tersenyum.


Gue akan lindungin keluarga kamu Fisa, aku berharap kamu di Jakarta selalu baik-baik aja.


Gak lama, Bu Aminah terasa sesak di dada. Euis, Abah Jajat dan Awalilah membantu Bu Aminah untuk ke kamar.


"Ibu...." teriak Awalilah.


"Ibu, kenapa? sakit lagi yah?" tanya Abah Jajat.


"Ibu istirahat aja! jangan ikut beres-beres." Ucap Euis.


"Iya Bu, Ibu istirahat yah! Lilah, tolong buatkan teh hangat buat Ibu yah!" minta Abah Jajat.


"Kalau Euis boleh tahu, Ibu sakit apa Bah?" tanya Euis.


"Ibu sudah lama sakit Asma Neng, buat ke rumah sakit butuh biaya besar, mangkanya Abah sampai pinjam ke Kang Baron." Ucap Abah Jajat.


"Astaghfirullah, tapi Hafisa tahu Bah?" tanya Euis.


"Hafisa tahu. Waktu itu, Abah sempat rahasiakan dari Hafisa, akhirnya Hafisa tahu juga. Abah gak mau Hafisa susah gara-gara Abah, karena Abah sudah banyak menyusahkan dia!" ucap Abah Jajat.


"Abah yang sabar yah!" ucap Euis.


"Mudah-mudahan Hafisa di Jakarta baik-baik saja ya Is." Ucap Abah Jajat.


"Aamiin..." ucap Euis.


****


Di kediaman rumah Iqbal. Saat aku sedang mencuci piring, Pak Setiawan datang menghampiriku. Sampai aku kaget dan piring pun jatuh ke lantai. Bu Fransiska sangat marah padaku.


"Hafisa!" sapa Pak Setiawan.


Preng.....


"Aduh kamu gimana sih? piring aja sampai jatuh!" ucap Pak Setiawan.


"Maaf Pak, saya kaget bapak nepak saya! maafkan saya!" ucap Hafisa.

__ADS_1


"Ada apa ini? ya ampun, Hafisa! kenapa kamu pecahin, baru kerja dua hari udah kacau!" ucap Bu Fransiska.


"Maaf Bu, tadi saya kaget. Bapak nepak pundak saya, jadi saya kaget." Ucap Hafisa.


"Papih! ngapain nepak pundak Hafisa?" tanya Bu Fransiska.


"Habis, Papih panggilin dia gak dengar. Papih minta buatkan kopi Mih." Ucap Pak Setiawan.


"Hafisa! kalau kerja yang benar! kuping dipakai! saya gak mau yah, kamu seperti ini lagi! beresin tuh! Papih, biar Mamih yang buatkan kopi yah!" ucap Bu Fransiska.


"Maaf Bu, Pak, siap! saya gak akan ulangin lagi!" ucap Hafisa.


Padahal, Pak Setiawan gak manggil aku. Langsung nepak pundak aku.


Akhirnya, aku langsung membereskan pecahan piring yang jatuh ke lantai. Lalu tanganku terluka oleh pecahan piring. Iqbal datang menolongku dan mengobati tanganku. Tapi, aku menangkis tangan Iqbal.


"Kamu mau ngapain?" tanyaku.


"Obatin tangan lo lah! luka begitu!" ucap Iqbal.


"Gak usah! biar aku sendiri aja!" ucapku.


"Ngeyel banget sih! sini!" minta Iqbal menarik tangan Hafisa yang luka dan mengambil obat untuk lukaku.


"Biar saya sendiri!" ucapku menolak.


"Gue gak bakal apa-apain! lagian jangan ke GR-an. Gue gak tega lihat cewek terluka. Lagian kenapa bisa mecahin piring sih!" ucap Iqbal.


"Tadi Pak Setiawan nepak saya Mas, saya kaget. Eh, jatuh piringnya. Maaf ya Mas!" ucapku.


Papih. Pasti dia mau macam-macam sama Hafisa. Emang kebangetan tuh Papih.


"Aaawww...." teriakku karena Iqbal mengobati sambil melamun.


"Maaf! maaf!" ucap Iqbal.


"Udah gak usah! biar saya aja! nolongin setengah-setengah!" ucapku langsung bangun. Lalu Iqbal menarik tanganku.


"Cie-cie..." ledek Nena. Iqbal langsung melepas tanganku.


"Kak, kenapa tangannya?" tanya Nena.


"Tadi kena pecahan kaca, pas beresin. Tapi gak apa-apa kok." Ucapku langsung mengambil sapu dan membuang beling yang pecah.


"Tangan kamu lagi sakit. Biar saya aja yang beresin." Ucap Iqbal.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰


- TA'ARUF CINTA


- CINTA GADIS BISU


- CINTA COWOK DINGIN

__ADS_1


- CINTA DAN DETIK TERAKHIR


- DIARY ASMARA


__ADS_2