Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 29


__ADS_3

"Kita makan dulu ya Fisa, aku lapar!" ucap Destian.


"Oh, gitu ya Mas? ya sudah Mas! maaf saya sudah merepotkan!" ucapku.


"Tidak sama sekali." Ucap Destian tersenyum.


Akhirnya, Destian dan aku mampir di sebuah restoran. Aku belum terbiasa makan di tempat mewah seperti itu.


"Mas, saya tidak biasa makan di tempat mewah seperti ini!" ucapku menghentikan langkahku.


"Kenapa? biasa aja Hafisa! nanti juga terbiasa, ayo!" ajak Destian tersenyum.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Destian.


"Apa aja Mas!" ucapku malu-malu.


"Kamu jangan malu-malu gitu, biasa aja Hafisa!" ucap Destian.


"Iya Mas! saya gak bisa makan enak, kalau keluarga saya di kampung lagi ada masalah." Ucapku.


"Iya, saya ngerti! tapi, kamu juga harus makan dan jaga kesehatan juga! kalau kamu gak sehat, gimana mau bantu keluarga kamu?" tanya Destian.


"Iya Mas!" ucapku.


Gak lama, Destian mendapatkan telepon dari Iqbal. Iqbal ingin berbicara sesuatu denganku. Tapi, aku tidak mau berbicara padanya, Destian pun melarang Iqbal untuk menghubungiku lagi.


"Sebentar, ada telepon. Dari Iqbal." Ucap Destian.


"Hallo, Des! gue mau bicara sama Hafisa bisa?" tanya Iqbal melirik ke diriku, aku langsung melambaikan tangan dan enggan berbicara padanya.


"Mau ngapain lo nanyain Hafisa? bukan udah puas lo semalam senang-senang sama cewek lain? lo itu udah nyakitin hati Hafisa!" ucap Destian.


"Gue bisa jelasin semua sama lo Des! gue dijebak Des!" ucap Iqbal.


"Alah, bulshit! udah yah, gue sibuk!" ucap Destian.


"Destian! Destian!" teriak Iqbal di telepon.


"Kamu gak usah pikirin Iqbal lagi yah! sekarang, kamu fokus sama keluarga kamu aja!" ucap Destian.


"Iya Mas!" ucapku merasa sedih dan terpukul.


****


Di kediaman rumah Iqbal. Iqbal marah-marah dan membanting semua barang-barang di kamar. Sampai akhirnya, Bu Fransiska datang dan memaksa Iqbal untuk secepatnya mengurus pernikahan dengan Sheila.


"Aaaaaaaaa...." teriak Iqbal.


Apa yang gue lakuin semalam? gue benar-benar gak ingat apapun, ya Tuhan, tolong aku! aku tidak mau menikah dengan Sheila.


"Astaga Iqbal! apa-apaan ini? hah?" tanya Bu Fransiska.


"Apa yang sebenarnya terjadi Mih? Iqbal benar-benar gak ngelakuin apa-apa!" ucap Iqbal.

__ADS_1


"Bukti udah jelas Iqbal! kamu gak usah nolak lagi! pokoknya, kamu urus pernikahan kamu dengan Sheila!" minta Bu Fransiska tegas.


Iqbal langsung mandi dan berangkat ke rumah Destian. Iqbal ingin menjelaskan semua pada Hafisa. Sesampainya di rumah Destian, Iqbal memohon-mohon dan berteriak mencari Hafisa.


"Assalamu'alaikum, Tante!" ucap Iqbal.


"Wa'alaikumsalam." Ucap Bu Ratna.


"Tante, saya ingin bertemu Hafisa! saya ingin menjelaskan semuanya pada Hafisa!" ucap Iqbal.


"Mau jelaskan apa Iqbal, Hafisa sudah pulang kampung! keluarganya lagi ada masalah, Destian yang mengantar Hafisa!" ucap Bu Ratna.


"Apa Tante? Iqbal gak percaya! Hafisa! Hafisa! keluar sayang! aku akan jelaskan semua sama kamu! kalau aku telah dijebak!" ucap Iqbal masuk dan berteriak.


"Cukup Iqbal! kamu gak bisa seenaknya teriak-teriak di rumah Tante! Tante akan suruh satpam untuk mengusir kamu!" minta Bu Ratna.


"Hiks-hiks-hiks... tolong saya Tante! saya ingin bertemu Hafisa! tolong!" minta Iqbal menangis.


"Saya sudah bilang, Hafisa ke kampung! dia sedang ada masalah! udah lah kamu berharap sama Hafisa!" ucap Bu Ratna.


"Enak sekali Tante berbicara seperti itu sama saya? Tante bukan Hafisa yang berhak menentukan aku harus jauhin Hafisa!" ucap Iqbal.


"Untuk apa kamu berharap sama Hafisa? kalau kamu tidur dengan wanita lain? kamu gak usah ngelak lagi Iqbal! Tante gak menyangka seorang Iqbal bisa lakuin itu!" ucap Bu Ratna.


"Tante, percaya sama Iqbal! Iqbal dijebak Tante!" ucap Iqbal.


Akhirnya, Iqbal keluar dari rumah Destian. Bu Ratna menyuruh satpam rumah untuk menarik Iqbal keluar dari rumah.


Hafisa, saya yakin kamu ada di dalam. Saya akan tunggu kamu sampai keluar.


"Ada apa Yanah?" tanya Bu Ratna.


"Ibu lihat! Mas Iqbal masih duduk di bawah gerbang gitu! kasihan Bu!" ucap Yanah.


"Anak itu memang keras kepala, sudah diusir masih aja! biarkan saja!" ucap Bu Ratna.


****


Di kediaman rumah penjual bubur ayam. Awalilah menjemur pakaian. Setelah menjemur pakaian, Susi memberikan tumpukan pakaian kering untuk disetrika.


"Heh! ini sekalian setrika!" minta Susi.


"Tapi Kak, saya lelah! izinin saya istirahat sebentar!" ucap Awalilah.


"Gak bisa! sekarang kerjain!" ucap Susi.


"Hiks-hiks-hiks... saya capek Kak!" ucap Awalilah.


"Cengeng! gue gak mau tahu! lo harus setrika semua sampai rapi!" ucap Susi.


"Iya mbak!" ucap Awalilah.


Hiks-hiks-hiks..... Ibu, Abah, Teh Fisa! tolong Lilah, Lilah gak kuat, hiks-hiks-hiks....

__ADS_1


Gak lama, Bapak si tukang Bubur ayam dan istrinya pulang. Mereka melihat Awalilah lelah dan pucat menyetrika pakaian.


"Assalamu'alaikum." Salam Bapak tukang Bubur dan Istrinya.


"Wa'alaikumsalam." Salam Lilah dan Susi.


"Lho, kenapa kamu ngerjain ini Lilah?" tanya Bapak si tukang bubur.


"Udah Susi bilangin Pak, Bu, suruh istirahat. Tapi, Lilah tetap mau ngerjain semua!" ucap Susi.


"Ya ampun, Lilah, wajah kamu sudah pucat. Sudah yah, kamu istirahat aja!" minta Istri tukang bubur.


"Iya Lilah, kamu gak usah dipaksa! Susi, ayo kerjakan! gantikan Lilah! biar Lilah istirahat!" ucap Bapak tukang bubur.


"Makasih Pak, Bu, Lilah izin istirahat!" ucap Lilah.


"Iya Lilah!" ucap Bapak dan istri si tukang bubur.


Apaan sih? kok jadi gue yang ngerjain? awas lo, kalau gak ada Bapak dan Ibu gue kerjain.


****


Akhirnya, Destian dan aku sampai di kampung. Aku melihat rumahku sudah hangus terbakar. Aku langsung menangis melihat rumahku hanya tinggal abu dan serpihan kayu.


"Astaghfirullah, Mas! hiks-hiks-hiks... rumahku habis terbakar Mas!" ucapku menangis.


"Astaghfirullah, kamu yang sabar ya Fisa! aku turut berduka atas kejadian ini. Aku bakal usut kenapa rumah kamu bisa terbakar. Sebentar!" ucap Destian.


"Ada apa Mas?" tanyaku.


"Ini aku nemu batu cincin. Kira-kira kamu kenal ini batu cincin?" tanya Destian.


"Ini kan punya Kang Baron. Apa Kang Baron yang lakuin ini semua?" tanyaku.


"Kang Baron siapa?" tanya Destian.


"Nanti aku ceritakan! kamu simpan ya Mas cincin ini!" mintaku.


"Oke-oke! sekarang kita kemana?" tanya Destian.


"Ikut aku Mas!" ajakku.


Akhirnya, aku mengajak Destian ke rumah Euis. Setelah sampai rumah Euis, aku melihat Ibu dan Abah. Aku memeluk Ibu sambil menangis. Aku pun memeluk Abah dan Euis.


"Maafin Hafisa Bu, Hafisa sudah meninggalkan Ibu, Abah dan Awalilah, sampai seperti ini!" ucapku sambil menangis.


"Tidak Nak, kamu tidak salah! kamu sehat kan? baik-baik aja?" tanya Bu Aminah.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰

__ADS_1


KISAH ARGA SEASON 2



__ADS_2