
"Saya mau ketemu Teh Euis Bu. Saya mau tanya kenapa rumah saya terbakar?" tanya dan ucap Awalilah sedih.
"Gak ada Euis! pergi kamu! mungkin Abah kamu banyak salah, mangkanya dibakar rumahnya." Ucap Bu Enok.
"Ada apa ini? Lilah? Astaghfirullah, Lilah. Kamu kemana aja sayang? semua panik nyariin kamu lho!" ucap Euis kaget melihat Awalilah kembali.
"Lilah hanyut Teh, terbawa arus. Sampai Lilah nyasar di Bandung." Ucap Lilah.
"Masuk dulu sini!" ajak Euis.
"Ngapain Euis? jangan!" ucap Bu Enok.
"Ibu kunaon sih? ulah kitu atuh Bu!" ucap Euis.
"Lilah mau ketemu Abah sama Ibu aja Teh, kenapa rumah Lilah dibakar?" tanya Awalilah.
"Teteh juga gak tahu kalau soal itu. Tapi, lagi diselidikin semua. Iya, tapi Lilah masuk dulu! nanti Teh Euis teleponin Teh Hafisa." Ajak Euis.
"Iya Teh." Ucap Awalilah.
"Cepat kamu teleponin Euis! biar dia buru-buru pulang dan gak merepotkan lagi!" ucap Bu Enok kesal.
"Ibu! ulah kitu ah! Lilah, teteh bikin minum dulu buat kamu yah! jangan kemana-mana!" minta Euis.
Setelah Euis membuatkan minum dan makanan, Lilah langsung melahap makanan dan minuman yang disediakan Euis. Karena Lilah kabur dalam keadaan perut kosong dan haus.
Ya ampun, Lilah lahap banget makan dan minumnya. Kasihan kamu Lilah.
"Lilah, Teteh mau tanya boleh?" tanya Euis.
"Tanya apa Teh?" tanya Lilah kembali.
"Selama ini, kamu tinggal bersama siapa?" tanya Euis.
"Lilah tinggal sama Bapak tukang bubur ayam yang baik hati Teh, tapi Anaknya nyiksa Lilah dan gak suka dengan Lilah. Sampai-sampai Lilah kabur dan mencari orang yang mau antar Lilah ke sini. Alhamdulillah, ada Bapak supir gak yang baik hati Teh." Ucap Lilah.
"Ya ampun, kasihan kamu Lilah. Tapi, Allah masih sayang sama kamu. Ada beberapa orang baik mau menolong kamu. Teteh bersyukur sekali. Lilah, kamu habisin makanannya yah! Teh Euis mau kasih kabar ke Teh Hafisa biar bisa jemput kamu!" ucap Euis.
"Makasih ya Teh, Teh Euis sudah baik sama Awalilah." Ucap Lilah.
Akhirnya, Euis menghubungi Hafisa ke nomor Yanah. Hafisa sangat senang mendengar kabar Awalilah kembali.
"Iya, Assalamu'alaikum. Ini siapa yah?" tanya Yanah.
"Wa'alaikumsalam. Maaf teh, saya Euis temannya Hafisa. Saya boleh bicara dengan Hafisa?" tanya dan minta Euis.
"Boleh-boleh! sebentar ya Teh." Ucap Yanah.
__ADS_1
"Iya nuhun Teh." Ucap Euis.
Yanah langsung menghampiri Hafisa yang sedang menyapu halaman. Yanah memberikan telepon Yanah ke Hafisa.
"Hafisa!" panggil Yanah.
"Iya Yan. Ada apa?" tanyaku.
"Ini ada teman kamu telepon. Ini!" ucap Yanah memberikan ponselnya ke Hafisa.
"Oh, iya. Makasih Yan." Ucapku.
"Hallo, Assalamu'alaikum." Salamku.
"Wa'alaikumsalam, Hafisa. Ini Euis." Ucap Euis.
"Euis, apa kabar? maaf, Yanah gak simpan nomor kamu. Ada apa Euis telepon aku?" tanyaku.
"Euis baik-baik aja Fisa, kamu sendiri gimana? Euis mau ngabarin kabar gembira ke kamu." Ucap Euis.
"Alhamdulillah kalau kamu baik. Aku juga baik Is. Kabar apa nih?" tanyaku penasaran.
"Sakedap nya!" ucap Euis.
"Assalamu'alaikum, hallo Teh Hafisa. Ini Awalilah Teh, hiks-hiks-hiks.... Teteh di mana?" ucap Awalilah sambil menangis.
"Iya, ini benaran Lilah Teh. Teteh jemput Lilah! Lilah mau pulang!" ucap Lilah menangis.
"Lilah jangan nangis yah! Teteh akan jemput Lilah, Lilah baik-baik aja kan sayang?" tanyaku.
"Alhamdulillah Teh, Lilah baik-baik aja. Lilah kangen sama Ibu, Abah, Teteh. Cepat ya Teh jemput Lilah!" minta Lilah.
"Iya sayang, Teteh secepatnya akan jemput kamu! kamu sabar dulu ya Lilah. Janji sama Teteh jangan kemana-mana lagi!" mintaku.
"Iya teh Lilah janji." Ucap Lilah.
"Cepat jemput Adik kamu! saya gak mau nampung Adik kamu walaupun sehari!" ucap Bu Enok berteriak.
"Ibu! nanaonan sih? Hafisa, jangan dengarin Ibu aku yah! gak apa-apa kok, kalau Lilah emang nginap sehari di sini, sambil nunggu kamu datang." Ucap Euis.
"Makasih banyak Euis, maaf sudah merepotkan Euis. Aku janji secepatnya jemput Lilah. Gak enak sama Ibu kamu, kalau Lilah harus menginap. Aku titip Lilah ya Is, sampai aku ke sana!" ucapku.
"Gak apa-apa atuh Fisa, kalau emang gak sempat mah. Ibu aku mah jangan di dengarin! pasti Fisa, pasti aku jaga Awalilah. Kamu tenang aja yah!" ucap Euis.
"Makasih banyak ya Euis. Kamu emang sahabat terbaik aku. Ya udah atuh, aku lanjut kerja lagi, dan siap-siap mau jemput Awalilah. Gak enak handphone orang." Ucapku.
"Oh, nya atuh sok! jaga kesehatan ya Hafisa! aku tutup yah! Assalamu'alaikum." Salam Euis.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." Ucapku tersenyum.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu?" tanya Yanah.
"Alhamdulillah, Adikku sudah ketemu Yanah. Sekarang dia ada di rumah teman aku." Ucapku senang.
"Alhamdulillah, Allah mendengar doa kamu! sekarang kamu telepon Mas Destian aja! Kasihan dia lagi nyari-nyari." Minta Yanah.
"Iya Yanah. Aku boleh pinjam handphone kamu lagi gak? nanti aku ganti pulsanya!" mintaku merasa tidak enak.
"Pakai aja! kamu kaya sama siapa aja. Asal kamu tahu yah, itu pulsa banyak ada seratus ribu. Jadi santai aja, gak usah diganti!" ucap Yanah.
"Alhamdulillah, makasih ya Yanah!" ucapku.
"Sama-sama Hafisa. Biar aku yang beres-beres taman, kamu telepon Mas Destian aja dulu!" ucap Yanah tersenyum.
Akhirnya Hafisa menghubungi Destian. Destian sangat senang mendengarnya. Karena semakin cepat masalahnya, maka semakin cepat dia menikahi Hafisa.
"Hallo, Assalamu'alaikum. Ada apa Yanah?" tanya Destian.
"Wa'alaikumsalam, ini Hafisa Mas. Maaf aku ganggu!" ucapku.
"Oh, Hafisa. Maaf aku kira Yanah. Enggak sama sekali Hafisa, aku senang kamu mau telepon aku. Ada apa?" tanya Destian tersenyum sambil mengendarai mobil.
"Mas, sekarang Mas pulang yah! gak usah nyari Awalilah lagi. Sekarang dia udah kembali. Dan dia ada di rumah teman aku Euis." Ucap dan minta Destian.
"Alhamdulillah, ya Allah. Allah mendengar doa-doa kamu. Aku senang sekali mendengarnya. Ya udah, aku pulang yah! kamu tunggu aku, nanti sama aku ke rumah teman kamu!" ucap Destian.
"Iya Mas, kamu hati-hati yah! dan makasih banget, kamu udah mau bantu aku!" ucapku.
"Sama-sama Hafisa." Ucap Destian tersenyum dan menutup handphonenya.
Alhamdulillah, saya senang Hafisa. Akhirnya, Adik kamu sudah kembali.
****
Di kediaman rumah Iqbal. Iqbal hanya pasrah menuruti semua kehendak orang tuanya. Akhirnya, Iqbal mau menikahi Sheila. Hati Iqbal sakit tapi, Iqbal harus ingat apa kata Hafisa. Dia harus jadi cowok bertanggung jawab atas semua perbuatan. Gak boleh lari dari masalah. Iqbal mau menuruti apa kata Bu Fransiska itu, karena perkataan Hafisa.
Bersambung......
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰
KISAH ARGA SEASON 2
__ADS_1