Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 30


__ADS_3

"Alhamdulillah, Hafisa sehat. Abah gimana? sehat kan?" tanyaku.


"Alhamdulillah, Abah sehat. Ini siapa Nak?" tanya Abah Jajat.


"Oh, iya. Ini kenalin Destian Bah, Bu, Euis, dia Anak majikan Hafisa." Ucapku memperkenalkan Destian.


"Makasih ya Nak, kamu udah bantu Hafisa, sampai ke sini!" ucap Abah Jajat.


"Sama-sama, Bah!" ucap Destian tersenyum.


"Hafisa, Awalilah hilang! maafin Ibu, Ibu dan Abah gak bisa jaga Lilah!" ucap Bu Aminah.


"Ini musibah Ibu, Hafisa akan berusaha mencari Awalilah sampai ketemu!" ucapku.


"Maafin aku ya Fisa, gara-gara aku juga, aku teh gak bisa jaga Lilah!" ucap Euis.


"Gak apa-apa Euis, kamu gak salah. Malah justru aku yang salah, udah banyak nyusahin kamu!" ucapku.


Tiba-tiba Ibunya Euis menyindir dan mengusirku agar aku cepat membawa keluarga jauh-jauh.


"Sudah dramanya? Jajat! Anak kamu teh udah pulang, sekarang kalian boleh pergi dari rumah saya! Hafisa! kamu gawe naon ti Jakarta? ulah nyusahkeun Euis weh!" ucap Ibunya Euis.


"Ibu! Ibu teh jahat pisan ih! Hafisa baru oge nepi, keun istirahat heula!" ucap Euis.


"Euis, sebaiknya aku pergi saja dari rumah kamu! biar nanti saya cari penginapan atau apa." Ucapku meneteskan air mata.


"Enggak Hafisa! kamu teh anyar nepi di dieu. Kamu istirahat dulu yah! gak usah dengarin Ibu!" ucap Euis.


"Gak bisa! kamar cuma dua, mau tidur di mana lagi? mawa lelaki oge!" ucap Ibunya Euis.


"Euis, Abah, Ibu, dan Hafisa, sebaiknya kita pergi dari rumah ini! biar nanti sementara kalian semua tinggal di vila saya!" ucap Destian.


"Tapi Mas, saya gak mau merepotkan!" ucapku.


"Hafisa! dengarin aku! sementara! kamu gak kasihan Ibu dan Abah diusir sama Ibunya teman kamu?" tanya Destian.


"Maafin kami Nak, kami jadi merepotkan!" ucap Abah Jajat.


"Tidak sama sekali Abah! saya ikhlas bantu." Ucap Destian.


Akhirnya, Abah, Bu Aminah bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta menempati Vila Destian. Euis sangat merasa sedih dan kehilanganku. Dan merasa gak enak atas perlakuan Ibunya.


"Ibu, Euis, aku berangkat dulu yah! makasih banyak, Euis udah banyak bantu aku! aku mau pamit sama Abah Rojak, tapi gak ada di rumah." Ucapku.


"Sama sekali gak merepotkan, malah senang. Kamu hati-hati di Jakarta! hubungin aku kalau udah sampai, atau ketemu Awalilah! beri kabar, jangan lupa sama aku!" ucap Euis memelukku.


"Aku gak akan pernah lupa sama sahabat terbaik kaya kamu Euis, suatu saat aku bakal bawa kamu ke Jakarta. Setelah masalah selesai dan Awalilah ketemu." Ucapku.

__ADS_1


"Aamiin... aku doakan Awalilah cepat ketemu ya Fisa!" ucap Euis.


Akhirnya, Aku, Abah, dan Ibu langsung naik mobil Destian. Sampai di perjalanan, Ibu dan Abah ketiduran. Karena di rumah Euis mereka tidak bisa tidur, hanya dengar ocehan Bu Enok saja.


"Ya Allah, kasihan Ibu dan Abah sampai ketiduran." Ucapku.


"Biarkan saja Hafisa, kita antar Abah dan Ibu kamu ke Vila dulu yah, setelah itu aku janji bakal cari Adik kamu sampai ketemu. Dan saya akan usut kebakaran rumah kamu!" ucap Destian.


"Alhamdulillah, makasih ya Mas. Saya sudah banyak merepotkan Mas Destian. Saya bingung dengan cara apa hanya bisa bilang makasih aja. Mas Destian dan Bu Ratna seperti malaikat bagi saya!" ucapku.


"Ah, gak usah berlebihan. Saya ikhlas membantu kamu!" ucap Destian tersenyum.


Gak lama, handphone Destian berbunyi. Ternyata telepon dari Iqbal. Iqbal ingin berbicara padaku.


"Iqbal telepon." Ucap Destian.


"Mau ngapain lagi sih?" tanyaku kesal.


"Aku angkat yah!" minta Destian.


"Silakan Mas!" ucapku.


"Hallo, ada apa lagi Bal?" tanya Destian.


"Destian! sekarang lo di mana? lo sama Hafisa kan? izinkan gue bicara sama Hafisa!" minta Iqbal.


"Mas, sini saya mau bicara!" mintaku.


"Oke, Fisa!" ucap Destian.


"Hallo, Mas Assalamu'alaikum!" salamku di telepon.


"Wa'alaikumsalam. Hafisa sayang, kamu gak percaya kan sama video itu? itu aku dijebak sayang! tolong percaya!" minta Iqbal.


"Mas Iqbal, dengar yah! sekarang, Mas lupain saya! Mas harus bisa mempertanggung jawabkan kesalahan Mas sendiri! saya mohon, gak usah ganggu-ganggu saya lagi!" ucapku.


"Gak bisa Hafisa! aku cinta sama kamu!" ucap Iqbal.


"Lupakan Cinta! lupakan Mas!" ucapku. Aku langsung mematikan handphone dari Iqbal dan memberi ke Destian.


"Jangan nangis dong! aku paling gak bisa lihat wanita nangis." Ucap Destian.


"Aku bingung Mas! bingung! dia sudah tidur dengan wanita lain, sakit rasanya hati saya! hiks-hiks-hiks..." ucapku.


"Sudah-sudah! jangan nangis ah! mungkin, Iqbal memang bukan jodoh kamu, suatu saat nanti bakal ada pengganti Iqbal. Meskipun dia sahabat saya, saya udah malas berteman dengan dia!" ucap Destian.


"Mas, Mas jangan putus hubungan sama Mas Iqbal yah! jangan gara-gara saya, persahabatan Mas hancur!" ucapku.

__ADS_1


"Aku gak suka aja cowok seperti itu Fisa!" ucap Destian.


Gak lama, Ibu Aminah bangun. Dan melihat Hafisa menangis. Sedangkan Abah masih tertidur lelap.


"Sudah sampai Nak?" tanya Bu Aminah.


"Belum Bu, masih lumayan jauh! Ibu tidur aja yah!" minta Destian.


"Ibu sudah gak ngantuk Nak, Nak Destian Ibu banyak-banyak makasih sama kamu yah! entah apa kalau sampai gak ada kamu!" ucap Bu Aminah.


"Sama-sama Ibu!" ucap Destian tersenyum.


"Neng, kamu habis nangis? kenapa Neng?" tanya Bu Aminah.


"Ah, enggak kok Bu! Hafisa gak apa-apa. Cuma agak ngantuk aja." Ucapku berbohong agar Ibu gak khawatir.


"Jangan bohong sama Ibu! mata kamu gak bisa bohongin Ibu!" ucap Bu Aminah.


"Hanya sedikit mikirin Awalilah Bu, Hafisa berharap Awalilah akan selalu baik-baik aja!" ucapku.


"Aamiin... Ibu juga sama Neng, khawatir! gimana makannya dia? Ibu takut Awalilah jadi pengemis!" ucap Bu Aminah.


"Ibu, gak usah panik dan khawatir yah! Destian akan bantu cari Awalilah sampai ketemu. Bahkan keliling dunia pun, bakal Destian cari." Ucap Destian.


"Masya Allah, baiknya kamu Nak! semoga kebaikan kamu dibalas dengan lebih baik dari Allah ya Nak!" ucap Bu Aminah.


"Aamiin..." ucap Destian.


Sebisa aku, aku akan bantu dan lindungi kamu sampai kapan pun Hafisa! aku mencintaimu saat pertama kali aku menemukan kamu! saat kamu lepas dari Iqbal, saya akan menjadi malaikat selalu buat kamu.


****


Awalilah masih menangis di atas kasur Susi. Susi langsung mengusirnya. Susi menyuruh Awalilah untuk tidur di bawah tanpa alas. Hanya bantal saja yang diberi Susi.


"Ngapain kamu masih nangis aja?" tanya Susi.


"Hiks-hiks-hiks... aku mau pulang!" ucap Awalilah.


"Hah? emang kamu punya keluarga? jangan mimpi! turun kamu! jangan nangis di kasur saya! nanti ingus kamu ngotorin tempat tidur saya! ini bantal, kamu tidur di bawah! CEPAT!" bentak Susi.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


CINTA GADIS BISU

__ADS_1



__ADS_2