
Maafin aku ya Mas, aku ambil foto kamu. Aku juga menolak buat balik ke rumah Mas Iqbal. Sebenarnya, aku senang bisa balik ke rumah Mas Iqbal, apa lagi bertemu Nena. Tapi Mamah Mas ngelarang aku. Aku lagi butuh uang buat bekerja, kalau aku balik gak di sini lagi, terus aku diusir lagi dari rumah Mas Iqbal, aku kemana lagi. Bu Ratna di sini sangat baik padaku.
"Hafisa! kenapa Nangis?" tanya Yanah.
"Enggak Yan." Ucapku.
"Pasti masalah tadi yah? tadi kamu kenapa sama Mas Iqbal? kenal?" tanya Yanah.
"Iya Yan, aku sebelum kerja di sini aku di rumah Mas Iqbal. Aku diusir sama Mamahnya Mas Iqbal gara-gara Adiknya Mas Iqbal ingin tidur sama aku." Ucapku menjelaskan.
"Adiknya, si Nena? dia pernah main ke sini. Oh, dia dekat banget sama kamu? emang aja Ibunya Iqbal gak punya otak! orang Anaknya dekat gak boleh. Emang apa salahnya pembantu sih!" ucap Yanah.
"Gue juga gak ngerti. Kayanya hina banget gue di mata dia!" ucapku sedih.
"Udah! kamu jangan sedih. Kamu harus bersyukur bisa kerja di sini Fisa! Bu Ratna dan Mas Destian baik banget. Kalau aku saranin kamu gak usah balik ke rumah neraka itu! dan kamu gak usah balik sama Mas Iqbal, mendingan sama Mas Destian aja!" saran Yanah.
"Kamu ada-ada aja Yan, aku gak pantas lah buat Mas Destian atau Mas Iqbal. Aku hanya seorang pembantu." Ucapku.
"Kamu mah suka begitu! jodoh kan gak ada yang tahu." Ucap Yanah.
"Yan, kamu punya handphone gak? aku boleh pinjam gak? mau telepon keluarga di kampung." Mintaku.
"Ada. Pakai aja!" ucap Yanah.
"Makasih ya Yan." Ucapku.
Gak lama aku menghubungi Euis. Aku ingin bicara sama Abah dan Ibu. Euis langsung berangkat ke rumah Abah dan menyuruh Aku untuk menelepon kembali.
"Assalamu'alaikum." Salamku.
"Wa'alaikumsalam, ini siapa?" tanya Euis.
"Astaghfirullah, Euis. Ini aku Hafisa! kamu teh sama sahabat sendiri lupa." Ucapku.
"Hafisa! Alhamdulillah, ya Allah. Maaf Fisa, suara di handphone sama asli teh beda. Kamu kumaha kabarna?" tanya Euis.
"Alhamdulillah, damang. Kamu sendiri gimana?" tanyaku.
"Alhamdulillah, Euis juga baik." Ucap Euis.
"Euis, aku gak bisa lama-lama telepon kamu! gak enak ini handphone orang. Aku ingin bicara sama Abah dan Ibu bisa Is?" tanyaku.
"Bisa. Tapi Euis harus jalan dulu, matikan dulu atuh, ntar Euis telepon yah!" minta Euis.
"Oke Euis, makasih yah!" ucapku.
"Gimana? udah?" tanya Yanah.
__ADS_1
"Belum Yan, tunggu sebentar lagi yah! teman aku mau ke rumah soalnya Abah gak punya handphone." Ucapku.
"Santai aja! aku mau nyapu taman dulu yah! kalau udah taro aja di meja. Kamu kalau masih mau pakai, pakai aja sampai puas. Soalnya pulsa aku banyak." Ucap Yanah.
"Makasih ya Yan." Ucapku tersenyum.
"Sama-sama Fisa." Ucap Yanah.
****
Euis langsung pergi ke rumah Abah. Dan menyampaikan sesuatu pada Abah dan Ibu. Abah dan Ibu sangat senang dan ingin cepat-cepat mendengar suara Hafisa.
"Assalamu'alaikum, Abah! Ibu! Awalilah!" salam Euis mengetuk pintu sambil memanggil nama.
"Wa'alaikumsalam, Is." Jawab Aminah.
"Siapa Bu?" tanya Abah.
"Euis Bah." Ucap Bu Aminah.
"Oh, Euis. Ada apa ini?" tanya Abah.
"Neng, bikinin teh manis jiuen Teh Euis." Minta Bu Aminah.
"Nya Bu." Ucap Awalilah.
"Benaran Is. Ya sok atuh ih, teleponin Ibu kangen!" minta Bu Aminah.
"Sebentar Bu." Ucap Euis.
Euis langsung menghubungi aku kembali. Aku segera mengangkat dan menangis mendengar suara Abah dan Ibu. Di luar pintu, Yanah lupa mengunci pintu kamarku. Sampai Destian mendengarkan percakapanku dengan Abah dan Ibu di telepon.
"Assalamu'alaikum, Hafisa. Hiks-hiks-hiks..." ucap Bu Aminah.
"Ibu, kenapa Ibu nangis? Ibu sehatkan? Abah dan Awalilah gimana?" tanyaku ikut meneteskan air mata.
"Alhamdulillah, Ibu sehat Neng. Abah dan Awalilah juga sama sehat. Ibu hanya kangen sama kamu Neng khawatir. Kamu gimana di sana?" tanya Bu Aminah.
"Alhamdulillah, aku baik Bu. Hafisa baik di sini, maaf udah buat khawatir Ibu. Hafisa belum bisa beli handphone, ini Hafisa pinjam sama teman." Ucapku.
"Syukur Neng, kalau baik mah. Iya Neng, gak apa-apa. Yang penting Ibu bisa tahu kabar kamu aja udah senang." Ucap Bu Aminah.
"Bu, Abah mau bicara sama Hafisa dong, gantian!" minta Abah Jajat.
"Abah kamu mau bicara Neng!" ucap Bu Aminah.
"Awalilah juga dong Bu, Bah!" minta Awalilah.
__ADS_1
"Hallo, Anak Abah yang paling cantik. Gimana kabar kamu di sana? majikan kamu di sana gimana Neng?" tanya Abah Jajat.
"Alhamdulillah, Bah. Hafisa di sini baik, majikan juga baik. Abah sendiri gimana keadaannya? masalah dengan Kang Baron gimana? maafin Hafisa belum bisa bayarin Bah." Ucapku meneteskan air mata.
"Kamu gak usah khawatir! Abah terlepas dari jeratan utang Kang Baron. Semua karena Euis membayarkan hutang Abah Neng." Ucap Abah Jajat.
"Apa Euis? Astaghfirullah, Abah itu gak kecil. Besar banget. Bukan itu untuk bayar kuliah Euis?" tanyaku makin bersalah.
"Hafisa! ini Euis. Udah kamu jangan pikirin hutang kamu lagi! kamu gak usah pikirin buat bayar kuliah Euis, Euis gak rela Abah dan Ibu diusir sama Kang Baron." Ucap Euis.
"Nanti bayaran kuliah kamu gimana Euis? aku jadi bersalah sama kamu. Hiks-hiks-hiks... aku jadi Anak gak berguna Is. Aku bingung harus bilang apa sama kamu! aku tuh malu pisan ih... tapi aku janji Is, aku bakal kumpulin uang buat bayar ke kamu!" ucapku sambil menangis.
"Jangan nangis atuh Fisa. Euis teh ikhlas. Gak usah mikirin kuliah Is, kuliah is udah dibayar. Kamu kumpulin aja, gak usah dipikirin nya Fisa! Kamu udah Is anggap Kakak sendiri." Ucap Euis.
"Makasih banyak ya Is, makasih! aku janji bakal bayar Is!" ucapku.
"Santai atuh! nih, Adik kamu mau ngomong!" ucap Euis.
Apa? keluarganya Hafisa punya hutang? berapa hutangnya yah? kasihan Hafisa.
Setelah selesai menelepon keluarga. Aku meletakkan handphonenya Yanah di meja. Destian langsung mengetuk pintu. Destian gak berani masuk ke kamar Hafisa. Destian mengajak Hafisa untuk berbicara sebentar.
"Assalamu'alaikum." Salam Destian.
"Wa'alaikumsalam, Mas." Ucapku kaget.
"Boleh aku ngomong sebentar?" tanya Destian.
"Ngomong apa Mas?" tanyaku.
"Jangan di sini gak enak! nanti jadi fitnah. Ikut aku yuk!" ajak Destian menarik tanganku.
"Mas, mau kemana?" tanyaku penasaran mengikuti langkah kaki Destian.
"Duduk Fisa!" minta Destian tersenyum.
"Ada apa Mas? saya gak enak sama Ibu, kalau sama ngobrol berduaan sama Mas!" ucapku.
"Mamahku santai. Tenang aja!" minta Destian.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
TA'ARUF CINTA
__ADS_1