Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
BAB 22


__ADS_3

"Iya Mah, makasih atas motivasi Mamah. Destian bangga punya Mamah yang perhatian seperti Mamah." Ucap Destian.


"Sama-sama sayang." Ucap Bu Ratna.


****


Di perjalanan Aku hanya terdiam dan tersenyum pada Nena. Aku duduk di samping Iqbal, sedangkan Nena duduk di belakang. Nena langsung menghibur agar aku dan Iqbal gak diam-diaman.


"Hay, kok pada diam-diam aja? Kak Iqbal, Kak Fisa, kenapa sih? jangan gitu dong!" ucap Nena.


"Tahu tuh, Kakak di cuekin." Ucap Iqbal tersenyum.


"Gak apa-apa Nena. Mas, kenapa kamu bilang ke Bu Ratna dan Mas Destian sudah jadian? padahal kita belum jadian Mas. Waktu itu aku bilang iya, karena kamu gak mau lepasin aku." Ucapku.


"Terserah kamu Fisa, mau bilang belum jadian atau apa. Yang jelas kamu sudah bilang iya, dan kamu adalah kekasih aku!" ucap Iqbal.


"Kenapa pada ribut sih? Kak Fisa, emang gak mau sama Kak Iqbal? Kak Iqbal sayang sama Kakak dan baik. Setiap hari dia mikirin Kakak terus, Nena mohon sama Kak Fisa, terima Kak Iqbal Kak! Nena yakin dari mata Kak Fisa suka sama Kak Iqbal." Ucap Nena.


"Nena, Kak Fisa hanya seorang pembantu. Gak pantas buat Kakak kamu!" ucapku.


"Aku gak peduli mau kamu dari mana aja, mau dari kampung, papua, atau apapun itu! semua gak akan merubah aku. Aku sangat mencintaimu, aku mohon jangan tinggalin aku yah! izinkan aku berjuang buat kamu!" ucap Iqbal.


"Kalau kamu serius sama aku, kamu temuin orang tua aku Mas, aku gak mau pacaran. Aku mau langsung nikah!" ucapku tersenyum.


"Benaran? aku akan nemuin orang tua kamu Hafisa! aku akan buktikan." Ucap Iqbal.


"Aku tunggu Mas!" ucapku.


"Cie-cie-cie... ekhem. Nena senang banget dengarnya, semoga Kak Hafisa dan Kak Iqbal bersatu selamanya." Ucap Nena.


"Aamiin..." ucap Hafisa dan Iqbal.


****


Di Apartement Hasan. Hasan ngamuk-ngamuk karena tidak bertemu Hafisa. Hasan gak akan pulang sebelum bertemu Hafisa.


"Aaaaaaaa....." teriak Hasan.


"Bos! Bos gak apa-apa?" tanya Bodyguard Hasan.


"KELUAR KALIAN! KALIAN KERJA GAK BECUS! KELUAR!" bentak Hasan.

__ADS_1


Hafisa, di mana kamu? aku sangat merindukan kamu sayang. Kenapa kamu pergi tinggalin aku? pokoknya, aku akan secepatnya menemukan kamu Hafisa! kamu harus menikah denganku, harus.


Gak lama, ada telepon dari kampung. Kang Baron dan istrinya menelepon Hasan. Karena Marjanah sangat rindu dengan Hasan.


"Hallo, Hasan! kamu tidak apa-apa Nak?" tanya Kang Baron.


"Hiks-hiks-hiks... aku merana Pah, sampai sekarang aku belum menemukan Hafisa! tolong Hasan Pah!" ucap Hasan sambil menangis seperti orang gila.


"Hasan, sayang! ini Mamah Nak, kamu kenapa Nak? kenapa kamu nangis? kamu baik-baik aja kan?" tanya Bu Marjanah merebut telepon dari Kang Baron.


"Mah, Hasan belum ketemu Hafisa! Hasan harus gimana? tolong Hasan! hiks-hiks-hiks..." ucap Hasan sambil menangis.


"Hiks-hiks-hiks... Astaghfirullah Hasan! kamu pulang saja ya Nak! jangan cari wanita sial itu lagi! Mamah gak mau kamu sakit dan menangis seperti itu Hasan! pulang! hiks-hiks-hiks..." tangis Bu Marjanah meminta Hasan pulang.


"TIDAK MAH! HASAN GAK AKAN PULANG! SEBELUM HASAN MENEMUKAN HAFISA DAN MENIKAHI HAFISA! HASAN AKAN SERET DIA PULANG KE KAMPUNG!" bentak Hasan ke Mamahnya.


"Sadar Nak! sadar! hiks-hiks-hiks... Hallo Hasan! Hasan!" Hasan langsung mematikan ponselnya.


Gue gak akan menyerah! gak akan. Kalau Hafisa gak bisa gue miliki, orang lain pun sama.


****


Di kediaman rumah Kang Baron. Bu Marjanah menangis dan pingsan mendengar Anaknya Hasan seperti itu. Sampai akhirnya Kang Baron dendam dan menghampiri rumah Abah Jajat.


"Mamah sabar! sabar! Papah akan usaha gimana caranya buat menolong Hasan." Ucap Kang Baron.


Semua gara-gara Anak kamu Jat! saya akan beri perhitungan sama kamu! kamu udah buat Anak dan istri saya menangis. Jadi keluarga kamu juga harus menangis.


****


Akhirnya, Kang Baron sampai di rumah Abah Jajat. Kang Baron marah-marah pada Jajat. Kang Baron meminta permohonan sama Abah Jajat agar mau menerima Hasan menjadi menantunya. Tapi Abah Jajat menolaknya, sampai para Bodyguard memukuli Abah Jajat.


"Assalamu'alaikum, Jajat!" salam Kang Baron.


"Wa'alaikumsalam, kang Baron. Ada apa yah?" tanya Bu Aminah.


"Jajat ada? saya mau ngomong!" minta Kang Baron.


"Ada apa Bu? Kang Baron, ada apa yah?" tanya Abah Jajat.


"Gak sopan banget sih kamu! suruh masuk dulu Kek, kasih minum!" ucap Kang Baron.

__ADS_1


"Silakan masuk Kang!" ucap Abah Jajat dan Bu Aminah.


"Gitu dong! kan enak." Ucap Kang Baron.


"Bu, tolong buatkan minum yah!" minta Abah Jajat.


"Iya Bah." Ucap Bu Aminah merasa takut dan khawatir akan terjadi apa-apa.


Ya Allah, ada apa lagi Kang Baron ke sini? perasaan saya tidak enak. Ya Allah, lindungi kami ya Allah.


"Jat! saya mau menawarkan sama kamu. Tawaran yang bisa buat keluarga kamu bahagia." Ucap Kang Baron.


"Tawaran? tawaran apa Kang? maksudnya Kang Baron apa yah?" tanya Abah Jajat.


"Silakan Kang, diminum!" ucap Aminah meletakkan air untuk Kang Baron.


"Minah, sebaiknya kamu ikut duduk dekat suami kamu! saya mau sampaikan sesuatu sama kamu juga, biar tahu!" ucap Kang Baron.


"Ada apa Kang Baron?" tanya Bu Aminah.


"Begini-begini, Jajat, Minah, kalian mau gak rumah kalian di renovasi? sekolah Awalilah sampai sarjana, terus kamu Jat, bisa saya modalkan motor untuk jual sayur-sayuran kamu itu! gimana? mau kan?" tanya Kang Baron.


"Kang Baron, maaf sebelumnya, kenapa Kang Baron mau memberikan itu semua pada saya? saya gak mau berhutang Budi sama Kang Baron, dan menumpuk hutang saya sama Kang Baron!" ucap Abah Jajat.


"Kata siapa kamu hutang Budi sama saya? kamu hanya bisa memenuhi satu permintaan saya gak sulit kok! kamu bisa mendapatkan semuanya!" ucap Kang Baron.


"Maksud Kang Baron permintaan apa yah?" tanya Abah Jajat.


"Permintaan saya adalah, kamu mau menerima lamaran saya untuk Hasan! karena Anak semata wayang saya tergila-gila sama Anak kamu Hafisa! sampai dia ke Jakarta untuk menemui Anak kamu! gimana? gak sulit kan?" tanya Kang Baron.


"Mohon maaf Kang Baron sebelumnya, Saya menolak tawaran Kang Baron! karena itu sama artinya saya menjual Anak saya sendiri demi kemewahan, saya gak mau! dengan keadaan seperti ini saya sudah cukup dan sangat bersyukur." Ucap Abah Jajat.


"Kurang ajar kamu! dibaikin, malah kaya gini! ini sama saja penghinaan buat saya! saya gak terima! habisin dia!" perintah Kang Baron menyuruh para Bodyguard untuk memukuli Abah Jajat.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


DIARY ASMARA

__ADS_1



__ADS_2