
"Kalian jangan panik yah!" ucap Destian.
"Mas! hati-hati Mas!" ucap Hafisa.
"Teh, aku takut Teh!" ucap Awalilah.
"Keluar gak lo!" minta preman suruhan Hasan.
Akhirnya, Destian dan Preman suruhan Hasan bertengkar. Destian berhasil memukuli satu-satu Preman itu. Saat Destian mengarah ke Hafisa dan Awalilah, Preman itu diam-diam ingin menusuk Destian. Tapi Hafisa menghalangi Preman itu. Akhirnya, Hafisa yang tertusuk oleh preman itu.
"Hafisa!" teriak Destian.
"Teteh!" teriak Awalilah.
"Bodoh lo, kenapa lo tusuk Hafisa? ayo kabur!" ucap preman Hasan.
"Hafisa! kenapa kamu nolongin aku? hah? hiks-hiks-hiks...." ucap Destian sambil menangis.
"Kamu orang ba-baik Mas! ga-gak pantas terluka, biar aku aja!" ucap Hafisa pingsan.
"Hafisa!" teriak Destian.
"Teteh! jangan tinggalin Awalilah Teh! hiks-hiks-hiks...." Awalilah menangis.
Destian langsung menghubungi ambulans dan membawa Hafisa ke rumah sakit. Destian juga menghubungi Mamahnya dan menyuruh Mamahnya untuk membawa kedua orang tuanya Hafisa. Bu Ratna dan kedua orang tuanya kaget mendengar Hafisa tertusuk.
"Tolong Masnya tunggu di luar!" minta suster.
"Suster, tolong selamatkan calon istri saya!" ucap dan minta Destian.
"Saudari Hafisa sedang kami tangani dengan Dokter! harap Masnya tenang dan berdoa!" ucap Suster.
"Ya Allah, Hafisa! maafin aku gak bisa lindungin kamu! malah kamu yang lindungin aku!" ucap Destian.
"Hiks-hiks-hiks..... Teteh!" Awalilah menangis.
"Lilah, sabar yah! kamu banyak berdoa buat kesembuhan Teteh kamu! maafin Kakak yah, gak bisa jaga Teteh kamu!" ucap Destian.
"Awalilah mohon Kak, bantu sembuhkan Kak Hafisa! Kak Hafisa Kakak satu-satunya dan terbaik yang Awalilah punya, hiks-hiks-hiks.... tolong Kak!" minta Awalilah.
"Lilah, pokoknya kamu tenang aja yah! Kakak akan berusaha semampu Kakak agar Teh Hafisa sembuh. Kita banyak berdoa ya Lilah!" minta Destian.
****
Di kediaman rumah Hasan. Hasan ngamuk dan marah-marah pada Anak buahnya. Hasan langsung memecat Anak buahnya, dan Hasan gak mau tanggung jawab kalau sampai dilaporkan polisi.
"Maafkan saya Bos! saya tidak menusuk Hafisa, tapi saya ingin menusuk cowok yang bersama Hafisa. Tapi, Hafisa malah menghalangi, akhirnya kena dia!" ucap Anak buah Hasan.
"Bodoh kalian! bodoh! saya gak nyuruh kalian buat bunuh orang! saya suruh buat seret Hafisa ke sini!" ucap Hasan.
__ADS_1
"Maafkan saya Bos! sepertinya, cowok itu pintar bela diri. Jadi kami gak sanggup buat melawan selain menusuknya agar bisa bawa Hafisa." Ucap Anak buah Hasan.
"Akh...... BODOH! buat lo gak usah kerja sama gue lagi! dan kalau sampai lo keseret bawa-bawa gue, bakal habis keluarga lo sama gue!" ucap Hasan.
"Bos! saya mohon jangan pecat saya Bos!" minta Anak buah Hasan.
"PERGI! buat kalian, cari tahu rumah sakit Hafisa!" bentak Hasan.
"Baik Bos!" ucap Anak buah Hasan.
Hafisa, hiks-hiks-hiks..... kenapa kamu nekat lindungin cowok itu! kenapa kamu gak bisa sedikit saja menemui saya.
****
Di kediaman rumah Destian. Bu Ratna menangis dan syok mendengar Hafisa tertusuk. Bu Ratna bersiap-siap untuk menjemput kedua orang tuanya Hafisa di Vila.
"Bu, ada apa? kok nangis?" tanya Yanah.
"Hiks-hiks-hiks.... Hafisa tertusuk Yanah! saat mereka menjemput Awalilah. Hafisa menolong Destian." Ucap Bu Ratna.
"Astaghfirullah, ada-ada aja Bu! Hafisa, kasihan. Sekarang gimana keadaannya Hafisa Bu?" tanya Yanah.
"Masih ditanganin Dokter. Kamu jaga rumah aja yah! kalau mau jenguk kita gantian!" ucap Bu Ratna.
"Iya Bu, semoga Hafisa gak apa-apa dan terselamatkan ya Bu!" ucap Yanah.
"Aamiin..." ucap Bu Ratna.
"Siapa Yanah?" tanya Bu Ratna.
"Temannya Hafisa Bu!" ucap Yanah.
"Ya udah, angkat! saya mau siap-siap dulu yah!" ucap Bu Ratna.
"Iya Bu." Ucap Yanah.
"Assalamu'alaikum, mbak ini saya temannya Hafisa. Mau tanya, apakah Hafisa teh sudah sampai? perasaan saya teh gak enak." Ucap Euis.
"Wa'alaikumsalam, Hafisa belum sampai rumah. Iya, saya mau ngabarin kalau Hafisa saat habis jemput Adiknya tertusuk." Ucap Yanah.
"Naon? tertusuk? Astaghfirullah, hiks-hiks-hiks.... Hafisa! sekarang teh gimana keadaannya? rumah sakit mana?" tanya Euis khawatir.
"Kalau rumah sakit saya gak tahu. Nanti saya tanya majikan saya dulu yah!" ucap Yanah.
"Nya sok! nanti kalau udah tahu chat saya ya mbak! saya teh khawatir sama sahabat saya!" ucap Euis.
"Iya, nanti saya kabarin!" ucap Yanah.
"Nuhun mbak! Assalamu'alaikum." Ucap Euis.
__ADS_1
"Sama-sama. Wa'alaikumsalam." Ucap Yanah.
Ya Allah, semoga Hafisa gak kenapa-kenapa. Selamatkan Hafisa ya Allah. Malang banget sih, nasib kamu Hafisa.
****
Di rumah sakit medika, Hafisa di rawat. Dokter keluar dan akan melakukan operasi pada Hafisa. Selain itu, Hafisa juga banyak kekurangan darah.
"Dokter! gimana calon istri saya?" tanya Destian.
"Keadaan pasien Hafisa kritis, karena pisau yang digunakan untuk nusuk itu karatan dan melukai hingga dalam. Jadi, kami akan melakukan operasi. Apakah ada saudaranya?" tanya Dokter.
"Dokter! saya calon suaminya, lakukan yang terbaik! berapa pun biayanya, saya akan bayar!" ucap dan minta Destian.
"Bukan cuma itu Mas! pasien Hafisa banyak mengeluarkan darah. Jadi, saya butuh 2 kantong darah golongan Ab untuk pasien Hafisa!" ucap Dokter.
"Ambil darah saya Dokter! saya Ab juga!" ucap dan minta Destian.
"Berarti kurang 1 kantong lagi." Karena stok darah di sini kosong!" minta Dokter.
"Dokter! saya Ab! saya donor buat Kakak saya ya Dok!" ucap dan minta Awalilah.
"Kita periksa ke ruangan dulu yah!" ucap Dokter.
****
Saat itu, Awalilah dan Destian dicek darah. Destian berhasil dan cocok untuk donor ke Hafisa. Sedangkan Awalilah sangat lemah dan pucat. Jadi, Awalilah tidak bisa mendonorkan darahnya untuk Kakaknya.
"Maaf! untuk Adik Awalilah, tidak bisa ikut donor yah! karena Adik sangat lemah dan pucat. Kami gak mau terjadi apa-apa dengan Adik!" ucap Dokter.
"Saya gak apa-apa kok Dokter! saya baik-baik aja!" ucap Awalilah.
"Dari pemeriksaan, Adik belum bisa mendonorkan darah untuk Kakaknya. Mohon maaf yah! saya tunggu donor lain lagi! Terima kasih!" ucap Dokter.
"Hiks-hiks-hiks.... aku gak berguna buat Kak Hafisa!" ucap Awalilah.
"Lilah, kamu gak boleh berkata seperti itu yah! masih banyak dan harapan lain buat pendonor Kakak kamu! masih ada Ibu, atau Bapak kamu, siapa tahu cocok. Kamu sabar yah!" ucap Destian.
"Iya Kak!" ucap Awalilah.
Gak lama, BU Ratna, Bu Aminah, dan Abah Jajat sampai di rumah sakit Medika. Ibu Aminah menangis histeris dan pingsan.
"Destian!" ucap Bu Ratna.
Bersambung......
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰
__ADS_1
TA'ARUF CINTA