Cinta Hafisa

Cinta Hafisa
Bab 17


__ADS_3

"Sebenarnya ada apa Mas?" tanyaku.


"Maafin saya Hafisa, tadi saya dengar percakapan kamu di telepon sama keluarga kamu. Maaf sebenarnya keluarga kamu ada masalah apa? dan berapa hutang orang tua kamu!" ucap Destian.


"Gak baik Mas, kalau saya ceritakan." Ucapku.


"Hafisa, kamu bilang aja sama saya! kalau saya mampu dan bisa, bakal saya bantu." Ucap Destian.


"Maaf Mas, saya gak bisa cerita permisi!" ucapku langsung meninggalkan Destian.


"Hafisa!" panggil Destian.


Sebenarnya ada masalah apa sama keluarganya? dan berapa hutang keluarganya Hafisa? biar aku cari tahu sendiri.


"Sayang, belum tidur?" tanya Bu Ratna Mamahnya Destian.


"Belum Mah." Ucap Destian.


"Wajah kamu kenapa murung gitu?" tanya Bu Ratna.


"Gini Mah, ternyata Hafisa itu mantan pembantu di rumah Iqbal. Iqbal suka sama Hafisa, dan tadi Destian dengar kalau Hafisa lagi ada masalah keluarga." Ucap Destian.


"Oh, jadi Mamahnya Iqbal yang ngusir Hafisa? kelewatan emang. Masalah keluarga?" tanya Bu Ratna.


"Iya Mah, tapi Hafisa gak mau cerita. Kayanya orang tuanya punya hutang gitu deh! tadi Destian dengar." Ucap Destian.


"Destian, kalau Hafisa gak mau cerita kamu gak usah maksa! biarin dia tenang. Suatu saat kalau hatinya tenang dia bakal mau cerita. Mamah mau tanya sama kamu, kamu suka sama Hafisa?" tanya Bu Ratna.


"Ah.. Mamah bisa aja." Ucap Destian tersenyum.


"Benar?" tanya Bu Ratna.


"Tapi Hafisa cinta sama Iqbal. Destian gak mau jadi orang egois Mah." Ucap Destian.


"Bagus Anak Mamah! Anak Mamah rupanya sudah dewasa yah? kalau emang kamu gak bisa dapatin cinta Hafisa, untuk sahabatan itu lebih baik." Ucap Bu Ratna.


"Iya Mah. Mamah emang selalu ngertiin Destian. Destian sayang Mamah." Ucap Destian.


"Mamah juga sayang kamu! kamu istirahat gih! udah malam juga. Besok kuliah kan?" tanya Bu Ratna.


"Iya Mah. Makasih ya Mah!" ucap Destian.


****


Di kediaman rumah Iqbal. Iqbal melihat Papihnya malam itu masuk kamar Pembantu baru yang bernama Retno. Iqbal langsung mengetuk pintu dan ingin menghajar Papihnya. Tapi karena orang tua Iqbal tahan amarahnya sambil menangis.


Tok-tok-tok


"Iqbal!" ucap Pak Setiawan kaget.

__ADS_1


"Kenapa Pih? kaget?" tanya Iqbal.


"Iqbal, ini gak seperti apa yang kamu lihat." Ucap Pak Setiawan.


"Papih ngapain sama pembantu ini di dalam kamar? Iqbal bukan Anak kecil, Iqbal gak bodoh! heh, sekarang kamu keluar dari rumah saya!" ucap Iqbal.


"Iqbal kamu hanya salah paham Nak!" ucap Pak Setiawan.


"Ih..... rasanya tangan Iqbal ingin menonjok Papih. Tapi Iqbal masih hargai Papih orang tua Iqbal. Hiks-hiks-hiks... sampai kapan Papih khianati Mamih? SAMPAI KAPAN?" tanya Iqbal sambil membentak Papahnya dan memukul tangannya ke tembok.


"Ada apa ini? Iqbal, ada apa?" tanya Bu Fransiska.


"Mamih tanya aja sendiri sama kelakuan bejatnya!" ucap Iqbal.


"Papih ngapain di kamar Retno hanya pakai celana kolor, dan kamu pakai handuk. Papih berbuat mesum? Papih khianatin Mamih? hah? hiks-hiks-hiks..." ucap Bu Fransiska.


"Mih, Papih khilaf! maafkan Papih!" Pak Setiawan meminta maaf pada Bu Fransiska.


"Papih jahat! hiks-hiks-hiks... padahal Mamih sudah percaya sama Papih. Dasar kamu pelakor! mati kamu!" Bu Fransiska menjambak rambut Retno dan mencakar-cakar wajah Retno. Sedangkan Iqbal kembali ke kamarnya sambil menangis melihat kelakuan Papihnya.


"Mulai sekarang, kalian pergi dari rumah ini! ini rumah saya, kamu gak ada hak! PERGI KALIAN! saya minta gugat cerai!" ucap Bu Fransiska.


"Jangan Mih! jangan!" minta Pak Setiawan.


"Jadi, rumah ini bukan rumah kamu Mas? memalukan!" ucap Retno.


"PERGI KAMU PEREMPUAN JALAN! KAMU JUGA PERGI DARI RUMAH SAYA! SAYA GAK SUDI PUNYA SUAMI SELINGKUH DAN SANGAT MENJIJIKKAN!" ucap Bu Fransiska.


"Mamih, kenapa nangis? hiks-hiks-hiks..." tanya Nena menghampiri Mamihnya.


"Nena, anggap kamu gak punya Papih lagi yah! Papih kamu sudah khianatin Mamih! hiks-hiks-hiks..." ucap Bu Fransiska.


"Nena lihat semuanya Mih, Nena benci Papih! benci hiks-hiks-hiks..." Nena berlari ke kamarnya dan menangis.


****


Iqbal menangis. Saat menangis, Iqbal jadi ingat Hafisa. Iqbal berpikir lebih baik Hafisa tidak tinggal di rumah neraka ini. Iqbal bersyukur karena Hafisa bebas dari rayuan Papihnya.


Ya Allah, apa dosa keluargaku? kenapa aku punya Papih yang bejat? hiks-hiks-hiks... Hafisa, aku bersyukur kamu pergi dari rumah ini. Aku bersyukur kamu bebas dari rayuan Papih.


Tok-tok-tok


"Siapa?" tanya Iqbal.


"Nena Kak." Ucap Nena.


"Masuk Dek!" ucap Iqbal.


"Kakak! hiks-hiks-hiks... Papih sudah diusir sama Mamih. Terus Mamih mau cerai sama Papih! hiks-hiks-hiks..." ucap Nena sambil menangis.

__ADS_1


"Nena, kamu jangan nangis! emang seharusnya Papih pergi dari rumah ini. Biar Mamih gak tersakiti oleh Papih. Kamu gak usah nangis!" minta Iqbal.


"Kalau Mamih sama Papih cerai, aku gak punya Papih lagi dong Kak?" tanya Nena.


"Meskipun kamu gak punya Papih, kamu masih punya Kak Iqbal. Kak Iqbal, selalu ada buat kamu!" ucap Iqbal memeluk Adiknya.


"Andaikan ada Kak Hafisa Kak, Nena gak akan sesedih ini. Nena jadi kangen sama Kak Hafisa. Kak Nena nemuin foto Kak Hafisa di kamarnya. Hiks-hiks-hiks..." Ucap Nena sambil memegang foto Hafisa.


"Boleh Kakak lihat?" tanya Iqbal.


"Ini Kak, Kakak simpan aja! sambil buat cari Kak Hafisa, siapa tahu, orang-orang ada yang melihat. Nena kangen sama Kak Hafisa." Ucap Nena



Hafisa, posisi saya serba salah sekarang. Kalau kamu tinggal di sini, kamu pasti tersiksa sama Mamih, belum sifat Papih yang mata keranjang. Satu sisi lagi, saya senang dan bahagia kalau kamu, saya dan Nena bisa berkumpul bersama. Maafin Kakak Nena belum bisa jujur sama kamu.


"Kakak kok melamun? cari Kak Hafisa Kak! bawa ke sini lagi!" minta Nena.


"Hah? enggak sayang. Insya Allah, Kakak akan cari Kak Hafisa." Ucap Iqbal.


"Janji!" minta Nena.


"Hmmm... janji!" ucap Iqbal.


"Nena boleh tidur sama Kakak? kalau di kamar Nena sedih." Ucap Nena.


"Boleh sayang. Sini!" ajak Iqbal langsung memberi bantal untuk Nena.


****


Di Apartement Hasan masih belum bisa tidur. Selama di Jakarta, dia belum bisa menemukan Hafisa. Hasan membanting semua yang ada di kamarnya.


"Aaaaa....." teriak Hasan.


"Ada apa Bos? ada yang bisa saya bantu?" tanya Bodyguard lainnya.


"Kalian kerja pada bodoh! kalau kalian tidak bisa menemukan Hafisa, saya pecat kalian!" ucap Hasan Marah-marah.


"Maaf Bos, sampai saat ini saya dan kawan belum bisa menemukan jejak Hafisa." Ucap Bodyguard.


"Cari bodoh! saya gak mau tahu kalian harus bawa Hafisa ke hadapan saya!" minta Hasan.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta Hafisa,semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Cinta Hafisa, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


DIARY ASMARA

__ADS_1



__ADS_2