Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 18


__ADS_3

"Baik Bos!" ucap para Bodyguard Hasan.


****


Keesokan paginya, Yanah menyuruh Hafisa untuk berbelanja ke pasar. Destian menawarkan untuk mengantar Hafisa.


"Yanah, kamu jadi ke pasar?" tanya Bu Ratna.


"Saya suruh Hafisa Bu, gak apa-apa kan?" tanya Yanah.


"Hafisa? ya gak apa-apa, tapi yakin dia bisa?" tanya Bu Ratna.


"Yakin Bu. Biar dia terbiasa jalan ke Jakarta. Soalnya, Hafisa bilang sama saya ingin tahu Jakarta." Ucap Yanah.


"Oke!" ucap Bu Ratna.


"Mah, Destian berangkat kuliah dulu yah!" ucap Destian.


"Hmm... Destian, sekalian kamu bareng Hafisa yah! dia mau ke pasar, takut dia nyasar." Ucap Bu Ratna tersenyum.


"Iya boleh. Hafisa mana?" tanya Destian.


"Mungkin masih di kamarnya." Ucap Bu Ratna.


"Nah, tuh Hafisa." Ucap Yanah.


"Pagi, Bu, Mas Destian, Yanah." Sapaku sambil tersenyum.


"Hafisa, kamu yakin mau ke pasar?" tanya Bu Ratna.


"Yakin Bu. Biar saya tahu Jakarta, biar saya tahu jalan juga. Kemarin Yanah sudah ngasih tahu saya." Ucapku.


"Di antar Destian yah! dia mau sekalian ke kampus." Ucap Bu Ratna.


"Ayo Hafisa!" ajak Destian.


"Gak merepotkan Mas Destian?" tanyaku.


"Gak sama sekali kok! ayo!" ajak Destian.


"Mah, Destian berangkat yah!" ucap Destian.


"Hati-hati kamu, jangan ngebut!" minta Bu Ratna.


Akhirnya, Hafisa pergi bersama Destian sampai pasar. Hafisa berterima kasih dan ingin membuka kunci mobil tapi gak bisa. Destian tersenyum dan langsung membuka pintu mobil.


"Udah sampai, itu pasarnya! kamu hati-hati yah!" ucap Destian.


"Makasih Mas, Mas sudah mengantar saya! saya permisi!" ucapku sulit membuka pintu mobil.


"Kenapa? gak bisa kebuka?" tanya Destian tersenyum.


"Gimana sih Mas? maklum orang kampung, gak pernah naik mobil mewah." Ucapku malu.

__ADS_1


"Bukanya seperti ini!" ucap Destian tersenyum sambil membuka pintu mobil.


"Makasih ya Mas!" ucapku langsung keluar dari mobil Destian.


"Hati-hati kamu! kalau ada apa-apa kabarin saya!" minta Destian.


"Iya Mas!" ucapku.


"Mau aku antar balik lagi gak? aku tunggu!" ucap dan tawaran Destian.


"Gak usah Mas! Mas berangkat kuliah aja, nanti telat lho!" ucapku.


"Oke!" ucap Destian sambil bercermin di spion.


DESTIAN FLESTINO



****


Aku langsung berbelanja sesuai catatan yang Yanah kasih. Saat aku berbelanja, aku melihat seseorang mengikutiku dari belakang.


"Boy itu Hafisa! sama kok fotonya!" ucap Bodyguard Hasan.


"Benar lo! ayo ikutin!" ucap Bodyguard Hasan.


Ya Allah, kenapa orang itu ngikutin aku terus. Apa copet? Ya Allah, aku minta perlindunganmu ya Allah.


"Hafisa tunggu!" panggil Bodyguard Hasan.


"Hafisa, sebaiknya kamu ikut dengan kami! Karena Bos Hasan mencari-cari kamu Hafisa!" ucap Bodyguard Hasan.


"Bilang sama Bos kalian! hutang Abah saya sudah lunas, jadi gak usah ngejar-ngejar saya lagi! PERGI! KALAU ENGGAK SAYA TERIAK MALING!" ucapku langsung lari. Bodyguard itu langsung mengejarku, aku salah melangkah. Aku malah lari ke tempat sepi, saat aku minta tolong gak ada satu pun yang menolong.


"Tolong! rampok!" ucapku sambil berlari. Untungnya Iqbal lewat jalan itu. Iqbal melihat aku terjatuh dan di kejar oleh orang berbadan besar. Kakiku luka dan berdarah.


Itu siapa? seperti Hafisa? Astaga Hafisa! Hafisa! aku harus nolong dia.


"Tolong jangan bawa saya! saya gak mau! hiks-hiks-hiks..." aku memohon sambil memegang kakiku yang luka. Aku lupa tidak bawa handphone Yanah, ketinggalan.


"Ayolah! kasihan kami dimarahi Bos kami! kamu bawa dia ke mobil!" ucap Bodyguard Hasan. Saat aku memberontak, Iqbal langsung menendang satu-satu para Bodyguard tersebut.


Brak-brak-brak


"Lo siapa? gak usah ikut campur urusan gue!" ucap Bodyguard.


"Kalian mau apa sama Hafisa? jangan pernah sentuh wanita itu!" bentak Iqbal. Iqbal dan para Bodyguard bertengkar, sampai Bodyguard Hasan menyerah dan kabur.


"Hafisa! kamu gak apa-apa?" tanya Iqbal.


"Gak apa-apa Mas, makasih Mas sudah menolong aku!" ucapku.


"Kamu mau kemana? kenapa kamu pergi sendiri? di sini bahaya Hafisa! aku obati luka kamu yah! kamu bisa ke mobil aku!" ucap Iqbal.

__ADS_1


"Panjang ceritanya Mas." Ucapku.


"Kita bisa ngobrol di mobil sambil obatin luka kamu! kamu mau yah!" ucap Iqbal.


"Saya janji! gak akan paksa kamu pulang ke rumah saya!" minta Iqbal.


"Iya Mas." Ucapku.


Akhirnya, Iqbal mengambil P3K di mobil. Iqbal dan Aku hanya duduk di taman sambil mengobrol dan mengobati luka di kakiku.


"Mas, sebaiknya duduk di situ aja! aku gak mau di mobil." Mintaku.


"Kenapa? aku gak ngapa-ngapain kamu kok!" ucap Iqbal.


"Bukan itu Mas, kalau ngobatin di dalam mobil anggapan orang apa, saya gak mau!" mintaku.


"Oke-oke! ayo duduk situ!" ajak Iqbal.


"Sini kaki kamu!" minta Iqbal dan aku menyodorkan kakiku.


"Makasih ya Mas. Kalau gak ada Mas Iqbal, mungkin aku dibawa sama orang tadi!" ucapku.


"Kenapa kamu gak minta antar yang lain, kenapa ke pasar bukan pembantu Destian. Destian gimana sih!" ucap Iqbal kesal.


"Mas Iqbal gak salah Mas. Dia tadi ngantar aku, dan sudah menawarkan aku buat menunggu. Tapi aku gak mau, takut dia telat ke kampus." Ucapku.


"Harusnya gak kamu yang belanja. Bisa pembantu Destian, kamu kan baru di Jakarta. Kalau sampai kamu nyasar gimana?" ucap Iqbal kesal.


"Aku yang mau Mas, bukan mereka. Karena aku ingin tahu Jakarta, biar aku tahu jalan. Sebenarnya, Bodyguard itu kenal sama aku. Dia Bodyguard Anak buah Renternir di kampung. Anaknya suka sama aku, sekarang dia di Jakarta karena ingin mencari aku!" ucapku.


"Astaghfirullah, ya udah nanti kamu pulang sama aku! aku antar sampai rumah Destian. Aku akan bilang sama Destian kejadian ini!" ucap Iqbal.


"Makasih ya Mas! kepala Mas Iqbal juga berdarah, aku obatin juga yah!" mintaku langsung mengobati Iqbal.


"Luka ini gak seberapa sakit Hafisa! kehilangan kamu itu sakit banget. Aku mau jujur sama kamu, kalau aku cinta sama kamu, sejak kamu hadir di rumahku. Karena gengsi dan malu, aku menyesal tidak menyatakan cinta sama kamu!" ucap Iqbal memegang tanganku.


"Mas salah kalau mencintai aku! aku hanya seorang pembantu. Aku hanya Anak kampung, yang gak pantas Mas cintai!" ucapku.


"Hafisa! di mulut kamu bisa berbohong. Tapi, hati kamu gak akan pernah bisa bohong. Kamu juga cinta sama aku kan? aku bisa baca dari mata kamu!" ucap Iqbal.


"Mas! aku mau pulang, takut Bu Ratna menanyakan belanjaan gak enak. Gak usah bahas cinta Mas!" mintaku.


"Hafisa! hiks-hiks-hiks... aku ingin kamu bilang iya cinta sama aku! aku ingin dengar dari bibir kamu!" minta Iqbal.


"Kalau Mas masih bahas cinta, saya pulang naik angkot saja!" ucapku melangkah meninggalkan Iqbal. Tapi Iqbal menarik tanganku dan memelukku sambil menangis.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


CINTA DAN DETIK TERAKHIR

__ADS_1



__ADS_2