
"Gimana Anak saya Dek? gimana?" tanya Bu Aminah.
"Hafisa, koma Bu. Dia kekurangan darah Ab, Hafisa butuh dua kantong darah lagi Bu untuk operasi!" ucap Destian.
"Gak mu-mungkin!" ucap Bu Aminah pingsan.
"Bu! Ibu bangun! Ibu!" ucap dan Pak Jajat panik.
Bu Aminah dibawa ke ruangan perawatan bersama Pak Jajat, Destian dan Awalilah. Suster bilang jantung Bu Aminah kambuh, jadi Bu Aminah harus di rawat inap beberapa hari.
"Mah, aku ke sana sebentar yah! titip Hafisa!" minta Destian.
"Iya Nak, yang sabar kamu yah!" minta Bu Ratna.
"Gimana Dok, istri saya?" tanya Pak Jajat.
"Jantung istri Bapak kambuh, jadi untuk beberapa hari, Istri Bapak harus di rawat dulu yah!" minta Dokter.
"Ta-Tapi Dok? gimana biaya rawatnya? pasti mahal?" tanya Pak Jajat.
"Abah! sudah Abah! Abah gak usah pikirin masalah biaya! biar saya yang nanggung!" ucap Destian.
"Ta-tapi Nak?" tanya Pak Jajat.
"Gak apa-apa Pak! Dokter, tolong lakukan yang terbaik kedua pasien yah! beri pelayanan terbaik! dan saya minta Tolong selamatkan calon istri saya!" minta Destian.
"Saya akan terus berusaha yang terbaik untuk pasien! gimana soal donor darah? soalnya Bu Aminah tidak bisa mendonorkan darah dengan kondisi seperti ini! saudara Hafisa, tidak bisa lama-lama menunggu. Itu bisa membahayakan pasien!" minta Dokter.
"Secepatnya Dok!" ucap Destian.
"Oke! kalau sudah ada, kita akan segera operasi pasien Hafisa! saya tunggu! permisi!" ucap Dokter.
"Terima kasih Dok!" ucap Destian dan Pak Jajat.
"Astaghfirullah, gimana ini Dek? darah saya O. Sedangkan Hafisa sama dengan Ibunya, ya Tuhan, apa salah hamba sampai seperti ini? hiks-hiks-hiks..." Ucap Pak Jajat sambil menangis.
"Abah gak usah khawatir, Mamah saya golongan darah Ab, jadi kita bisa cari donor satu kantong lagi! Abah yang sabar dan kuat yah! kita berdoa buat kesembuhan Hafisa!" minta dan saran Destian.
"Terima kasih Nak! kamu sudah baik sama Hafisa dan keluarga Abah!" ucap Pak Jajat.
"Sama-sama Abah, Hafisa itu calon istri saya! dia telah berkorban untuk saya! saya merasa bersalah jika tidak bisa menyelamatkan Hafisa!" ucap Destian.
"Ibu! bangun Ibu! semua gara-gara Awalilah ya Bu? kalau saja, Awalilah gak hilang, mungkin Kak Hafisa dan Ibu gak mungkin seperti ini!" ucap Awalilah.
"Nak, kamu teh gak boleh bicara seperti itu yah! semua ini musibah Nak! Abah senang dan bahagia kamu sudah kembali." Ucap Pak Jajat.
"Maafin Awalilah Abah! hiks-hiks-hiks...." ucap Awalilah menangis.
"Ssstttt.... enggak! semua bukan salah kamu! kamu teh gak boleh bicara gitu lagi yah!" ucap Pak Jajat.
__ADS_1
"Iya Awalilah, sebaiknya kamu berdoa buat kesembuhan Ibu dan Kakak kamu yah!" minta Destian.
"Iya Kak!" ucap Awalilah.
"Pak, saya permisi keluar dulu! saya akan berusaha mencari donor untuk Hafisa!" ucap Destian.
"Makasih Nak, makasih! Abah gak tahu, harus bilang apa sama kamu!" ucap Pak Jajat.
"Sama-sama Pak! sudah, Bapak gak usah dipikirin yah!" minta Destian.
Destian keluar menemui Bu Ratna. Bu Ratna telah berhasil mendonorkan darah untuk Hafisa. Bu Ratna memperhatikan Destian bingung dan panik.
"Nak! gimana keadaan Bu Aminah?" tanya Bu Ratna.
"Bu Aminah harus dirawat dulu di rumah sakit Mah, karena jantungnya kambuh, karena mendengar Hafisa koma." Ucap Destian.
"Astaghfirullah, berat sekali cobaan mereka. Mamah sudah mendonorkan darah untuk Hafisa! kamu yang sabar, kuat yah! Mamah Yakin, Hafisa pasti sembuh!" ucap Bu Ratna.
"Makasih ya Mah, sebaiknya Mamah istirahat! Destian gak mau, Mamah ikut sakit! tinggal satu kantong darah lagi, Destian cari kemana?" tanya Bu Ratna.
"Coba kamu tanya Iqbal! siapa tahu cocok!" ucap dan saran Bu Ratna.
"Iqbal?" tanya Destian.
"Yes! Iqbal. Coba! hilangin dulu rasa cemburu dan gengsi kamu, demi Hafisa!" saran Bu Ratna.
"Haduh, gak ada yang lain apa?" tanya Destian.
"Nanti Destian hubungin Mah!" ucap Destian.
"Bagus! ya sudah, Mamah mau lihat Bu Aminah dulu yah!" ucap Bu Ratna.
"Iya Mah!" ucap Destian.
Ya Allah, masa gue minta sama Iqbal? orang yang udah nyakitin Hafisa. Ah, gue telepon Euis siapa tahu darah dia cocok.
Destian langsung menghubungi Euis. Waktu itu, Euis memberi nomor Euis ke Destian.
"Hallo, Assalamu'alaikum Is?" tanya Destian.
"Wa'alaikumsalam, ini teh siapa?" tanya Euis.
"Ini saya Destian Is, kamu sudah tahu kabar Hafisa?" tanya Destian.
"Oh, Kang Destian. Sudah kok Kang, saya teh lagi siap-siap ke Jakarta. Sedih saya mah sahabat saya jadi korban!" ucap Euis.
Kamu tahu dari mana? Alhamdulillah, kalau kamu mau ke Jakarta. Saya mau tanya Is, kamu golongan darah apa? Hafisa sekarang kritis dan koma. Butuh darah satu kantong lagi." Ucap Destian.
"Astaghfirullah, Hafisa! saya teh O Kang. Emang golongan darah Hafisa teh apa?" tanya Euis.
__ADS_1
"Dia butuh golongan darah AB Is. Saya bingung harus cari di mana. Stok di rumah sakit habis." Ucap Destian.
"Ya Allah, Euis teh merasa bersalah gak bisa bantu Hafisa. Gimana atuh Kang?" ucap Euis.
"Ya udah Is, gak apa-apa. Biar nanti saya cari sendiri. Udah dulu yah, soalnya Hafisa kritis dan harus cepat diatasi!" ucap Destian.
"Nya atuh Kang, semoga Hafisa cepat dapat donor dan bisa terselamatkan ya Kang!" ucap Euis.
"Aamiin... makasih ya Is!" ucap Destian.
"Assalamu'alaikum Kang," salam Euis.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Salam Destian.
Astaghfirullah, gimana ini? gue harus telepon Iqbal. Mau gak mau gue harus lakukan ini demi Hafisa.
****
Di kediaman rumah Iqbal. Iqbal telah selesai melakukan acara prewedding. Iqbal duduk di bangku sambil melamun. Sheila datang menghampiri Iqbal.
"Sayang, kamu kok melamun?" tanya Sheila.
"Bisa pergi gak!" minta Iqbal.
"Kamu kok gitu? aku kan sebentar lagi jadi calon istri kamu, kamu jangan ngusir aku gitu dong!" minta Sheila.
"Berisik! gue angkat telepon bentar." Ucap Iqbal.
"Ada apa Des? tumben lo telepon gue? bukan lo gak mau hubungin gue lagi?" tanya Iqbal.
"Bukan saatnya untuk berdebat. Gue tahu golongan darah lo AB kan? sekarang lo ke rumah sakit buat donorkan darah untuk Hafisa!" minta Destian.
"Apa? Hafisa di rumah sakit? kenapa?" tanya Iqbal.
"Lo gak perlu tahu kenapa dan apa sebabnya! nanti, gue jelasin di sini!" minta Destian.
"Oke-oke!" ucap Iqbal panik.
"Sayang! kamu mau kemana? sayang!" teriak Sheila sambil menarik tangan Iqbal.
"Lepasin!" dorong Iqbal sampai Sheila terjatuh. Iqbal tidak mempedulikan Sheila.
"Iqbal! ikh.... kurang ajar! semua gara-gara pembantu itu!" ucap Sheila kesal.
Bersambung....
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰
__ADS_1
CINTA GADIS BISU