Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 32


__ADS_3

"Gimana Tante? aku gak mau ya, jika hamil tanpa Ayah!" minta Sheila.


"Kamu tenang dulu Sheila! ayo kita ikutin Iqbal." Minta Bu Fransiska.


****


Di dalam rumah Destian, Aku menangis di shofa. Destian dan Bu Ratna menghampiriku membicarakan masalahku.


"Kamu yang sabar ya Fisa!" ucap Yanah.


"Yanah! biarkan saya dan Destian bicara dengan Hafisa!" minta Bu Ratna.


"Baik Bu!" ucap Yanah meninggalkan Hafisa, Bu Ratna dan Destian.


"Destian, kamu duduk sini!" minta Bu Ratna.


"Iya Mah!" ucap Destian.


"Hafisa, kamu jangan nangis lagi yah! saya sudah putuskan akan melamar kamu untuk Destian. Saya lakuin ini, agar kamu tidak dihina lagi sama keluarga Iqbal. Tapi, saya gak maksa! saya lakukan ini demi kebaikan kamu!" ucap Bu Ratna.


"Bu, Mas, saya cuma gadis desa. Saya gak pantas dicintai! hiks-hiks-hiks...." ucapku sambil menangis.


"Hafisa, aku tulus dan serius sama kamu! tadinya, aku mau ngomong sama kamu setelah masalah selesai. Tapi, karena kejadian ini dan Mamah juga udah ngomong dan setuju. Saya akan membahagiakan kamu, saya akan mencintai kamu gak mandang status kamu Hafisa!" minta Destian.


"Semua keputusan ada di kamu Hafisa! jika kamu menolak, saya dan Destian gak kecewa. Saya dan Destian menerima semua keputusan kamu!" ucap Bu Ratna.


"Bu, Mas, kasih kesempatan saya besok untuk menjawab ya Bu, saya ingin salat malam dulu!" mintaku.


"Iya Hafisa, saya tunggu!" minta Destian.


"Besok pagi, kamu harus sudah kasih jawaban ya Fisa!" minta Bu Ratna.


"Insya Allah Bu." Ucapku.


"Oh, iya. Gimana masalah kamu tadi? Ibu dan Bapak kamu gimana?" tanya Bu Ratna.


"Ibu dan Bapaknya Hafisa sekarang di Vila Papah Mah, dari pada gak dipakai, aku suruh nempatin. Karena rumah mereka terbakar, dan Adiknya Hafisa juga hilang." Ucap Destian.


"Oh, gitu? ya sudah gak apa-apa. Sekarang kamu tenang ya Hafisa, saya doakan Adik kamu agar cepat ketemu yah!" minta Bu Ratna.


"Aamiin... makasih banyak Bu, maafkan saya sudah merepotkan keluarga Ibu!" ucapku.


"Kamu jangan ngomong seperti itu, saya dan Destian Ikhlas membantu kamu! Destian, kamu cepat cari Adiknya Hafisa yah!" minta Bu Ratna.


"Iya Mah, pasti. Destian juga ingin usut masalah kebakaran, kayanya kebakaran itu disengaja Mah, Destian menemukan ini!" ucap Destian.

__ADS_1


"Kamu tahu ini cincin siapa Fisa?" tanya Bu Ratna.


"Iya Bu, tahu. Ini cincin rentenir di kampung, waktu itu Abah pernah pinjam uang, dan kalau gak bayar saya dan Anaknya mau dinikahin. Sampai akhirnya, saya ke Jakarta untuk menghindari pernikahan itu!" ucapku menjelaskan.


"Astaghfirullah, kasihan sekali kamu Hafisa! kamu sekarang tenang aja yah, Destian akan selalu menjaga kamu! untuk hutang apa sudah lunas?" tanya Bu Ratna.


"Alhamdulillah, sudah Bu. Waktu itu sahabat saya yang bayarin, tapi uang sahabat saya sudah dibayarkan Mas Destian. Hiks-hiks-hiks.... saya malu Bu, malu. Gini aja Bu, saya kerja di sini gak usah dibayar juga gak apa-apa. Hitung-hitung saya bayar hutang Abah saya!" minta dan ucapku.


"Ya ampun, Hafisa. Sudah yah! jangan kamu pikirkan hutang itu! saya ikhlas membantu kamu, dan saya gak mau gak bayar kamu! saya akan tetap bayar kamu Hafisa. Apa lagi, kalau kamu mau jadi istri Destian, kamu bisa lupain hutang itu!" minta Bu Ratna.


"Makasih banyak ya Bu, Mas, makasih! Ibu dan Mas Destian seperti malaikat bagi saya! saya gak tahu harus bilang apa lagi, hanya bisa ucapkan makasih banyak!" ucapku.


"Sama-sama Hafisa, kalau gitu saya mau istirahat dulu yah! Destian, kamu kalau masih mau ngobrol lanjutin yah!" minta Bu Ratna langsung ke kamar meninggalkan Destian dan Hafisa.


"Iya Bu, Makasih ya Bu!" ucapku.


"Jangan sedih lagi ya Hafisa, saya janji akan cari Adik kamu sampai ketemu." Ucap Destian.


"Iya Mas, makasih banyak ya Mas!" ucapku.


"Sama-sama Hafisa." Ucap Destian.


"Saya pamit ke kamar ya Mas!" mintaku.


"Iya Hafisa, selamat istirahat yah!" ucap Destian tersenyum.


Aku langsung ke kamar dan bercerita pada Yanah. Yanah menasehatiku agar aku menerima lamaran Mas Destian. Setelah aku pikir-pikir benar Yanah, Mas Destian dan Bu Ratna sudah baik. Sebagai balas kebaikan mereka, aku menerima lamaran Destian. Meskipun perasaan sakit dan cinta Mas Iqbal masih ada dan tertinggal di hatiku.


****


Iqbal ternyata sampai rumah. Iqbal membuang semua barang-barang sambil menangis. Bu Fransiska dan Sheila menghampiri Iqbal.


"Cukup Iqbal! cukup! sadar kamu!" minta Bu Fransiska.


"Kenapa Mih? kenapa? Mamih dan wanita ini sudah menghancurkan Iqbal. Sekarang kalian keluar semua! keluar!" minta dan teriak Iqbal.


Prak....


Sadar kamu! Mamih gak ngajarin kamu buat gak bertanggung jawab! Mamih mau kamu bertanggung jawab dengan Shella! lupakan wanita gembel itu! lupakan!" minta Bu Fransiska.


"Iqbal, kamu harus tanggung jawab dengan aku! ini semua sudah terjadi Iqbal, kamu harus terima!" ucap Sheila.


"Sheila, ayo keluar! tinggalkan dia!" minta Bu Fransiska.


"Tante, Tante gak curiga sama Iqbal? Iqbal setelah Tante tampar malah diam dan seperti orang gak sadar!" ucap Sheila.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? gila?" tanya Bu Fransiska.


"Iya Tante!" ucap Sheila.


"Jangan sembarangan kamu Sheila! mungkin, dia syok. Udah, sebaiknya kamu pulang! udah malam juga!" ucap Bu Fransiska.


"Iya Tante." Ucap Sheila.


Jangan sampai Iqbal gila. Kalau dia gila, gue gimana? jangan sampai deh.


****


Gak lama, Nena ke kamar Iqbal sambil menangis. Nena menangis melihat kondisi Iqbal. Nena berteriak karena Iqbal di panggil-panggil tidak mau mendengarkan, hanya diam saja.


"Kak, hiks-hiks-hiks... Kakak kenapa? jawab Kak! jawab! Kak Iqbal! Mamih....." tanya dan teriak Nena menangis.


"Ada apa Nena? kamu ngapain di sini?" tanya Bu Fransiska.


"Lihat Kak Iqbal Mih, Kak Iqbal diam aja Mih! hiks-hiks-hiks...." ucap Nena.


"Iqbal! Iqbal? kamu kenapa Nak? Iqbal jawab Mamih! Iqbal!" teriak Mamihnya.


Mamihnya langsung menghubungi Dokter, dan Iqbal stres berat. Saran Dokter, Iqbal harus bertemu orang yang dia sayangi. Tapi Mamihnya hanya bilang Iya-iya saja. Mamihnya mengabaikan saran Dokter.


****


Keesokan paginya, Destian, Bu Ratna dan Hafisa berkumpul dan saksinya Yanah. Aku langsung memberikan jawaban untuk Destian dan Bu Ratna. Saat mendengarkan jawaban dariku, mereka sangat senang begitu juga dengan Destian.


"Begini Bu, saya mau beri jawaban yang semalam." Ucapku.


"Oke, Hafisa. Yanah bisa pergi dulu!" minta Bu Ratna.


"Jangan Bu, biarkan Yanah di sini ikut mendengarkan juga!" mintaku.


"Oke!" ucap Bu Ratna.


"Di depan semua saya mau bilang kalau lamaran Mas Destian, sa-saya terima Bu!" ucap Hafisa tersenyum.


Bersambung.....


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


Kisah Arga Season 2

__ADS_1



__ADS_2