
Pada saat itu, ada seseorang pemuda yang menolongku. Pemuda itu berkelahi dengan pemabuk-pemabuk itu, saat pemabuk-pemabuk itu kalah dan kabur, kepalaku pusing, kakiku luka, akhirnya aku pingsan dan dibawa oleh pemuda itu.
"Hei, Nona! bangun!" ucap pemuda itu langsung mengangkat badanku ke mobil dengan kondisi hujan.
Kasihan gadis ini, untung gue lewat. Kalau enggak, gimana nasib gadis ini.
"Ya ampun, Destian! kamu bawa siapa Nak?" tanya Mamahnya Destian.
"Tolongin Mah! nanti Destian ceritain." Ucap Destian.
"Oke, masuk! masuk!" ucap Mamahnya Destian.
Aku masih terbaring lemas. Bajuku telah di ganti oleh Pembantu karena basah kuyup. Aku memakai baju pembantu di rumah pemuda itu. Akhirnya, aku sadarkan diri dan bingung ada di rumah mewah.
"Nak, akhirnya kamu sadar." Ucap Mamahnya Destian.
"Saya di mana Bu? dan ini baju siapa?" tanyaku penasaran.
"Kamu minum dulu! tadi kamu diganggu preman dan mau diperkosa. Anak saya yang cerita sama saya dan menolong kamu." Ucap Mamahnya Destian.
"Ya Allah, Ibu makasih banyak sudah menolong saya. Anak Ibu mana? saya mau berterima kasih." Ucapku.
"Sama-sama. Anak saya sedang mandi, sesama manusia memang harus tolong-menolong. Nama kamu siapa? dan kamu tinggal di mana dan mau kemana?" tanya Mamahnya Destian.
"Saya Hafisa Bu, saya habis dipecat dari majikan saya. Saya berasal dari Garut, saya juga bingung mau kemana." Ucapku sedih.
"Kasihan kamu. Kenapa dipecat? tega sekali majikan kamu itu!" ucap Mamahnya Destian.
"Hanya karena, Anaknya yang masih SMP ingin tidur sama saya Bu. Anaknya itu perempuan, sudah lengket dengan saya, tapi Mamahnya marah dan melarang saya bergaul dengan Anak-anaknya." Ucapku.
"Gila! ya sudah, kamu sementara tinggal di rumah saya saja dulu! gimana?" tanya Mamahnya Destian.
"Gimana ya Bu? saya harus mencari pekerjaan. Soalnya saya sedang butuh uang. Saya gak bisa lama-lama di sini." Ucapku.
"Kamu bekerja di sini saja, biar saya yang gaji kamu!" ucap Mamahnya Destian.
"Benaran Bu? saya mau!" ucapku.
"Oke, besok kamu sudah mulai bekerja. Kebetulan di sini ada pembantu, kasihan dia ngurus rumah sendiri, nanti kamu bagi-bagi tugas saja dengan Yanah yah!" ucap Mamahnya Destian.
Gak lama, Pemuda itu datang dan masuk kamarku dengan senyuman manis. Dia bernama Destian, dia sangat baik seperti Ibunya. Dia berkenalan denganku dan sangat senang aku bekerja di rumahnya.
"Mah." Sapa Destian.
"Nah, ini Anak Tante satu-satunya. Dia yang sudah menolong kamu!" ucap Mamahnya Destian.
__ADS_1
"Mas, terima kasih yah, sudah menolong saya!" ucapku.
"Sama-sama, gak usah panggil Mas! panggil aja Destian atau Tian." Ucap Destian tersenyum.
"Baik Tian! Saya Hafisa." Ucapku.
"Oh iya, Tian! Hafisa besok akan bekerja di rumah ini. Kasihan dia butuh uang dan gak punya tempat tinggal, dia habis dipecat oleh majikannya." Ucap Mamah Destian.
"Oh, gitu Mah. Oke siap! semoga kamu betah bekerja di sini yah!" ucap Destian tersenyum.
"Makasih Bu, Tian." Ucapku.
"Ya sudah, kamu istirahat aja. Sayang, ayo! biarkan Hafisa istirahat! besok bisa kan, kalian ngobrol-ngobrol lagi." Ajak Mamahnya Destian.
Destian dan Mamahnya keluar kamarku. Destian tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Aku bersyukur dipertemukan orang-orang baik seperti Destian dan Mamahnya.
****
Apa dia jodohku? sepertinya dia wanita baik dan soleha. Apa aku jatuh cinta? sejak menolong dia dan membawa dia ke mobil, aku udah ada rasa padanya.
"Kamu kenapa? kok senyum-senyum gitu?" tanya Mamahnya.
"Enggak Mah." Ucap Destian tersenyum.
"Kamu tertarik dengan gadis itu? gak apa-apa kalau kamu tertarik. Mamah lihat, dia baik dan soleha. Semangat Mamah dukung!" ucap Mamahnya Destian.
****
Keesokan paginya, Nena Adik Iqbal menangis melihat kamarku kosong. Nena marah dan sangat kesal dengan Mamahnya. Nena merengek meminta Iqbal mencariku.
"Mamih! Kak Hafisa kemana?" tanya Nena.
"Dia mengundurkan diri! nanti Mamih cari pembantu lagi buat kamu!" ucap Bu Fransiska.
"Bohong! pasti Mamih usir Kak Hafisa! Nena kecewa sama Mamih! Nena gak mau sekolah! sebelum Kak Hafisa pulang ke rumah ini!" ucap Nena.
"Nena! kamu harus sekolah! ngapain sih, kamu mikirin pembantu itu!" ucap Bu Fransiska.
"Mamih cukup! Mamih sudah keterlaluan mengusir dan pecat Hafisa! Iqbal kecewa sama Mamih! Iqbal akan membawa Hafisa pulang ke rumah ini demi Nena. Iqbal juga sudah ada rasa dengan dia!" ucap Iqbal.
"Apa? ha-ha-ha... kamu ada rasa dengan pembantu itu? jangan gila Iqbal! kamu gak selevel dengan dia! gak sederajat dengan pembantu itu! jadi tolong, lupakan pembantu itu!" minta Bu Fransiska.
"Cukup Mih! Iqbal tetap akan mencari Hafisa. Sampai ke ujung dunia, Iqbal akan cari! Nena sayang, Adik Kakak yang paling cantik. Kamu harus sekolah, Kak Iqbal janji sama kamu, Kak Iqbal akan mencari Kak Hafisa. Tapi kamu harus sekolah dulu, kalau kamu gak sekolah, Kakak gak akan cari." Ucap Iqbal.
"Serius Kak? Nena akan sekolah! tapi janji, Kakak harus cari Kak Hafisa!" minta Nena.
__ADS_1
"Iya Adikku sayang." Ucap Iqbal.
"Mau cari kemana kamu? Jakarta luas! mungkin dia udah pulang kampung, atau di jahatin orang di luar sana!" ucap Bu Fransiska.
"Terserah Mamih! Iqbal akan tetap mencari Hafisa! kemana pun, akan Iqbal cari." Ucap Iqbal.
"Sudah Iqbal, pembantu baru saja! nurut apa kata Mamih kamu!" ucap Pak Setiawan.
"Iqbal gak ngomong sama Papih!" Ucap Iqbal langsung pergi dan mengendarai mobil dan mengantar Nena ke sekolah.
"Iqbal.....!" teriak Bu Fransiska memanggil Iqbal.
"Sudah Mih, biarkan saja! dia gak bakal ketemu kok sama Hafisa. Sekarang Mamih fokus cari pembantu lagi aja!" minta Pak Setiawan.
"Papih ngebet banget Mamih cari pembantu?" tanya Bu Fransiska.
"Ya ngebet lah Mih, nanti di rumah siapa yang mau bantu kita! Papih gak mau Mamih kerepotan nanti. Atau Papih aja yang cari gimana?" tanya Pak Setiawan.
"Ya udah Papih aja deh! Mamih lagi mumet." Ucap Bu Fransiska.
Yes, akhirnya Fransiska nurut juga. Aku bosan dengan Fransiska. Aku bakal suruh Retno buat bekerja di sini, gak perlu sewa hotel lagi buat bersama Retno.
****
Iqbal mengantar Nena ke sekolahnya. Di sepanjang jalan, Nena menangis terus-menerus memikirkan Hafisa. Iqbal langsung menghibur Nena dan semangatin Nena.
"Dek, udah dong! jangan nangis terus." Minta Iqbal.
"Nena kesal sama Mamih! kenapa pecat Kak Hafisa, sekarang dia tinggal di mana Kak? Nena takut terjadi apa-apa dengan Kak Hafisa." Ucap Nena.
"Insya Allah, enggak akan terjadi apa-apa. Kak Hafisa kan baik, pasti banyak orang baik yang menolong dia. Sekarang, kamu hapus air mata kamu, fokus sekolah yah!" nasihat Iqbal ke Nena.
Hafisa kamu di mana sekarang? Aku akan berusaha mencari kamu. Aku sudah mulai ada rasa dengan kamu Hafisa, maafkan aku gak bisa menolong kamu.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- TA'ARUF CINTA
- CINTA GADIS BISU
- CINTA DAN DETIK TERAKHIR
__ADS_1
- DINGINNYA CINTA BIMA
- DIARY ASMARA