
"Mungkin, majikannya agak pelit Bu. Ibu sabar aja yah! Abah yakin, Hafisa gak seperti yang Ibu bilang." Ucap Abah Jajat.
"Iya Bah, semoga yah!" ucap Bu Aminah.
Aku membantu Yanah masak di dapur. Saat Yanah mencicipi masakanku ternyata enak, Yanah sangat menyukainya.
"Yan!" panggilku.
"Iya, kenapa?" tanya Yanah.
"Kamu cobain masakan aku, enak atau enggak. Aku takut gak enak." Ucapku.
"Oke, mana-mana!" ucap Yanah sambil mencicipi masakanku.
"Gimana Yan? enak gak?" tanyaku penasaran.
"Mmm... mantap! kamu jago juga masak ya? saya suka. Apa lagi Ibu Ratna sama Destian, pasti suka banget." Ucap Yanah.
"Serius?" tanyaku masih gak percaya.
"Serius Hafisa. Aduh, aku jadi lapar!" ucap Yanah.
"Ya udah, kamu makan aja! biar aku gantiin pekerjaan kamu, nanti gantian aja!" mintaku.
"Beneran?" tanya Yanah.
"Benar dong! masa aku bohong." Ucapku.
"Asyik... makasih yah!" ucap Yanah.
"Sama-sama." Ucapku tersenyum.
****
Di kampus setelah selesai jam kuliah, Iqbal, Destian dan Wawan berangkat mencari Hafisa. Sayangnya Iqbal gak mau ngasih tahu nama pembantu itu. Iqbal penasaran dengan pembantu yang di rumah Destian. Mereka naik mobil masing-masing kecuali Wawan numpang dengan Destian.
Gue penasaran sama pembantu di rumah Destian. Dari ceritanya mirip dengan Hafisa. Apa gue ke rumah Destian aja yah?
"Woy, Bro kenapa berhenti?" tanya Destian.
"Des! gue mau ngomong sama lo bentar!" minta Iqbal.
"Ngomong apa?" tanya Destian.
"Bentar Wan, gue ngomong sama Iqbal dulu!" minta Destian.
"Oke!" ucap Wawan.
"Ada apa sih, Bal?" tanya Destian.
"Gue minta lo jujur sama gue! pembantu baru lo siapa namanya?" tanya Iqbal.
"Kok pembantu gue sih?" tanya Destian.
"Soalnya gue baru ingat masalah pembantu lo sama persis yang pembantu gue alami!" ucap Iqbal.
"Nama pembantu lo siapa?" tanya Destian.
"Hafisa." Jawab Iqbal.
"pembantu baru gue juga Hafisa. Mungkin, hanya sama nama aja." Ucap Destian lemas.
__ADS_1
"Apa? gue yakin itu pembantu gue! sekarang kita ke rumah lo!" minta Iqbal.
"Ke rumah gue?" tanya Destian.
"Iya." Ucap Iqbal.
"Oke!" ucap Destian.
Semoga Hafisa yang Iqbal maksud, bukan Hafisa yang ada di rumah gue. Gue gak rela Hafisa jadi milik Iqbal.
****
Setelah satu jam perjalanan, Akhirnya mereka sampai rumah Destian. Destian gugup, takut kehilangan Hafisa.
"Assalamu'alaikum. Salam Destian dan lainnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Yanah.
"Yan, kamu buatkan minum teman-teman saya yah! sekalian panggil Hafisa!" minta Destian.
"Siap Mas Tian." Ucap Yanah.
"Hafisa! kamu bawa minuman ini ke ruang tamu yah! ini perintah dari Mas Destian." Ucap Yanah.
"Oke Yan. Ada tamunya yah!" ucapku.
"Iya, tamunya ganteng-ganteng tuh! kali aja ada yang kamu taksir. He-he-he...." Ucap Yanah.
"Bisa aja kamu Yan!" ucapku.
"Kalau aku masih gadis, aku gaet. Sayangnya udah punya suami." Ucap Yanah.
****
"Mas Iqbal!" ucapku kaget.
"Hafisa! tuh kan, benar dugaan gue Des! ini Hafisa yang gue cari." Ucap Iqbal tersenyum.
"Saya permisi!" ucapku langsung melangkah ke dapur.
"Hafisa! tunggu!" panggil dan tarik Iqbal.
"Mas, tolong lepasin saya!" ucapku.
"Enggak! kamu sekarang ikut saya pulang! Nena nangis kangen sama kamu!" minta Iqbal tidak mau melepas.
"Maafin saya Mas, saya gak bisa ikut Mas lagi. Karena ini semua kemauan Bu Fransiska." Ucapku.
"Nanti aku yang bilang sama Mamih! kamu gak usah takut." Minta Iqbal.
"Maaf Mas, saya gak bisa! saya sudah janji sama Mamihnya Mas Iqbal." Ucapku.
"Hafisa! tolong! kasihan Nena. Asal kamu tahu, aku sudah mulai mencintai kamu! di depan Wawan dan Destian biar menjadi saksi." Ucap Iqbal.
"Maaf Mas, saya gak bisa! Mas mencintai orang yang salah. saya hanya sebagai pembantu, gak pantas buat Mas Iqbal." Ucapku berlinang air mata.
"Hafisa, tolong! aku yakin, kamu juga cinta sama aku kan?" tanya Iqbal.
"Maaf Mas!" aku langsung lari ke dapur. Iqbal terus mengikutiku dan langsung memelukku depan Yanah, Wawan dan Destian.
"Hafisa, tolong jangan pergi! aku mohon! aku gak mau kehilangan kamu." Minta Iqbal.
__ADS_1
"Iqbal! cukup! kalau Hafisa gak mau, gak usah maksa! biarin dia di sini! dari pada di rumah lo tersiksa." Saran Destian.
"Lo gak usah ikut campur! ini urusan gue sama Hafisa." Ucap Iqbal.
"Mas Iqbal, cukup! saya gak mau kembali ke rumah Mas! saya gak mau ingkar janji sama Mamihnya Mas!" ucapku langsung meninggalkan Iqbal, Destian, Wawan dan Yanah.
"Hafisa!" panggil Iqbal.
"Lo bisa ngerti gak Bro! Hafisa gak mau balik ke rumah lo!" ucap Destian.
"Lo puas kan? puas? lo ada rasa kan sama dia? awas aja lo!" ancam Iqbal langsung pergi dari rumah Destian.
"Lo yang sabar yah, ngadepin Iqbal! gue pamit." Ucap Wawan langsung menepak pundak Destian dan pergi menyusul Iqbal.
"Sebenarnya, ada apa sih Mas? teman Mas Tian suka sama Hafisa?" tanya Yanah.
"Kepo!" ucap Destian.
Yeee... pelit banget sih Mas. Hebat sih Hafisa direbutin cowok ganteng, gue berharap Hafisa sama Mas Destian.
****
Destian langsung mengetuk pintu kamar Hafisa. Hafisa menangis kenapa harus bertemu Iqbal. Iqbal menyatakan cinta padanya, membuat Hafisa bergetar dan sedih. Selain itu, Hafisa juga sedih mendengar Nena kangen padanya. Rasanya, Hafisa ingin sekali bertemu Nena. Tapi dia tidak bisa.
Tok-tok-tok
"Siapa?" tanyaku.
"Buka Hafisa! ini Destian." Ucap Destian.
"Mas." Ucapku sambil menghapus air mata.
"Boleh bicara sama kamu di taman?" tanya Destian.
"Boleh." Ucapku.
****
Destian dan Hafisa sampai di taman belakang. Destian mengambil tisu untuk Hafisa. Hafisa cerita semua pada Destian, dan meminta agar tidak membawa Iqbal ke rumahnya lagi.
"Hapus nih!" Destian memberikan tisu padaku.
"Makasih Mas." Ucap Destian.
"Sebenarnya ada apa kamu sama Iqbal?" tanya Destian.
"Gak ada hubungan apa-apa Mas. Aku tuh, dipecat sama Mamahnya. Aku diusir malam-malam Mas, hiks-hiks-hiks... karena masalah aku gak boleh dekat sama Adiknya Mas Iqbal. Aku sama Mas Iqbal gak ada hubungan apa-apa.
"Mmm... Adiknya sayang banget sama kamu kata Iqbal. Sampai gak mau makan, kira aku kamu ada hubungan sama Iqbal." Ucap Destian.
"Gak ada Mas! baru tadi Mas Iqbal nyatain cinta sama aku, aku kaget. Untuk saat ini, aku gak mau bertemu Iqbal Mas! tolong jangan temuin aku sama dia!" mintaku.
"Iya Hafisa. Tapi perasaan kamu gimana ke Iqbal? kalau kamu suka, kamu perjuangin! begitu juga dengan dia harus perjuangin kamu!" saran Destian.
"Aku sebenarnya ada rasa sama Mas Iqbal. Tapi itu semua gak mungkin. Drajat aku sama dia beda!" ucapku.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
__ADS_1
CINTA GADIS BISU